Selasa, 17 Maret 2026, Selasa Pekan Prapaskah IV, Bacaan I: Yehezkiel 47:1–9,12
Mazmur: Mazmur 46:2–3,5–6,8–9, Injil: Yohanes 5:1–16
Bacaan-bacaan liturgi hari ini berbicara tentang air yang memberi kehidupan dan pemulihan yang datang dari Allah. Dalam simbolisme Kitab Suci, air sering melambangkan kehidupan, rahmat, dan karya pembaruan Tuhan dalam diri manusia.
Dalam penglihatan Nabi Yehezkiel, ia melihat air mengalir keluar dari Bait Allah. Pada awalnya aliran itu kecil, tetapi semakin jauh mengalir, air itu menjadi sungai yang besar dan memberi kehidupan di mana pun ia lewat. Air itu menghidupkan tanah yang tandus, memulihkan laut yang mati, dan membuat pohon-pohon berbuah tanpa henti.
Penglihatan ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang rahmat Allah yang mengalir dari kehadiran-Nya. Kehadiran Tuhan tidak pernah statis. Rahmat-Nya selalu bergerak, menjangkau, dan memulihkan kehidupan yang kering. Bahkan tempat yang paling tandus sekalipun dapat menjadi subur ketika disentuh oleh air kehidupan itu.
Mazmur tanggapan hari ini menegaskan gambaran yang sama: “Ada suatu sungai yang mengalirkan sukacita ke kota Allah.”
Sungai ini melambangkan kehadiran Tuhan yang memberi keamanan dan pengharapan. Di tengah dunia yang sering dipenuhi kekacauan dan ketakutan, Tuhan menjadi sumber ketenangan dan kekuatan.
Namun Injil hari ini membawa simbol air itu ke dalam sebuah kisah yang sangat manusiawi. Di dekat kolam Betesda, terdapat banyak orang sakit yang menantikan air kolam itu bergolak. Mereka percaya bahwa ketika air itu bergerak, orang pertama yang masuk ke dalamnya akan disembuhkan.
Di antara orang-orang itu ada seorang yang telah sakit selama tiga puluh delapan tahun. Ia telah hidup begitu lama dalam keterbatasannya sehingga harapan tampaknya hampir hilang.
Yesus mendekatinya dan bertanya sebuah pertanyaan yang tampak sederhana tetapi sangat dalam:
“Maukah engkau sembuh?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Bukankah orang sakit tentu ingin sembuh? Namun Yesus menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kondisi fisik. Kadang-kadang manusia bisa begitu lama hidup dalam penderitaan, kegagalan, atau luka batin sehingga ia menjadi terbiasa dengan keadaan itu. Luka itu bahkan menjadi bagian dari identitasnya.
Orang itu menjawab bahwa ia tidak memiliki siapa pun yang menolongnya masuk ke dalam kolam ketika air bergolak. Jawaban ini mengungkapkan kesepian dan ketidakberdayaannya. Namun Yesus tidak membawa dia ke dalam kolam. Yesus berkata: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”
Pada saat itu juga orang itu sembuh.
Mukjizat ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri adalah sumber kehidupan yang sesungguhnya, lebih besar daripada kolam Betesda. Air yang memberi kehidupan bukan sekadar air fisik, tetapi rahmat yang mengalir dari Kristus.
Namun kisah ini juga menunjukkan ironi yang tragis. Para pemimpin agama lebih sibuk memperdebatkan bahwa orang itu membawa tilam pada hari Sabat daripada melihat bahwa seorang manusia yang telah menderita hampir empat puluh tahun telah dipulihkan hidupnya.
Sering kali manusia bisa begitu terikat pada aturan sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat karya kasih Allah yang nyata.
Dalam perspektif spiritualitas Ignasian, kisah ini mengajak kita untuk melakukan refleksi batin yang jujur. Santo Ignatius dari Loyola mengajak orang beriman untuk menyadari bahwa Tuhan selalu bekerja dalam kehidupan sehari-hari—bahkan dalam situasi yang tampaknya biasa atau tidak penting. Pertanyaan Yesus kepada orang sakit itu sebenarnya juga ditujukan kepada kita:
“Maukah engkau sembuh?”
Pertanyaan ini menyentuh kedalaman hati manusia. Apakah kita sungguh ingin dibebaskan dari luka batin, kebiasaan buruk, atau pola hidup yang mengikat kita? Ataukah kita justru tanpa sadar mempertahankan keadaan itu karena sudah menjadi bagian dari kehidupan kita?
Masa Prapaskah adalah waktu ketika Tuhan mengundang kita untuk berdiri kembali. Mungkin kita telah lama terjatuh dalam kekecewaan, kelelahan, atau kehilangan arah. Tetapi Injil hari ini menunjukkan bahwa satu sabda dari Tuhan dapat mengubah seluruh hidup manusia.
Air kehidupan dari Tuhan masih terus mengalir. Rahmat-Nya tidak pernah berhenti bekerja. Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bagi kita hari ini adalah: Apakah kita siap bangkit ketika Tuhan berkata kepada kita, “Bangunlah dan berjalanlah”?
