Di jalan kehidupan yang panjang dan penuh liku, kebijaksanaan adalah sahabat sejati yang membimbing langkah-langkah kita. Sirakh 4:11-19 berbicara tentang kebijaksanaan seperti seorang ibu yang penuh kasih, yang tidak hanya menawarkan bimbingan tetapi juga menguji hati mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak diberikan secara instan, melainkan melalui proses kesabaran, kesetiaan, dan ketekunan dalam menghadapi pencobaan. Kebijaksanaan bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi pengalaman mendalam akan kehidupan yang ditempa oleh tantangan. Bagi mereka yang bertahan, kebijaksanaan akan membuka pintu kehidupan yang penuh rahmat dan pemahaman sejati.
Dalam terang Injil Markus 9:38-40, kita diajak untuk melihat kebijaksanaan bukan sebagai sesuatu yang eksklusif bagi kelompok tertentu, melainkan sebagai anugerah yang melampaui batas-batas manusiawi. Para murid, dalam keinginan mereka untuk menjaga kemurnian komunitas, mencoba melarang seseorang mengusir setan dalam nama Yesus karena ia bukan bagian dari kelompok mereka. Namun, Yesus, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, mengingatkan mereka bahwa kebaikan tidak dapat dikekang oleh batasan institusional atau eksklusivitas. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita,” kata-Nya. Ini adalah undangan untuk melihat bahwa karya Tuhan melampaui sekat-sekat yang kita ciptakan sendiri.
Raymond E. Brown dalam An Introduction to the New Testament (1997) menekankan bahwa perikop ini mengajarkan inklusivitas dalam pelayanan Kristus. Kebijaksanaan sejati tidak menghakimi berdasarkan identitas kelompok, tetapi pada perbuatan yang mencerminkan kasih dan kebaikan Allah. Sementara itu, N.T. Wright dalam Jesus and the Victory of God (1996) menunjukkan bagaimana Yesus menantang kecenderungan manusia untuk menciptakan lingkaran eksklusivitas dalam iman, dengan mengingatkan bahwa pekerjaan Tuhan tidak pernah bisa dibatasi oleh batasan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi godaan untuk merasa lebih benar, lebih eksklusif, lebih memahami kehendak Tuhan daripada yang lain. Namun, kebijaksanaan mengajarkan kita untuk rendah hati dan terbuka terhadap cara Tuhan bekerja dalam diri setiap orang, bahkan mereka yang tampaknya berbeda atau di luar lingkaran kita. Kita diajak untuk merangkul kebijaksanaan yang mengajar dengan kelembutan, membimbing dengan kasih, dan membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang melampaui pemahaman kita. Sebab, dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Tuhan selalu lebih besar daripada batasan yang kita buat.
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.