Rabu, 18 Maret 2026
Rabu Pekan Prapaskah IV
Bacaan I: Yesaya 49:8–15, Mazmur: Mazmur 145:8–9,13cd–14,17–18, Injil: Yohanes 5:17–30
Bacaan-bacaan liturgi hari ini berbicara tentang satu kenyataan rohani yang sangat mendalam: kesetiaan Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia. Dalam perjalanan hidup, manusia sering mengalami saat-saat ketika ia merasa sendirian, ditinggalkan, atau tidak diperhatikan. Namun Kitab Suci hari ini menegaskan bahwa pengalaman itu tidak pernah menjadi kebenaran terakhir.
Dalam kitab Yesaya, bangsa Israel sedang berada dalam situasi penderitaan dan pengasingan. Mereka merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Bahkan mereka berkata: “Tuhan telah meninggalkan aku, Tuhanku telah melupakan aku.”
Ini adalah keluhan yang sangat manusiawi. Ketika hidup dipenuhi kesulitan, manusia sering merasa bahwa Tuhan tidak lagi hadir dalam hidupnya.
Namun Tuhan menjawab keluhan itu dengan sebuah gambaran yang sangat menyentuh:
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”
Ini adalah salah satu ungkapan kasih Tuhan yang paling kuat dalam seluruh Kitab Suci. Kasih Allah bahkan digambarkan lebih setia daripada kasih seorang ibu kepada anaknya. Tuhan ingin menunjukkan bahwa relasi-Nya dengan manusia bukan sekadar hubungan antara penguasa dan umat, tetapi hubungan kasih yang sangat personal dan penuh perhatian.
Mazmur tanggapan hari ini memperkuat gambaran itu dengan mengatakan bahwa Tuhan penuh kasih dan penyayang, lambat marah dan besar kasih setia-Nya. Ia menegakkan orang yang jatuh dan membangkitkan mereka yang tertunduk.
Namun Injil hari ini membawa kita lebih dalam lagi ke dalam misteri hubungan antara Allah dan manusia melalui pribadi Yesus. Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata bahwa Ia bekerja bersama dengan Bapa-Nya:
“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”
Pernyataan ini menimbulkan konflik besar dengan para pemimpin agama pada waktu itu, karena mereka memahami kata-kata itu sebagai klaim bahwa Yesus menyamakan diri dengan Allah.
Namun Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak bertindak dari diri-Nya sendiri. Ia melakukan apa yang Ia lihat dari Bapa. Segala karya-Nya—menyembuhkan, mengampuni, membangkitkan kehidupan—adalah manifestasi dari karya Allah sendiri.
Yesus juga berbicara tentang memberi kehidupan. Ia mengatakan bahwa seperti Bapa membangkitkan orang mati dan memberi hidup, demikian juga Anak memberi hidup kepada siapa yang Ia kehendaki. Dalam Injil Yohanes, kehidupan ini bukan hanya kehidupan biologis, tetapi kehidupan ilahi yang mengubah manusia dari dalam.
Dengan kata lain, Yesus tidak hanya mengajarkan tentang Tuhan. Yesus adalah jalan di mana kehidupan Allah sendiri mengalir kepada manusia.
Dalam perspektif spiritualitas Ignasian, bacaan hari ini mengajak kita untuk semakin menyadari bagaimana Tuhan terus bekerja dan terlibat dalam kehidupan kita sehari-hari. Santo Ignatius dari Loyola sering menekankan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berkarya. Bahkan dalam situasi yang tampaknya biasa, Tuhan sedang membimbing, menguatkan, dan mengarahkan kehidupan manusia.
Namun sering kali manusia tidak menyadari karya itu. Kita lebih mudah melihat kegagalan daripada melihat rahmat. Kita lebih cepat merasakan kekecewaan daripada menyadari kehadiran Tuhan yang setia.
Karena itu masa Prapaskah menjadi waktu untuk melatih kepekaan rohani, yaitu kemampuan untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan kita—dalam peristiwa kecil, dalam perjumpaan dengan orang lain, bahkan dalam kesulitan yang kita alami.
Pada akhirnya, bacaan hari ini mengajak kita untuk mempercayai satu kebenaran yang sangat sederhana tetapi sangat mendalam:
Tuhan tidak pernah berhenti bekerja dalam hidup manusia.
Bahkan ketika kita merasa ditinggalkan, Tuhan tetap memegang kehidupan kita. Bahkan ketika kita merasa tidak diperhatikan, kasih-Nya tetap mengalir.
Dan mungkin pertanyaan rohani yang penting bagi kita hari ini adalah: Apakah kita cukup percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam hidup kita, bahkan ketika kita tidak melihatnya secara langsung?
Karena iman sering kali berarti mempercayai bahwa di balik segala peristiwa hidup, tangan Tuhan tetap memelihara kita dengan kasih yang tidak pernah berhenti.
