Tritunggal Mahakudus adalah misteri terdalam tentang Allah dalam diri-Nya sendiri. Ia merupakan misteri dalam arti yang paling ketat: tidak dapat dibuktikan melalui argumen rasional semata, dan hanya dapat dikenal karena Allah sendiri berkenan mewahyukannya. Pewahyuan ini mencapai puncaknya dalam peristiwa Inkarnasi Sang Putra—kehadiran-Nya sebagai manusia, kehidupan-Nya di dunia—serta dalam pengutusan Roh Kudus.
Lalu, siapakah pribadi-pribadi ilahi itu? Dan bagaimana kita dapat mengenal mereka?
Dalam arti tertentu, setiap orang Kristen sebenarnya sudah mengenal sesuatu tentang misteri ini. Setiap hari Minggu dalam perayaan Ekaristi, kita mengakui iman kita akan Allah Tritunggal: satu Allah dalam tiga pribadi—Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Setiap orang Kristen dibaptis dalam nama Allah Tritunggal. Bahkan setiap perayaan Ekaristi dimulai dengan tanda salib: dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Dengan demikian, iman akan Tritunggal bukan sekadar ajaran tambahan, melainkan inti dari identitas Kristiani itu sendiri. Kita dikuduskan melalui baptisan dalam nama yang kudus dan penuh misteri ini.
Namun demikian, Thomas Aquinas mengajak kita untuk tidak berhenti pada pengenalan dasar tersebut. Ia mendorong kita untuk menggunakan akal budi—dengan tetap sadar akan keterbatasannya—untuk menyelami misteri tertinggi ini lebih dalam. Kita harus mengakui bahwa selama hidup di dunia ini, kita tidak akan pernah mampu memahami sepenuhnya misteri Allah. Pemahaman yang sempurna hanya akan kita peroleh dalam kebahagiaan surgawi, ketika kita memandang Allah secara langsung dalam apa yang disebut visio beatifica (penglihatan bahagia).
Meski demikian, usaha untuk menyelidiki nama-nama dan identitas pribadi-pribadi ilahi tetap sangat berharga. Dengan melakukannya, jiwa kita diangkat dan akal budi kita memperoleh sekilas pandangan tentang kebenaran tertinggi. Bagi Aquinas, bahkan pemahaman yang kecil dan terbatas tentang hal-hal yang paling luhur sudah cukup untuk memberikan sukacita yang terbesar.
Akan tetapi, perjalanan intelektual ini tidak mudah. Kita perlu memurnikan konsep dan gambaran kita, sebab biasanya kita memahami sesuatu dengan menggunakan analogi dari pengalaman duniawi. Kita membentuk gambaran dalam pikiran berdasarkan hal-hal yang kita kenal. Namun, ketika berbicara tentang Allah, tidak ada satu pun realitas duniawi yang sepenuhnya memadai untuk menggambarkan-Nya. Setiap gambaran pasti mengandung keterbatasan dan bahkan distorsi.
Karena itu, sumber terbaik untuk mengenal pribadi-pribadi ilahi adalah Kitab Suci. Inilah yang dilakukan oleh Aquinas. Ia menemukan bahwa dalam Kitab Suci terdapat dua jenis nama bagi Allah. Pertama, nama-nama yang bersifat “proprium” (khas), yaitu nama yang hanya dimiliki oleh satu pribadi ilahi dan menunjukkan keunikan-Nya. Kedua, nama-nama yang secara teknis dapat dikenakan pada ketiga pribadi ilahi, tetapi secara khusus “diapropriasikan” kepada salah satu pribadi.
Dalam Injil, kita sering mendengar Yesus menyebut Allah sebagai Bapa. Ia juga menyebut diri-Nya sebagai Putra, dan menjanjikan pengutusan Roh Kudus sebagai Parakletos dari Bapa. Semua ini adalah nama-nama khas. Namun, kita juga menemukan sebutan lain seperti “Mahakuasa” yang sering dikaitkan dengan Bapa, meskipun pada kenyataannya ketiga pribadi ilahi sama-sama Mahakuasa.
Mari kita melihat lebih dekat nama “Bapa”. Dalam satu arti umum, Allah disebut Bapa karena Ia adalah sumber seluruh ciptaan dan memelihara dunia dengan kasih-Nya. Ada analogi dengan kebapaan manusia, karena seorang ayah adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya dan merawat keluarganya. Namun, kita harus berhati-hati: pengalaman manusia tentang kebapaan seringkali tidak sempurna, bahkan bisa terluka atau menyimpang. Selain itu, Allah tidaklah laki-laki atau perempuan. Ia adalah sumber segala yang ada, dan istilah “Bapa” menunjuk pada asal-usul dan relasi, bukan jenis kelamin.
Dalam arti yang lebih khusus, “Bapa” menunjuk pada pribadi pertama Tritunggal: Dia yang adalah “asal tanpa asal,” dari siapa Putra dan Roh Kudus berasal. Kita memahami Bapa terutama dalam relasinya dengan Putra.
Putra memiliki tiga nama khas dalam Kitab Suci: Putra, Sabda (Word), dan Gambar (Image). Dalam Injil Yohanes tertulis: “Sabda itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita… dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Putra Tunggal dari Bapa.” Dalam Surat kepada Jemaat di Kolose dikatakan: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.”
Bagaimana kita memahami hal ini?
Mengikuti pemikiran Augustine of Hippo, Aquinas melihat bahwa nama “Sabda” adalah kunci. Untuk memahaminya, kita bisa melakukan sebuah eksperimen pemikiran: bayangkan kita mampu membentuk dalam pikiran kita suatu gambaran diri kita yang sempurna—sebuah ide yang sepenuhnya mencerminkan siapa kita.
Dalam kenyataannya, hal ini sulit. Kita terbatas, berubah dalam waktu, memiliki masa lalu dan masa depan, serta tidak sepenuhnya memahami diri sendiri. Namun, eksperimen ini membantu kita melihat bahwa ketika kita memahami diri, kita membentuk suatu “kata batin” atau konsep dalam pikiran kita—sesuatu yang berasal dari kita, tetap berada dalam diri kita, dan mencerminkan diri kita.
Dalam Allah, proses ini terjadi secara sempurna dan kekal. Allah, dengan intelek-Nya yang tak terbatas, memahami diri-Nya dalam satu tindakan yang kekal. Dari pemahaman ini lahirlah satu Sabda ilahi yang secara sempurna mengungkapkan diri-Nya. Sabda ini adalah Putra, gambar Allah yang tidak kelihatan.
Karena Allah adalah roh murni tanpa tubuh, Sabda ini sepenuhnya identik dengan Bapa dalam segala hal—kecuali dalam relasi asal. Putra adalah “Allah dari Allah,” berasal dari Bapa. Inilah yang disebut sebagai kelahiran kekal Putra oleh Bapa.
Selanjutnya, Allah tidak hanya memahami diri-Nya, tetapi juga mengasihi diri-Nya secara sempurna. Dari kasih antara Bapa dan Putra inilah berasal pribadi ketiga: Roh Kudus. Ia adalah kasih ilahi itu sendiri, yang “dihembuskan” (spiration) dari Bapa dan Putra.
Karena itu, Roh Kudus memiliki tiga nama khas: Roh Kudus, Kasih, dan Anugerah (Gift). Nama “Roh Kudus” adalah yang paling umum digunakan. Meskipun kata “roh” dan “kudus” secara terpisah bisa merujuk pada Allah secara keseluruhan, ketika digabungkan, keduanya menunjuk secara khusus pada pribadi ketiga yang berasal melalui “penghembusan” dari Bapa dan Putra.
Nama “Kasih” juga tepat, karena Roh Kudus adalah kasih timbal balik antara Bapa dan Putra. Dari sini kita memahami nama “Anugerah”: karena kasih adalah dasar dari pemberian yang cuma-cuma. Roh Kudus disebut Anugerah karena Ia diberikan kepada manusia dalam rahmat, hadir dalam jiwa sebagai karunia ilahi.
Nama-nama ini memberi kita sekilas pandangan ke dalam misteri terdalam Allah. Walaupun kita tidak mampu memahami sepenuhnya maknanya, Aquinas mengajak kita untuk bersyukur. Sebab, mengenal Allah—bahkan hanya melalui nama-nama-Nya—adalah suatu anugerah besar.
Dan dalam usaha memahami, meskipun terbatas, kita sudah mengambil bagian dalam sukacita akan kebenaran tertinggi yang suatu hari kelak akan kita lihat secara penuh.
