By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    4 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    3 weeks ago
    Latest News
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    3 days ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    5 days ago
    Lakukanlah ini sebagai Kenangan akan Aku
    6 days ago
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    1 week ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Perempuan, yang Pertama Kali Bertemu Yesus di Makam
    4 hours ago
    Pewartaan Iman Pertama Bukan tentang Kelahiran Yesus
    1 day ago
    Para Tua-tua itu Bersepakat Menyebar Hoaks tentang Yesus
    2 days ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    3 days ago
    Sepi! Ia Benar-benar Telah Mati
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    3 days ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    5 days ago
    Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
    1 week ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 weeks ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    4 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    4 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    9 months ago
    Latest News
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    1 month ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    1 month ago
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    2 months ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    3 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 weeks ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    2 weeks ago
    Latest News
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    3 days ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    5 days ago
    Makna Ekaristi Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    6 days ago
Reading: Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
GEREJA SEMESTAKOMUNITASPaguyuban SesawiPeziarah PengharapanSejarah Gereja

Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: November 27, 2025 4:25 pm
By Gabriel Abdi Susanto 4 months ago
Share
35 Min Read
SHARE

Rabu, 18 November 2025. Roma menyambutku dengan udara dingin yang menyergap tubuhku di awal musim dingin. Dini hari, basah hujan membekas di daun-daun pepohonan yang tampak menguning hendak rontok. Di jalanan, tak satu pun manusia yang tiada lepas dari jaketnya. Kota yang biasanya sunyi di tahun-tahun sebelumnya, kali itu seperti ramai dengan ratusan pengunjung. Dan mungkin sudah ribuan sejak pertama kali mendiang Paus Fransiskus membuka empat pintu suci, penanda dibukanya Tahun Yubileum.

Langkah-langkah cepat manusia yang ingin segera menuju tempatnya menandakan keinginan mereka untuk lepas dari serbuan angin dingin pagi itu. Hingga beberapa jam setelahnya, matahari pun seperti tak ingin keluar dari persembunyiannya. Malahan rintik air hujan semakin kencang. Suasana masih belum seramai yang aku bayangkan saat kami berjalan menuju basilika yang sudah lama berdiri di puncak Esquiline Hill, yang seakan memanggilku dengan keanggunan yang tak bisa ditolak.

Langkah-langkahku bersama beberapa kawan dari grup Stella Kwarta menuruni trotoar berbatu yang dingin menyimpan memori masa lampau yang panjang. Setiap denting sol sepatu terdengar seperti isyarat kecil bahwa aku sedang mendekati sesuatu yang lebih besar dari sekadar bangunan gereja. Aku datang sebagai seorang peziarah yang diam-diam sedang mencari sesuatu yang tak bisa kusebut dengan jelas: rasa tenang, atau mungkin jawaban, atau sekadar ruang bagi hati yang sudah terlalu penuh.

Dari kejauhan, menara lonceng basilika itu mulai tampak. Tingginya menjulang—75 meter, katanya—dan karena basilika ini berdiri di atas bukit, menara itu menjadi titik tertinggi di seluruh Roma. Ketika aku menatapnya, aku merasa seolah menatap ujung langit yang disentuh oleh tangan manusia, sebuah tangan yang memahat sejarah sepanjang enam belas abad. Udara dingin yang menyergap sejak pagi itu tidak mampu menghilangkan rasa hangat yang mulai muncul perlahan ketika bangunan megah itu semakin dekat. Ada sesuatu dalam cara arsitektur kuno memandangku—seperti seorang tua yang telah melihat ribuan jiwa, ribuan air mata, ribuan doa.

Saat aku masuk ke portico depannya, fasad rancangan Ferdinando Fuga menyambutku dengan keanggunan irama barok yang bulat dan lembut. Namun, mataku justru tertarik pada mosaik Filippo Rusuti di atas loggia: Kristus yang sedang duduk di takhta, dikelilingi para kudus, dan adegan ajaib Salju. Mosaik itu bukan hanya gambar. Itu sejarah yang menempel pada dinding, sejarah yang tak pernah hilang meskipun angin, hujan, perang, bahkan ketidakpastian manusia datang dan pergi. Mosaik itu tampak seperti sedang bercerita, memanggilku untuk masuk lebih dalam. Dalam hati, aku bertanya bagaimana mungkin sebuah gambar dari tahun 1300-an masih memancarkan cahaya yang seperti ini—cahaya yang hangat meski aku sedang berada di awal musim dingin.

Di situlah memoar ini dimulai: dari langkah awal memasuki pintu suci sebuah basilika yang dibangun atas mimpi, atas visi surgawi. Menurut tradisi, Bunda Maria sendiri menampakkan diri kepada seorang bangsawan Romawi bernama Giovanni dan kepada Paus Liberius. Ia meminta agar sebuah gereja dibangun di tempat yang akan Ia tunjukkan melalui salju yang turun secara ajaib. Pada tanggal 5 Agustus sekitar tahun 300-an, salju benar-benar turun di puncak bukit ini. Hari itu dikenang sebagai “Mukjizat Salju”—keajaiban yang kini dirayakan setiap tahun dengan hujan kelopak putih yang turun dari langit-langit basilika. Ketika aku melangkah ke dalam basilika itu, aku membayangkan bagaimana kelopak-kelopak ringan itu jatuh di atas orang-orang yang datang ke sana, seolah surga sendiri membuka pintunya dan menurunkan berkat seputih harapan.

Ketika pintu kayu berat itu kusentuh, aku seakan memasuki tubuh sejarah yang masih bernapas. Interior Basilika Santa Maria Maggiore adalah satu-satunya basilika paleokristian di Roma yang masih mempertahankan penampilannya hampir persis seperti dulu. Banyak gereja telah berubah wajah, dirias ulang, diadaptasi; tetapi yang satu ini tetap berdiri dengan kesetiaan yang sulit dijelaskan. Kolonade dari batu cipollino—batu hijau berurat lembut—berdiri memanjang, kokoh namun lembut, berasal dari gudang dan reruntuhan tempat ibadah pagan yang dihancurkan ketika Roma menjadi Kristen. Rasanya seperti menyaksikan bagaimana masa lalu diserap perlahan dan disucikan. Setiap kolom itu tidak hanya menjadi penopang, tetapi juga saksi bagaimana dunia ini berubah wajah sejak abad ke-4.

Nave tengah dengan lantai kosmatesque tampak seperti karpet marmer surgawi. Motifnya berpadu antara geometri, sejarah, dan rasa religius yang tak lazim. Di atas kepalaku, langit-langit kayu berlapis emas—yang dirancang dua bersaudara Giuliano dan Antonio da Sangallo—memantulkan cahaya lampu gereja yang belum sepenuhnya menyala. Kilau emas itu memantul di permukaan marmer dan mengisi udara dengan kesan bahwa aku sedang berjalan di dalam sebuah kitab suci raksasa.

Namun semua itu bukanlah yang paling menggetarkan. Begitu aku berdiri di tengah basilika, aku merasa seolah ada sesuatu yang mengundangku untuk melihat lebih jauh ke depan. Ada sebuah ikon yang sudah lama ingin kulihat: Salus Populi Romani, ikon yang menurut tradisi dilukis oleh Santo Lukas, pelindung para pelukis. Aku selalu mendengar kisah tentang bagaimana mendiang Paus Fransiskus mengunjungi ikon ini setiap kali sebelum memulai dan setelah menyelesaikan perjalanan apostoliknya. Setidaknya tercatat, 126 kali Paus Fransiskus mengunjungi sejak 14 Maret 2013, di hari pemilihannya sebagai Paus hingga 12 April 2025. Ada sesuatu yang sangat manusiawi namun sangat ilahi dalam kebiasaan itu: paus yang datang seperti seorang anak kecil yang meminta restu ibunya sebelum bepergian.

Aku perlahan mendekati Pauline Chapel—kapel yang dibangun oleh Paus Paulus V sebagai rumah baru bagi ikon itu. Ketika aku memasuki kapel itu, warna-warna marmer mahal memenuhi pandanganku. Dinding, kolom, dan langit-langitnya seperti sebuah mosaik tiga dimensi dari batu mulia. Dan di tengah kemegahan itu, dalam tabernakel berlapis lapis lazuli yang menyerupai gerbang langit, ikon Salus Populi Romani menyala pelan seperti api kecil yang tidak pernah padam. Matanya—mata Bunda Maria—tidak hanya melihatku, tetapi melihat jauh ke dalam diriku.

Ada saat-saat tertentu dalam perjalanan rohani ketika waktu terasa seperti melambat, bahkan seperti berhenti. Itulah yang terjadi ketika aku berdiri di hadapan ikon itu. Aku tidak tahu apakah itu karena lampu kapel atau karena jendela yang membiarkan sedikit cahaya musim dingin masuk, tetapi ikon itu tampak seperti hidup—lembut, penuh luka namun penuh kekuatan. Di baliknya, aku teringat kisah panjang tentang ikon ini: bagaimana dalam masa wabah di Roma, Paus Gregorius Agung membawa ikon ini berkeliling kota, meminta keselamatan bagi umatnya; bagaimana para paus dari berbagai era memberikan mahkota dan perhiasan sebagai persembahan syukur; bagaimana Pius XII memahkotai ikon ini dengan emas saat Tahun Maria tahun 1954; dan bagaimana Jesuit sejak dulu menjadikan ikon ini sebagai bagian dari devosi mereka—yang kemudian diteruskan oleh Paus Fransiskus. Saat aku beranjak, hatiku tetap tertinggal di depan ikon itu.

Namun perjalanan dalam basilika ini tidak selesai. Aku melangkah menuju apsis dan mosaik-mosaik tua, mosaik yang sudah ada sejak masa Paus Sixtus III, sekitar tahun 430-an. Mosaik di nave menggambarkan kisah para leluhur Israel: Abraham, Yakub, Musa, Yosua. Kisah tentang umat yang sedang bertumbuh, berubah, serta belajar mengenal Tuhan—kisah yang rasanya tidak pernah selesai hingga hari ini. Aku memandangnya lama, mencoba merasakan getaran masa lampau. Aku merasa seperti kembali ke zaman ketika seni menjadi sarana untuk memahami Injil, ketika mosaik adalah Alkitab bagi mereka yang tidak bisa membaca.

Di triumphal arch, mosaik tentang masa kanak-kanak Yesus menggambarkan sebuah teologi visual tentang pewahyuan Allah melalui seorang Anak, seorang bayi yang diletakkan dalam sebuah palungan. Yang kutatap ini adalah salah satu mosaik tertua yang masih bertahan hampir utuh sejak abad ke-5. Rasanya seperti menatap pintu menuju masa lalu yang tak pernah hilang.

Dan di dekat apsis, karya Jacopo Torriti dari abad ke-13 memukulku dengan keindahan yang hampir membuatku lupa bernapas. Mosaik tentang hidup Maria: Kabar Sukacita, Kematian Maria, tiga raja yang datang menyembah, Presentasi Yesus di Bait Allah… semua digambarkan dengan kejernihan warna yang nyaris mustahil untuk sesuatu yang berusia ratusan tahun. Di atas semuanya, adegan Penobatan Maria di surga oleh Kristus—ikonografi yang terinspirasi dari seni Prancis—tampak seperti sebuah puisi yang diukir dengan cahaya.

Aku mulai menyadari bahwa semakin jauh aku melangkah, semakin dalam aku tenggelam dalam lapisan-lapisan sejarah yang tak berkesudahan.

Aku tak tahun berapa lama berdiri di depan pintu itu—apakah hanya beberapa menit atau mungkin lebih lama. Waktu terasa berhenti. Dalam udara musim dingin yang menusuk, justru keheningan itu yang terasa hangat, seperti sesuatu yang memeluk dari dalam. Rasanya seperti basilika ini memanggil, bukan dengan suara, tapi dengan tarikan halus yang membuatku ingin tetap tinggal di ambang dan tidak segera masuk, seakan-akan di antara “luar” dan “dalam” itu ada momen sakral yang harus kuhormati.

Ketika akhirnya aku melangkah masuk, udara berubah. Tidak lagi aroma malam yang kering dan dingin, tetapi lembut, sedikit remang, bercampur seribu tahun doa yang entah bagaimana masih menggantung di udara. Aku merasa seperti masuk dalam sebuah lorong sejarah, seperti ruang yang bukan sekadar bangunan, melainkan jiwa yang hidup.

Langkah bergema perlahan di atas lantai marmer yang telah dipijak oleh jutaan peziarah, paus, raja, biarawan, ibu-ibu sederhana, para pencari, orang-orang yang mungkin datang dengan kelelahan yang sama seperti yang kubawa. Aku merasa diri kecil, tetapi diterima—seolah tempat ini mengerti beban yang kubawa, kerinduan yang selama ini kusimpan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah selesai terjawab.

Cahaya lampu-lampu gantung yang tinggi jatuh dalam bentuk lingkaran-lingkaran lembut di lantai, memantulkan warna emas mosaik yang jauh di ujung nave. Cahaya itu tidak keras; ia seperti bisikan. Seperti seseorang yang memanggilku untuk berjalan lebih dalam.

Aku menyusuri lorong utama itu perlahan, membiarkan mata menyapu setiap kolom Ionik yang berdiri berbaris, kokoh, seolah menjadi saksi semua zaman yang datang dan pergi. Aku tak hanya melihat arsitektur; tapi seperti merasakan denyut waktu.

Di kanan dan kiri, deretan kapel kecil memantulkan cahaya lilin yang berkelip, seperti napas pelan orang-orang yang berdoa. Aku memandang beberapa wajah mereka sekilas—ada yang memejamkan mata dengan air mata jatuh diam-diam, ada yang duduk lama tanpa bergerak, ada yang hanya memegang rosario seperti memegang tangan seseorang yang tak terlihat.

Aku bertanya dalam hati: Apakah mereka juga datang dengan kerinduan yang sama? Apakah siang ini mereka juga mencari wajah yang sama seperti yang kucari?

Ketika aku mendekat ke bagian tengah basilika, sesuatu di dalam dada menghangat. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan—tidak persis haru, tidak persis rindu, tetapi semacam pengakuan: seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang tetapi tiba-tiba kembali begitu akrab.

Di kejauhan, aku mulai dapat melihat kontur altar utama. Dalam cahaya yang lembut, altar itu tampak seperti titik fokus dari seluruh ruang. Dan di atasnya, tersembunyi namun terasa melampaui semuanya, adalah ikon yang sejak sore tadi memenuhi pikiranku ––Salus Populi Romani.

Aku berhenti sejenak, menarik napas perlahan, sebelum melanjutkan langkah. Ada sesuatu yang suci memperlambat langkah, seperti memberi ruang bagi hati untuk menyusul tubuh yang sudah lebih dulu melangkah.

Setiap beberapa meter, aku berhenti lagi. Bukan karena lelah, tetapi karena basilika ini memintaku agar memperhatikan, benar-benar melihat, dan sungguh-sungguh hadir.

Di langit-langit, deretan mosaik abad ke-5 berkilau lembut, seakan emas yang digunakan di sana menyimpan cahaya matahari dari berabad-abad lalu. Adegan-adegan Perjanjian Lama itu bukan sekadar dekorasi; mereka seperti halaman kitab suci yang dilukiskan agar manusia tidak lupa bahwa sejarah keselamatan selalu memiliki jejak panjang, rumit, namun selalu menuju pemenuhan.

Aku merasa sedang berjalan di tengah sejarah yang digambarkan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan cahaya. Dan di bawah cahaya itu, aku merasa disertai—oleh sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang bisa aku pahami.

Ketika akhirnya aku sampai di bagian depan, tepat di hadapan altar Papal, aku berhenti sepenuhnya. Di atas altar itu, lampu-lampu minyak memantulkan cahaya lembut ke arah sesuatu yang berada agak jauh di belakang, sedikit tersembunyi dalam bingkai besar dan kaca pelindung: ikon Maria itu. Ikon tua yang konon dilukis sendiri oleh Santo Lukas, ikon yang selama berabad-abad menjadi pelindung kota Roma, tempat para Paus datang berdoa setiap kali mereka memulai atau mengakhiri perjalanan kerasulan.

Aku berdiri terpaku.

Dan tanpa kusadari, sebuah doa mulai tumbuh dalam diri—tanpa kata-kata, tanpa rumusan, tanpa usaha. Seperti doa yang berdoa dengan dirinya sendiri.

Aku melangkah lebih dekat, dan semakin dekat, semakin aku merasakan sesuatu yang serupa dengan rasa pulang.

Sesampainya di depan ikon itu, aku merasakan tubuh berhenti begitu saja, seolah-olah seluruh diri sedang memasuki ruang yang berbeda—ruang yang sunyi, ruang dalam batin, ruang yang tak lagi berkaitan dengan bangunan atau sejarah atau arsitektur, tetapi ruang di mana seseorang bertemu seseorang.

Dan di hadapan ikon itu, aku merasa dilihat. Bukan sebagai pengunjung, bukan sebagai penulis, bukan sebagai peziarah, tetapi sebagai manusia. Apa adanya. Dengan segala yang aku bawa. Dengan segala yang telah aku tutupi.

Aku menundukkan kepala.

Dalam keheningan itu, aku merasa ada dua tangan lembut yang membuka kembali lipatan-lipatan hatiku—bagian yang selama ini aku simpan jauh di dalam, bahkan dari diri sendiri. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri seperti itu. Mungkin lama, mungkin sebentar. Waktu kehilangan bentuknya di sana.

Ketika akhirnya aku mengangkat kepala, mataku terpaku pada tatapan Maria dalam ikon itu: tatapan yang tegas namun lembut, kuat namun penuh belas kasih, seolah memahami sesuatu yang bahkan aku belum sanggup katakan.

Tatapan itu tidak memaksa, tetapi mengundang.

Dan aku mendadak merasa ingin bercerita. Tentang segalanya. Tentang hidupku, tentang perjalananku ke Roma, tentang keresahan yang aku bawa, tentang kerinduan yang tidak pernah aku nyatakan dengan lantang, tentang rasa letih yang kupikir bisa kusembunyikan dari dunia.

Di ruang yang begitu megah, justru keheningan menjadi tempat paling intim.

Aku memejamkan mata.

Dan dalam keheningan itu, aku mendengar sesuatu—Ia tidak datang dari luar suara, tetapi dari ruang yang jauh lebih dalam:

“Datanglah apa adanya. Sisanya biar Aku tanggung.”

Aku merasakan sesuatu pecah pelan di dalam diri aku. Seperti batu kecil yang akhirnya runtuh dari dinding yang selama ini kupertahankan.

Aku menarik napas panjang, pelan, dan membuka mata kembali.

Ikon itu tetap sama. Tetapi aku merasa tidak lagi sama.

Aku berdiri di sana, masih di hadapan ikon itu, dan sesuatu dalam diriku terasa berubah. Perubahannya tidak dramatis seperti gempa yang mengguncang tanah, tetapi seperti salju pertama yang jatuh perlahan dan tiba-tiba membuat seluruh lanskap tak lagi sama. Aku merasakan hati yang tadi berat kini mulai mengendap, seperti air keruh yang akhirnya dibiarkan diam cukup lama untuk kembali jernih.

Tatapan Maria dalam ikon itu tetap menatapku: tenang, lembut, namun penuh wibawa yang tak bisa dijelaskan. Lukisannya tua, warnanya kusam oleh usia, tapi justru itu yang membuatnya tampak sungguh hidup. Ada kedalaman tak terukur di mata itu, seolah-olah ribuan doa yang pernah diucapkan di hadapannya telah meninggalkan jejak cahaya tipis di permukaan ikon, cahaya yang hanya bisa dilihat ketika seseorang datang sepenuh hati.

Aku menyesuaikan langkah, lalu duduk perlahan di kursi kayu paling depan. Kursi itu dingin, tapi aku tidak keberatan. Ada keheningan yang menyelimuti seluruh ruang, seolah basilika ini memeluk siapa pun yang datang dengan kegelisahan yang tak sanggup dituturkan.

Untuk beberapa saat, aku hanya memperhatikan ikon itu dalam diam. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku tidak tahu doa seperti apa yang harus kuucapkan. Jadi aku hanya duduk. Dan diam. Dan membiarkan sesuatu bekerja dalam diriku.

Perlahan, kenangan-kenangan kecil muncul seperti bayangan-bayangan yang satu per satu berjalan maju. Hal-hal yang selama ini kupendam. Kecemasan kecil yang kupikir sepele tapi ternyata menyentuh hal yang lebih besar. Keletihan yang selama ini kusembunyikan di balik produktivitas. Kerinduan yang sangat manusiawi—kerinduan akan dipahami, diterima, ditemani.

Di tempat ini, tak ada kebisingan yang bisa menutupi kejujuran hati.

Aku mengangkat kepala sedikit dan melihat bagaimana cahaya lampu jatuh lembut pada permukaan emas mosaik di dinding apse. Warna emas itu bukan emas biasa; ini adalah emas Byzantin—emas yang sengaja dipilih para seniman kuno bukan untuk menunjukkan kemewahan, tetapi untuk menandai sesuatu yang dari surga.

Anehnya, dalam pendar cahaya itu aku merasakan sesuatu seperti… penghiburan. Seolah basilika ini bukan hanya tempat bersejarah, tetapi ruang di mana masa lalu dan masa kini bertemu dalam pelukan yang tenang.

Aku berpikir tentang bagaimana ikon ini pernah dibawa oleh para Paus melewati jalan-jalan Roma pada masa wabah, bagaimana umat berlutut meminta perlindungan ketika dunia mereka runtuh, dan bagaimana ikon ini menjadi satu-satunya pusat harapan ketika segala hal lain terlihat rapuh.

Aku berkata dalam hati, “Lihatlah aku juga, Maria… seorang manusia kecil yang membawa beban kecilnya…”

Dan entah bagaimana, aku merasa dilihat.

Aku meraih tas kecilku, mengeluarkan buku catatan yang selalu kubawa—buku yang dipenuhi tulisan kecil, kutipan, doa, pengamatan, hal-hal yang kadang tak dapat kubagikan kepada siapa pun. Aku membukanya tanpa tujuan jelas.

Tiba-tiba sebuah halaman terbuka pada kutipan yang pernah kutulis berbulan-bulan lalu—kutipan dari Ignatius:

“Bukan banyak tahu yang memuaskan jiwa, melainkan rasa dan kelezatan batin.”

Kata-kata itu menusukku dengan lembut.

Selama ini, aku hidup dengan kepala. Dengan konsep, rencana, analisis, kata-kata. Tapi duduk di depan ikon tua ini, aku merasa diajak kembali pada sesuatu yang lebih sederhana: rasa. Kehadiran. Menjadi manusia apa adanya.

Aku menutup buku itu dan menatap ikon Salus Populi Romani lagi. Ikon itu kecil dibandingkan bangunan besar ini. Tapi justru kecilnya itu yang membuatnya intim. Kau tidak melihatnya dari jauh; kau harus mendekat. Kau harus memperlambat langkahmu. Kau harus mengakui bahwa di hadapan sesuatu yang kudus, kesederhanaan adalah bentuk kebijaksanaan.

Aku menarik napas perlahan.

Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepada Maria, tapi kata-kata itu tidak muncul sebagai kalimat. Yang muncul adalah perasaan—perasaan ingin menyerahkan sesuatu yang selama ini begitu erat kugenggam, sesuatu yang membuatku letih.

Aku tidak tahu apakah itu rasa takut kehilangan sesuatu. Atau takut bahwa yang kucari tidak akan pernah kutemukan. Atau takut mengakui bahwa aku memerlukan seseorang.

Yang aku tahu hanyalah satu: Aku ingin menaruh beban itu di pangkuan seseorang yang lebih besar dari aku.

Aku berdiri, perlahan, lalu melangkah mendekat ke ikon itu. Aku ingin menyentuhkan ujung jari pada kaca pelindungnya—kaca yang dingin, tetapi tidak menghalangi rasa hangat yang mengalir di dalam dada. Tentu saja tak mungkin bisa dan boleh.

Di detik itu, aku berdoa. Tapi doanya bukan kata-kata yang terangkai rapi. Doanya adalah napas hati: sebuah kehadiran yang dipersembahkan.

“Jika Engkau melihat aku di sini, buatlah aku berani membiarkan diri dilihat…”

Aku memejamkan mata.

Dalam ketenangan yang begitu hening, aku merasa dipanggil untuk masuk lebih dalam lagi.

Dan ketika aku membuka mata, lampu-lampu basilika tampak sedikit berbeda. Atau mungkin bukan lampunya—mungkin akulah yang berubah. Mungkin sesuatu dalam diriku telah bergerak, seperti pintu kecil yang selama ini tertutup perlahan-lahan terbuka.

Aku melangkah mundur, lalu duduk kembali.

Aku masih ingin tinggal. Masih ingin merasakan keheningan ini menetes ke dalam ruang-ruang batin yang tak pernah kusentuh. Masih ingin membiarkan basilika ini berbicara melalui diamnya. Masih ingin berada di hadapan Maria yang menatapku dengan tatapan yang tak pernah usang oleh waktu.

Aku duduk kembali di bangku kayu itu, merasakan dinginnya merayap ke telapak tangan yang kugenggam sendiri. Suasana basilika semakin hening; entah karena memang semakin malam atau karena hatiku mulai lebih selaras dengan ritme keheningannya. Di tempat yang begitu besar, aku justru merasa berada di ruang yang intim, seolah seluruh basilika mengecil hanya untuk menampung dialog batinku yang sebenarnya sudah lama menunggu ruang untuk keluar.

Lampu-lampu kecil yang menggantung tinggi memantulkan bayangan halus pada kolom-kolom panjang yang membingkai lorong utama. Bayangan itu bergerak samar, seolah bernapas. Aku menatap ke atas, ke arah langit-langit yang dipenuhi mosaik. Cahaya emasnya mengundang mata untuk terus naik, seolah-olah seluruh ruang mengarahkan seseorang untuk tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi melihat lebih jauh dari apa yang tampak.

Aku bertanya dalam hati, berapa banyak orang yang menangis di tempat yang sama? Berapa banyak yang datang memohon sebuah jawaban, atau sekadar sebuah rasa tenang? Berapa banyak yang datang dengan hati yang remuk dan pulang dengan sehelai harapan baru?

Pertanyaan itu terasa bukan hanya milikku. Seolah seluruh bangunan ini, sejak abad ke abad, telah menampung pertanyaan-pertanyaan manusia. Pertanyaan yang membuat kita rapuh dan sekaligus membuat kita tetap bergerak.

Aku menundukkan kepala.

Di tengah kesenyapan itu, aku tiba-tiba teringat akan sebuah detail sejarah yang kudengar dulu—tentang bagaimana di abad-abad awal, umat datang ke basilika ini dengan membawa lilin kecil, menyalakannya dengan tangan gemetar, dan menaruhnya di hadapan ikon Maria ketika kota Roma dilanda ancaman atau ketakutan. Lilin-lilin kecil itu menciptakan lautan cahaya lembut, seolah setiap api kecil adalah doa yang berdiri sendiri sambil tetap menyatu dengan doa lainnya.

Dan di malam musim dingin ini, aku membayangkan mereka, orang-orang yang telah lama berlalu itu, berdiri di tempat yang mungkin tak jauh dari tempatku duduk. Aku seperti melihat bayangan mereka: seorang ibu yang kehilangan seorang anak, seorang prajurit yang takut akan perang, seorang lelaki tua yang merindukan seseorang yang tak akan kembali, seorang pemuda yang mencari arah hidup.

Mereka semua datang dengan sesuatu yang patah, dan di sini, di hadapan ikon Maria, mereka mencoba merangkai kembali keutuhan diri mereka. Aku merasakan sesuatu bergetar lembut di dalam dadaku.

Bukan kesedihan, tetapi semacam pengertian: bahwa menjadi manusia berarti membawa luka, dan menjadi manusia yang terus berjalan berarti membiarkan luka itu perlahan menemukan tempatnya.

Aku menatap ikon itu sekali lagi. Tatapan Maria begitu lembut hingga terasa hampir menenangkan nyeri yang tak bisa disebutkan. Dan Yesus kecil yang berada dalam pelukannya tidak memandang ke arahku; Ia menatap ke arah berbeda, tetapi dalam tatapan itu ada keteguhan, seolah Ia ingin berkata bahwa perjalanan hidup yang kususuri bukanlah jalan yang asing bagi-Nya.

Aku mencondongkan tubuh ke depan, merasakan aliran hangat yang turun perlahan di pipiku. Aku tidak berniat menangis. Aku bahkan tidak merasa sedang sedih. Tapi air mata itu turun dengan sendirinya—seperti tetesan salju yang mencair oleh hangat yang tiba-tiba datang dari dalam diriku sendiri.

Aku mengusapnya cepat-cepat, hampir malu pada keheningan basilika. Tapi lalu aku tersenyum pelan, pada diriku sendiri—karena tidak ada yang perlu ditutupi di tempat seperti ini. Di hadapan Maria, di hadapan altar yang telah melihat begitu banyak kehidupan, air mata bukanlah kelemahan. Ia adalah cara hati berbicara tanpa suara.

Aku bersandar sejenak, memejamkan mata. Dalam gelap yang lembut itu, aku merasakan sesuatu mengetuk dari dalam—bukan suara, bukan kata-kata, bukan juga bayangan. Lebih seperti gerakan kecil dalam batin, gerakan yang mengarah pada satu kata yang selama ini sulit kuucapkan kepada siapa pun:

percayalah.

Tidak ada suara yang mengatakannya. Tidak ada bisikan. Tapi rasa itu hadir dengan begitu jernih.

Aku membuka mata perlahan.

Dan ketika aku kembali melihat basilika ini, aku merasa melihatnya sedikit berbeda. Kolom-kolom itu tidak lagi sekadar batu; mereka seperti penjaga keheningan. Cahaya emas mosaik itu tidak lagi sekadar hiasan; ia tampak seperti cahaya dari dunia yang lebih tinggi, turun perlahan agar manusia tidak buta oleh terang-Nya. Dan ikon itu—ikon yang telah berdiri melewati begitu banyak invasi, wabah, masa takut, dan masa harap—tampak seperti seseorang yang tidak pernah lelah mendengarkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan suhu udara basilika masuk ke dalam paru-paruku. Ada aroma khas malam: campuran debu batu tua, asap lilin, dan bau dingin musim dingin yang merayap dari setiap celah pintu.

Aku merasa malam semakin larut. Tapi aku belum ingin pergi. Ada sesuatu yang masih ingin kutunggu—bukan jawaban, bukan tanda, bukan penglihatan. Aku hanya ingin menunggu agar hatiku benar-benar siap meninggalkan tempat ini.

Karena ketika akhirnya aku keluar nanti, aku tahu kehidupan akan berjalan lagi seperti biasa. Aku akan kembali ke jadwalku, perjalananku, tugas-tugasku. Tapi sebelum itu terjadi, aku ingin memastikan bahwa aku membawa pulang sesuatu dari basilika ini—meski hanya setitik kedamaian yang mungkin akan melindungi langkahku esok hari.

Aku masih duduk di sana ketika seorang biarawan tua berjalan pelan melewatiku. Jubahnya menyapu lantai, langkahnya hampir tak terdengar. Ia menundukkan kepala kecil pada ikon itu sebelum berlutut sebentar. Tidak lama, hanya beberapa detik. Tapi dari cara ia melakukannya, aku merasa ia telah melakukan itu ribuan kali. Ada cinta dalam setiap gerakannya. Ada kesetiaan. Ada keheningan yang lebih dalam dari apa pun yang bisa kupahami.

Ia bangkit kembali, melanjutkan langkah pelan ke sacristy.

Dan kepergiannya meninggalkan gema lembut dalam diriku: bahwa doa bukanlah sesuatu yang harus besar atau dramatis. Doa bisa sesederhana menganggukkan kepala. Menghela napas. Duduk dalam diam. Menjadi diri sendiri di hadapan yang Mahakasih.

Aku kembali memandang ikon Maria.

Dan sekali lagi, aku merasa ditatap sebagai seseorang yang diundang untuk pulang—bukan ke sebuah tempat, tetapi ke keutuhan diriku sendiri.

Aku masih duduk, dan entah sejak kapan basilika mulai diselimuti keheningan yang lebih pekat daripada sebelumnya. Malam musim dingin bekerja dengan cara yang aneh: ketika dunia di luar menjadi lebih dingin, justru ruang-ruang suci seperti ini terasa semakin hangat. Seolah dingin di luar membuat setiap sisi basilika mengalirkan kehangatan dari dalam batu-batunya yang tua.

Aku mengusap pipiku yang masih sedikit basah, lalu menatap kembali ikon Salus Populi Romani. Dalam cahaya remang itu, wajah Maria tampak seperti dikelilingi lingkar cahaya tipis yang hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuatku menahan napas sejenak. Cahaya itu bukan cahaya fisik; itu semacam kehadiran. Kehadiran yang lembut dan berwibawa.

Aku mendekatkan diri lagi, hanya satu langkah, lalu satu langkah lagi. Di titik itu, aku bisa melihat detail-detail kecil pada ikon: retakan cat yang sudah berusia ratusan tahun, bekas pemulihan yang dilakukan dengan hati-hati, lapisan pernis yang menjaga keutuhan warna. Bahkan di balik kaca pelindungnya, aku bisa merasakan usia yang begitu panjang, usia yang membawa serta doa-doa yang tak terhitung jumlahnya.

Aku bertanya dalam hati: Apakah setiap doa itu menempel di ikon ini seperti debu halus? Apakah mereka tinggal di sini? Atau apakah mereka semua diterima dan dibawa pergi entah ke mana, seperti embusan napas yang hilang di udara namun tidak pernah benar-benar lenyap?

Mendadak, aku ingin menyentuh ikon itu. Bukan untuk keberuntungan, bukan untuk mujizat, tetapi sebagai tanda bahwa aku hadir, bahwa aku sungguh berada di sini. Tapi kaca pelindung itu mengingatkanku pada kenyataan: benda-benda suci juga membutuhkan penjagaan manusia.

Aku tersenyum kecil—campuran antara keinginan dan pengertian. Lalu aku meraih rosario di kantong jaketku. Rosario kecil, sederhana, tanpa keistimewaan apa pun. Aku menggenggamnya erat, merasakan bulir-bulir kayu itu hangat di tanganku, seolah menyerap sedikit panas dari kulitku.

Aku mulai berdoa tanpa suara.

Bukan rosario lengkap. Bukan rangkaian kata formal. Hanya tarikan napas masuk dan keluar yang perlahan menjadi ritmis, seolah tubuhku menemukan doanya sendiri. Dalam napas itu, aku merasakan diriku perlahan membuka—seperti bunga yang selama ini menggulung ketat dan kini mencoba melonggarkan kelopaknya.

Aku mulai berbicara dalam batinku.

“Aku datang dengan rasa takut yang bahkan tidak tahu bagaimana aku harus mengakuinya. Aku datang dengan kerinduan yang sejak lama menempel di bagian terdalam hidupku. Aku datang dengan kegamangan yang kubawa melewati benua dan musim. Jika Engkau melihat aku, izinkan aku meletakkan semuanya.”

Aku berhenti sebentar.

Ada sesuatu yang menekan di dada, tapi bukan tekanan yang menyakitkan—lebih seperti dorongan untuk jujur.

“Aku tidak tahu apa yang menunggu di depanku. Aku tidak tahu apa yang akan hilang, apa yang akan tetap tinggal, apa yang berubah tanpa aku sangka. Tapi malam ini… aku ingin percaya lagi. Setidaknya sedikit saja.”

Aku menghembuskan napas perlahan.

Dan dalam napas itu, aku merasa tubuhku menjadi lebih ringan, seakan beban yang kusimpan terlalu lama akhirnya menemukan tempat untuk istirahat.

Aku memejamkan mata lagi. Keheningan basilika menelusup ke dalam telingaku seperti suara yang hampir tak terdengar tetapi terasa sangat dekat. Terkadang manusia mendengar paling jelas ketika dunia sepi.

Dalam keheningan itu, aku merasakan sesuatu mendekat. Bukan suara, bukan bayangan, bukan kata-kata. Lebih seperti rasa lembut yang menyelimuti ruang di sekitarku. Seolah udara di basilika berubah sedikit—lebih hangat, lebih lembut, lebih penuh.

Atau mungkin bukan udara yang berubah. Mungkin akulah yang berubah.

Ketika aku membuka mata, aku melihat seorang perempuan muda masuk dari pintu samping. Langkahnya pelan, hampir tidak terdengar. Ia membawa selimut kecil di tangan—mungkin untuk dibentangkan di bangku saat berdoa. Wajahnya tampak letih, tapi ia memiliki tatapan yang sungguh-sungguh, tatapan seseorang yang membawa cerita panjang ke hadapan Maria.

Aku memperhatikannya dari jauh. Ia berlutut di salah satu bangku belakang, menutupi wajah dengan kedua tangan, dan bahunya bergetar perlahan. Aku tidak tahu apa yang dia tangisi, tapi tiba-tiba aku merasa seluruh basilika ikut menunduk memberikan ruang bagi air matanya.

Aku memandang ikon Maria lagi. Dan aku berkata dalam hati: “Lihatlah dia juga… seperti Engkau melihat aku tadi…”

Ada keharuan yang sulit dijelaskan. Keheningan antara aku dan perempuan itu terasa seperti keheningan dua peziarah yang saling memahami tanpa pernah bertemu.

Aku duduk lebih tegak, merasakan tubuhku diselimuti rasa hangat yang tidak berasal dari udara.
Ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh dalam diriku—semacam ketenangan yang tidak keras, tidak tiba-tiba, dan tidak menggelegar. Ia datang seperti embusan lembut yang mengusap pipi.

Aku pikir, mungkin ini yang disebut para peziarah dulu sebagai consolatio—penghiburan yang tidak selalu disertai jawaban, tetapi menghadirkan kemampuan baru untuk menjalani sesuatu.

Aku menghela napas panjang. Tidak ada apa pun yang berubah dalam hidupku di luar sana. Masalah tetap ada. Ketakutan tetap ada. Pertanyaan tetap belum selesai.

Tapi malam ini, di basilika ini, di hadapan ikon tua itu, aku merasa tidak sendiri.

Dan mungkin, mungkin itu sudah cukup sebagai permulaan.

Ikon Maria - Salus Populi Romani
Mosaik besar karya Filippo Rusuti pada fasad Santa Maggiore

You Might Also Like

Belajar dari Santo Yusuf Menjadi Ayah di Hari Ayah

Apakah Jiwa Kita Masih Merindukan Allah Sedalam-dalamnya Seperti Rusa Merindukan Air?

OSOJI

Makna di Balik Nama yang Dipilih Bapa Suci Leo XIV

Saat Teraniaya, Justru Terang Itu Menyebar Luas

TAGGED:apsisbasilikagereja romaheadlinememoarnavereflektifRomaSalus Populi Romanisanta maria maggioreSesawi
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Misa Bersama Uskup Agung Ende di Paroki Cikarang: Persekutuan, Kenangan, dan Misi
Next Article Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 2
6 Comments
  • FA. Arijanto says:
    November 24, 2025 at 9:50 pm

    matur nuwun refleksinya Mas, lumayan puanjang. Semoga Roh Kudus sendiri yg bekerja di dalam hati panjenengan. amin

    Reply
    • inigoway says:
      November 25, 2025 at 4:17 am

      matur sembah nuwun, Mas Asmi

      Reply
  • bambang m says:
    November 25, 2025 at 1:57 am

    renungan yg hikmad dan
    panjang sekali

    Reply
    • inigoway says:
      November 25, 2025 at 4:24 am

      nuhun Mas Bambang

      Reply
  • Toro says:
    November 27, 2025 at 9:48 am

    Panjang n menyenangkan membaca kisah peziarahan mas Abdi. Terasa larut dalam perenungan yang hidup. Maturnuwun mas Abdi.

    Reply
    • inigoway says:
      November 27, 2025 at 11:02 am

      sami-sami mas

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Perempuan, yang Pertama Kali Bertemu Yesus di Makam
  • Pewartaan Iman Pertama Bukan tentang Kelahiran Yesus
  • Para Tua-tua itu Bersepakat Menyebar Hoaks tentang Yesus
  • Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
  • Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?