Ketika kita makan makanan biasa, makanan itu menopang kehidupan jasmani kita. Bahkan, makanan itu menjadi bagian dari tubuh kita. Seorang anak makan agar tubuhnya bertumbuh semakin besar. Tetapi, apakah hal yang sama terjadi ketika kita menerima Ekaristi?
Dalam karyanya yang terkenal, Confessions, Santo Agustinus menuliskan sebuah kalimat yang sangat mengagumkan. Ia membayangkan Yesus berbicara kepadanya dan berkata: “Engkau tidak akan mengubah Aku menjadi dirimu, seperti engkau mengubah makanan jasmanimu; sebaliknya, engkau akan diubah menjadi Aku.”
Artinya, ketika kita menyantap Tubuh Kristus, kita tidak mengubah-Nya menjadi bagian dari diri kita. Sebaliknya, kita yang diubah oleh Kristus. Kita diubah menjadi anggota Tubuh Kristus.
Apa yang terjadi ketika kita menyantap Tubuh Kristus? Kita telah melihat bahwa setiap sakramen memiliki tiga dimensi atau tahap: tanda sakramental, efek perantara, dan rahmat terakhir atau buah utama. Dalam pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana efek perantara dari Ekaristi — yakni perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus — menghasilkan buah akhirnya dalam diri kita, jika kita menerima Ekaristi dengan layak.
Titik awal pemikiran Santo Thomas Aquinas adalah bahwa Ekaristi sungguh merupakan Tubuh dan Darah Kristus. Itu berarti ketika kita menerima Ekaristi, kita benar-benar menerima Yesus Kristus secara pribadi.
Kesimpulan Aquinas sederhana: Kristus hadir dalam Ekaristi. Maka ketika Ia datang ke dalam jiwa kita melalui Komuni Kudus, Ia menganugerahkan kepada kita apa yang Ia bawa ke dunia melalui Inkarnasi-Nya: rahmat, keselamatan, dan hidup kekal.
Yesus sendiri mengatakan hal ini dalam Injil Yohanes pasal 6:
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa makan Aku, ia akan hidup oleh Aku.”
Bapa mengutus Yesus ke dunia dalam tubuh manusia agar Ia memberikan kehidupan kepada dunia dan mencurahkan rahmat keselamatan. Demikian pula, Yesus datang kepada kita secara sakramental melalui perayaan Misa dan perubahan roti serta anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Itu berarti bahwa ketika kita menerima Ekaristi, Yesus menghasilkan dalam diri kita efek yang sama seperti yang Ia hasilkan di dunia melalui Inkarnasi-Nya: Ia memberi kehidupan kepada jiwa kita dan memenuhi kita dengan rahmat keselamatan.
Santo Kirilus dari Aleksandria menjelaskan hal ini dengan cara lain. Dalam Inkarnasi, tubuh manusia Kristus dipersatukan dengan Sabda Ilahi yang merupakan sumber segala kehidupan. Maka ketika kita menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, kehidupan ilahi itu juga dipersatukan dengan tubuh kita. Inilah awal dari karunia keabadian dan kehancuran kematian.
Kematian tidak mampu mengalahkan Yesus. Setelah sengsara-Nya, Ia bangkit dengan tubuh manusia-Nya dan kini memiliki kehidupan kekal yang tak dapat dikalahkan. Kehidupan ini juga masuk ke dalam tubuh kita ketika kita menerima Tubuh Kristus.
Santo Ignatius dari Antiokhia bahkan menyebut Ekaristi sebagai “obat keabadian dan penawar kematian.” Santo Thomas Aquinas menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena dalam Ekaristi kita menerima Yesus sendiri, Sang Sabda yang menjadi manusia. Kita menerima dalam tubuh kita benih kebangkitan di masa depan.
Tidak ada unsur Gnostisisme di sini. Aquinas tidak menganggap Ekaristi hanya memiliki efek spiritual saja. Kekristenan bukanlah agama dualistik yang berusaha melarikan diri dari tubuh menuju dunia spiritual semata. Sebaliknya, Kekristenan percaya bahwa Sabda menjadi daging dalam rahim Perawan Maria, dan bahwa Ekaristi adalah makanan sejati, yaitu Tubuh Kristus sendiri.
Kita menerima rahmat dan kehidupan Kristus — bahkan mengambil bagian dalam keilahian-Nya — justru ketika kita menyantap Tubuh Kristus secara sakramental dengan tubuh kita.
Penting juga untuk memahami bahwa bagi Aquinas, Ekaristi bukan sesuatu yang terpisah dari Kristus. Kita menerima kehidupan karena kita menerima Kristus sendiri. Dengan menyantap Tubuh-Nya, kita dipersatukan dengan-Nya. Kita memiliki persekutuan yang mendalam dengan-Nya. Kita dimasukkan ke dalam Tubuh-Nya. Kita menjadi anggota Tubuh Kristus.
Di sinilah kita kembali kepada Santo Agustinus. Kita tidak mengubah makanan ini menjadi diri kita. Sebaliknya, kita diubah menjadi Kristus, menjadi anggota Tubuh Kristus.
Ini sungguh menakjubkan. Yesus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya agar Ia dapat melakukan perubahan yang lebih besar dalam diri kita.
Namun, menerima Ekaristi bukan hanya tindakan fisik. Ini juga harus menjadi tindakan spiritual. Kita harus menerima Ekaristi dengan iman dan kasih agar menghasilkan buah yang penuh. Dalam Ekaristi, kita menerima bukan hanya Tubuh Kristus, tetapi juga jiwa dan keilahian-Nya.
Hal ini menghasilkan persatuan antara Kristus dan kita. Persatuan ini pada akhirnya adalah persatuan dalam kasih, kasih ilahi atau kasih supernatural. Bagi Santo Thomas Aquinas, kasih ilahi ini merupakan ukuran utama kehidupan Kristiani dan membawa kita kepada persatuan sejati dengan Allah.
Karena Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus, Ekaristi juga mempersatukan kita dengan Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Persekutuan umat beriman ini merupakan kesatuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah kasih. Ini adalah persekutuan dalam kasih kepada Allah, kepada Yesus, dan kepada sesama.
Dari kasih ini lahir kesatuan dan damai. Karena itu, Ekaristi disebut Sakramen Kesatuan — sumber dan penyebab kesatuan Gereja.
Kita dapat merangkum efek Ekaristi dengan sederhana: karena Ekaristi adalah Putra Allah sendiri, maka Ekaristi menghasilkan dalam diri kita hal yang sama seperti ketika Putra Allah datang ke dunia — keselamatan dan hidup kekal.
