JUMAT, 04 APRIL 2025
Di dunia yang penuh dengan tantangan dan ketidakadilan, sering kali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kebaikan justru menjadi sasaran kebencian. Bacaan hari ini menggambarkan bagaimana orang benar menghadapi perlawanan, bagaimana penderitaan bukanlah akhir, dan bagaimana kehadiran Tuhan melampaui segala ketakutan manusia.
Kitab Kebijaksanaan (Keb. 2:1a,12-22) menggambarkan rencana orang-orang fasik terhadap orang benar. Mereka merasa terganggu oleh kejujuran dan integritasnya. Orang benar menjadi ancaman bagi mereka yang terbiasa hidup dalam kegelapan. “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab ia menyusahkan kita dan menentang pekerjaan kita” (Keb. 2:12). Naskah ini menggambarkan bagaimana kebencian muncul bukan karena kejahatan, melainkan justru karena kebenaran. Dalam Wisdom and Biblical Theology (Clifford, 1998), dijelaskan bahwa perlawanan terhadap orang benar adalah pola yang berulang dalam sejarah umat manusia, di mana kebenaran sering kali harus melewati penderitaan sebelum kemenangannya nyata.
Mazmur 34 menegaskan keyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkan orang benar. “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm. 34:19). Janji ini bukan sekadar penghiburan, tetapi juga panggilan untuk percaya bahwa Tuhan melihat dan bertindak dalam waktu-Nya. Para pemazmur dalam tradisi Yahudi sering kali menyampaikan keyakinan bahwa keadilan Tuhan tidak selalu tampak secara instan, tetapi pasti akan digenapi.
Dalam Injil Yohanes (Yoh. 7:1-2,10,25-30), kita melihat bagaimana Yesus sendiri menghadapi tantangan yang serupa. Ia ditolak dan dicari untuk dibunuh karena kebenaran yang dibawa-Nya. Orang-orang bertanya-tanya, “Bukankah Dia yang dicari untuk dibunuh?” (Yoh. 7:25). Yesus tidak gentar. Ia tahu bahwa waktu-Nya ada dalam kendali Bapa. Dalam The Gospel of John: A Commentary (Keener, 2003), dijelaskan bahwa penolakan terhadap Yesus bukan hanya karena ajaran-Nya, tetapi karena Dia menghadirkan terang di tengah dunia yang lebih nyaman dalam kegelapan.
Yesus berbicara dengan otoritas, tetapi banyak yang tidak mau percaya. Ini adalah cerminan dari bagaimana manusia sering kali menolak kebenaran ketika kebenaran itu mengganggu cara hidup mereka. Namun, Yesus tidak pernah mundur dari misi-Nya. Ia tahu dari mana asal-Nya dan ke mana Ia akan pergi. Di sinilah kita belajar bahwa menghadapi tantangan dan perlawanan adalah bagian dari perjalanan iman. Kita tidak dipanggil untuk mencari kenyamanan, tetapi untuk tetap teguh dalam kebenaran.
Kisah dalam bacaan hari ini menegaskan bahwa jalan orang benar tidaklah mudah. Orang-orang fasik akan selalu berusaha menghentikan kebenaran, tetapi Tuhan adalah pembela bagi mereka yang tetap setia. Yesus sendiri telah menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah tanda kekalahan, melainkan bagian dari rencana keselamatan. Seperti Yesus yang tetap melangkah menuju salib, kita pun dipanggil untuk tetap berjalan dalam iman, dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai.
Daftar Pustaka:
- Clifford, Richard J. Wisdom and Biblical Theology. Cambridge University Press, 1998.
- Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. Baker Academic, 2003.
- Wright, N.T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press, 1996.
- Brueggemann, Walter. The Message of the Psalms. Augsburg Publishing House, 1984.