Selasa, 24 Maret 2026 – Bacaan I : Bil. 21:4-9; Bacaan Injil : Yoh. 8:21-30
Perjalanan iman tidak selalu berjalan lurus. Ada saat-saat di mana manusia lelah, kehilangan arah, bahkan mulai bersungut-sungut terhadap Tuhan.
Dalam Bacaan Pertama, bangsa Israel mengalami hal itu. Di tengah perjalanan di padang gurun, mereka menjadi tidak sabar. Mereka mulai mengeluh, bahkan menentang Tuhan: mengapa harus berjalan sejauh ini? mengapa hidup terasa sulit?
Keluhan itu bukan sekadar kata-kata—itu adalah tanda hati yang mulai menjauh dari kepercayaan.
Akibatnya, datanglah ular-ular berbisa yang mematikan. Dalam penderitaan itu, mereka sadar: mereka telah berdosa.
Namun Tuhan tidak menutup jalan. Ia memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan meninggikannya. Setiap orang yang memandangnya akan tetap hidup.
Kisah ini berbicara tentang perjalanan batin manusia. Sering kali kita juga seperti bangsa Israel: mudah mengeluh saat hidup tidak sesuai harapan, mempertanyakan Tuhan saat jalan terasa berat , kehilangan rasa syukur.
Namun justru dalam situasi sulit itulah kita diajak untuk kembali: melihat ke atas, bukan hanya melihat masalah. Penyembuhan dimulai ketika kita mau mengakui dan berbalik.
Dalam Injil, Yesus berkata “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia.”
Ini menggemakan kembali peristiwa ular tembaga. Seperti Bangsa Israel yang diselamatkan dengan memandang ular yang ditinggikan, demikian pula manusia diselamatkan dengan memandang Yesus yang akan ditinggikan di salib.
Namun “memandang” di sini bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi: percaya, membuka hati, menyerahkan diri.
Masalahnya, banyak orang tidak mengerti siapa Yesus. Mereka mendengar, tetapi tidak sungguh memahami. Mereka melihat, tetapi tidak sungguh percaya
Sekarang, kita diajak masuk ke dalam diri. Bayangkan diri kita berada di padang gurun kehidupan: lelah, terluka, penuh keluhan.
Lalu di hadapan kita ada sesuatu yang ditinggikan—tanda keselamatan. Pertanyaannya:
Apakah kita mau memandangnya?
Sering kali kita justru sibuk melihat luka kita, masalah kita, ketakutan kita. Kita terjebak dalam diri sendiri. Padahal keselamatan justru hadir ketika kita mengalihkan pandangan: dari diri sendiri kepada Tuhan.
Di dalam keheningan hati, kita bisa merasakan dua gerak: satu yang menarik kita pada keputusasaan (desolasi atau kekeringan rohani), dan satu lagi yang mengundang kita untuk percaya (konsolasi atau hiburan rohani). Di situlah pilihan iman terjadi.
Spiritualitas Ignasian tidak meminta kita untuk menghapus desolasi, tetapi menyadarinya, menamainya, dan tidak mengambil keputusan di dalamnya. Sebaliknya, kita diajak untuk bertahan, berdoa, dan mengingat kembali saat-saat konsolasi—saat di mana Tuhan terasa dekat dan nyata.
Dalam Latihan Rohani Ignasian, ada satu praktik sederhana namun powerful yang disebut eksamen. Dalam kesempatan yang hening, kita diminta menengok kembali pengalaman kita, melihat di mana Tuhan hadir, di mana kita menjauh, dan bagaimana hati kita bergerak. Perlahan, kita belajar bahwa bahkan di padang gurun, Tuhan tidak pernah absen.
Maka, memandang tanda keselamatan bukan sekadar tindakan fisik, tetapi sebuah keputusan batin: untuk keluar dari pusaran diri,
untuk mempercayakan luka kepada Tuhan,
dan untuk tetap berharap, bahkan ketika hati terasa kering.
Pada akhirnya, padang gurun bukanlah tempat kematian, melainkan tempat pemurnian. Di sanalah kita belajar bahwa iman bukan soal perasaan, tetapi soal arah pandangan.
Dan mungkin, di dalam keheningan yang paling sunyi, kita akan menyadari: Tuhan tidak pernah jauh. Kitalah yang sering memalingkan muka.
Hari ini, pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan:
Ke mana kita mengarahkan pandangan kita?
Di mana aku sering mengeluh dalam hidupku?
Apakah aku lebih fokus pada luka, atau pada Tuhan yang menyembuhkan?
Apakah aku sungguh “memandang” Tuhan dengan iman?
Karena keselamatan bukan soal seberapa kuat kita, tetapi seberapa mau kita mengarahkan hati kepada-Nya.
Doa Singkat
Tuhan, sering kali aku lebih sibuk melihat masalahku daripada melihat Engkau.
Ajarlah aku untuk mengarahkan pandanganku kepada-Mu. Ketika aku lelah dan jatuh, ingatkan aku bahwa Engkau adalah sumber keselamatan.
Berilah aku hati yang percaya dan terbuka pada kebenaran-Mu.
Amin.

