By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    3 weeks ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    3 weeks ago
    Latest News
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Psikolog: Keluarga Masa Kini Rentan Kehilangan Arah karena Mengejar Harga Diri di Luar Rumah
    3 weeks ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    3 weeks ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    3 weeks ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    OSOJI
    11 hours ago
    Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
    6 days ago
    Natal di Tengah Bencana: Merawat Harapan, Menjaga Ingatan
    1 week ago
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Iman yang Menyembuhkan, Syukur yang Menyelamatkan: Belajar dari Naaman dan Si Samaria yang Kembali
    3 months ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
    4 weeks ago
    Vatikan Tegaskan Monogami sebagai Janji Cinta Tak Terbatas
    4 weeks ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    1 month ago
    Ziarah ke Makam Paus Fransiskus; Kesederhanaan Itu Menyentuhku
    1 month ago
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 3
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    1 month ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    1 month ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    6 months ago
    Latest News
    OSOJI
    10 hours ago
    Natal Perdana di Gereja Ibu Teresa Cikarang, Cahaya dan Sejarah Baru
    1 week ago
    Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
    3 weeks ago
    Psikolog: Keluarga Masa Kini Rentan Kehilangan Arah karena Mengejar Harga Diri di Luar Rumah
    3 weeks ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    8 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    7 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    7 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    8 months ago
Reading: Ringkasan dan Panduan Studi Seruan Apostolik Dilexi Te tentang Kasih kepada Kaum Miskin
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > GEREJA SEMESTA > Ajaran Gereja > Ringkasan dan Panduan Studi Seruan Apostolik Dilexi Te tentang Kasih kepada Kaum Miskin
Ajaran GerejaGEREJA SEMESTA

Ringkasan dan Panduan Studi Seruan Apostolik Dilexi Te tentang Kasih kepada Kaum Miskin

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: October 14, 2025 2:38 pm
By Gabriel Abdi Susanto 3 months ago
Share
24 Min Read
SHARE

Ringkasan Eksekutif

Ekshortasi Apostolik Dilexi te, yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIV pada 4 Oktober 2025, adalah sebuah dokumen komprehensif yang menegaskan kembali kepedulian terhadap kaum miskin sebagai inti yang tak terpisahkan dari iman dan misi Kristiani. Dokumen ini, yang awalnya disiapkan oleh Paus Fransiskus, diadopsi dan diperluas oleh Paus Leo XIV untuk menekankan hubungan yang erat antara kasih Kristus dan panggilan untuk melayani mereka yang paling rentan. Tema utamanya adalah bahwa kasih kepada kaum miskin bukanlah sekadar kegiatan sosial, melainkan sebuah jalan esensial menuju kekudusan yang berakar kuat dalam Kitab Suci, Tradisi Gereja selama dua milenium, dan Ajaran Sosial Gereja modern. Ekshortasi ini menelusuri sejarah panjang pelayanan Gereja—mulai dari para Bapa Gereja, ordo monastik dan mendikan, hingga para kudus modern—sebagai bukti komitmen yang tak terputus ini. Dokumen ini juga melontarkan kritik tajam terhadap “struktur-struktur dosa” ekonomi dan sosial yang menciptakan dan melanggengkan kemiskinan serta ketidaksetaraan. Lebih dari itu, Dilexi te menyerukan perubahan mentalitas, di mana kaum miskin tidak lagi dipandang sebagai objek amal, melainkan sebagai subjek aktif dalam evangelisasi dan transformasi sosial, yang memiliki kebijaksanaan unik untuk dibagikan. Dokumen ini diakhiri dengan panggilan mendesak kepada semua umat Kristiani untuk mengatasi ketidakacuhan, terlibat dalam tindakan nyata—mulai dari sedekah pribadi hingga perjuangan untuk keadilan struktural—dan mengenali Kristus sendiri dalam “daging yang menderita” dari kaum miskin.

——————————————————————————–

1. Pendahuluan: Sebuah Pernyataan Kasih bagi Kaum Miskin

Ekshortasi Apostolik Dilexi te (“Aku telah mengasihimu”) dimulai dengan mengutip kata-kata Tuhan dari Kitab Wahyu (Why 3:9), yang ditujukan kepada komunitas Kristiani yang tidak memiliki kekuasaan atau sumber daya namun tetap dikasihi oleh-Nya. Paus Leo XIV menjelaskan bahwa dokumen ini melanjutkan refleksi dari Ensiklik Dilexit Nos karya Paus Fransiskus, yang menyoroti bagaimana Yesus mengidentifikasi diri-Nya dengan “lapisan masyarakat yang paling rendah”.

Paus Leo XIV menyatakan bahwa ia dengan senang hati “menjadikan dokumen ini miliknya sendiri”—yang disiapkan oleh pendahulunya pada bulan-bulan terakhir hidupnya—sambil menambahkan beberapa refleksi. Tujuannya adalah untuk menegaskan kembali bahwa jalan menuju kekudusan secara esensial terhubung dengan kepedulian terhadap kaum miskin. “Dalam panggilan untuk mengenali-Nya dalam diri kaum miskin dan yang menderita,” tulisnya, “kita melihat terungkapnya hati Kristus sendiri, perasaan dan pilihan-Nya yang terdalam, yang berusaha diteladani oleh setiap orang kudus.”

2. Landasan Teologis dan Biblis

Dasar argumen Ekshortasi ini berakar kuat dalam Kitab Suci dan teologi Kristiani, yang menegaskan bahwa hubungan dengan kaum miskin adalah jalan mendasar untuk bertemu dengan Tuhan.

Opsi Preferensial Allah bagi Kaum Miskin

Dokumen ini menguraikan bagaimana seluruh sejarah keselamatan ditandai oleh kehadiran dan kepedulian Allah terhadap kaum miskin.

• Perjanjian Lama: Allah secara konsisten menampakkan diri sebagai pembebas kaum tertindas, seperti yang terlihat dalam kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Ia mendengar “teriakan kaum miskin” (Kel 3:7-8) dan mengecam ketidakadilan melalui para nabi seperti Amos dan Yesaya.

• Yesus, Mesias yang Miskin: Pemenuhan cinta preferensial Allah ini terjadi dalam diri Yesus dari Nazaret. Kemiskinan menandai setiap aspek kehidupan-Nya: kelahiran-Nya di tempat yang hina, pekerjaan-Nya sebagai seorang tukang kayu (téktōn), status-Nya sebagai pengajar keliling yang “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20), hingga kematian-Nya sebagai seorang buangan di kayu salib.

• Pewartaan Kerajaan Allah: Misi publik Yesus dimulai dengan proklamasi bahwa Ia diurapi “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Ia menyatakan, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20), yang menunjukkan bahwa kabar pembebasan Tuhan pertama-tama ditujukan kepada mereka.

Belas Kasih dan Penghakiman Terakhir

Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama dipandang sebagai dua hal yang tak terpisahkan.

• Dua Perintah Utama: Yesus menyatukan perintah untuk mengasihi Tuhan (Ul 6:5) dan mengasihi sesama (Im 19:18) menjadi satu perintah terbesar. Dokumen ini menegaskan bahwa “bukti nyata keaslian kasih kita kepada Allah” adalah kasih kepada sesama.

• Perumpamaan Penghakiman Terakhir (Mat 25:31-46): Teks ini disajikan sebagai “kriteria yang jelas” di mana setiap orang akan dihakimi. Setiap tindakan belas kasih yang dilakukan “kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

• Iman dan Perbuatan: Mengutip Surat Yakobus, Ekshortasi ini menekankan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:17). Kekayaan yang disimpan sementara para pekerja menderita digambarkan sebagai dosa yang “berteriak” ke hadapan Tuhan.

3. Tradisi Kepedulian Bersejarah Gereja

Dilexi te menyajikan sebuah survei historis yang luas untuk menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kaum miskin telah menjadi “bagian sentral” dari kehidupan Gereja sejak awal.

Era/GerakanTokoh/Contoh UtamaKontribusi dan Wawasan Kunci
Gereja Perdana & Bapa GerejaSt. Stefanus, St. Laurensius, St. Ignatius dari Antiokhia, St. Yohanes Krisostomus, St. Ambrosius, St. Agustinus– Menggabungkan kesaksian iman (martir) dengan pelayanan kepada kaum miskin. St. Laurensius menyatakan kaum miskin sebagai “harta karun Gereja”. St. Yohanes Krisostomus mengkritik kemewahan di gereja sementara Kristus menderita di luar dalam diri kaum miskin, dengan menyatakan “tidak memberi kepada orang miskin berarti mencuri dari mereka”. St. Agustinus mengajarkan bahwa kaum miskin adalah kehadiran sakramental Tuhan.
Kepedulian terhadap Orang SakitSt. Siprianus, St. Yohanes dari Allah, St. Kamilus de Lellis, St. Louise de Marillac– Menganggap merawat orang sakit sebagai “menyentuh daging Kristus yang menderita”. St. Kamilus menuntut “kasih keibuan” bagi orang sakit, seperti seorang ibu merawat “satu-satunya anaknya yang sakit”. Menyoroti peran krusial para biarawati dalam membangun fasilitas kesehatan dan memberikan perawatan dengan kelembutan.
Kehidupan MonastikSt. Basilius Agung, St. Benediktus dari Nursia, St. Bernardus dari Clairvaux– Menyatukan kehidupan kontemplatif dengan kerja praktis untuk kaum miskin. Aturan St. Benediktus menekankan keramahtamahan, “karena di dalam diri mereka [orang miskin dan peziarah] Kristus diterima”. Biara menjadi pusat perlindungan, pendidikan, dan ekonomi solidaritas, yang menentang logika akumulasi.
Membebaskan TawananOrdo Tritunggal Mahakudus (Trinitarian), Ordo Santa Perawan Maria dari Kerahiman (Mersedarian)– Didirikan dengan karisma khusus untuk menebus orang Kristen yang diperbudak. Anggota ordo sering kali menawarkan hidup mereka sendiri sebagai ganti tawanan, sebuah ekspresi kepahlawanan amal kasih. Misi ini berlanjut dalam menghadapi bentuk-bentuk perbudakan modern (perdagangan manusia, kerja paksa).
Ordo-ordo MendikanSt. Fransiskus dari Assisi, St. Klara dari Assisi, St. Dominikus de Guzmán– Menjalani kemiskinan radikal untuk meneladani Kristus dan hidup di antara kaum miskin.
Kemiskinan Fransiskan bersifat relasional, menjadikan mereka “saudara” bagi kaum miskin.
Kemiskinan Dominikan memberikan otoritas pada pewartaan mereka tentang Injil.
Pendidikan bagi Kaum MiskinSt. Yosef Kalasans, St. Yohanes Pembaptis de La Salle, St. Yohanes Bosco– Mendirikan sekolah umum gratis pertama di Eropa untuk anak-anak miskin. Menganggap pendidikan sebagai tindakan keadilan dan iman, yang membebaskan dan memberikan martabat.
Menekankan pembentukan pribadi yang utuh—akal, agama, dan kebaikan hati—terutama bagi mereka yang tersingkir dari sistem.
Pendampingan bagi MigranSt. Yohanes Pembaptis Scalabrini, St. Fransiska Xaveria Cabrini– Mendirikan kongregasi untuk memberikan bantuan spiritual, hukum, dan material bagi para migran. Membangun sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan bagi para imigran yang miskin dan tereksploitasi.
Menegaskan kembali empat kata kerja untuk misi Gereja: “menyambut, melindungi, memajukan, dan mengintegrasikan”.
Saksi di antara yang TerkecilSt. Teresa dari Kalkuta, St. Dulce dari Kaum Miskin– Melayani “yang termiskin dari yang miskin” dan mereka yang dibuang oleh masyarakat.
St. Teresa menekankan bahwa kaum miskin “tidak membutuhkan belas kasihan dan simpati kita, mereka membutuhkan cinta pemahaman kita”.
Pelayanan dipandang bukan sebagai filantropi, melainkan sebagai buah dari doa dan perjumpaan dengan Kristus yang menderita.
Gerakan KerakyatanPemimpin dan komunitas awam– Diakui sebagai “aliran energi moral” yang memperjuangkan “penyebab struktural kemiskinan dan ketidaksetaraan”.
Menekankan pentingnya kebijakan sosial yang dibuat “dengan kaum miskin dan dari kaum miskin”, bukan hanya “untuk kaum miskin”.

4. Ajaran Sosial Modern dan Kritik terhadap Ketidakadilan

Ekshortasi ini secara mendalam membahas perkembangan ajaran sosial Gereja dalam 150 tahun terakhir, yang berpuncak pada kritik terhadap sistem ekonomi dan sosial global saat ini.

Perkembangan Ajaran Sosial

• Dari Rerum Novarum ke Konsili Vatikan II: Dimulai dengan Paus Leo XIII yang membahas masalah buruh, ajaran ini berkembang hingga seruan Santo Yohanes XXIII untuk “Gereja bagi semua orang dan khususnya Gereja bagi kaum miskin”. Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes, menegaskan kembali tujuan universal barang-barang duniawi.

• Para Paus Pascakonsili: Santo Paulus VI berbicara sebagai “pembela rakyat miskin”. Santo Yohanes Paulus II mengukuhkan “opsi preferensial bagi kaum miskin” sebagai “bentuk utama khusus dalam pelaksanaan amal kasih Kristiani”. Benediktus XVI menyoroti kelaparan sebagai akibat dari kekurangan sumber daya sosial dan institusional.

Struktur Dosa dan Ketidaksetaraan

Dokumen ini mengadopsi dan memperkuat kritik yang dilontarkan oleh Paus Fransiskus dan konferensi-konferensi Waligereja Amerika Latin (Medellín, Puebla, Aparecida).

• Ekonomi yang Membunuh: Dokumen ini mengutuk “kediktatoran ekonomi yang membunuh” dan ideologi yang membela “otonomi mutlak pasar dan spekulasi keuangan”. Ketidaksetaraan disebut sebagai “akar dari penyakit sosial”.

• Dosa Sosial dan Keterasingan: Struktur dosa mengarah pada “keterasingan sosial”, di mana menjadi normal untuk mengabaikan kaum miskin seolah-olah mereka tidak ada.

• Budaya Buang: Masyarakat modern dikritik karena mempromosikan “budaya buang” yang meminggirkan yang lemah, belum berbakat, atau yang dianggap tidak produktif, dan merusak lingkungan yang paling berdampak pada kaum miskin.

Kaum Miskin sebagai Subjek

Mengambil inspirasi dari Dokumen Aparecida, Ekshortasi ini menekankan peran aktif kaum miskin.

• Kaum Miskin Menginjili Kita: Kaum miskin bukanlah sekadar penerima amal, melainkan “agen evangelisasi”. Pengalaman hidup mereka memberi mereka kemampuan untuk mengenali aspek-aspek realitas yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Gereja harus “membiarkan dirinya diinjili” oleh mereka.

• Kedekatan Sejati: Kepedulian sejati menuntut “kedekatan yang nyata dan tulus” yang menghargai kaum miskin “dalam kebaikan mereka, dalam pengalaman hidup mereka, dalam budaya mereka, dan dalam cara mereka menghayati iman”.

5. Tantangan Konstan bagi Gereja Saat Ini

Bab terakhir berfungsi sebagai panggilan mendesak untuk tindakan, mengingatkan umat Kristiani bahwa kepedulian terhadap kaum miskin bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan Injili yang mendefinisikan identitas Gereja.

Mengatasi Ketidakacuhan

• Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati: Perumpamaan ini disajikan sebagai cerminan bagi masyarakat kontemporer yang “buta huruf dalam hal mendampingi, merawat, dan mendukung anggota masyarakat kita yang paling rapuh dan rentan”. Pertanyaan “Siapakah di antara mereka yang kamu identifikasi?” diajukan kepada setiap pembaca.

• Gejala Masyarakat yang Tidak Sehat: Ketidakacuhan adalah gejala masyarakat yang “mencari kemakmuran tetapi membelakangi penderitaan”.

Identitas Gereja dan Daging Kristus

• Gereja untuk Kaum Miskin: Gereja, secara kodratnya, bersolidaritas dengan kaum miskin. “Gereja miskin untuk kaum miskin dimulai dengan menjangkau daging Kristus.” Ini berarti kepedulian terhadap kaum miskin bukanlah sekadar satu “kegiatan gerejawi” di antara yang lain, melainkan inti dari keberadaannya.

• Risiko Spiritualitas Duniawi: Komunitas gereja yang tidak peduli pada kaum miskin berisiko “runtuh” dan “terjebak dalam keduniawian spiritual yang disamarkan dengan praktik keagamaan, pertemuan yang tidak produktif, dan omong kosong”.

• Diskriminasi Terburuk: Dokumen ini memperingatkan bahwa “diskriminasi terburuk yang diderita orang miskin adalah kurangnya perhatian rohani”. Opsi preferensial bagi kaum miskin harus diterjemahkan menjadi “perhatian keagamaan yang diistimewakan dan diprioritaskan”.

Mempertahankan Peran Sedekah

Meskipun mengakui bahwa sedekah tidak menyelesaikan masalah struktural kemiskinan, Ekshortasi ini membelanya sebagai praktik yang perlu.

• Sebuah Tindakan Empati: Memberi sedekah memberikan “kesempatan untuk berhenti di hadapan orang miskin, menatap mata mereka, menyentuh mereka, dan berbagi sesuatu dari diri kita dengan mereka”.

• Sentuhan Pietas: Tindakan ini membawa “sentuhan pietas” ke dalam masyarakat yang ditandai oleh pengejaran keuntungan pribadi yang panik.

• Menjangkau Daging yang Menderita: Memberi sedekah adalah cara untuk “menjangkau dan menyentuh daging yang menderita dari orang miskin”, yang dapat melembutkan hati yang keras dan menjaga agar keyakinan terdalam tetap hidup melalui tindakan nyata.

Kesimpulan: Panggilan Profetis untuk Mengasihi

Ekshortasi Dilexi te diakhiri dengan menegaskan bahwa kasih Kristiani bersifat profetis: ia meruntuhkan penghalang, menyatukan yang jauh, dan membuat hal yang mustahil menjadi mungkin. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang tidak mengenal batas dalam mengasihi, menjadi tanda harapan di dunia saat ini. Melalui setiap tindakan kasih—baik itu tindakan pribadi yang sederhana maupun upaya untuk mengubah struktur yang tidak adil—kaum miskin dapat menyadari bahwa kata-kata Yesus ditujukan secara pribadi kepada mereka masing-masing: “Aku telah mengasihimu” (Why 3:9).

Panduan Studi : Seruan Apostolik Dilexi Te

Seruan Apostolik Dilexi te (“Aku Telah Mengasihimu”) dari Paus Leo XIV, yang diterbitkan pada tanggal 4 Oktober 2025, merupakan sebuah dokumen mendalam yang melanjutkan dan memperluas ajaran pendahulunya, Paus Fransiskus, mengenai hubungan tak terpisahkan antara kasih Kristus dan panggilan untuk merawat kaum miskin. Dokumen ini menelusuri sejarah kepedulian Gereja terhadap kaum miskin, dari Kitab Suci hingga ajaran para Bapa Gereja, para santo/santa, dan Magisterium modern, serta menyajikan tantangan yang terus-menerus bagi umat Kristiani saat ini untuk menanggapi seruan kaum miskin dengan tindakan nyata dan perubahan pola pikir.

Kuis Jawaban Singkat

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dalam 2-3 kalimat, berdasarkan pemahaman Anda terhadap teks sumber.

1. Apakah asal-usul dan makna judul Seruan Apostolik Dilexi te?

2. Bagaimana dokumen ini menjelaskan “pilihan preferensial bagi kaum miskin” dari sudut pandang teologis?

3. Siapakah Santo Laurensius, dan bagaimana kisahnya menggambarkan kekayaan sejati Gereja?

4. Apa kritik utama Santo Yohanes Krisostomus terhadap orang-orang kaya yang acuh tak acuh terhadap kaum miskin?

5. Apa tujuan spesifik dari Ordo Tritunggal Mahakudus (Trinitarian) dan Ordo Santa Perawan Maria dari Kerahiman (Mercedarian) yang didirikan pada Abad Pertengahan?

6. Bagaimana Konsili Vatikan II mengubah pemahaman Gereja mengenai perannya terhadap kaum miskin?

7. Apa yang dimaksud dengan “struktur-struktur dosa” yang menciptakan kemiskinan dan ketidaksetaraan ekstrem?

8. Mengapa dokumen ini menekankan bahwa kaum miskin harus dipandang sebagai “subjek” dan bukan hanya “objek” amal kasih?

9. Menurut dokumen tersebut, apa diskriminasi terburuk yang diderita oleh kaum miskin?

10. Apa peran dan pentingnya “pemberian sedekah” di zaman modern, meskipun hal itu tidak dapat menyelesaikan masalah kemiskinan global?

——————————————————————————–

Kunci Jawaban

1. Judul Dilexi te (“Aku Telah Mengasihimu”) diambil dari Kitab Wahyu 3:9, di mana Tuhan berbicara kepada sebuah komunitas Kristen yang tidak memiliki kekuatan atau sumber daya. Paus Leo XIV mengadopsi dokumen yang awalnya disiapkan oleh Paus Fransiskus ini untuk menekankan bahwa Kristus mengucapkan kata-kata kasih ini kepada setiap orang miskin.

2. “Pilihan preferensial bagi kaum miskin” adalah sebuah ungkapan teologis yang menekankan tindakan Allah yang didorong oleh belas kasihan terhadap kemiskinan dan kelemahan seluruh umat manusia. Hal ini tidak berarti eksklusivitas atau diskriminasi, melainkan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat istimewa di hati-Nya bagi mereka yang terpinggirkan dan tertindas, serta meminta Gereja untuk membuat pilihan yang sama.

3. Santo Laurensius adalah seorang diakon di Roma pada abad ketiga yang, ketika dipaksa oleh otoritas Romawi untuk menyerahkan harta Gereja, ia membawa serta kaum miskin. Ia menyatakan, “Inilah harta karun Gereja,” dengan demikian menunjukkan bahwa orang-orang miskin, di mana Kristus hadir, adalah kekayaan sejati Gereja.

4. Santo Yohanes Krisostomus dengan keras mengkritik orang-orang kaya yang menghiasi altar gereja dengan kemewahan tetapi mengabaikan Kristus yang menderita dalam diri orang miskin yang kelaparan dan kedinginan. Ia mengajarkan bahwa ibadah sejati tidak dapat dipisahkan dari keadilan dan amal kasih, dengan menyatakan bahwa “tidak memberi kepada orang miskin berarti mencuri dari mereka.”

5. Ordo Trinitarian dan Mercedarian didirikan untuk karisma spesifik membebaskan orang-orang Kristen yang ditawan atau diperbudak. Mereka menggunakan harta mereka untuk menebus para tawanan dan bahkan menawarkan diri mereka sebagai ganti, menunjukkan bahwa amal kasih bisa bersifat heroik dan merupakan perpanjangan dari kurban penebusan Kristus.

6. Konsili Vatikan II, yang didahului oleh seruan Paus Yohanes XXIII untuk “Gereja bagi semua orang dan khususnya Gereja bagi kaum miskin,” menjadi tonggak sejarah. Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes secara kuat menegaskan kembali tujuan universal barang-barang duniawi dan fungsi sosial dari hak milik, serta meletakkan dasar bagi pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan intrinsik antara Gereja dan kaum miskin.

7. “Struktur-struktur dosa” merujuk pada sistem sosial, politik, dan ekonomi yang tidak adil yang melanggengkan kemiskinan dan ketidaksetaraan. Ini termasuk ideologi yang membela otonomi pasar absolut, spekulasi keuangan, dan budaya membuang yang mengabaikan martabat manusia dan menolak hak-hak kaum miskin dan yang paling rentan.

8. Memandang kaum miskin sebagai “subjek” berarti mengakui mereka sebagai agen yang mampu menciptakan budaya mereka sendiri, merangkul Injil sesuai dengan nilai-nilai mereka, dan memiliki wawasan unik tentang kenyataan. Gereja dan masyarakat perlu mendengarkan mereka dan bekerja bersama mereka untuk pembebasan mereka, bukan hanya melakukan tindakan amal untuk mereka.

9. Menurut dokumen tersebut, diskriminasi terburuk yang diderita kaum miskin adalah kurangnya perhatian rohani. Preferensi Gereja bagi kaum miskin harus diwujudkan terutama dalam perhatian keagamaan yang istimewa dan prioritas, menentang pandangan yang memisahkan pelayanan rohani dari upaya pembangunan manusia yang integral.

10. Meskipun tidak dapat menyelesaikan masalah kemiskinan dunia, pemberian sedekah tetap merupakan sarana yang diperlukan untuk bertemu dan berempati dengan mereka yang kurang beruntung. Pemberian sedekah menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak, menatap mata kaum miskin, menyentuh mereka, dan melembutkan hati yang mengeras, serta berfungsi sebagai kesaksian nyata dari kasih Kristiani dalam masyarakat yang sering kali didorong oleh kepentingan pribadi.

——————————————————————————–

Pertanyaan Esai

1. Diskusikan bagaimana Dilexi te menelusuri tema kepedulian terhadap kaum miskin sepanjang sejarah Gereja, mulai dari Perjanjian Lama hingga doktrin sosial modern. Sebutkan contoh-contoh spesifik dari para kudus, Bapa Gereja, ordo religius, dan Konsili untuk mendukung argumen Anda.

2. Analisis konsep “struktur-struktur dosa” sebagaimana disajikan dalam dokumen. Bagaimana teks tersebut menghubungkan sikap pribadi, sistem ekonomi, dan ketidaksetaraan global dengan pelanggengan kemiskinan?

3. Jelaskan argumen teologis untuk “pilihan preferensial bagi kaum miskin.” Bagaimana dokumen ini mendasarkan konsep tersebut pada kehidupan dan ajaran Yesus Kristus, serta tindakan Allah dalam sejarah keselamatan?

4. Dilexi te menyajikan kaum miskin tidak hanya sebagai objek amal kasih, tetapi juga sebagai “subjek” dan “guru.” Uraikan gagasan ini, jelaskan apa yang dapat dipelajari oleh Gereja dan masyarakat dari kaum miskin menurut seruan tersebut.

5. Bandingkan dan kontraskan berbagai bentuk pelayanan kepada kaum miskin yang disoroti dalam dokumen, seperti perawatan orang sakit, pendidikan kaum muda, pembebasan para tawanan, dan tradisi monastik. Benang merah spiritual apa yang menyatukan berbagai karya belas kasihan ini?

——————————————————————————–

Glosarium Istilah Kunci

IstilahDefinisi
Dilexi te(“Aku Telah Mengasihimu”) Judul Seruan Apostolik yang diambil dari Kitab Wahyu 3:9. Judul ini menandakan kasih Kristus yang tak habis-habisnya yang ditujukan secara pribadi kepada setiap orang miskin dan terpinggirkan.
Pilihan Preferensial bagi Kaum MiskinSebuah prinsip teologis yang menegaskan tempat istimewa Allah bagi mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Ini bukan tentang eksklusivitas, melainkan tentang panggilan bagi Gereja untuk secara radikal berpihak pada yang paling lemah, meniru belas kasihan Allah.
Struktur-struktur DosaSistem dan ideologi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak adil yang menyebabkan dan melanggengkan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan pengucilan. Ini termasuk “kediktatoran ekonomi yang membunuh” dan “budaya membuang.”
Doktrin Sosial GerejaKumpulan ajaran Magisterium Gereja mengenai isu-isu sosial, perburuhan, ekonomi, dan budaya modern. Doktrin ini berkembang pesat selama 150 tahun terakhir, dimulai dengan Rerum Novarum dari Paus Leo XIII, dan menyerukan keadilan sosial berdasarkan Injil.
Pemberian Sedekah (Amal)Tindakan amal kasih yang memberikan bantuan material kepada kaum miskin. Meskipun tidak menyelesaikan akar penyebab kemiskinan, dokumen ini menegaskannya kembali sebagai sarana penting untuk perjumpaan, empati, dan sebagai “sayap doa.”
Gerakan KerakyatanKomunitas-komunitas yang terikat erat, sering kali dipimpin oleh para pemimpin dari kalangan rakyat, yang berjuang melawan penyebab struktural kemiskinan dan ketidaksetaraan. Mereka dianggap sebagai kekuatan energi moral yang penting bagi perubahan sosial dan pembaruan demokrasi.
DiakoniaKata Yunani untuk “pelayanan.” Dalam konteks Gereja perdana, ini merujuk pada pelayanan atau tugas merawat anggota komunitas yang paling miskin, seperti yang dilembagakan oleh para Rasul dalam Kisah Para Rasul 6:1-5.
Privilegium Paupertatis(“Hak Istimewa Kemiskinan”) Sebuah hak istimewa yang diberikan oleh Paus Gregorius IX kepada Santa Klara dari Assisi dan biaranya, yang menjamin hak mereka untuk hidup dalam kemiskinan radikal tanpa memiliki harta benda apa pun. Ini melambangkan kepercayaan total kepada penyelenggaraan ilahi.
Konsili Vatikan IISebuah peristiwa penting dalam sejarah Gereja (1962-1965) yang membawa pemahaman baru tentang peran Gereja di dunia modern. Secara khusus, Konsili ini menekankan identitas Gereja sebagai “Gereja kaum miskin” dan menegaskan kembali tujuan universal barang-barang duniawi.
Tujuan Universal Barang-barang DuniawiPrinsip doktrin sosial yang menyatakan bahwa Allah telah menetapkan bumi dan segala isinya untuk semua orang dan bangsa. Prinsip ini menyiratkan bahwa kepemilikan pribadi memiliki dimensi sosial dan tidak boleh digunakan dengan mengorbankan kebutuhan dasar orang lain.
Ordo Pengemis (Mendicant Orders)Ordo-ordo religius (seperti Fransiskan dan Dominikan) yang muncul pada abad ke-13, yang menganut kehidupan keliling tanpa kepemilikan pribadi atau komunal. Mereka tidak hanya melayani orang miskin, tetapi juga menjadi miskin bersama mereka sebagai tanda kenabian.

You Might Also Like

Tambang Nikel di Raja Ampat: Ironi Transisi Energi dan Ancaman terhadap Surga Biodiversitas

Tiap Individu Miliki Momen Menjadi Tanah Berbatu

Wasiat Paus Fransiskus Terkait Penguburannya

Ritus Pengukuhan Paus Leo XIV: Awal Pelayanan Sang Gembala

Paus Fransiskus Meninggal Dunia. Selamat Jalan Santo Bapa

TAGGED:biblisdasar teologisdilexi tefransiskus asisigereja orang miskin yesus kristusheadlineorang miskinpanduan studipaus fransiskusPaus Leo XIVringkasan seruan apostolik dilexi teseruan apostolik
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Iman yang Menyembuhkan, Syukur yang Menyelamatkan: Belajar dari Naaman dan Si Samaria yang Kembali
Next Article Gereja Katolik Indonesia Gelar SAGKI 2025, 3-7 November
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • OSOJI
  • Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian
  • Natal Perdana di Gereja Ibu Teresa Cikarang, Cahaya dan Sejarah Baru
  • Natal di Tengah Bencana: Merawat Harapan, Menjaga Ingatan
  • Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya

Recent Comments

  1. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  2. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  3. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  4. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
  5. inigoway on Vatikan Tegaskan Monogami sebagai Janji Cinta Tak Terbatas
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?