By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    7 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    3 months ago
    Latest News
    Samudra Pelayanan: Menemukan Jiwa dalam Sabar, Tekun, Proses, dan Mengalir
    8 hours ago
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    1 month ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    3 months ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    3 months ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Samudra Pelayanan: Menemukan Jiwa dalam Sabar, Tekun, Proses, dan Mengalir
    8 hours ago
    Memilih Jalan Sempit yang Mengandalkan Allah
    5 days ago
    Bapamu Sudah Tahu Apa yang Kamu Perlukan
    1 week ago
    Allah Tritunggal: Ketika Kasih Menjadi Pusat Kehidupan
    4 weeks ago
    Panduan Studi: Ensiklik Magnifica Humanitas – Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan
    1 month ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Keteladanan Santo Oliver Plunkett dalam Membangun Kepemimpinan Pelayanan
    3 weeks ago
    Menjadi Teladan di Tengah Umat: Belajar dari Timotius dan Gereja Masa Kini
    3 weeks ago
    St. Petrus: Kepemimpinan yang Berlandaskan Iman, Keberanian, dan Pelayanan
    3 weeks ago
    Kepemimpinan yang Melayani: Inspirasi Santa Klara bagi Pemimpin Umat Masa Kini
    3 weeks ago
    Belajar Kepemimpinan dari Santo Óscar Romero dan Kehidupan Komunitas Religius
    3 weeks ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    7 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    7 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    12 months ago
    Latest News
    Jenderal Serikat Yesus akan Kunjungi Malaysia, Thailand, dan Indonesia
    2 days ago
    Menjadi Teladan di Tengah Umat: Belajar dari Timotius dan Gereja Masa Kini
    3 weeks ago
    Elisabeth dari Hungaria, Sang Putri yang Ubah Kemewahan Jadi Kasih
    4 weeks ago
    Magnifica Humanitas, Fondasi dan Prinsip Doktrin
    1 month ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    3 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    3 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    3 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    1 month ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    3 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    3 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    3 months ago
Reading: Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEAIGNASIANALatihan RohaniRefleksi

Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku

inigoway
Last updated: March 30, 2026 8:01 am
By inigoway 3 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

SELASA, 31 Maret 2026  – Yesaya 49:1–6 | Yohanes 13:21–33, 36–38

Malam itu terasa berat. Tidak ada lagi keramaian seperti sebelumnya. Tidak ada lagi mukjizat yang mengundang decak kagum. Yang ada hanyalah sebuah meja, roti, anggur, dan hati yang mulai retak.

Yesus duduk bersama para murid-Nya. Orang-orang terdekat-Nya. Mereka yang telah berjalan bersama-Nya, makan bersama-Nya, menyaksikan kasih-Nya. Namun justru di tengah keakraban itu, Yesus berkata dengan nada yang mengguncang:

“Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Sejenak, waktu seakan berhenti.

Para murid saling memandang. Tidak ada yang langsung menunjuk orang lain. Tidak ada yang merasa pasti. Yang ada justru pertanyaan yang diam-diam muncul dalam hati masing-masing:
“Apakah aku?”

Dan mungkin, di sinilah Injil mulai menyentuh kita secara pribadi.

Kita sering ingin melihat pengkhianatan sebagai sesuatu yang jauh—sesuatu yang dilakukan oleh Yudas, bukan oleh kita. Namun Injil hari ini mengajak kita masuk lebih dalam: bahwa pengkhianatan tidak selalu besar dan dramatis.

Kadang ia hadir dalam hal-hal kecil: ketika kita tahu yang benar tetapi memilih diam, ketika kita dekat dengan Tuhan tetapi hati kita jauh, ketika kita mengasihi, tetapi masih menyimpan kepentingan diri.

Yudas tidak tiba-tiba jatuh. Ia perlahan menjauh.

Dan itu membuat kita bertanya: apakah aku juga sedang menjauh tanpa sadar?

Namun malam itu tidak hanya tentang Yudas. Ada juga Petrus.

Petrus penuh semangat. Ia berkata dengan yakin:
“Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”

Tetapi Yesus menjawab dengan lembut, hampir seperti sebuah kesedihan: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Petrus mencintai Yesus. Itu tidak diragukan.
Namun cintanya belum cukup kuat menghadapi ketakutan.

Di sinilah kita menemukan diri kita lagi.

Kita punya niat baik. Kita ingin setia. Kita ingin mengikuti Tuhan. Tetapi ketika tekanan datang—ketika risiko muncul—kita goyah.

Kesetiaan ternyata bukan soal perasaan, tetapi keteguhan dalam kerapuhan.

Di tengah semua itu, Yesus tetap tenang.

Ia tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya.
Ia tahu siapa yang akan menyangkal-Nya.
Namun Ia tetap mengasihi.

Tidak ada kemarahan. Tidak ada penolakan.
Yang ada hanyalah kasih yang terus mengalir—bahkan kepada mereka yang akan meninggalkan-Nya.

Inilah misteri yang paling sulit diterima:
Yesus tidak berhenti mengasihi, bahkan ketika Ia dikhianati.

Dalam Kitab Yesaya, kita mendengar suara seorang hamba yang dipanggil sejak dalam kandungan, yang mungkin merasa sia-sia:
“Aku telah bersusah-susah dengan percuma…”

Namun Tuhan menjawab bahwa panggilan itu tidak pernah sia-sia. Bahwa terang itu akan menjangkau bangsa-bangsa.

Yesus adalah penggenapan dari panggilan itu.

Dan mungkin, kita pun sering merasa seperti itu—lelah, tidak dihargai, merasa usaha kita tidak berarti. Tetapi hari ini kita diingatkan:
Tuhan tetap bekerja, bahkan dalam kegelapan.

Malam itu, Yudas akhirnya keluar.

Dan Injil mencatat dengan sangat sederhana, tetapi begitu dalam: “Hari sudah malam.”

Bukan hanya malam secara waktu, tetapi juga malam dalam hati.

Kegelapan bukan hanya di luar—tetapi juga bisa tumbuh di dalam diri kita, ketika kita menjauh dari terang.

———-

Bayangkan Anda duduk di meja perjamuan itu.

Yesus ada di depan Anda. Ia memandang Anda—bukan dengan tuduhan, tetapi dengan kasih yang dalam.

Lalu Ia berkata: “Ikutlah Aku.”

Tanyakan dalam hati:

  • Di mana saya seperti Yudas—diam-diam menjauh?
  • Di mana saya seperti Petrus—berniat setia tetapi mudah goyah?
  • Apakah saya berani tetap tinggal bersama Yesus, bahkan ketika jalan-Nya sulit?

Dan mungkin, dalam keheningan itu, Anda menyadari: bahwa menjadi murid bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang tetap tinggal dan setia, bahkan dalam kerapuhan.

You Might Also Like

Santa Agnes, Jangkar Iman bagi Banyak Orang

Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian

Melihat Ibuku Seperti Memandang Tuhan yang Tak Pernah Libur

Tugas yang Melekat pada Semua Pengikut Kristus

Kasih Allah adalah Kasih yang Mencari

TAGGED:kasih tanpa syaratkegelapan hatikelemahan manusiakesetiaanpanggilan Tuhanpengkhianatanpergulatan batinpetrusrefleksi imanSelasa Pekan Sucitetap tinggal bersama TuhanYudas
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
Previous Article Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
Next Article Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Samudra Pelayanan: Menemukan Jiwa dalam Sabar, Tekun, Proses, dan Mengalir
  • Jenderal Serikat Yesus akan Kunjungi Malaysia, Thailand, dan Indonesia
  • Memilih Jalan Sempit yang Mengandalkan Allah
  • Bapamu Sudah Tahu Apa yang Kamu Perlukan
  • Keteladanan Santo Oliver Plunkett dalam Membangun Kepemimpinan Pelayanan

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?