By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    2 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    2 months ago
    Latest News
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    1 hour ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    23 hours ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
    Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
    6 days ago
    Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2026: Belas Kasih Orang Samaria
    1 month ago
    Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
    1 month ago
    Bagaimana Gereja Katolik Dapat Menganulir Sebuah Perkawinan?
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    3 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    3 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    8 months ago
    Latest News
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
    It’s Not Just Money
    1 month ago
    Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin
    1 month ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
Reading: Keluarga Sebagai Sekolah Rohani: Membaca Kembali Spiritualitas Awam Lewat “Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian”
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > KOMUNITAS > Paguyuban Sesawi > Keluarga Sebagai Sekolah Rohani: Membaca Kembali Spiritualitas Awam Lewat “Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian”
IGNASIANAKOMUNITASPaguyuban Sesawi

Keluarga Sebagai Sekolah Rohani: Membaca Kembali Spiritualitas Awam Lewat “Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian”

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: November 1, 2025 1:10 am
By Gabriel Abdi Susanto 4 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

Selama ini, spiritualitas sering dipahami sebagai wilayah yang eksklusif: dunia doa, retret, dan permenungan yang seolah hanya milik para imam, suster, atau biarawan-biarawati. Namun buku Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian: Antologi Pengalaman Berkeluarga Awam Yesuit membalik pandangan itu secara lembut tapi tegas. Ia memperlihatkan bahwa rumah tangga—dengan segala kesibukan, kegelisahan, bahkan kekacauannya—dapat menjadi “sekolah rohani” yang tak kalah mendalam dibanding biara atau retret center.

Diterbitkan oleh Yayasan Sesawi tahun ini (2025), buku setebal 378 halaman ini disusun oleh sembilan penulis dengan latar belakang berbeda: Damar Harsanto, Dedy Kristanto, Gabriel Abdi Susanto, Leo Sardi SJ, Agustinus Setyodarmono SJ, Wahyu P. Wibowo, F. Asmi Arijanto, Winoto Doeriat, dan YR Widadaprayitna. Mereka semua, baik awam maupun imam Yesuit, menulis dengan satu semangat yang sama: menghadirkan Tuhan di tengah kehidupan keluarga biasa.

Yang menarik dari buku ini bukan hanya isinya, tetapi juga posisinya dalam konteks Gereja Katolik kontemporer di Indonesia. Buku ini muncul di saat banyak keluarga Katolik bergulat dengan tekanan dunia modern—pekerjaan, ekonomi, pendidikan anak, dan derasnya arus teknologi digital. Dalam situasi itu, spiritualitas sering kali tampak jauh, bahkan terasa tidak relevan. Namun para penulis buku ini menegaskan hal sebaliknya: justru dalam hiruk-pikuk itulah seseorang bisa mengalami Tuhan dengan cara paling otentik.

Tulisan Winoto Doeriat membuka bab pertama dengan kesaksian yang penuh kehangatan. Ia bercerita tentang perjalanan panjang perkawinannya yang diwarnai perbedaan, luka, dan proses penyembuhan. Tetapi alih-alih memberikan petuah moral, ia mengajak pembaca untuk merenungkan cinta sebagai proses rohani yang terus-menerus—sebuah perjalanan di mana manusia belajar menerima dan mengampuni, bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih yang ditumbuhkan dalam doa.

Gabriel Abdi Susanto menghadirkan dimensi yang lebih konseptual. Ia menulis tentang pilar-pilar Ignasian—discernment, magis, indiferensia, dan eksamen—bukan sebagai teori rohani, melainkan sebagai cara hidup. Ia menggambarkan discernment bukan sebagai ritual doa yang rumit, melainkan sebagai sikap sadar yang tumbuh di tengah keseharian: ketika orang tua memutuskan pendidikan anak, ketika pasangan menimbang arah keluarga, atau ketika seseorang belajar menerima kenyataan hidup dengan lapang hati.

Sementara itu, Dedy Kristanto membawa pembaca keluar dari lingkup domestik. Dalam tulisannya yang memadukan Latihan Rohani dan Amoris Laetitia karya Paus Fransiskus, ia menunjukkan bahwa keluarga yang berakar pada spiritualitas Ignasian akan secara alami memiliki kepekaan sosial. Keluarga yang kontemplatif tidak lari dari dunia, melainkan justru hadir di tengahnya: peduli pada tetangga, terlibat dalam pelayanan, dan menjadi saksi kasih di masyarakat.

Kedua imam Yesuit, Romo Agustinus Setyodarmono SJ dan Romo Leo Sardi SJ, memberi bingkai rohani yang menegaskan bahwa Latihan Rohani tidak pernah dimaksudkan hanya untuk para imam. Romo Setyodarmono menjelaskan bagaimana discernment menjadi latihan kebebasan batin yang sangat cocok untuk konteks keluarga modern yang diwarnai banyak pilihan dan tekanan. Romo Leo Sardi mengingatkan bahwa Ignatius Loyola sendiri memulai perjalanan rohaninya sebagai seorang awam yang mencari arah hidup setelah terluka dalam perang—suatu gambaran yang sangat dekat dengan realitas manusia masa kini yang sedang mencari makna di tengah kesibukan dunia.

Kontribusi Damar Harsanto, Wahyu P. Wibowo, F. Asmi Arijanto, dan YR Widadaprayitna menambah warna dalam buku ini. Mereka menulis tentang kebersamaan, keseimbangan antara doa dan kerja, serta kesejahteraan keluarga dari perspektif yang membumi. Di tangan mereka, spiritualitas bukan lagi kata besar yang asing, melainkan sesuatu yang dapat dirasakan dalam setiap napas kehidupan rumah tangga.

Yang membuat buku ini memikat adalah keberanian para penulisnya untuk menjadikan pengalaman awam sebagai sumber teologi. Mereka tidak menafsirkan kehidupan dari teks-teks suci ke realitas, tetapi sebaliknya—membaca teks kehidupan sehari-hari sebagai wahyu yang menghidupkan iman. Pendekatan ini membuat spiritualitas terasa lebih cair, lebih manusiawi, dan lebih relevan.

Membaca buku ini, kita seakan diajak pulang ke makna dasar dari Latihan Rohani: menjadi pribadi yang “bebas untuk mencintai”. Keluarga, dengan segala keterbatasannya, menjadi ruang pembentukan kebebasan itu—tempat seseorang belajar untuk tidak dikuasai oleh ego, ambisi, atau ketakutan. Seperti Ignatius yang menemukan Tuhan dalam luka dan keterpurukan, para penulis buku ini pun menemukan rahmat dalam hal-hal yang tampak biasa: pertengkaran kecil, kelelahan, kejujuran, dan rekonsiliasi.

Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian bukanlah buku petunjuk bagaimana menjadi keluarga ideal. Ia adalah kesaksian jujur bahwa kesempurnaan tidak diperlukan untuk menemukan Tuhan. Buku ini menghadirkan spiritualitas yang membebaskan—spiritualitas yang mengizinkan manusia menjadi apa adanya, sembari perlahan-lahan diarahkan oleh rahmat menuju kehidupan yang lebih penuh.

Dengan gaya yang ringan dan reflektif, buku ini terasa seperti sahabat dalam perjalanan: menuntun tanpa menggurui, menenangkan tanpa menghakimi. Ia mengajarkan bahwa mencari Tuhan tidak selalu berarti menarik diri dari dunia, melainkan justru menyelami dunia dengan kesadaran yang lebih dalam. Di situlah letak kekuatan buku ini—ia memulihkan martabat spiritualitas awam, menjadikan keluarga sebagai tempat suci di mana Tuhan berkenan tinggal.

You Might Also Like

Maria: Keindahan Anugerah yang Tidak Ternoda

Iman yang Menyembuhkan, Syukur yang Menyelamatkan: Belajar dari Naaman dan Si Samaria yang Kembali

Ibadah yang Kosong

Nyanyian Jiwa Seorang yang Telah Mencicipi Kebaikan Tuhan

Homili Bapa Suci Leo XIV pada Misa Pengukuhan

TAGGED:Ad Maiorem Dei GloriamAmoris Laetitiacinta Kristianidiscernmentdoa keluargaeksamen harianformasi keluargaheadlineiman dalam keseharianiman Katolikindiferensiakasih dalam keluargakasih dan pengampunankasih sejatikebebasan batinkebersamaankehidupan berkeluargakehidupan rohani awamkeluarga Ignasiankeluarga Katolikkesejahteraan keluargakomunikasi dalam keluargalatihan rohanimagismenemukan Tuhan dalam keseharianpaguyuban sesawipanggilan hidup berkeluargapastoral keluargapelayanan gerejapendidikan imanpengalaman imanrahmat dalam keluargarefleksi keluargarelasi suami istriretret keluargarumah tangga kristenspiritualitas awamspiritualitas ignasianspiritualitas kontemplatifYesuit
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Gereja Katolik Indonesia Gelar SAGKI 2025, 3-7 November
Next Article Misa Bersama Uskup Agung Ende di Paroki Cikarang: Persekutuan, Kenangan, dan Misi
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
  • Anak yang Membutuhkan Bapa
  • Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
  • Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
  • Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan

Recent Comments

  1. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  2. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  3. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  4. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  5. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?