Kamis, 23 Januari 2025
Dalam keheningan padang gurun, di tengah keluh kesah umat Israel yang merindukan kenyamanan Mesir, Tuhan berbicara melalui Musa. Kisah ini, yang tertulis dalam Kitab Keluaran 16:1-5, 9-15, menggambarkan pergulatan iman umat yang seringkali lebih terpikat oleh kebutuhan jasmani ketimbang panggilan ilahi. Dalam konteks ini, kelaparan menjadi simbol kerentanan manusia, suatu pengingat akan ketergantungan total kepada Allah.
Ketika Tuhan menurunkan manna dari langit, itu bukan sekadar solusi atas rasa lapar, melainkan sebuah pelajaran mendalam tentang kepercayaan. Manna, dengan sifatnya yang harus dikumpulkan setiap hari, mencerminkan bagaimana Allah mengundang umat-Nya untuk hidup dalam keterhubungan yang intim dan terus-menerus dengan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh R. Alan Cole dalam karyanya “Exodus: An Introduction and Commentary” (1973), “Manna adalah pengajaran visual tentang kemurahan hati Tuhan yang tak terbatas dan ketergantungan manusia yang total kepada-Nya.”
Dalam Injil Matius 13:1-9, Yesus mengajarkan perumpamaan tentang penabur, yang juga menggambarkan respons manusia terhadap firman Allah. Benih yang jatuh di berbagai jenis tanah adalah gambaran yang menggugah tentang kompleksitas hati manusia. Tanah berbatu, tanah bersemak duri, dan tanah yang subur bukan sekadar kategori statis, melainkan refleksi dari dinamika batin kita dalam merespons kasih karunia Allah. Teolog Craig L. Blomberg dalam “Interpreting the Parables” (1990) mencatat bahwa perumpamaan ini menekankan tanggung jawab manusia dalam memelihara firman Tuhan, seraya tetap mengakui misteri karya Allah dalam pertumbuhan rohani.
Ketika kedua bacaan ini direnungkan bersama, kita melihat sebuah pola yang menghubungkan kebergantungan dengan penerimaan. Dalam Keluaran, umat diajarkan untuk percaya pada penyediaan harian Allah; sementara dalam Injil Matius, Yesus memanggil kita untuk mempersiapkan hati agar dapat menerima firman yang menghidupkan. Ini adalah sebuah perjalanan iman yang mengharuskan kita untuk melepaskan ketakutan dan kekhawatiran duniawi, serta membuka diri terhadap pemeliharaan dan rencana ilahi.
Bapa Henri Nouwen, dalam bukunya “Life of the Beloved” (1992), menulis bahwa “kita seringkali terlalu sibuk mencari kepastian dalam hidup sehingga lupa bahwa kasih Tuhan adalah roti yang sesungguhnya untuk jiwa kita.” Refleksi ini menggemakan pelajaran dari manna dan benih: panggilan untuk hidup dari firman yang diberikan Allah setiap hari, dengan iman yang teguh meskipun seringkali tak melihat hasilnya secara langsung.
Dalam dinamika kehidupan modern, di mana distraksi dan kekhawatiran menguasai pikiran, kedua teks ini mengundang kita untuk kembali pada inti keberadaan: hidup dalam kepercayaan penuh pada Allah. Mungkin kita tidak lagi mengumpulkan manna di padang gurun, tetapi kita tetap membutuhkan roti kehidupan, yang sering kali hadir dalam bentuk yang tidak kita harapkan. Mungkin firman Allah tidak lagi ditaburkan oleh seorang penabur di ladang, tetapi melalui percakapan, pengalaman, atau bahkan kesulitan yang membentuk tanah hati kita.
Tuhan tidak pernah berhenti memberi, tetapi apakah kita siap menerima? Refleksi ini adalah sebuah pengingat, bahwa iman bukan sekadar penerimaan pasif, melainkan keterlibatan aktif dengan karya Allah dalam hidup kita. Dalam iman itu, kita menemukan kekuatan untuk bertumbuh dan berbuah, bahkan di tengah gersangnya padang gurun kehidupan.
Daftar Pustaka
- Blomberg, Craig L. Interpreting the Parables. InterVarsity Press, 1990.
- Cole, R. Alan. Exodus: An Introduction and Commentary. Tyndale Old Testament Commentaries, 1973.
- Nouwen, Henri J.M. Life of the Beloved. Crossroad Publishing Company, 1992