Bacaan liturgi Sabtu sesudah Rabu Abu, 21 Februari 2026 (Yes 58:9b–14; Mzm 86; Luk 5:27–32) melanjutkan tema yang sangat kuat pesannya tentang pertobatan yang nyata dan penuh sukacita. Dalam nubuat Yesaya, Tuhan menjanjikan terang bagi mereka yang menyingkirkan penindasan dan memperhatikan sesama. Sementara dalam Injil Lukas, kita mendengar kisah panggilan Lewi—pemungut cukai yang dianggap berdosa—yang bangkit, meninggalkan segalanya, dan mengikuti Yesus.
Adegan panggilan Lewi sangat Ignasian. Yesus melihat dia, memanggilnya, dan berkata sederhana: “Ikutlah Aku.” Tidak ada ceramah panjang. Hanya tatapan dan undangan. Dalam spiritualitas Ignasian, pengalaman panggilan sering lahir dari momen personal seperti ini—ketika seseorang merasa “dilihat” oleh Tuhan secara mendalam. Ignasius sendiri mengalami momen serupa saat masa pemulihannya di Loyola: dari ambisi duniawi menuju hasrat mengikuti Kristus secara total.
Yang menarik, Lewi tidak hanya mengikuti Yesus; ia juga mengadakan perjamuan besar di rumahnya. Ia mengundang banyak orang, termasuk mereka yang dianggap berdosa. Pertobatan di sini bukan peristiwa suram, melainkan perayaan. Ada kegembiraan karena ditemukan dan dipanggil. Inilah dinamika konsolasi dalam bahasa Ignasian: ketika jiwa merasakan damai, terang, dan dorongan untuk semakin mencintai Allah dan sesama.
Namun reaksi kaum Farisi juga perlu disadari: mengapa Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa? Di sinilah Yesus menegaskan misi-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.” Pernyataan ini membalik cara pandang religius yang kaku. Pertobatan bukan hadiah bagi yang sudah baik, melainkan rahmat bagi yang sadar akan kelemahannya.
Dalam terang Yesaya, pertobatan yang sejati selalu berdampak sosial. Tuhan menjanjikan bahwa jika umat berhenti menindas, berhenti menunjuk-nunjuk dengan jari dan berkata jahat, maka terang akan terbit dalam kegelapan mereka. Ini sangat sejalan dengan visi Ignasian tentang iman yang bekerja dalam keadilan. Relasi intim dengan Allah harus terwujud dalam relasi yang memulihkan sesama.
Sabtu ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal. Pertama, apakah kita berani membiarkan diri kita dipanggil? Panggilan Yesus sering sederhana, tetapi menuntut keberanian untuk bangkit dan meninggalkan sesuatu (kebiasaan buruk kita, pikiran-pikiran kita yang tidak terbuka, hati kita yang terlalu terpaut pada satu hal sehingga membelenggu, pola-pola hidup yang tidak efektif sebagai manusia, dan kecenderungan-kecenderungan yang membuat kita tidak bebas mengabdi Tuhan dan melayani sesama). Kedua, apakah pertobatan kita melahirkan sukacita dan keterbukaan, atau justru membuat kita semakin eksklusif dan menghakimi?
Dalam examen, kita dapat bertanya: kapan aku merasa sungguh dilihat dan dicintai Tuhan? Apakah aku menanggapi panggilan-Nya dengan sukacita, atau menundanya karena takut kehilangan kenyamanan? Dan adakah orang-orang “Lewi” di sekitarku yang justru sedang dipanggil Tuhan melalui sikap penerimaanku?
Masa Prapaskah bukan hanya perjalanan askese, tetapi juga perjalanan pemulihan relasi. Yesus tidak menunggu kita sempurna; Ia memanggil kita apa adanya; dalam kelemahan, kerapuhan, dan kedosaan kita. Dan ketika kita menjawab panggilan itu, hidup kita—seperti rumah Lewi—dapat menjadi ruang perjamuan di mana kasih Allah dirayakan bersama banyak orang.
Di sinilah kebebasan Ignasian menemukan wujudnya: bangkit ketika dipanggil, mengikuti dengan sukacita, dan membiarkan hidup kita menjadi tempat perjumpaan antara belas kasih Allah dan dunia yang haus akan pemulihan. Meskipun kita pendosa, tetapi kita dipanggil Tuhan untuk mengabdi-Nya.
