By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    5 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    2 months ago
    Latest News
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    1 day ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    1 month ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    2 months ago
    Lakukanlah ini sebagai Kenangan akan Aku
    2 months ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Uskup Agung Medan: Wajah Orang Kristen Harus Memantulkan Wajah Kristus
    24 hours ago
    Doa Perpisahan Yesus: Kemuliaan, Kehidupan Kekal, dan Gereja yang Dipelihara dalam Dunia
    4 days ago
    Bukan Isapan Jempol, Yesus Menyertai Kita Sampai Akhir Zaman
    1 week ago
    Sidang Jerusalem Menjembatani Perbedaan
    2 weeks ago
    Keselamatan Tak Boleh Dipersempit oleh Aturan Lahiriah
    2 weeks ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV Siapkan Ensiklik Pertama tentang AI dan Martabat Manusia
    5 days ago
    Paus Leo XIV: Membaca Adalah Jalan Merawat Kebijaksanaan di Era Digital
    2 weeks ago
    Misa di Casa Santa Marta Tandai Setahun Wafat Paus Fransiskus
    1 month ago
    Para Uskup Asia Serukan Perdamaian Global, Kecam Kekerasan dan Ajak Dialog
    1 month ago
    Paus Leo XIV akan Kunjungi Afrika
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    6 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    6 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    11 months ago
    Latest News
    Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
    1 day ago
    Menjadi Duta Bahasa: Badan Bahasa Ingin Gandeng Para Misionaris Indonesia
    2 weeks ago
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    3 months ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    3 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 months ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    2 months ago
    Latest News
    Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita
    4 days ago
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    2 months ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    2 months ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    2 months ago
Reading: Siaga Tanpa Cemas
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
IDEARenungan

Siaga Tanpa Cemas

Kasih yang dimaksudkan oleh Yohanes adalah kasih yang berjalan seiring dengan kebenaran. Ini adalah kasih yang berakar kuat, yang tak bergeming di tengah arus perubahan zaman.

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: November 14, 2024 2:15 pm
By Gabriel Abdi Susanto 2 years ago
Share
6 Min Read
SHARE

Jumat, 15 November 2024

Perayaan Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Hari ini, 15 November 2024, Gereja mengundang kita untuk merenungkan kasih dan kesiapsiagaan melalui dua bacaan liturgi: Surat Kedua Yohanes 4-9 dan Lukas 17:26-37. Hari ini juga, kita merayakan kenangan akan Santo Albertus Agung, seorang uskup dan pujangga Gereja yang tak hanya setia dalam imannya, tetapi juga mendalami pengetahuan dengan hati yang penuh kasih dan pengertian. Bacaan-bacaan ini mengarahkan kita pada panggilan untuk hidup dalam kesetiaan yang tak tergoyahkan dan kesiapsiagaan yang tak kenal lelah, seperti yang ditunjukkan oleh teladan Santo Albertus Agung.

Mengenali Kasih yang Setia, Refleksi 2 Yohanes 4-9

Surat singkat yang ditulis oleh Yohanes ini disampaikan kepada “Ibu yang terpilih” dan anak-anaknya—sebuah istilah penuh kelembutan yang merujuk pada komunitas gerejawi yang tercinta. Di dalamnya, Yohanes mengungkapkan sukacitanya melihat kesetiaan mereka dalam kebenaran. Kebenaran di sini bukanlah konsep abstrak, tetapi perwujudan nyata dalam kasih yang mengikat setiap anggota komunitas. Namun, di tengah pujian tersebut, ada peringatan yang lembut namun tegas: janganlah membiarkan diri terpengaruh oleh ajaran yang tidak setia pada Kristus.

Raymond Brown, seorang ahli tafsir Katolik, dalam bukunya “The Epistles of John” (Doubleday, 1982), menekankan bahwa kasih yang dimaksudkan oleh Yohanes adalah kasih yang berjalan seiring dengan kebenaran. Ini adalah kasih yang berakar kuat, yang tak bergeming di tengah arus perubahan zaman. Kasih yang sejati, kata Brown, adalah kasih yang menuntut ketaatan, bukan sebagai bentuk kekakuan, tetapi sebagai ekspresi cinta yang murni—kasih yang tahu kepada siapa ia setia.

Tanda Zaman: Injil Lukas 17:26-37

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita menelusuri sejarah manusia melalui peristiwa-peristiwa yang tampak biasa, tetapi membawa dampak yang sangat besar. Ia mengingatkan kita pada zaman Nuh dan Lot, di mana orang-orang hidup seperti biasa—makan, minum, menikah—hingga tiba-tiba kehancuran datang. Pesan Yesus bukanlah tentang rasa takut akan akhir zaman, tetapi tentang kesiapsiagaan yang penuh harap. Kita dipanggil untuk berjaga-jaga, bukan dalam kecemasan, melainkan dalam pengharapan yang dipenuhi kasih.

Scott Hahn, dalam “Catholic Bible Dictionary” (Doubleday, 2009), menyoroti bahwa panggilan Yesus ini adalah undangan untuk hidup dengan kesadaran eskatologis—kesadaran bahwa dunia ini hanya sementara. Hidup ini, menurut Hahn, adalah sebuah persiapan untuk sesuatu yang lebih besar, sebuah panggilan untuk selalu waspada dalam kasih, mengingat bahwa kedatangan Tuhan bisa datang kapan saja, dalam keheningan yang mengagetkan.

Menghidupi Kasih dan Kesiapsiagaan di Tengah Kehidupan Sehari-hari

Seperti Santo Albertus Agung yang tidak hanya hidup dalam dunia pemikiran, tetapi juga dalam dunia nyata yang penuh tantangan, kita diajak untuk menghidupi iman dengan kesetiaan yang nyata dalam hal-hal sederhana. Kasih yang setia berarti menghidupi kebenaran dalam setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap hubungan. Kesiapsiagaan yang penuh harap berarti tetap berjaga di tengah rutinitas sehari-hari, di tengah kesibukan pekerjaan, di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali memalingkan kita dari yang benar-benar penting.

Kita bisa lihat dalam hidup sehari-hari kesetiaan seorang guru yang mengajar di sekolah desa terpencil. Meskipun godaan untuk pindah ke kota besar dengan gaji yang lebih tinggi sering datang, ia memilih untuk tetap mengabdi, menyemai nilai-nilai kejujuran dan kebaikan kepada anak-anak didiknya. Baginya, kesetiaan pada panggilan ini adalah bentuk kasih yang nyata, kasih yang menuntun dalam kebenaran, kasih yang tidak mudah goyah meski ada godaan-godaan duniawi.

Kesiapsiagaan juga tampak dalam kehidupan seorang ibu rumah tangga yang, di tengah kesibukan mengurus keluarga, tetap menyisihkan waktu untuk berdoa dan merenung. Di tengah rutinitas sehari-hari yang sering kali melelahkan, ia tetap setia menyediakan waktu bagi Tuhan, sebagai tanda bahwa hidupnya dipersiapkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar yang akan datang.

Teladan Santo Albertus Agung: Kasih yang Berpadu dengan Pengetahuan

Santo Albertus Agung adalah contoh hidup dari kasih yang penuh hikmat. Ia adalah seorang ilmuwan dan teolog yang berusaha memahami dunia melalui ilmu pengetahuan, tetapi tetap setia pada ajaran iman. Baginya, mempelajari dunia dan mengejar pengetahuan tidak pernah berarti melepaskan kesetiaan pada Kristus, melainkan justru memperkuat iman dan kasihnya. Santo Albertus mengajarkan kepada kita bahwa pengharapan Kristen adalah pengharapan yang hidup di tengah dunia, tetapi tidak terikat olehnya; pengharapan yang bertumpu pada kasih yang sejati, yang selalu waspada dan siap menyambut Tuhan kapan saja.

Kedua bacaan hari ini, bersama dengan teladan Santo Albertus Agung, mengundang kita untuk hidup dalam kasih yang sejati dan kesiapsiagaan yang penuh harap. Hidup yang setia pada nilai-nilai kebenaran di tengah dunia yang terus berubah bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi kita dipanggil untuk tidak takut menghadapi perubahan, karena dalam perubahan itulah kasih kita diuji dan dikuatkan. Kesiapsiagaan kita bukanlah untuk menanti dengan cemas, melainkan untuk hidup dengan penuh pengharapan bahwa Tuhan, dalam kasih-Nya, akan datang pada saat yang tidak terduga, membawa kita ke dalam kepenuhan kasih yang sejati.

Daftar Pustaka

  1. Brown, Raymond. The Epistles of John. New York: Doubleday, 1982.
  2. Hahn, Scott. Catholic Bible Dictionary. New York: Doubleday, 2009.
  3. Lewis, C.S. The Four Loves. London: HarperCollins, 1960.
  4. McBrien, Richard P. Catholicism. San Francisco: HarperSanFrancisco, 1994.
  5. Benedict XVI. Jesus of Nazareth: Holy Week: From the Entrance Into Jerusalem to the Resurrection. San Francisco: Ignatius Press, 2011.

You Might Also Like

Ziarah ke Makam Paus Fransiskus; Kesederhanaan Itu Menyentuhku

Di Balik Dahsyatnya Tindakan Kecil

Psikolog: Keluarga Masa Kini Rentan Kehilangan Arah karena Mengejar Harga Diri di Luar Rumah

Lahir Baru Dimulai dari Hal Kecil

Jumat, 27 September 2024 Pesta Santo Vinsensius a Paulo

TAGGED:2 yohanesalbertus agungheadlinepujangga gerejasiaga tanpa cemasuskup
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Kehadiran Kerajaan Allah Bukan Sesuatu yang Spektakuler
Next Article Lelang Lukisan Karya Rm. Danang Bramasti, SJ
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Uskup Agung Medan: Wajah Orang Kristen Harus Memantulkan Wajah Kristus
  • Cara Sekolah di Papua Mengajarkan Dialog dan Kepercayaan kepada Generasi Muda
  • Doa Perpisahan Yesus: Kemuliaan, Kehidupan Kekal, dan Gereja yang Dipelihara dalam Dunia
  • 75 Tahun Caritas, Gereja Tetapkan Solidaritas bagi Kaum Rentan dan Bumi yang Terluka
  • Yesus Menjanjikan Roh Kudus bagi Kita

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?