Orang tua mungkin tidak boleh punya anak favorit, tapi para filsuf jelas boleh punya argumen favorit. Jadi, dari lima argumen terkenal di awal Summa Theologiae karya Thomas Aquinas, mana yang paling ia sukai untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada?
Aquinas sendiri tidak pernah mengatakannya secara langsung. Tapi ada alasan kuat untuk menduga bahwa argumen favoritnya adalah “jalan pertama” (the first way). Salah satu alasannya terlihat dari cara ia memperkenalkannya. Ia menyebutnya manifestior, kata Latin yang berarti “lebih jelas”, “lebih nyata”, atau bahkan “lebih terasa langsung”. Dari konteksnya, jelas bahwa ia menganggap jalan pertama ini lebih mudah dipahami dibanding empat jalan lainnya. Jadi, setidaknya bisa dikatakan bahwa jalan pertama punya tempat istimewa dalam pikirannya.
Lalu, apa maksudnya “lebih jelas” atau “lebih nyata”? Ini bukan berarti argumen ini lebih pasti daripada yang lain. Semua “lima jalan” itu dimaksudkan sebagai bukti yang kuat tanpa keraguan. Jadi, “lebih jelas” di sini bukan soal tingkat kepastian, melainkan kedekatannya dengan pengalaman kita.
Mari kita lihat argumennya.
Struktur dasarnya kira-kira seperti ini:
- “Sesuatu yang disebut X adalah apa yang kita maksud dengan ‘Tuhan’”
- “Ada sesuatu yang merupakan X”
- “Maka, ada sesuatu yang kita sebut Tuhan”
Dalam jalan pertama, X itu adalah:
“penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh apa pun.”
Jadi argumennya menjadi:
- Penggerak pertama yang tidak digerakkan adalah apa yang kita sebut Tuhan
- Ada penggerak pertama yang tidak digerakkan
- Maka, Tuhan ada
Kedengarannya tidak terlalu “jelas”, kan? Justru di sinilah kita perlu memahami maksud Aquinas.
Yang ia maksud dengan “penggerak” adalah sesuatu yang menyebabkan perubahan.
Contohnya:
- Api membuat kayu terbakar
- Cahaya membuat kaca patri bersinar
- Bahkan, dosen yang membosankan bisa membuat mahasiswa mengantuk 😄
Semua itu adalah “penggerak” karena menyebabkan perubahan.
Namun, banyak hal di dunia ini bukan hanya menggerakkan, tapi juga digerakkan.
Misalnya:
- Kayu yang terbakar menghangatkan orang → kayu itu sekaligus “digerakkan” dan “menggerakkan”
- Kaca patri yang terkena cahaya lalu memantulkan warna → juga keduanya
- Orang yang mengantuk karena kuliah, lalu jadi terlambat → juga keduanya
Nah, ketika Aquinas berbicara tentang “penggerak pertama yang tidak digerakkan”, ia maksudkan sesuatu yang menyebabkan perubahan, tetapi tidak disebabkan oleh apa pun.
Lalu, kenapa kita harus percaya bahwa hal seperti itu ada?
Argumen sederhananya:
- Jika sesuatu digerakkan oleh yang lain, maka harus ada penggerak pertama yang tidak digerakkan
- Sesuatu memang digerakkan oleh yang lain
- Maka, harus ada penggerak pertama yang tidak digerakkan
Banyak orang mempertanyakan poin pertama. Itu memang bagian paling sulit. Tapi Aquinas justru mulai dari sesuatu yang lebih sederhana, yaitu poin kedua:
“Sesuatu digerakkan (atau berubah).”
Ini adalah titik paling dasar. Kita semua mengalaminya:
- Kayu terbakar
- Cahaya berubah
- Tubuh kita bertumbuh
- Pikiran kita berubah
Aquinas bahkan membuat argumen kecil:
- Segala yang berubah, berubah karena sesuatu yang lain
- Sesuatu memang berubah
- Maka, sesuatu berubah karena sesuatu yang lain
Di sinilah fondasi argumennya. Menurut Aquinas, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengubah dirinya sendiri sepenuhnya. Paling jauh, satu bagian dari sesuatu mengubah bagian lainnya.
Dan akhirnya, kita sampai pada titik paling “jelas” menurut Aquinas:
👉 Bahwa perubahan itu nyata.
Kita tidak hanya memikirkannya, tapi juga:
- melihatnya
- mendengarnya
- merasakannya
Perbedaan pentingnya adalah:
- Kita bisa memikirkan bahwa “segala perubahan disebabkan oleh sesuatu yang lain”
- Tapi kita bisa merasakan langsung bahwa “perubahan itu ada”
Sebagai manusia yang hidup dalam tubuh, pengalaman akan perubahan itu sangat dekat dengan kita. Itulah sebabnya jalan pertama disebut manifestior—lebih nyata, lebih terasa.
Jadi rangkaian lengkap argumennya:
- Ada perubahan
- Segala perubahan disebabkan oleh sesuatu yang lain
- Maka ada sesuatu yang menyebabkan perubahan
- Jika begitu, harus ada penggerak pertama yang tidak digerakkan
- Penggerak pertama itu adalah apa yang kita sebut Tuhan
Apakah ini argumen terbaik? Itu bisa kamu putuskan sendiri.
Tapi satu hal yang jelas:
argumen ini dimulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kita—pengalaman nyata akan perubahan.
