Jakarta — Pakar spiritualitas Ignasian, Romo Leo Agung Sardi, SJ, menegaskan bahwa Serikat Yesus tidak memiliki hak cipta (copyright) atas Latihan Rohani (LR) yang disusun Santo Ignatius Loyola. Pernyataan ini ia sampaikan dengan mengutip pandangan mantan Jenderal Serikat Yesus, Romo Peter-Hans Kolvenbach (1928–2016).
“Latihan Rohani Ignatius adalah kekayaan rohani Gereja Katolik,” ujar Romo Sardi, yang saat ini bertugas sebagai pembimbing rohani para frater di Roma. “Namun Serikat Yesus memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa retret-retret Ignasian sungguh mendukung pengalaman rohani yang lahir dari perjumpaan personal dengan Kristus.”
Romo Sardi menjelaskan bahwa Latihan Rohani disusun Ignatius Loyola ketika ia masih seorang awam—belum belajar teologi dan belum ditahbiskan sebagai imam. Justru karena lahir dari pengalaman awam itulah, Latihan Rohani hingga kini tetap relevan dan komunikatif, tidak hanya bagi para Yesuit, tetapi juga bagi kaum awam, bahkan bagi kalangan Protestan.
“Banyak orang memanfaatkan Latihan Rohani karena latihan ini sungguh bermanfaat dan komunikatif,”katanya dalam Grand Launching Buku “Membangun Keluarga Berdasar Semangat Ignasian” yang diselenggarakan oleh Yayasan Sesawi di Hotel Best Western Mangga Dua, Sabtu, 13 Desember 2025.
Menurut Romo Sardi, Latihan Rohani merupakan buah pergulatan Ignatius dalam mengolah diri di hadapan kasih Tuhan, yang kemudian diperkaya oleh berbagai tradisi rohani Gereja, seperti Benediktin, Fransiskan, dan Dominikan. Dari situ lahir sebuah spiritualitas yang berakar kuat pada pengalaman personal, namun tidak terlepas dari kebijaksanaan tradisi yang telah teruji oleh waktu.
“Kalau saya merangkum, ada dua alasan utama mengapa Latihan Rohani tetap relevan hingga hari ini,” ujarnya. “Pertama, karena berakar pada pengalaman personal dengan Tuhan. Kedua, karena pengalaman itu tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh wawasan rohani yang luas dan matang.”
Bukan Sekali Jadi
Ia menambahkan bahwa Ignatius sejak awal menegaskan Latihan Rohani bukanlah rumusan yang selesai sekali jadi. Ia merupakan catatan pembelajaran yang lahir dari proses panjang mengolah pengalaman hidup. Dalam setiap pengalaman, selalu ada tiga unsur yang saling terkait: pengalaman itu sendiri, pembelajaran yang dipetik darinya, dan pujian kepada Allah.
Kerangka inilah yang kemudian menjadi dasar formasi dalam Serikat Yesus. Karena itu, ketika Romo Provinsial mengajak peserta diskusi untuk melihat kekayaan pengalaman yang dibagikan dalam buku Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian, yang hendak ditekankan adalah bahwa pengalaman hidup akan sungguh bermakna bila diolah dan direfleksikan sebagai ruang perjumpaan dengan Allah—bukan sekadar peristiwa yang berlalu begitu saja.
Romo Sardi menegaskan, seseorang bisa saja terus menambah pengalaman hidup, tetapi tanpa refleksi dan pembelajaran, pengalaman itu tidak akan membawa pertumbuhan. Bahkan hidup berkeluarga selama puluhan tahun pun tidak otomatis menghasilkan kedewasaan rohani.
“Yang menentukan bukan lamanya pengalaman, melainkan ada tidaknya refleksi, doa batin, dan kesediaan untuk belajar,” katanya.
Dalam spiritualitas Ignasian, pengalaman personal selalu dipertautkan dengan wawasan yang lebih luas—baik melalui tradisi, pendampingan rohani, maupun sharing dengan sesama. Proses ini berlangsung secara bertahap, dan dari sinilah Latihan Rohani berkembang hingga diyakini sebagai sekolah diskresi sekaligus sekolah doa.
Doa, dalam konteks Ignasian, bukan sekadar aktivitas religius, melainkan sarana perjumpaan personal dengan Tuhan. Struktur Latihan Rohani—yang terdiri dari pendahuluan, pokok doa, dan percakapan personal—secara perlahan membentuk batin seseorang. “Jika dijalani secara setia, struktur ini membentuk pribadi sedikit demi sedikit, sering kali bahkan tanpa disadari,” ujar Romo Sardi.
Ia menambahkan bahwa tidak semua perubahan rohani langsung disadari. Yang disadari adalah komitmen untuk setia pada proses, sementara buah-buah yang tumbuh secara perlahan dapat disyukuri sebagai rahmat. Dalam banyak hal, termasuk dalam kehidupan perkawinan, pembentukan semacam ini menjadi fondasi yang kokoh.
Unsur Utama
Romo Sardi kemudian merangkum enam unsur utama spiritualitas Ignasian. Pertama, warisan Ignatius bukan hanya pengalaman pribadinya, tetapi pembelajaran yang diolah dari pengalaman itu. Melalui Latihan Rohani, Ignatius tidak mengajak orang meniru pengalamannya secara persis, melainkan masuk ke dalam kerangka pembelajaran agar orang dapat belajar langsung dari Tuhan.
Unsur berikutnya adalah keterbukaan. Dalam dinamika doa Ignasian, seseorang belajar membuka diri semakin dalam, hari demi hari. Proses ini dirumuskan secara khas dalam latihan eksamen, yang mendorong pertumbuhan pribadi sepanjang hidup.
Ignatius juga dikenal mewariskan tradisi retret dengan bimbingan. Menurut Romo Sardi, perjalanan rohani yang personal membutuhkan verifikasi dan pendampingan agar tetap sehat. Tanpa pendampingan dan objektivasi, pengalaman rohani berisiko menyesatkan. Karena itu, rekoleksi, retret tahunan, dan pendampingan rohani menjadi bagian tak terpisahkan dari spiritualitas Ignasian.
Selain itu, Latihan Rohani juga memiliki dimensi asketis. Pada awalnya, latihan ini bisa terasa kering dan berat. Namun ketika telah membadan dalam hidup, justru terbuka ruang kreativitas rohani yang kaya. Di sinilah makna magis—bukan sebagai perbandingan dengan orang lain, melainkan sebagai keterbukaan yang makin besar terhadap rahmat Allah.
Dua poin terakhir menegaskan bahwa spiritualitas Ignasian bermuara pada pelayanan sebagai pemberian diri. Pelayanan ini tidak selalu hadir dalam bentuk peran besar, tetapi terwujud dalam cara berpikir, berdoa, berelasi, dan mengambil keputusan sehari-hari.
Akhirnya, Latihan Rohani menjadi sekolah doa, sekolah diskresi, dan sekolah cara hidup. Ia menolong seseorang menyikapi situasi tak terduga dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab—baik dalam kehidupan personal, keluarga, maupun tanggung jawab publik.
“Dalam spiritualitas Ignasian selalu ada ruang dan sikap saling mendengarkan,” kata Romo Sardi. “Bukan hanya mendengarkan sesama, tetapi terutama mendengarkan Roh yang hadir dan bekerja dalam diri setiap pribadi.”
Sikap ini berakar kuat dalam kontemplasi Mendapatkan Cinta, yang menegaskan keyakinan bahwa Allah hadir dan terus berkarya dalam seluruh dinamika hidup manusia. Tanpa diskresi, pengalaman tidak menuntun pada kebijaksanaan. Banyak kerusakan—baik dalam hidup religius, keluarga, maupun ranah publik—terjadi ketika keputusan diambil tanpa kebiasaan diskresi.
Sebagai penutup, Romo Sardi menegaskan bahwa kekayaan spiritualitas Ignasian tidak dibatasi oleh status hidup, latar belakang, atau jenis pekerjaan. Siapa pun yang bersedia membuka diri pada daya formatif Latihan Rohani akan dibantu untuk semakin peka mendengarkan suara Tuhan dalam setiap pilihan hidupnya.
“Di sanalah spiritualitas Ignasian menemukan relevansinya yang mendalam dan terus hidup,” tutupnya.

Terimakasih Rm Sardi SJ atas paparannya ringkas, padat dan menggugah jiwa.
Terimakasih mas Abdi yg selalu apik memaparkan sebuah session dg gamblang. Berkah Dalem
Trimakasih atas bekal dalam hidup beriman dan pelayanan menggereja.