Gereja Katolik menerima kata-kata Yesus Kristus secara harfiah ketika Ia berkata pada Perjamuan Terakhir: “Inilah tubuh-Ku. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.”
Gereja percaya bahwa Ekaristi sungguh merupakan Tubuh dan Darah Yesus, yang hadir di bawah rupa roti dan anggur. Namun pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana hal ini mungkin terjadi? Kita tetap melihat sesuatu yang tampak seperti roti dan anggur. Rasanya tetap seperti roti dan anggur. Bahkan perilakunya juga tetap seperti roti dan anggur. Lalu bagaimana mungkin Tubuh Kristus hadir di sana? Bagaimana Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi?
Ketika seorang imam merayakan Misa, ia memulai dengan roti dan anggur. Pada saat konsekrasi, unsur-unsur ini menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Perubahan yang luar biasa ini terjadi oleh kuasa ilahi Allah, dan Gereja menyebutnya sebagai transubstansiasi.
Dalam penjelasan ini, kita tidak hanya berbicara tentang perubahan itu sendiri, tetapi tentang hasil dari perubahan tersebut, yaitu kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi—Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian-Nya.
Untuk memahami hal ini, Santo Thomas Aquinas memberikan penjelasan klasik yang sangat membantu. Namun sebelum memahami penjelasannya, kita perlu memahami perbedaan antara substansi dan aksiden.
Substansi adalah “apa yang sungguh ada.” Sedangkan aksiden adalah sifat atau karakteristik dari sesuatu. Misalnya, kita bayangkan seekor anjing bernama Fido. Fido adalah substansi. Tetapi kita bisa mengatakan bahwa Fido berwarna putih, berbulu, atau kurus. Semua itu adalah sifat-sifat Fido, yang disebut aksiden. Sifat-sifat ini bisa berubah. Anjing yang kurus bisa menjadi gemuk. Anjing yang berbulu panjang bisa dipangkas. Namun Fido tetaplah Fido. Substansinya tidak berubah.
Aksiden adalah sifat yang melekat pada substansi. Ketika kita melihat sesuatu, indra kita menangkap aksidennya. Namun pikiran kita memahami substansi yang ada di balik penampakan tersebut. Misalnya, kita memahami bahwa seseorang tetap orang yang sama meskipun ia tumbuh dari bayi, menjadi anak-anak, remaja, hingga dewasa. Penampilannya berubah, tetapi substansinya tetap sama.
Sekarang kita kembali ke Ekaristi. Bagaimana mungkin Yesus hadir dalam sesuatu yang tampak seperti roti dan anggur?
Menurut ajaran Gereja Katolik, pada saat konsekrasi, substansi roti berubah secara ajaib menjadi substansi Tubuh Kristus. Namun yang sangat penting adalah bahwa aksiden atau penampakan roti tetap tidak berubah. Roti itu masih tampak seperti roti, terasa seperti roti, dan berperilaku seperti roti.
Dengan demikian, transubstansiasi merupakan mukjizat dalam dua hal sekaligus. Pertama, roti berubah menjadi Tubuh Kristus. Kedua, aksiden roti tetap ada meskipun substansi roti sudah tidak ada lagi. Aksiden tersebut tetap ada karena dipertahankan secara ajaib oleh kuasa Allah.
Lalu, di mana kita menemukan ajaran ini dalam Kitab Suci?
Jawaban yang diberikan oleh Santo Thomas adalah bahwa kita menemukannya dalam Injil Yohanes pasal 6, ketika Yesus berkata bahwa Tubuh-Nya adalah makanan sejati dan bahwa kita harus memakannya untuk memperoleh hidup kekal.
Kemudian pada Perjamuan Terakhir, Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada para rasul sambil berkata: “Inilah tubuh-Ku.” Ketika para rasul menerimanya, roti itu masih tampak seperti roti. Tetapi sebenarnya itu adalah Tubuh-Nya.
Mengapa demikian? Karena ketika Allah berbicara, apa yang Ia katakan menjadi kenyataan. Pada awal penciptaan, Allah berkata, “Jadilah terang,” maka terang pun jadi. Demikian pula ketika Yesus, Sabda Allah yang ilahi, berkata, “Inilah tubuh-Ku,” maka roti itu benar-benar menjadi Tubuh-Nya.
Santo Thomas menjelaskan bahwa meskipun kita tidak melihat, menyentuh, atau merasakan Tubuh Kristus secara langsung melalui indra kita, kita percaya pada perkataan Yesus bahwa Ia sungguh hadir di bawah rupa roti. Ini membutuhkan iman akan Sabda Allah.
Mengubah roti menjadi Tubuh Kristus bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena itu, kita percaya bahwa Allah sungguh melakukannya.
Dari kebenaran ini, Santo Thomas menarik beberapa kesimpulan penting. Pertama, substansi Tubuh Kristus hadir secara nyata, tetapi sifat-sifat fisik tubuh-Nya tidak hadir secara langsung. Tubuh Kristus memiliki ukuran, berat, dan tempat tertentu di surga, tetapi sifat-sifat itu tidak hadir secara langsung dalam Ekaristi.
Sebaliknya, aksiden roti tetap ada meskipun substansi roti telah berubah. Artinya, bentuk, ukuran, jumlah, dan sifat fisik roti tetap ada. Aksiden ini menjadi semacam wadah bagi Tubuh Kristus yang tersembunyi di dalamnya. Bahkan, Ekaristi tetap memiliki sifat kimiawi seperti roti, tetapi substansi yang sebenarnya adalah Tubuh Kristus.
Ini juga berarti bahwa jika seorang imam merayakan Misa dengan jumlah roti yang sangat besar, Tubuh Kristus yang ada di surga tidak bertambah besar atau berat. Karena ukuran dan jumlah adalah aksiden, bukan substansi.
Santo Thomas juga menjelaskan bahwa seluruh Kristus hadir dalam Ekaristi. Artinya, meskipun seseorang hanya menerima sebagian kecil hosti, ia menerima seluruh Kristus, bukan hanya sebagian dari-Nya.
Lebih jauh lagi, segala sesuatu yang bersatu dengan Tubuh Kristus juga hadir dalam Ekaristi. Di surga, Tubuh Kristus bersatu dengan Darah-Nya, dihidupkan oleh Jiwa-Nya, dan kemanusiaan-Nya bersatu dengan Keilahian-Nya. Karena itu, Gereja Katolik mengajarkan bahwa dalam setiap hosti dan piala hadir Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Kristus.
Karena sakramen adalah tanda yang menghadirkan apa yang ditandainya, kita dapat mengatakan bahwa Tubuh Kristus hadir secara langsung dalam hosti, karena Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku.” Sedangkan Darah, Jiwa, dan Keilahian hadir secara tidak langsung, atau sebagaimana disebut Santo Thomas, melalui konkomitansi.
Hal yang sama berlaku untuk piala: Darah Kristus hadir secara langsung, sedangkan Tubuh, Jiwa, dan Keilahian hadir secara tidak langsung melalui konkomitansi.
Ketika kita mengenal seorang teman baru, kita melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Secara bertahap kita mengenal pribadi yang sebenarnya di balik penampilan tersebut. Namun sesuatu yang lebih mendalam terjadi dalam Ekaristi.
Ketika kita melihat hosti, kita tidak melihat wajah manusia Yesus. Kita memang mendengar sabda-Nya melalui imam atau Kitab Suci, tetapi iman diperlukan untuk percaya bahwa Allah sungguh berbicara dan sungguh hadir dalam Ekaristi.
Jika kita menerima sabda Yesus dengan iman dan mendekat kepada Ekaristi, bukan hal yang aneh jika seorang beriman semakin menyadari kehadiran Kristus. Bahkan pengalaman akan kehadiran Kristus dapat semakin mendalam dari waktu ke waktu.
Santo Thomas sendiri menulis banyak doa dan himne tentang misteri Ekaristi ini. Karena itu, marilah kita memohon bersama Santo Thomas agar Allah menganugerahkan kepada kita rahmat untuk semakin mengalami kehadiran Yesus yang menyelamatkan dalam Ekaristi

Terima kasih mas Abdi
u r welcome Pak