Pada Kamis, 26 Februari 2026 (Kamis Pekan I Prapaskah), Sabda Tuhan (Est 4:10a.10c–12.17–19; Mzm 138; Mat 7:7–12) menghadirkan dua sikap batin yang saling melengkapi: keberanian untuk memohon dan kepercayaan untuk menyerahkan diri. Dalam Injil Matius, Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Sementara dalam Kitab Ester, kita melihat seorang ratu yang gemetar namun berani melangkah masuk ke hadapan raja demi keselamatan bangsanya.
Permohonan sejati selalu lahir dari kesadaran akan keterbatasan. Ester tahu ia tidak berdaya tanpa pertolongan Allah. Doanya bukan formalitas; doanya adalah jeritan hati yang sadar bahwa hidup berada di tangan Tuhan. Prapaskah mengajarkan kita kembali pada posisi ini: bukan sebagai orang yang kuat dan mampu mengendalikan segalanya, tetapi sebagai anak yang membutuhkan Bapa.
Namun Sabda hari ini tidak hanya berbicara tentang meminta. Yesus juga menambahkan prinsip emas: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Doa yang benar selalu mengubah cara kita memperlakukan sesama. Jika kita sungguh percaya bahwa Allah adalah Bapa yang murah hati, kita pun dipanggil untuk menjadi pribadi yang murah hati.
Dalam terang Spiritualitas Ignasian, permohonan bukan sekadar daftar kebutuhan, melainkan latihan kepercayaan. Saat kita “meminta”, kita sedang membuka hati; saat kita “mencari”, kita sedang menata arah hidup; saat kita “mengetok”, kita sedang melatih ketekunan. Discernment membantu kita membedakan: apakah yang kita minta sungguh membawa kita semakin dekat kepada Allah, atau hanya memuaskan ambisi tersembunyi?
Ada kalanya kita merasa sudah meminta, tetapi belum menerima. Di sinilah iman diuji. Allah tidak selalu memberi sesuai waktu dan bentuk yang kita harapkan. Namun seperti yang ditegaskan Yesus, Bapa di surga tahu memberi yang baik kepada anak-anak-Nya. Kebaikan Allah sering kali lebih dalam daripada sekadar jawaban instan; Ia membentuk hati kita agar semakin selaras dengan kehendak-Nya.
Kisah Ester menunjukkan bahwa doa sejati melahirkan keberanian. Ia tidak hanya berdoa, tetapi juga bertindak. Dalam dinamika rohani, konsolasi sejati mendorong kita pada tindakan kasih yang konkret. Doa yang otentik tidak membuat kita pasif, melainkan memberi daya untuk melangkah meski ada risiko.
Kamis Pekan I Prapaskah ini mengajak kita memeriksa kembali cara kita berdoa:
Apakah aku sungguh percaya bahwa Tuhan adalah Bapa yang baik?
Apakah aku meminta dengan hati terbuka atau dengan hati yang penuh tuntutan?
Apakah doaku menghasilkan sikap emas dalam relasi dengan sesama?
Mungkin hari ini doa kita sederhana saja:
“Tuhan, ajarilah aku meminta dengan iman, mencari dengan tekun, dan mengetok dengan sabar. Bentuklah hatiku agar selaras dengan hati-Mu.”
Karena ketika kita berani memohon dengan rendah hati dan bertindak dengan kasih, kita sedang membuka pintu bagi rahmat yang bekerja lebih luas daripada yang mampu kita bayangkan.
