Tritunggal adalah misteri kehidupan batin Allah sendiri. Kita tidak dapat mengetahuinya melalui akal budi semata, melainkan hanya melalui pewahyuan ilahi. Kita mengenal Allah sebagai Tritunggal karena Allah sendiri telah berbicara dan menyatakan diri-Nya—terutama karena Ia telah menjadi manusia. Dalam iman, kita mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah, yang diperanakkan secara kekal dari Bapa: Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar. Dan melalui iman yang sama, kita mengenal Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai Allah yang personal—yang dapat kita sapa dalam doa dan dengan siapa kita dapat membangun relasi rohani yang mendalam.
Namun, selain mengenal secara relasional, kita juga dapat merenungkan misteri ini secara konseptual, tanpa kehilangan dimensi personal tersebut. Lalu, bagaimana kita mulai memikirkannya secara teologis?
Ketika Thomas Aquinas mengajukan pertanyaan ini, ia memulai dengan suatu pertanyaan mendasar dalam Summa Theologiae: apakah terdapat “prosesi” dalam kehidupan Allah? Yang dimaksud bukanlah prosesi liturgis, melainkan “keluarnya” satu pribadi dari pribadi lain secara kekal. Putra berasal dari Bapa, dan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra.
Kitab Suci memberi kita petunjuk penting, terutama dalam pembukaan Injil Yohanes. Di sana tertulis: “Pada mulanya adalah Sabda, Sabda itu bersama-sama dengan Allah dan Sabda itu adalah Allah.” Kata “Sabda” (dalam bahasa Yunani: logos) dapat dimengerti sebagai rasio, akal budi, atau pemikiran ilahi. Dengan demikian, sebelum segala sesuatu ada, Bapa sudah memiliki Sabda-Nya—hikmat-Nya yang berasal dari-Nya secara kekal.
Yesus sendiri berkata: “Aku keluar dan datang dari Bapa.” Dari sini, kita dapat memahami bahwa Putra adalah Sabda kekal yang “berasal” dari Bapa.
Selanjutnya, kita dapat menggunakan analogi untuk memahami Roh Kudus. Dalam pengalaman manusia, kita tidak dapat mengasihi sesuatu yang tidak kita kenal. Pengetahuan mendahului kasih. Ketika kita mengenal sesuatu, kita dapat mulai mencintainya. Maka, jika Putra adalah Sabda atau pengetahuan Allah tentang diri-Nya, Roh Kudus dapat dipahami sebagai kasih ilahi yang mengalir dari Bapa dan Putra.
Dengan demikian, dalam kehidupan batin Allah: Allah mengenal diri-Nya secara kekal, dan dari pengetahuan itu lahirlah Sabda (Putra); kemudian Allah mengasihi diri-Nya dan Sabda-Nya, dan dari kasih itu “dihembuskan” Roh Kudus.
Dari refleksi tentang prosesi ini, kita mulai memahami adanya relasi nyata dalam Allah. Ini adalah istilah klasik dalam teologi: relasi-relasi yang sungguh ada dalam diri Allah, bukan sekadar konsep pikiran.
Relasi-relasi ini adalah relasi asal-usul:
- Bapa berelasi dengan Putra sebagai Dia yang melahirkan Putra secara kekal.
- Putra berelasi dengan Bapa sebagai Dia yang berasal dari Bapa.
- Roh Kudus berelasi dengan Bapa dan Putra sebagai kasih yang berasal dari keduanya.
Dari sini, kita dapat berbicara tentang pribadi-pribadi ilahi.
Bapa adalah pribadi yang menjadi asal kehidupan Tritunggal—Dia yang secara kekal melahirkan Putra dan bersama Putra “menghembuskan” Roh Kudus. Ia mengkomunikasikan seluruh hakikat ilahi kepada Putra dan Roh Kudus.
Putra adalah Sabda yang diperanakkan secara kekal oleh Bapa, yang berasal dari-Nya dan bersama Bapa menjadi asal Roh Kudus.
Roh Kudus adalah pribadi yang merupakan kasih itu sendiri—kasih yang “dihembuskan” dari Bapa dan Putra.
Mengapa kita menggunakan istilah “kelahiran” atau “peranakan”?
Jelas kita tidak bermaksud bahwa Putra Allah dilahirkan secara fisik seperti manusia. Itu akan menjadi kesalahpahaman besar. “Kelahiran” di sini bersifat rohani dan tak berjasmani. Istilah ini digunakan karena menunjuk pada komunikasi kodrat. Dalam kehidupan manusia, seorang ayah memberikan kodrat manusia kepada anaknya. Dalam Allah, Bapa memberikan kodrat ilahi kepada Putra—kodrat yang sepenuhnya rohani dan tidak terbagi.
Untuk membantu memahaminya, kita dapat kembali pada analogi pikiran manusia. Ketika kita memahami sesuatu, kita membentuk konsep atau “kata batin” dalam pikiran kita. Namun, dalam diri kita, konsep itu bersifat lemah dan sementara. Sebaliknya, dalam Allah, Sabda yang dilahirkan Bapa memiliki kepenuhan kodrat ilahi. Karena itu kita mengatakan dalam Syahadat bahwa Putra adalah “Allah dari Allah, terang dari terang.”
Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu dalam hakikat atau esensi. Injil Yohanes mengisyaratkan hal ini, misalnya ketika Yesus berkata, “Sebelum Abraham ada, Aku ada,” dan ketika Ia menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.”
Gereja kemudian menggunakan istilah Yunani homoousios (sehakikat) untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dimiliki Bapa sebagai Allah juga dimiliki oleh Putra. Ini tidak berarti Bapa kehilangan sesuatu ketika “melahirkan” Putra. Sebaliknya, Bapa secara kekal memberikan seluruh kepenuhan kehidupan ilahi kepada Putra, sehingga segala yang ada dalam Bapa ada pula dalam Putra. Seperti dikatakan Yesus: “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.”
Hal yang sama juga berlaku bagi Roh Kudus. Ia adalah Allah yang satu, yang menerima seluruh kehidupan ilahi dari Bapa dan Putra melalui “penghembusan” kasih.
Refleksi teologis ini hanya mungkin karena kita terlebih dahulu mengenal Allah secara personal dalam iman—melalui Yesus Kristus dan melalui karya Roh Kudus. Karena kita telah mengenal dan mengasihi Allah, kita dapat mulai merenungkan siapa Dia sebenarnya.
Kristus adalah Sabda kekal Bapa, hikmat ilahi yang menjadi manusia demi keselamatan kita. Roh Kudus adalah kasih kekal antara Bapa dan Putra, yang diutus ke dunia untuk menguduskan Gereja dan mempersatukan kita dengan Allah. Kedua pribadi ini diberikan kepada kita untuk menuntun kita kepada Bapa.
Dengan demikian, berpikir tentang Tritunggal dan berdoa kepada Tritunggal bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi. Refleksi teologis memperdalam iman kita, dan doa menghidupkan relasi kita dengan Allah. Bersama-sama, keduanya menuntun kita untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah Tritunggal, yang adalah sumber dan tujuan hidup kita.
