(Kejadian 12:1–4a; 2 Timotius 1:8b–10; Matius 17:1–9)
Ada satu kalimat sederhana dalam bacaan pertama hari ini, tetapi daya guncangnya luar biasa. Tuhan berkata kepada Abram:
“Pergilah dari negerimu…”
Abram sudah berusia 75 tahun. Ia tidak muda lagi. Ia sudah memiliki lingkungan, kebiasaan, dan rasa aman. Pada usia seperti itu, kebanyakan orang menginginkan kestabilan, bukan memulai sesuatu yang baru. Namun justru pada saat itulah Tuhan memintanya melangkah pergi—tanpa penjelasan yang rinci, tanpa jaminan yang kelihatan jelas.
Dan yang mengagumkan, Abram pergi.
Di situlah iman dimulai. Iman bukan pertama-tama soal memahami semuanya secara lengkap. Iman adalah keberanian untuk melangkah ketika Tuhan memanggil, meski masa depan belum jelas.
Sering kali manusia sulit “pergi”. Sudah merasa nyaman dengan pola hidup tertentu. Menyadari ada kebiasaan yang perlu diubah, tetapi menunda. Tahu ada relasi yang perlu diperbaiki, tetapi memilih diam. Sadar bahwa kehidupan doa mulai kering, tetapi lebih sibuk dengan banyak hal lain.
Prapaskah sebenarnya adalah undangan untuk “pergi”. Bukan selalu berarti pindah tempat secara fisik, melainkan meninggalkan kebiasaan lama yang tidak membawa pada kehidupan yang lebih dalam. Pergi dari sikap masa bodoh. Pergi dari ego yang selalu ingin menang sendiri. Pergi dari kecenderungan menghakimi.
Abram tidak tahu ke mana ia akan sampai, tetapi ia tahu kepada siapa ia percaya. Dan itu cukup.
Dalam Injil, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung. Di sana Yesus berubah rupa. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih berkilau. Para murid melihat kemuliaan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
Peristiwa ini terjadi sebelum sengsara. Sebentar lagi mereka akan melihat Yesus disalibkan. Mereka akan terguncang dan ketakutan. Maka sebelum memasuki lembah penderitaan, mereka diberi pengalaman gunung kemuliaan.
Hidup manusia pun demikian. Ada saat-saat “gunung”, ketika doa terasa hangat, ketika segala sesuatu berjalan baik, ketika kehadiran Tuhan terasa dekat. Namun ada pula saat-saat “lembah”: sakit yang panjang, usaha yang gagal, anak yang sulit dipahami, hubungan yang retak.
Kecenderungan manusia adalah ingin tinggal di gunung. Petrus berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di sini. Baiklah kami dirikan tiga kemah…”
Ia ingin menghentikan momen itu, ingin tinggal dalam kenyamanan rohani. Namun Yesus tidak mengajak mereka membangun kemah. Ia mengajak mereka turun kembali. Turun menuju Yerusalem. Turun menuju salib.
Iman bukan sekadar menikmati pengalaman rohani yang indah. Iman adalah kesetiaan ketika kembali pada rutinitas, kembali pada persoalan hidup, kembali pada tanggung jawab sehari-hari.
Di tengah cahaya itu terdengar suara dari surga:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi… Dengarkanlah Dia.”
Kalimat ini sederhana, tetapi menentukan. Dengarkanlah Dia.
Di zaman sekarang begitu banyak suara terdengar: suara media, suara opini publik, suara kecemasan, suara ego pribadi. Sering kali suara Tuhan justru tenggelam di antara semuanya itu.
Mendengarkan Yesus berarti memberi ruang agar Sabda-Nya benar-benar mempengaruhi keputusan hidup. Ketika Ia berkata, “ampunilah”, maka belajar mengampuni. Ketika Ia berkata, “pikullah salibmu”, maka berhenti lari dari tanggung jawab. Ketika Ia berkata, “jangan takut”, maka berani melangkah meski situasi tidak pasti.
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menasihati Timotius agar tidak malu bersaksi tentang Tuhan, bahkan jika harus ikut menderita. Menjadi orang beriman memang tidak selalu mudah. Kejujuran bisa membawa kerugian. Integritas bisa membuat seseorang tidak populer. Kesetiaan pada nilai Injil bisa membuat berbeda dari arus mayoritas.
Namun justru di situlah iman menjadi nyata.
Prapaskah bukan sekadar soal pantang dan puasa lahiriah. Prapaskah adalah perjalanan. Perjalanan seperti Abram yang berani pergi. Perjalanan seperti para murid yang naik gunung lalu turun kembali. Perjalanan untuk terus belajar mendengarkan Yesus di tengah banyak suara lain.
Mungkin ada panggilan yang sedang disampaikan secara pribadi: meninggalkan satu hal yang menghambat pertumbuhan. Atau mempercayai Tuhan meski belum melihat seluruh arah perjalanan.
Dalam masa Prapaskah ini, keberanian untuk melangkah menjadi penting, meski peta perjalanan belum lengkap. Dan ketika harus turun dari “gunung” pengalaman rohani menuju lembah kehidupan sehari-hari, langkah itu dijalani dengan hati yang dikuatkan, karena tahu kepada siapa iman diletakkan.
Amin.
