Refleksi Perutusan KKNP & Macro Teaching Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM
Sabtu, 21 Juni 2025, menjadi hari yang tak terlupakan bagi kami—mahasiswa STP St. Bonaventura KAM, para dosen, fungsionaris, serta seluruh komunitas kampus. Di Goa Maria, Paroki St. Yosep Delitua, kami berkumpul dalam Perayaan Ekaristi Penutupan Tahun Akademik. Namun bagi kami yang akan menjalani KKNP dan Macro Teaching, momen itu bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan baru.
Misa dimulai pukul 08.35 WIB, dipimpin oleh RP. Tri Chandra Fajariyanto, OFM Conv., didampingi RP. Paulus Halek Bere, SSCC. Bacaan Kitab Suci hari itu — 2 Korintus 12:1-10 dan Matius 6:24-34 —mengarahkan hati kami untuk merenungkan iman, kekhawatiran, dan ketergantungan sepenuhnya kepada Allah.
Dalam homilinya, Romo Tri Chandra menyentuh sisi terdalam dari kecemasan kami. Ia mengingatkan bahwa kekhawatiran adalah hal yang manusiawi, tetapi sering kali menjadi tanda bahwa iman kita belum utuh. Kita berkata percaya kepada Tuhan, namun lebih sering bersandar pada kekuatan sendiri.
Yesus dalam Injil berkata, “Jangan khawatir akan hidupmu…” Seruan itu bukan sekadar nasihat, melainkan ajakan untuk sungguh menyerahkan hidup kepada Allah. Romo Tri menegaskan, saat kita sungguh mengandalkan Tuhan, kekuatan kita bukan lagi milik kita sendiri. Ia menambahkan, “Allah telah lebih dulu hadir di tempat kalian akan diutus.” Kata-kata itu menjadi penghiburan sekaligus peneguhan.
Perutusan: Dari Ruang Kelas ke Kehidupan Nyata
Perutusan KKNP dan Macro Teaching tidak boleh dilihat hanya sebagai bagian dari kurikulum akademik. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata.
- Macro Teaching mengajak kami untuk belajar menanamkan nilai iman dengan cara yang sederhana, menyentuh, dan relevan bagi anak-anak maupun remaja.
- KKNP membawa kami turun langsung ke tengah umat, merasakan denyut iman mereka, menyapa kehidupan sehari-hari, dan menjadi rekan seperjalanan.
Di situlah iman yang dibentuk di ruang kelas diuji oleh kehidupan nyata.
Kutipan dari Christus Vivit menegaskan kembali identitas kami:
“Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris, membawa Injil ke mana pun kita pergi.” (CV 239).
Sementara, Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menulis:
“Kita tidak lagi berkata bahwa kita memiliki misi, tetapi bahwa kita adalah misi.” (EG 120)
Itulah yang menguatkan kami. Kami diutus bukan karena sudah sempurna, melainkan karena mau berjalan bersama Tuhan dan sesama. Kami sadar, perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada hari-hari yang sepi, ada perjumpaan yang melelahkan. Namun justru di sanalah iman tumbuh: dalam keraguan, dalam ketidakpastian, Tuhan hadir lebih dahulu.
Seperti burung pipit yang tidak menabur namun tetap diberi makan, kami belajar percaya tanpa ragu. Percaya bahwa Allah memelihara.
Awal dari Jalan Baru
Setelah homili, ritus perutusan menjadi puncak yang menggetarkan. Dengan percikan air suci, kami menerima berkat: teman-teman semester empat untuk mengajar, dan kami semester enam untuk melayani umat.
Misa berakhir, tetapi perjalanan perutusan baru saja dimulai. Kami tahu bahwa tugas ini bukan sekadar tanggung jawab akademik, melainkan panggilan hidup. Ke mana pun kami melangkah—di sekolah, di paroki, di rumah, bahkan di tengah dunia yang penuh pergulatan—kami ingin menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.
Santa Teresa dari Kalkuta pernah berkata:
“Saya hanyalah pensil kecil di tangan Tuhan yang sedang menulis surat cinta kepada dunia.”
Demikianlah kami pun ingin menjadi bagian dari surat cinta itu: melalui senyum yang tulus, perhatian yang nyata, serta iman yang terus bertumbuh dalam kesetiaan.
Referensi
- Evangelii Gaudium (2013)
- Christus Vivit (2019)

