Dalam hembusan angin yang lirih, suara Tuhan bergaung di taman, “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Adam dan Hawa, yang sebelumnya menikmati kedekatan tak terbatas dengan Sang Pencipta, kini bersembunyi dalam rasa malu dan takut. Kejatuhan manusia bukan hanya tentang pelanggaran satu perintah, tetapi lebih dalam, merupakan keterputusan dari relasi ilahi yang murni. Sejak saat itu, manusia hidup dalam realitas dunia yang telah tercemar oleh ketidaksempurnaan, membawa beban penderitaan dan kematian sebagai konsekuensi dari pilihan mereka.
Karl Barth dalam “Church Dogmatics” (1936) menekankan bahwa dosa bukan sekadar kesalahan moral, tetapi pergeseran eksistensial manusia dari Tuhan kepada dirinya sendiri. Dalam kerangka ini, Kejadian 3:9-24 bukan hanya kisah tentang pelanggaran, melainkan refleksi mendalam tentang kondisi manusia yang selalu mencari jalan kembali kepada kasih karunia. Dalam ekspulsi dari Eden, ada paradoks: hukuman sekaligus janji. Adam dan Hawa tidak sekadar terusir; mereka juga dibekali pakaian dari kulit binatang oleh Tuhan (Kej. 3:21)—suatu tanda pemeliharaan dalam ketidakpastian.
Di lain sisi, Markus 8:1-10 menggambarkan fragmen lain dari kisah perjalanan manusia: belas kasih yang melimpah. Yesus, melihat orang banyak yang lapar, tidak hanya memberi mereka makanan, tetapi mengajarkan makna kelimpahan kasih yang tidak terhitung. Peristiwa ini adalah cerminan dari tindakan ilahi yang berkebalikan dengan Kejadian 3: manusia yang jatuh dalam kelaparan rohani kini dipuaskan oleh tangan Tuhan sendiri.
NT Wright dalam “Jesus and the Victory of God” (1996) menegaskan bahwa mukjizat ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi proklamasi hadirnya Kerajaan Allah. Dalam peristiwa ini, Yesus membalikkan narasi kejatuhan: dari keterputusan menjadi pemulihan, dari kelaparan menjadi pemenuhan, dari dosa menjadi kasih karunia yang baru.
Menarik jika melihat kedua perikop ini dalam satu alur besar kisah penebusan. Kejadian 3 menggambarkan awal perjalanan manusia menuju keterasingan, sementara Markus 8 mengungkapkan bagaimana Yesus datang untuk mengembalikan manusia pada persekutuan yang sejati. Dalam Kejadian, manusia diusir dari kebun yang berlimpah; dalam Markus, Yesus membawa kelimpahan ke tengah padang tandus. Di Eden, manusia takut akan suara Tuhan; di Galilea, orang banyak berlari mencari suara-Nya.
Henri Nouwen dalam “The Return of the Prodigal Son” (1992) mengajarkan bahwa perjalanan rohani manusia adalah perjalanan pulang, dari keterasingan menuju kehangatan kasih. Kejadian 3 dan Markus 8 mengingatkan kita bahwa meski kita hidup dalam akibat dosa, rahmat selalu menunggu di meja perjamuan Tuhan. Kita mungkin telah jatuh, tetapi kasih-Nya lebih besar dari segala kejatuhan.
Daftar Pustaka:
- Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1936.
- Nouwen, Henri. The Return of the Prodigal Son. New York: Image Books, 1992.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.