Selama ini, spiritualitas sering dipahami sebagai wilayah yang eksklusif: dunia doa, retret, dan permenungan yang seolah hanya milik para imam, suster, atau biarawan-biarawati. Namun buku Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian: Antologi Pengalaman Berkeluarga Awam Yesuit membalik pandangan itu secara lembut tapi tegas. Ia memperlihatkan bahwa rumah tangga—dengan segala kesibukan, kegelisahan, bahkan kekacauannya—dapat menjadi “sekolah rohani” yang tak kalah mendalam dibanding biara atau retret center.
Diterbitkan oleh Yayasan Sesawi tahun ini (2025), buku setebal 378 halaman ini disusun oleh sembilan penulis dengan latar belakang berbeda: Damar Harsanto, Dedy Kristanto, Gabriel Abdi Susanto, Leo Sardi SJ, Agustinus Setyodarmono SJ, Wahyu P. Wibowo, F. Asmi Arijanto, Winoto Doeriat, dan YR Widadaprayitna. Mereka semua, baik awam maupun imam Yesuit, menulis dengan satu semangat yang sama: menghadirkan Tuhan di tengah kehidupan keluarga biasa.
Yang menarik dari buku ini bukan hanya isinya, tetapi juga posisinya dalam konteks Gereja Katolik kontemporer di Indonesia. Buku ini muncul di saat banyak keluarga Katolik bergulat dengan tekanan dunia modern—pekerjaan, ekonomi, pendidikan anak, dan derasnya arus teknologi digital. Dalam situasi itu, spiritualitas sering kali tampak jauh, bahkan terasa tidak relevan. Namun para penulis buku ini menegaskan hal sebaliknya: justru dalam hiruk-pikuk itulah seseorang bisa mengalami Tuhan dengan cara paling otentik.
Tulisan Winoto Doeriat membuka bab pertama dengan kesaksian yang penuh kehangatan. Ia bercerita tentang perjalanan panjang perkawinannya yang diwarnai perbedaan, luka, dan proses penyembuhan. Tetapi alih-alih memberikan petuah moral, ia mengajak pembaca untuk merenungkan cinta sebagai proses rohani yang terus-menerus—sebuah perjalanan di mana manusia belajar menerima dan mengampuni, bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih yang ditumbuhkan dalam doa.
Gabriel Abdi Susanto menghadirkan dimensi yang lebih konseptual. Ia menulis tentang pilar-pilar Ignasian—discernment, magis, indiferensia, dan eksamen—bukan sebagai teori rohani, melainkan sebagai cara hidup. Ia menggambarkan discernment bukan sebagai ritual doa yang rumit, melainkan sebagai sikap sadar yang tumbuh di tengah keseharian: ketika orang tua memutuskan pendidikan anak, ketika pasangan menimbang arah keluarga, atau ketika seseorang belajar menerima kenyataan hidup dengan lapang hati.
Sementara itu, Dedy Kristanto membawa pembaca keluar dari lingkup domestik. Dalam tulisannya yang memadukan Latihan Rohani dan Amoris Laetitia karya Paus Fransiskus, ia menunjukkan bahwa keluarga yang berakar pada spiritualitas Ignasian akan secara alami memiliki kepekaan sosial. Keluarga yang kontemplatif tidak lari dari dunia, melainkan justru hadir di tengahnya: peduli pada tetangga, terlibat dalam pelayanan, dan menjadi saksi kasih di masyarakat.
Kedua imam Yesuit, Romo Agustinus Setyodarmono SJ dan Romo Leo Sardi SJ, memberi bingkai rohani yang menegaskan bahwa Latihan Rohani tidak pernah dimaksudkan hanya untuk para imam. Romo Setyodarmono menjelaskan bagaimana discernment menjadi latihan kebebasan batin yang sangat cocok untuk konteks keluarga modern yang diwarnai banyak pilihan dan tekanan. Romo Leo Sardi mengingatkan bahwa Ignatius Loyola sendiri memulai perjalanan rohaninya sebagai seorang awam yang mencari arah hidup setelah terluka dalam perang—suatu gambaran yang sangat dekat dengan realitas manusia masa kini yang sedang mencari makna di tengah kesibukan dunia.
Kontribusi Damar Harsanto, Wahyu P. Wibowo, F. Asmi Arijanto, dan YR Widadaprayitna menambah warna dalam buku ini. Mereka menulis tentang kebersamaan, keseimbangan antara doa dan kerja, serta kesejahteraan keluarga dari perspektif yang membumi. Di tangan mereka, spiritualitas bukan lagi kata besar yang asing, melainkan sesuatu yang dapat dirasakan dalam setiap napas kehidupan rumah tangga.
Yang membuat buku ini memikat adalah keberanian para penulisnya untuk menjadikan pengalaman awam sebagai sumber teologi. Mereka tidak menafsirkan kehidupan dari teks-teks suci ke realitas, tetapi sebaliknya—membaca teks kehidupan sehari-hari sebagai wahyu yang menghidupkan iman. Pendekatan ini membuat spiritualitas terasa lebih cair, lebih manusiawi, dan lebih relevan.
Membaca buku ini, kita seakan diajak pulang ke makna dasar dari Latihan Rohani: menjadi pribadi yang “bebas untuk mencintai”. Keluarga, dengan segala keterbatasannya, menjadi ruang pembentukan kebebasan itu—tempat seseorang belajar untuk tidak dikuasai oleh ego, ambisi, atau ketakutan. Seperti Ignatius yang menemukan Tuhan dalam luka dan keterpurukan, para penulis buku ini pun menemukan rahmat dalam hal-hal yang tampak biasa: pertengkaran kecil, kelelahan, kejujuran, dan rekonsiliasi.
Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian bukanlah buku petunjuk bagaimana menjadi keluarga ideal. Ia adalah kesaksian jujur bahwa kesempurnaan tidak diperlukan untuk menemukan Tuhan. Buku ini menghadirkan spiritualitas yang membebaskan—spiritualitas yang mengizinkan manusia menjadi apa adanya, sembari perlahan-lahan diarahkan oleh rahmat menuju kehidupan yang lebih penuh.
Dengan gaya yang ringan dan reflektif, buku ini terasa seperti sahabat dalam perjalanan: menuntun tanpa menggurui, menenangkan tanpa menghakimi. Ia mengajarkan bahwa mencari Tuhan tidak selalu berarti menarik diri dari dunia, melainkan justru menyelami dunia dengan kesadaran yang lebih dalam. Di situlah letak kekuatan buku ini—ia memulihkan martabat spiritualitas awam, menjadikan keluarga sebagai tempat suci di mana Tuhan berkenan tinggal.

