SABTU, 02 MEI 2025
Dalam senyap jiwa yang rindu akan kebenaran, suara Paulus dari 1 Korintus 15:1-8 menggema seperti mantra yang meneguhkan: Injil bukan sekadar kabar, melainkan dasar dari hidup. Ia mengingatkan umat akan inti iman: Kristus wafat bagi dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga, dan telah menampakkan diri. Di tengah realitas dunia yang goyah, kesaksian ini menjadi batu karang yang tak tergoyahkan. Injil yang diterima, diberitakan, dan diimani itu adalah napas hidup Gereja yang sejati.
Lalu dalam Injil Yohanes 14:6-14, Filipus—salah satu dari dua Rasul yang kita rayakan hari ini—mengajukan permohonan yang begitu manusiawi: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Permintaan itu tidak dijawab dengan teguran, tetapi dengan penyingkapan yang menggetarkan: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Dalam kalimat ini, Yesus menyingkapkan misteri terdalam dari inkarnasi: bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup; bukan hanya penunjuk arah, tapi Sang Jalan itu sendiri yang menghantar kita kepada Allah.
Filipus dan Yakobus Rasul bukan hanya dua nama dalam daftar para murid. Mereka adalah pribadi yang sungguh hadir dalam kisah penyelamatan. Filipus dikenal karena pertanyaannya yang jujur, pencariannya yang tulus akan kebenaran. Sementara Yakobus, putra Alfeus, dikenal karena kesetiaannya, walau tak banyak catatan tentangnya. Dalam diri mereka, kita melihat dua wajah dari kehidupan murid sejati: pencari dan penjaga.
Rayakanlah keduanya, sebab keduanya adalah cermin kita. Betapa sering kita, seperti Filipus, rindu melihat wajah Bapa, rindu bukti, rindu kehadiran yang nyata. Dan betapa sering pula kita diajak menjadi seperti Yakobus—setia, dalam diam, dalam bayang-bayang, namun tak pernah luput dari kasih Tuhan.
Teolog N.T. Wright dalam “Surprised by Hope” (2008) menekankan bahwa kebangkitan bukan sekadar akhir dari cerita, melainkan awal dari kehidupan baru dalam ciptaan yang diperbarui. Dalam terang ini, kesaksian Paulus dalam 1 Korintus 15 bukan hanya sejarah, tetapi undangan untuk hidup dalam kuasa kebangkitan hari ini juga.
Sementara itu, teolog Katolik Raymond E. Brown, dalam “The Gospel According to John” (1970), mencermati bahwa Yohanes 14 menunjukkan relasi yang mendalam antara Yesus dan Bapa, serta antara Yesus dan para murid. Pertanyaan Filipus, menurut Brown, menjadi pintu masuk bagi umat untuk memahami bahwa mengenal Yesus bukan hanya mengenal ajaran-Nya, tapi mengenal kehadiran Allah sendiri.
Refleksi ini mengantar kita pada satu titik hening: kita semua sedang dalam ziarah, seperti para Rasul dahulu. Kita mencari, bertanya, ragu, percaya, jatuh, bangkit—dan dalam semua itu, Kristus adalah Jalan. Di balik tiap keraguan, Ia bersabda: “Percayalah kepada-Ku.” Di balik tiap pencarian, Ia menyambut: “Barangsiapa telah melihat Aku…”
Hari ini, saat kita mengenang Filipus dan Yakobus, kita diundang untuk menghidupi iman bukan sebagai daftar doktrin, tapi sebagai relasi. Iman bukan hasil dari pemahaman sempurna, tetapi dari kepercayaan yang bertumbuh setiap hari. Dan saat kita, seperti Filipus, bertanya, “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” Kristus menjawab bukan dengan argumen, tetapi dengan hati-Nya yang terbuka: “Akulah Jalan.”
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John. The Anchor Yale Bible Commentary Series. Yale University Press, 1970.
- Wright, N.T. Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection, and the Mission of the Church. HarperOne, 2008.
- Moloney, Francis J. The Gospel of John. Sacra Pagina Series. Liturgical Press, 1998.
- Fitzmyer, Joseph A. First Corinthians: A New Translation with Introduction and Commentary. Yale University Press, 2008.
