Sabtu, 21 Maret 2026 – Bacaan: Yer. 11:18-20; Yoh. 7:40-53
Ada satu kenyataan rohani yang sering tidak kita sadari: semakin seseorang berjalan dalam kebenaran, semakin ia berhadapan dengan penolakan. Bukan karena ia salah, tetapi justru karena hidupnya mulai mencerminkan sesuatu yang tidak semua orang siap terima.
Nabi Yeremia mengalami hal ini secara nyata. Ia seperti anak domba jinak yang dibawa ke pembantaian—tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya merencanakan kejahatan terhadapnya. Namun yang menjadi kekuatan Yeremia bukanlah kemampuan untuk melawan, melainkan keberaniannya untuk menyerahkan diri kepada Tuhan yang “mengadili dengan adil dan menguji hati dan batin.”
Di sini kita melihat bahwa penderitaan bukan hanya peristiwa luar, tetapi juga pengalaman batin: rasa tidak dimengerti, dikhianati, bahkan kesepian dalam menjalani kebenaran.
Dalam Injil, dinamika yang sama terjadi pada Yesus. Orang banyak terpecah: ada yang mulai percaya, ada yang ragu, ada pula yang menolak. Bahkan para pemimpin agama menutup diri terhadap kemungkinan bahwa Allah sedang bekerja di hadapan mereka. Kebenaran tidak ditolak secara frontal saja, tetapi juga melalui prasangka, logika yang sempit, dan hati yang tidak terbuka.
Dalam terang Prapaskah, kita diajak untuk menyadari bahwa dinamika ini juga hidup dalam diri kita. Ada bagian hati yang ingin mengikuti Tuhan, tetapi ada juga bagian yang menolak ketika jalan itu menjadi sulit.
Di sinilah spiritualitas Ignasian membantu kita masuk lebih dalam. Dalam tradisi discernment, seperti ditegaskan oleh Timothy M. Gallagher dalam Discerning the Will of God, perjalanan iman bukan pertama-tama soal memilih yang mudah, tetapi soal mengenali kehendak Tuhan melalui pengalaman batin yang nyata—melalui pergulatan, kebimbangan, bahkan ketidakpastian.
Ignatius menekankan bahwa seseorang perlu memiliki disposisi keterbukaan total: siap menerima apa pun yang Tuhan kehendaki, bukan apa yang kita inginkan. Namun di titik inilah ujian terbesar muncul. Ketika kebenaran mulai menuntut pengorbanan, sering kali hati kita mengalami “desolasi”: rasa berat, penolakan, keinginan untuk mundur.
Yeremia tidak lari dari situasi itu. Yesus pun tidak menghindari konflik. Mereka tetap berjalan, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena mereka berakar pada Tuhan.
Dalam dinamika Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola, khususnya ketika merenungkan penderitaan Kristus, kita diajak untuk masuk dalam pengalaman ini secara personal: bukan hanya memahami penderitaan, tetapi merasakannya, tinggal di dalamnya, dan bertanya dengan jujur—apakah aku sungguh ingin mengikuti Kristus sampai ke jalan ini?
Karena mengikuti Kristus bukan hanya soal terang, tetapi juga kesediaan berjalan dalam bayang-bayang penolakan.
Refleksi ini membawa kita pada pertanyaan yang sangat mendalam: Ketika saya tidak dimengerti, ketika saya ditolak, ketika saya sendirian dalam memilih yang benar—apakah saya tetap setia?
Ataukah saya mulai menyesuaikan diri demi kenyamanan?
Ignatian spiritualitas mengajarkan bahwa kebebasan sejati lahir ketika kita tidak lagi ditentukan oleh penerimaan atau penolakan orang lain, tetapi oleh kehendak Tuhan. Sebuah kebebasan yang tidak mudah, tetapi justru di situlah kedalaman iman terbentuk.
Maka Prapaskah ini menjadi ruang latihan:
belajar jujur melihat gerak hati,
belajar bertahan dalam kebenaran,
dan belajar mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan—bahkan ketika jalan itu tidak mudah.
Karena pada akhirnya, kesetiaan tidak diuji ketika semuanya berjalan baik, tetapi ketika kita tetap memilih Tuhan, meskipun harus berjalan sendirian.
