Pada Senin, 2 Maret 2026, Sabda Tuhan menghadapkan kita pada dua sikap dasar hidup rohani: pertobatan yang jujur dan belas kasih yang nyata.
Dalam Kitab Daniel 9:4b–10, Daniel berdoa dengan kerendahan hati yang mendalam. Ia tidak menyalahkan keadaan, tidak mencari kambing hitam. Ia berkata, “Kami telah berdosa dan bersalah.” Doa itu bukan sekadar pengakuan pribadi, tetapi solidaritas dengan umat yang rapuh. Daniel berdiri di hadapan Allah bukan dengan pembelaan diri, melainkan dengan hati yang remuk dan penuh harap akan belas kasih Tuhan.
Kemudian dalam Injil Lukas 6:36–38, Yesus berkata dengan sangat jelas: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati… Jangan menghakimi… Ampunilah… Berilah.” Ukuran yang kita pakai untuk orang lain akan dipakai juga untuk kita.
Ada benang merah yang kuat di antara kedua bacaan ini: siapa yang sungguh menyadari dirinya berdosa akan lebih mudah berbelas kasih. Orang yang tahu bahwa dirinya hidup dari pengampunan, akan lebih ringan mengampuni. Orang yang sadar bahwa ia ditopang rahmat, akan lebih lunak terhadap kelemahan sesama.
Dalam terang Spiritualitas Ignasian, Santo Ignatius Loyola (Fleming, 2008) menyikapi dosa dengan cara inovatif dan khas. Dalam menyikapi dosa, dia meminta kita untuk memohon rahmat ‘rasa malu dan kebingungan’ saat kita memikirkan kesalahan kita. Tanggapan pribadi terhadap pengalaman dosa, menurut Ignasius tidak berasal dari diri kita sendiri melainkan merupakan buah dari rahmat Allah, seperti aneka anugerah yang lain.
Ignasius selalu melihat dosa dalam konteks cinta Allah. Dosa merupakan kegagalan kita untuk berterima kasih. Kita berdosa karena tidak menyadari apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Maka, Ignasius mengundang kita melihat sejarah dosa dan kejahatan kita dalam terang kebaikan ilahi. Bahkan ketika kita menolak, Tuhan tetap memberkati kita. Para kudus dan malaikat tetap berdoa untuk kita.
Maka, kesadaran akan kebaikan Tuhan itu membuat kita semakin mampu bermurah hati. Ketika kita menahan diri untuk tidak mudah menghakimi, ketika kita memilih memberi daripada menuntut, kita sedang membiarkan hati kita dibentuk menyerupai hati Bapa, yang murah hati.
Prapaskah adalah sekolah belas kasih. Kita belajar pertama-tama mengakui dosa tanpa topeng, lalu belajar memperlakukan sesama dengan kelembutan yang sama seperti Allah memperlakukan kita. Daniel mengajarkan kita berkata, “Kami telah berdosa.” Yesus mengajarkan kita hidup, “Aku mengampuni.”
Dan mungkin di akhir hari, dalam keheningan doa, kita bisa bertanya dengan jujur: sudahkah aku memperlakukan orang lain dengan ukuran rahmat, atau dengan ukuran tuntutan? Sebab ukuran yang kita pilih hari ini sedang membentuk hati kita untuk selamanya.
