RABU, 12 MARET 2025
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh dengan kebisingan dan godaan, suara panggilan Tuhan sering kali terdengar samar, tertutupi oleh kepentingan dan keinginan manusia. Namun, seperti Yunus yang dipanggil untuk pergi ke Niniwe, kita pun tidak dapat lari dari panggilan-Nya. Kitab Yunus 3:1-10 menunjukkan bagaimana belas kasih Tuhan selalu lebih besar dari dosa manusia. Niniwe, kota yang besar dan penuh dengan kejahatan, justru menjadi tempat di mana pertobatan massal terjadi. Yunus, yang awalnya menolak, akhirnya menjadi saksi bagaimana pengampunan Allah dapat mengubah hati yang paling keras sekalipun.
Walter Brueggemann dalam Prophetic Imagination (1978) menyoroti bahwa tindakan Yunus yang akhirnya berseru di jalan-jalan Niniwe bukanlah sekadar pengumuman kehancuran, tetapi sebuah undangan untuk melihat dunia dalam terang belas kasih Tuhan. Keajaiban sejati dalam kisah ini bukan hanya terletak pada pertobatan Niniwe, tetapi juga dalam perubahan hati Yunus sendiri yang harus belajar bahwa kasih Allah lebih luas dari yang ia bayangkan. Ini mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati bukan sekadar perubahan lahiriah, tetapi juga perubahan hati yang mendalam.
Yesus dalam Lukas 11:29-32 berbicara kepada generasi yang menuntut tanda, tetapi yang gagal melihat tanda terbesar yang telah hadir di tengah mereka. Dia mengingatkan mereka tentang Yunus sebagai tanda bagi Niniwe dan membandingkan dirinya dengan Salomo, yang kebijaksanaannya mengundang orang-orang dari jauh untuk mencari kebenaran. Namun, meskipun kebijaksanaan dan belas kasih Tuhan hadir nyata dalam diri Yesus, banyak yang tetap menolak untuk percaya.
N.T. Wright dalam Jesus and the Victory of God (1996) menjelaskan bahwa Yesus melihat generasi-Nya sebagai orang-orang yang kehilangan sensitivitas rohani, yang lebih tertarik pada keajaiban dan spektakel daripada pada kebenaran yang sejati. Mereka menuntut tanda, tetapi mengabaikan tanda yang sudah hadir di depan mereka. Hal ini pun masih relevan bagi kita hari ini. Seberapa sering kita mencari bukti kehadiran Tuhan, padahal Dia telah hadir dalam keheningan doa, dalam kasih sesama, dalam panggilan untuk bertobat?
Thomas Merton dalam New Seeds of Contemplation (1961) menegaskan bahwa tanda terbesar dari kehadiran Tuhan bukanlah dalam keajaiban besar, tetapi dalam keheningan hati yang terbuka untuk-Nya. Pertobatan sejati terjadi ketika kita berhenti menuntut bukti dan mulai mendengarkan suara Tuhan dalam keseharian kita. Prapaskah adalah waktu di mana kita diundang untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang terbuka, seperti orang-orang Niniwe yang berpuasa dan mengenakan kain kabung bukan karena mereka melihat mujizat, tetapi karena mereka menyadari kebutuhan mereka akan belas kasih Allah.
Maka, pertanyaan bagi kita adalah: apakah kita masih menuntut tanda, ataukah kita sudah belajar mengenali kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Seperti Yunus, kita mungkin enggan menghadapi panggilan-Nya, tetapi kasih Tuhan selalu lebih besar daripada keterbatasan kita. Seperti orang-orang Niniwe, kita pun dipanggil untuk bertobat dengan hati yang tulus. Dan seperti mereka yang mendengarkan Yesus, kita diajak untuk tidak sekadar mencari tanda, tetapi benar-benar mengenali Sang Tanda itu sendiri: Yesus, Sang Kristus, yang telah datang membawa terang bagi dunia.
Daftar Pustaka:
- Brueggemann, Walter. Prophetic Imagination. Fortress Press, 1978.
- Merton, Thomas. New Seeds of Contemplation. New Directions, 1961.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press, 1996.