SELASA , 27 MEI 2025
Malam itu, penjara menjadi panggung perjumpaan ilahi. Paulus dan Silas, yang tubuhnya babak belur dan kaki mereka terpasung dalam belenggu, tidak mengeluh, tidak juga meratap. Sebaliknya, mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Sebuah tindakan yang melampaui logika manusia: dalam luka, mereka menyanyikan harapan. Dalam kesesakan, mereka memilih percaya. Inilah misteri dari iman yang hidup oleh kuasa Roh Kudus.
Ketika gempa mengguncang fondasi penjara dan belenggu terlepas, tidak ada seorang pun yang melarikan diri. Keheningan yang mengikuti adalah keheningan penuh rahmat. Kepala penjara yang nyaris bunuh diri karena takut, justru menerima hidup baru. Pertanyaannya, “Apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” menjadi titik balik bukan hanya dalam hidupnya, tetapi juga bagi seluruh keluarganya. Paulus menjawab dengan ringkas dan mendalam, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”
Mazmur hari ini membenarkan pengalaman itu: “Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati,” seru pemazmur. Bukan karena segalanya mudah, tetapi karena Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dalam kekelaman penjara batin, dalam kekerasan hidup, suara Tuhan tetap membisikkan pengharapan yang tak padam.
Sementara itu, Injil Yohanes membawa kita pada malam menjelang sengsara Kristus. Yesus berbicara tentang kepergian-Nya—suatu kabar yang membuat hati para murid penuh duka. Namun Yesus menunjukkan bahwa kepergian-Nya justru membuka ruang bagi kehadiran Penghibur: Roh Kudus. Dalam ketidakhadiran fisik Yesus, hadirlah Roh yang menyatakan kebenaran tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman. Roh Kudus bekerja dalam hati manusia, mengguncang hati seperti gempa bumi mengguncang penjara, membebaskan manusia dari dosa, dan membangkitkan mereka dalam terang iman.
Dalam terang ini, teolog Karl Rahner (Theological Investigations, 1966) menyatakan bahwa Roh Kudus adalah daya ilahi yang terus-menerus mengaktualkan keselamatan dalam sejarah manusia, menyapa setiap hati yang terbuka untuk percaya. Sedangkan Raymond E. Brown dalam The Gospel According to John (1970) menggarisbawahi bahwa kehadiran Roh Kudus adalah bentuk lanjutan dari karya penyelamatan Yesus dalam dunia. Ini bukan ketidakhadiran, tetapi kehadiran yang lebih dalam.
Perjumpaan kepala penjara dengan Injil tidak terjadi karena argumen teologis yang rumit, tetapi karena kesaksian hidup yang nyata dari Paulus dan Silas. Kehadiran Roh Kudus dalam peristiwa itu begitu kuat hingga mengubah rasa takut menjadi sukacita, dan kekerasan menjadi pertobatan.
Hari ini, dalam dunia yang terus terguncang oleh berbagai gempa kehidupan—baik personal maupun sosial—kisah ini mengajak kita untuk berani memuji Tuhan dalam penderitaan, percaya di tengah ketidakpastian, dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati kita dan orang lain. Sebab seperti kepala penjara itu, kita pun bisa menjadi saksi keselamatan, tak hanya untuk diri sendiri, tetapi bagi rumah tangga dan komunitas kita.
Daftar Pustaka
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John (XIII–XXI). Anchor Yale Bible Commentaries. Yale University Press, 1970.
- Rahner, Karl. Theological Investigations, Volume V: Later Writings. New York: Herder and Herder, 1966.
- Fitzmyer, Joseph A. The Acts of the Apostles: A New Translation with Introduction and Commentary. Anchor Bible Series. Doubleday, 1998.
- Keener, Craig S. The IVP Bible Background Commentary: New Testament. InterVarsity Press, 1993.
