Refleksi Injil Matius 19:23-30
Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu: lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (ay. 23–24).
Ungkapan ini sangat tajam. Bukan berarti Yesus menolak orang kaya, melainkan menegaskan betapa harta, kuasa, dan rasa aman yang ditawarkan dunia sering kali menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk masuk dalam kebebasan rohani dan hidup di hadapan Allah. Harta bisa membelenggu, membuat orang terikat, menutup mata terhadap penderitaan sesama, dan menjadikan diri pusat segala hal.
Namun Injil ini tidak berhenti pada keputusasaan. Para murid terkejut dan bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus menjawab, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (ay. 25–26). Artinya, keselamatan bukan buah dari usaha atau kepantasan manusia, melainkan anugerah Allah. Jalan menuju Kerajaan Allah terbuka, asalkan manusia berani melepaskan ikatan yang menguasainya, termasuk harta, ambisi, dan ego.
Yesus lalu menegaskan janji bahwa siapa yang meninggalkan segalanya demi Dia dan demi Injil akan menerima kembali seratus kali lipat, bahkan kehidupan kekal. Jadi, inti ajaran ini bukan sekadar soal harta, tetapi soal keterikatan hati. Apakah hati kita lebih melekat pada Allah atau pada apa yang kita miliki?
Menutup Hati
Dunia kini berada dalam pusaran kapitalisme global yang semakin kuat. Kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang, sementara sebagian besar manusia berjuang keras hanya untuk hidup layak. Laporan-laporan terbaru menunjukkan jurang ketimpangan semakin lebar: 1% orang terkaya menguasai lebih dari setengah kekayaan dunia. Fenomena ini persis menggambarkan apa yang Yesus kritik—bahwa harta sering kali menutup hati terhadap solidaritas.
Di sisi lain, masyarakat modern digiring untuk mengejar materi sebagai ukuran kebahagiaan. Nilai manusia diukur dari apa yang ia punya, bukan dari siapa dirinya. Budaya konsumtif membuat banyak orang terjebak dalam lingkaran utang, persaingan tak sehat, dan rasa cemas tak berujung. Pada akhirnya, manusia sering kehilangan damai batin dan makna hidup yang sejati.
Namun pesan Yesus tetap relevan: hanya Allah yang dapat membebaskan kita dari belenggu ini. Dunia membutuhkan orang-orang yang berani hidup sederhana, berbagi, dan mengutamakan relasi kasih ketimbang akumulasi kekayaan. Dalam konteks krisis iklim, perang, dan migrasi global, panggilan untuk melepaskan demi hidup bersama semakin mendesak. Kekayaan tidak boleh menjadi benteng egoisme, tetapi sarana solidaritas.
Yesus menutup dengan paradoks: “Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (ay. 30). Inilah kritik terhadap logika dunia yang mengagungkan mereka yang kuat dan kaya. Dalam Kerajaan Allah, yang dihargai adalah kerendahan hati, pelayanan, dan keberanian mempercayakan hidup sepenuhnya pada Allah.
Matius 19:23–30 mengingatkan kita:
- Harta dan kuasa bisa menjadi belenggu terbesar bagi manusia.
- Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan rahmat Allah.
- Dunia modern sedang diuji: apakah kita memilih solidaritas atau membiarkan ketimpangan makin melebar?
- Jalan Yesus adalah jalan pelepasan, berbagi, dan kasih.
Kerajaan Allah hanya terbuka bagi mereka yang berani hidup dengan hati bebas, yang mampu berkata: “Tuhanlah satu-satunya harta dan sumber pengharapan saya.”
