Ringkasan Eksekutif
Ensiklik Dilexit Nos (“Ia Mengasihi Kita”), yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 24 Oktober 2024, merupakan sebuah refleksi teologis yang mendalam dan komprehensif mengenai devosi kepada Hati Kudus Yesus. Dokumen ini menegaskan kembali relevansi devosi ini sebagai penawar bagi tantangan spiritual zaman modern, seperti superficialitas, individualisme, dan fragmentasi batin. Paus Fransiskus berpendapat bahwa dunia yang “cair” dan serba cepat telah kehilangan “hati”—pusat integratif dari eksistensi manusia—dan devosi kepada Hati Kristus menawarkan jalan untuk menemukannya kembali.
Dokumen ini mengartikulasikan “hati” bukan sekadar sebagai organ fisik atau simbol emosi, tetapi sebagai inti terdalam dari pribadi manusia, tempat di mana akal, kehendak, tubuh, dan jiwa menyatu. Devosi kepada Hati Kudus Yesus dipresentasikan sebagai penyembahan terhadap seluruh Pribadi Kristus, di mana hati-Nya yang dari daging menjadi simbol nyata dari kasih ilahi dan insani-Nya yang tak terbatas. Kasih ini diuraikan sebagai “kasih tiga lipat”: kasih ilahi yang kekal, kasih spiritual dari kehendak manusia-Nya, dan kasih inderawi dari emosi-Nya yang tulus.
Secara historis, ensiklik ini menelusuri akar devosi dari Kitab Suci—terutama lambung Kristus yang tertikam di salib—hingga pengembangannya melalui para Bapa Gereja, mistikus Abad Pertengahan, dan para kudus modern seperti Santa Margaret Mary Alacoque, Santo Fransiskus dari Sales, dan Santa Therese dari Kanak-Kanak Yesus. Devosi ini dipandang sebagai tanggapan terhadap spiritualitas yang kaku dan tanpa tubuh, dengan menekankan belas kasihan Allah yang tak terbatas dan hubungan personal yang intim dengan Kristus.
Secara signifikan, Dilexit Nos memberikan penafsiran ulang yang kuat terhadap konsep “reparasi”. Reparasi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tindakan silih pribadi, melainkan diperluas menjadi sebuah komitmen sosial dan misioner. Ini adalah panggilan untuk “membangun peradaban kasih di atas reruntuhan” yang disebabkan oleh kebencian dan kekerasan. Dengan demikian, tanggapan terbaik terhadap kasih Kristus (“kasih demi kasih”) adalah dengan memperluas kasih-Nya kepada sesama, terutama kepada mereka yang miskin dan terpinggirkan. Ensiklik ini mengakhiri dengan menghubungkan devosi Hati Kudus secara langsung dengan ajaran sosial Gereja, seperti yang tertuang dalam Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, dengan menyatakan bahwa hanya kasih yang terpancar dari Hati Kristus yang dapat memulihkan persaudaraan sejati dan menyembuhkan dunia yang terluka.
Analisis Mendalam Berdasarkan Tema
Bab 1: Pentingnya Hati
Bab pertama membangun landasan teologis dan antropologis untuk ensiklik ini dengan mengeksplorasi makna “hati” (kardía). Hati didefinisikan sebagai pusat pemersatu pribadi manusia, melampaui pemahaman modern yang dangkal.
• Definisi Hati: Hati bukanlah sekadar organ atau tempat emosi, melainkan “inti yang tersembunyi di balik semua penampilan lahiriah,” di mana pikiran dan perasaan menyatu. Mengutip sumber-sumber klasik dan Alkitab (Ibr 4:12), ensiklik ini menggambarkannya sebagai lokus keaslian, ketulusan, dan keputusan fundamental.
• Krisis Modernitas: Zaman kontemporer digambarkan sebagai “dunia cair” yang ditandai oleh kecepatan, konsumerisme, dan fragmentasi. Akibatnya, manusia modern “berisiko kehilangan pusat mereka,” terpecah antara rasionalitas-teknologis dan emosionalisme belaka, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk hati.
• Antidotum untuk Individualisme: Hati adalah fondasi untuk semua ikatan otentik. Masyarakat yang didominasi narsisme menjadi “tidak berperasaan” dan kehilangan kemampuan untuk menjalin hubungan yang sehat dengan sesama dan dengan Allah.
• Hati sebagai Pemersatu Sejarah: Mengambil teladan Bunda Maria yang “menyimpan semua hal ini dan merenungkannya di dalam hatinya” (Luk 2:19), hati dipandang sebagai kapasitas untuk menyatukan fragmen-fragmen pengalaman hidup menjadi sebuah narasi yang bermakna. Hal ini kontras dengan logika algoritma kecerdasan buatan yang tidak akan pernah bisa menangkap kekayaan kenangan personal.
• Kesimpulan Teologis: Bab ini ditutup dengan menyatakan bahwa pemenuhan manusia ditemukan dalam kasih, dan pertanyaan paling menentukan dalam hidup adalah, “Apakah saya punya hati?” Dunia hanya dapat berubah jika dimulai dari hati, karena di dalam Hati Kristus-lah ditemukan prinsip pemersatu seluruh realitas.
Bab 2: Tindakan dan Kata-Kata Kasih
Bab kedua mengalihkan fokus dari konsep abstrak “hati” ke manifestasi nyata dari kasih dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus. Kasih-Nya diungkapkan bukan melalui penjelasan teoretis, melainkan melalui tindakan, pandangan, dan kata-kata yang konkret.
• Tindakan Kedekatan: Kristus secara aktif mencari orang, mendekati mereka tanpa syarat. Contoh-contoh yang dikutip meliputi perjumpaan-Nya dengan perempuan Samaria, Nikodemus, dan orang buta di pinggir jalan. Tindakan penyembuhan-Nya sering kali melibatkan sentuhan fisik (“Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu”), yang menunjukkan Allah yang dekat, berbelas kasih, dan lembut.
• Pandangan Yesus: Pandangan mata Yesus digambarkan sebagai instrumen kasih yang mendalam, yang mampu menembus kedalaman hati seseorang. Injil mencatat bagaimana Dia “memandang” pemuda kaya (Mrk 10:21) dan bagaimana hati-Nya “tergerak oleh belas kasihan” saat melihat orang banyak (Mat 9:36). Pandangan-Nya menghargai setiap niat baik, sekecil apa pun.
• Kata-Kata Yesus: Kata-kata-Nya menawarkan kelegaan, kekuatan, dan kedamaian (“Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat,” Mat 11:28). Injil juga tidak menyembunyikan emosi mendalam yang diungkapkan melalui kata-kata-Nya: tangisan-Nya untuk Yerusalem, kesedihan-Nya di Getsemani (“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya”), dan seruan-Nya di kayu salib.
• Salib sebagai Kata Kasih Tertinggi: Semua tindakan dan kata-kata ini mencapai puncaknya di kayu salib, yang disebut sebagai “kata kasih Yesus yang paling fasih.” Ini adalah titik di mana keyakinan Santo Paulus lahir: “Anak Allah, yang mengasihi aku dan menyerahkan dirinya untuk aku” (Gal 2:20).
Bab 3: Hati yang Telah Sangat Mengasihi
Bab ini menguraikan dasar-dasar teologis dari devosi kepada Hati Kudus, menjelaskan objek penyembahan dan relevansinya bagi kehidupan Kristen saat ini.
• Objek Devosi: Ditegaskan bahwa devosi ini bukan pemujaan terhadap organ yang terisolasi, melainkan penyembahan kepada seluruh Pribadi Yesus Kristus. Hati-Nya yang dari daging adalah “simbol nyata” dari kasih insani dan ilahi-Nya.
• Kasih Tiga Lipat: Hati Kristus adalah simbol dari “kasih tiga lipat” yang tak terpisahkan:
1. Kasih Ilahi: Kasih-Nya yang tak terbatas sebagai Putra Allah.
2. Kasih Spiritual Manusiawi: Kasih yang diperkaya dalam kehendak manusia-Nya.
3. Kasih Inderawi: Emosi dan perasaan tulus yang Dia miliki sebagai manusia.
• Perspektif Trinitas: Devosi ini secara inheren bersifat Trinitarian. Hati Kristus adalah jalan menuju Bapa (“Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” Yoh 14:6). Roh Kudus-lah yang memenuhi Hati Kristus dan menarik kita ke dalam hubungan Putra dengan Bapa, memungkinkan kita untuk berseru, “Abba, ya Bapa!”
• Ajaran Magisterium: Ensiklik merangkum ajaran para Paus sebelumnya (Leo XIII, Pius XI, Pius XII, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI) yang secara konsisten mendukung devosi ini sebagai sintesis dari misteri penebusan dan sebagai penawar bagi spiritualitas yang kaku (Jansenisme) atau sekuler.
• Relevansi Kontemporer: Devosi ini diusulkan sebagai obat untuk “dualisme Jansenis yang berbahaya” yang muncul kembali dalam bentuk Gnostisisme modern, yang menolak realitas “keselamatan daging.” Devosi ini juga melawan Kekristenan yang terlalu sibuk dengan aktivitas eksternal dan reformasi struktural, yang kehilangan “penghiburan iman yang lembut.”
Bab 4: Kasih yang Memberikan Diri sebagai Minuman
Bab ini menelusuri perkembangan historis dan spiritual devosi kepada Hati Kristus, dari akar alkitabiahnya hingga ekspresinya dalam kehidupan para kudus.
• Akar Alkitabiah: Tema sentralnya adalah Allah yang “haus akan kasih.” Lambung Kristus yang tertikam (Yoh 19:34) dilihat sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama tentang mata air kehidupan yang mengalir (Yeh 47, Za 12:10). Hati-Nya yang terluka adalah sumber rahmat dan kehidupan baru.
• Para Bapa Gereja dan Mistikus: Para Bapa Gereja seperti Origen, Ambrosius, dan Agustinus menafsirkan sisi yang terluka sebagai sumber sakramen dan tempat perjumpaan pribadi dengan Kristus. Santo Bernardus secara eksplisit menghubungkan luka fisik ini dengan “rahasia hati-Nya.” Para mistikus seperti Santa Gertrude dan Santa Katarina dari Siena memperdalam devosi ini sebagai pengalaman persatuan intim.
• Perkembangan Modern:
◦ Santo Fransiskus dari Sales: Menekankan kepercayaan penuh pada Hati Kristus sebagai sumber kedamaian di tengah kehidupan sehari-hari.
◦ Santa Margaret Mary Alacoque: Menerima “deklarasi kasih” di Paray-le-Monial, di mana Yesus mengungkapkan Hati-Nya “yang begitu dibakar dengan kasih bagi manusia.”
◦ Santa Therese dari Kanak-Kanak Yesus: Menginternalisasi devosi ini sebagai hubungan persahabatan yang intim (“Hati Mempelai Pria-ku adalah milikku sendiri”). Baginya, kepercayaan (“trust”) adalah persembahan terbesar, bukan jasa atau pengorbanan.
• Devosi Penghiburan: Bab ini memperkenalkan tema “menghibur” Hati Kristus yang menderita. Berdasarkan ajaran Paus Pius XI, dijelaskan bahwa sengsara Kristus melampaui waktu, sehingga tindakan kasih dan penyesalan kita saat ini dapat secara misterius menyentuh hati-Nya yang terluka. Ini bukan sentimentalisme, melainkan partisipasi mistik dalam misteri penebusan.
Bab 5: Kasih demi Kasih
Bab terakhir membahas bagaimana umat beriman harus menanggapi kasih Kristus. Respons ini tidak bersifat pasif, melainkan sebuah komitmen aktif yang memiliki dimensi sosial, reparatif, dan misioner.
• Respons Kasih: Tanggapan terbaik atas kasih Kristus adalah dengan mengasihi sesama. Ensiklik ini dengan tegas mengutip Mat 25:40: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
• Makna Baru Reparasi:
◦ Dimensi Sosial: Reparasi berarti bekerja sama dengan Kristus untuk “membangun di atas reruntuhan” yang disebabkan oleh dosa, kebencian, dan kekerasan. Ini adalah panggilan untuk menciptakan “peradaban kasih” dengan melawan “struktur dosa.”
◦ Penyembuhan Relasional: Reparasi sejati menuntut pengakuan kesalahan dan “keindahan permintaan maaf.” Ini adalah tindakan yang menyembuhkan hubungan dan membangun kembali ikatan persaudaraan.
◦ Memperluas Kasih Kristus: Mengacu pada spiritualitas Santa Therese, reparasi juga berarti mempersembahkan diri kita bukan kepada keadilan ilahi, tetapi kepada kasih-Nya yang berbelas kasih. Tujuannya adalah untuk menghilangkan rintangan-rintangan (ketidakpercayaan, keegoisan) yang menghalangi “gelombang kelembutan tak terbatas” dari Hati Kristus untuk menyebar di dunia.
• Dimensi Misioner: Kasih yang diterima dari Hati Kristus secara alami meluap menjadi misi. Seorang misionaris sejati adalah “seseorang yang sedang jatuh cinta,” yang terdorong untuk berbagi keindahan perjumpaan mereka dengan Kristus. Misi ini bukan proselitisme, melainkan kesaksian sukacita yang menarik orang lain kepada kasih. Pelayanan kepada sesama, terutama yang miskin, menjadi cara konkret untuk bertemu Kristus dan melanjutkan misi-Nya.
• Kesimpulan: Dokumen ini ditutup dengan menghubungkan devosi Hati Kudus dengan ajaran sosial Gereja. Di dunia yang didominasi oleh konsumerisme dan mekanisme pasar yang merendahkan, hanya kasih cuma-cuma dari Hati Kristus yang dapat membebaskan dan memulihkan “hati” dunia.

Panduan Studi Ensiklik Dilexit Nos
Panduan studi ini dirancang untuk meninjau dan memperdalam pemahaman mengenai Surat Ensiklik Dilexit Nos dari Paus Fransiskus. Panduan ini mencakup kuis jawaban singkat, pertanyaan esai untuk refleksi lebih lanjut, dan glosarium istilah-istilah kunci yang digunakan dalam dokumen. Semua jawaban dan definisi diambil secara eksklusif dari konteks sumber yang disediakan.
——————————————————————————–
Kuis Jawaban Singkat
Jawablah setiap pertanyaan berikut dalam 2-3 kalimat, berdasarkan pemahaman Anda terhadap Ensiklik Dilexit Nos.
- Menurut Bab Satu, apa yang dimaksud dengan “hati” dalam konteks Alkitab dan pemikiran klasik, dan mengapa ia dianggap penting di zaman modern?
- Bagaimana tindakan-tindakan Yesus, seperti yang dijelaskan dalam Bab Dua, mencerminkan kedalaman kasih-Nya yang konkret dan personal?
- Jelaskan konsep “kasih tiga lipat” yang dibahas dalam ensiklik. Apa saja tiga dimensi kasih yang disatukan dalam Hati Kristus?
- Apa objek penyembahan yang sebenarnya dalam devosi kepada Hati Kudus Kristus? Apakah kita menyembah gambar atau organ fisik semata?
- Bagaimana nubuat Perjanjian Lama tentang “orang yang tertikam” dan “mata air yang terbuka” digenapi dalam diri Kristus menurut Injil Yohanes?
- Apa kontribusi unik Santa Therese dari Kanak-Kanak Yesus dalam memahami devosi kepada Hati Kudus, terutama terkait dengan kepercayaan dan pengorbanan?
- Apa yang dimaksud dengan “devosi penghiburan”? Bagaimana umat beriman dapat secara mistik menghibur Hati Yesus yang menderita?
- Menurut Bab Lima, apa tanggapan terbaik yang dapat diberikan manusia terhadap kasih Hati Kristus?
- Bagaimana Santo Yohanes Paulus II mendefinisikan kembali makna “reparasi” dalam konteks sosial?
- Jelaskan hubungan antara devosi kepada Hati Kudus dan semangat misionaris Gereja. Mengapa misi menjadi “masalah kasih”?
——————————————————————————–
Kunci Jawaban
- Apa yang dimaksud dengan “hati” dalam konteks Alkitab dan pemikiran klasik, dan mengapa ia dianggap penting di zaman modern? Dalam bahasa Yunani klasik dan Alkitab, “hati” (kardía) menandakan bagian terdalam manusia, pusat jiwa dan roh, tempat keinginan dan keputusan penting dibentuk. Hati adalah inti otentik di balik penampilan lahiriah, menyatukan aspek rasional dan naluriah. Di zaman modern yang dangkal dan terpecah-pecah, menemukan kembali pentingnya hati diperlukan untuk memulihkan pusat batin yang memberikan kesatuan, makna, dan arahan bagi kehidupan.
- Bagaimana tindakan-tindakan Yesus, seperti yang dijelaskan dalam Bab Dua, mencerminkan kedalaman kasih-Nya yang konkret dan personal? Yesus menunjukkan kasih-Nya melalui tindakan nyata, bukan penjelasan panjang. Dia mendekati orang-orang di pinggiran, seperti perempuan Samaria dan pemungut cukai, serta menyembuhkan dengan sentuhan fisik-Nya, menunjukkan kedekatan, belas kasih, dan kelembutan. Tindakan-tindakan ini menegaskan bahwa Allah tidak jauh, melainkan hadir secara personal dalam realitas kehidupan sehari-hari setiap individu.
- Jelaskan konsep “kasih tiga lipat” yang dibahas dalam ensiklik. Apa saja tiga dimensi kasih yang disatukan dalam Hati Kristus? Gambaran hati Tuhan berbicara tentang “kasih tiga lipat”. Dimensi pertama adalah kasih ilahi-Nya yang tak terbatas sebagai Putra Allah. Dimensi kedua adalah kasih spiritual kemanusiaan-Nya, yang memperkaya kehendak manusia-Nya. Dimensi ketiga adalah kasih-Nya yang masuk akal, yang diekspresikan melalui emosi dan perasaan manusiawi-Nya.
- Apa objek penyembahan yang sebenarnya dalam devosi kepada Hati Kudus Kristus? Apakah kita menyembah gambar atau organ fisik semata? Objek penyembahan bukanlah gambar atau organ fisik yang terisolasi, melainkan seluruh pribadi Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia. Hati daging-Nya dipandang sebagai tanda istimewa dan simbol kasih ilahi dan insani-Nya. Dengan demikian, setiap tindakan penyembahan terhadap hati-Nya secara langsung ditujukan kepada Kristus sendiri dalam keilahian dan kemanusiaan-Nya yang utuh.
- Bagaimana nubuat Perjanjian Lama tentang “orang yang tertikam” dan “mata air yang terbuka” digenapi dalam diri Kristus menurut Injil Yohanes? Nubuat dalam Kitab Zakharia tentang “mata air yang terbuka bagi keluarga Daud” dan pandangan kepada “dia yang telah mereka tikam” digenapi di sisi Kristus yang terluka di kayu salib. Dari lambung-Nya yang ditikam tombak, mengalirlah darah dan air. Air ini melambangkan Roh Kudus yang dicurahkan, menjadikan sisi Kristus yang terbuka sebagai sumber kehidupan baru dan rahmat bagi seluruh umat manusia.
- Apa kontribusi unik Santa Therese dari Kanak-kanak Yesus dalam memahami devosi kepada Hati Kudus, terutama terkait dengan kepercayaan dan pengorbanan? Santa Therese menggeser fokus devosi dari pengumpulan pengorbanan untuk memuaskan keadilan ilahi menjadi kepercayaan mutlak pada kasih dan belas kasihan Allah. Baginya, persembahan terbesar adalah kepercayaan itu sendiri, bukan perbuatan atau penderitaan. Dia memandang Hati Yesus sebagai miliknya, tempat dialog “hati ke hati” yang penuh keintiman, bukan sebagai hakim yang harus ditenangkan.
- Apa yang dimaksud dengan “devosi penghiburan”? Bagaimana umat beriman dapat secara mistik menghibur Hati Yesus yang menderita? “Devosi penghiburan” adalah keinginan batin untuk menawarkan penghiburan kepada Hati Kristus yang menderita di kayu salib. Menurut Paus Pius XI, karena misteri penebusan melampaui ruang dan waktu, tindakan penghiburan yang kita tawarkan sekarang dapat menyentuh hati-Nya yang terluka, sama seperti Dia menanggung dosa-dosa masa depan kita dalam sengsara-Nya. Umat beriman dapat secara mistik hadir dalam momen penebusan dan menghibur-Nya melalui doa dan kasih.
- Menurut Bab Lima, apa tanggapan terbaik yang dapat diberikan manusia terhadap kasih Hati Kristus? Tanggapan terbaik terhadap kasih Hati Kristus adalah dengan mengasihi saudara-saudari kita. Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa apa yang kita lakukan untuk yang paling hina, kita lakukan untuk Kristus (Mat 25:40). Dengan demikian, membalas kasih demi kasih diwujudkan secara konkret melalui pelayanan, solidaritas, dan kasih persaudaraan kepada sesama.
- Bagaimana Santo Yohanes Paulus II mendefinisikan kembali makna “reparasi” dalam konteks sosial? Santo Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa reparasi memiliki makna sosial yang vital, yaitu membangun “peradaban kasih” di atas reruntuhan yang diakibatkan oleh kebencian dan kekerasan. Ini bukan sekadar tindakan pribadi, tetapi sebuah panggilan untuk bekerja sama dengan Kristus dalam memulihkan kebaikan di dunia. Reparasi sejati berarti mengubah “struktur dosa” melalui pertobatan hati dan tindakan konkret untuk kebaikan bersama.
- Jelaskan hubungan antara devosi kepada Hati Kudus dan semangat misionaris Gereja. Mengapa misi menjadi “masalah kasih”? Devosi kepada Hati Kudus secara alami melahirkan semangat misionaris, karena kasih yang dialami dari Kristus mendorong seseorang untuk membagikannya kepada orang lain. Misi menjadi “masalah kasih” karena dorongan utamanya bukanlah proselitisme, melainkan pancaran sukacita dari perjumpaan dengan Kristus yang mengasihi. Seorang misionaris yang terpikat oleh Kristus merasa terikat untuk berbagi keindahan Sang Kekasih, sehingga orang lain juga dapat mengenal dan mengasihi-Nya.
——————————————————————————–
Pertanyaan Esai
Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai bahan refleksi dan diskusi yang lebih mendalam. Jawaban tidak disediakan.
- Ensiklik ini menyajikan “hati” sebagai penawar bagi “dunia cair” yang terpecah-belah oleh rasionalisme, konsumerisme, dan individualisme. Analisislah kritik ensiklik terhadap masyarakat kontemporer dan jelaskan bagaimana pemulihan “aturan politik hati” dapat menawarkan solusi yang integral bagi individu dan masyarakat.
- Jelaskan evolusi devosi kepada Hati Kudus, mulai dari akar biblisnya (sisi yang tertikam) melalui para Bapa Gereja, mistikus Abad Pertengahan, hingga para kudus modern seperti Santa Margaret Mary Alacoque dan Santa Therese dari Lisieux. Bagaimana setiap tahap memperkaya pemahaman tentang misteri ini?
- Uraikan secara mendalam konsep “reparasi” sebagaimana dijelaskan dalam Bab Lima. Bandingkan dan kontraskan gagasan reparasi sebagai “membangun di atas reruntuhan” secara sosial dengan gagasan reparasi sebagai “perpanjangan Hati Kristus” yang diilhami oleh spiritualitas Santa Therese.
- Bab Tiga menempatkan devosi kepada Hati Kristus dalam “perspektif Trinitas”. Jelaskan bagaimana devosi ini, meskipun bersifat Kristologis, pada akhirnya membawa umat beriman kepada Bapa, melalui karya Roh Kudus.
- Diskusikan bagaimana devosi kepada Hati Kudus dapat menjadi penangkal efektif terhadap dualisme spiritual, baik dalam bentuk Gnostisisme kuno maupun bentuk-bentuk modern yang memisahkan iman dari kehidupan nyata (seperti aktivisme tanpa spiritualitas atau spiritualitas tanpa tubuh).

Glosarium Istilah Kunci
| Istilah | Definisi Menurut Ensiklik Dilexit Nos |
| Abba | Kata Aram yang digunakan Yesus untuk memanggil Bapa-Nya. Istilah ini bersifat akrab dan familier, menunjukkan hubungan Putra yang intim dan penuh kepercayaan dengan Bapa. |
| Devosi Penghiburan | Aspek spiritualitas di mana umat beriman, melalui iman dan kasih, berkeinginan untuk menawarkan penghiburan kepada Hati Kristus yang menderita dalam sengsara-Nya. Ini didasarkan pada keyakinan bahwa misteri penebusan melampaui waktu dan tindakan penghiburan kita saat ini dapat menyentuh hati-Nya. |
| Gnostisisme | Ancaman spiritual yang menolak realitas “keselamatan daging”. Dalam konteks modern, ini merujuk pada bentuk-bentuk spiritualitas tanpa tubuh yang memisahkan iman dari realitas jasmani dan historis. |
| Hati (Kardía) | Inti tersembunyi dan terdalam dari pribadi manusia, tempat di mana pikiran dan perasaan menyatu, keputusan-keputusan penting dibentuk, dan kebenaran otentik diri seseorang berada. Hati adalah pusat koordinasi yang menyatukan tubuh dan jiwa, serta lokus perjumpaan dengan Allah dan sesama. |
| Jansenisme | Suatu bentuk spiritualitas yang kaku dan tanpa tubuh yang cenderung mengabaikan belas kasihan Allah yang tak terbatas. Jansenisme memandang rendah semua yang manusiawi, afektif, dan jasmani dalam kesalehan. |
| Kasih Tiga Lipat | Konsep yang menjelaskan tiga dimensi kasih yang ada dalam Hati Kristus: 1) Kasih ilahi-Nya yang tak terbatas; 2) Kasih spiritual kemanusiaan-Nya, yang memperkaya kehendak manusia-Nya; dan 3) Kasih-Nya yang masuk akal (sensible), yang diungkapkan melalui emosi manusiawi-Nya. |
| Mistik | Kehidupan batin yang mendalam yang melampaui pemahaman rasional semata. Dalam konteks reparasi, ini merujuk pada jiwa atau makna spiritual yang memberi kekuatan dan kreativitas pada tindakan-tindakan lahiriah, yang bersumber dari Hati Kristus. |
| Penyesalan (Compunction) | Kesedihan yang bermanfaat karena telah mendukakan Allah dengan dosa-dosa. Ini bukan perasaan bersalah yang membuat putus asa, melainkan “penusukan” yang memurnikan dan menyembuhkan hati, serta membuka diri pada karya Roh Kudus. |
| Proselitisme | Upaya merekrut pengikut baru dengan cara yang memaksa atau tidak menghormati kebebasan individu. Ensiklik membedakan misi Kristen dari proselitisme, dengan menyatakan bahwa misi sejati adalah pancaran kasih yang mengundang, bukan menuntut. |
| Reparasi | Tindakan untuk “memperbaiki” kerusakan yang disebabkan oleh dosa. Ensiklik ini mendefinisikannya dalam dua cara utama: 1) Secara sosial, sebagai upaya membangun “peradaban kasih” di atas reruntuhan dosa dan kekerasan; 2) Secara spiritual, sebagai penghapusan rintangan yang menghalangi penyebaran kasih Kristus di dunia. |
| Sensus Fidelium | “Rasa iman” umat beriman. Ini merujuk pada intuisi atau pemahaman spiritual kolektif dari Umat Allah yang, dibimbing oleh Roh Kudus, merasakan kebenaran ilahi bahkan dalam hal-hal yang melampaui logika teologis yang ketat. |
DOWNLOAD DOKUMEN DILEXIT NOS
