Kitab Suci mengingatkan kita akan dua kebenaran yang saling berkaitan erat. Pertama, bahwa Putra dan Roh Kudus “berasal” dari Pribadi lain dalam Allah. Kedua, bahwa keduanya juga “diutus” ke dalam dunia. Kedua realitas ini—prosesi ilahi dan misi ilahi—tidak dapat dipisahkan, karena misi adalah perwujudan konkret dari prosesi dalam sejarah keselamatan.
Dalam refleksi teologisnya, Thomas Aquinas bergerak dari pembahasan tentang prosesi ilahi menuju pembahasan tentang misi ilahi. Jika prosesi menunjuk pada relasi kekal dalam diri Allah, maka misi menunjuk pada bagaimana relasi itu “menjangkau keluar” ke dalam dunia. Dengan kata lain, misi ilahi adalah cara Putra dan Roh Kudus diutus oleh Bapa ke dalam sejarah manusia.
Aquinas melihat misi-misi ini sebagai titik kunci dalam seluruh rencana keselamatan. Ia bahkan dapat dianalogikan sebagai “misi penyelamatan” (rescue missions). Dalam misi ini, apa yang berlangsung secara kekal dalam diri Allah menjadi hadir di dalam waktu. Allah sendiri datang kepada manusia—bukan sekadar melalui perantara, tetapi secara pribadi. Pada saat yang sama, misi ini juga menjadi jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah. Dengan demikian, misi ilahi bukan hanya gerakan Allah menuju manusia, tetapi juga menjadi “jalur pulang” manusia menuju Allah.
Melalui misi-misi ini, misteri Tritunggal tidak hanya diwahyukan, tetapi juga aktif bekerja dalam menarik seluruh ciptaan kembali ke dalam kehidupan Allah sendiri. Prosesi kekal para pribadi ilahi kini “diperluas” ke dalam waktu, sehingga sejarah keselamatan menjadi partisipasi dalam kehidupan Tritunggal.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan misi ilahi?
Secara sederhana, “misi” berarti “pengutusan”. Dalam pengalaman manusia, setiap pengutusan selalu melibatkan dua hal: pertama, berasal dari seseorang; dan kedua, pergi ke tempat yang baru. Namun, ketika konsep ini diterapkan pada Allah, Aquinas menegaskan bahwa kita harus menghapus unsur perubahan yang biasanya ada dalam pengalaman manusia. Pribadi ilahi tidak berubah; Ia tidak “berpindah tempat” atau mulai hadir di suatu tempat di mana sebelumnya Ia tidak ada, sebab Allah hadir di mana-mana.
Karena itu, Aquinas merumuskan pengertian misi ilahi secara khas: di satu sisi, pribadi ilahi yang diutus tetap berasal dari pribadi lain dalam Allah melalui prosesi kekal; di sisi lain, Ia hadir dalam ciptaan melalui suatu cara baru, yaitu melalui efek ciptaan tertentu. Dengan kata lain, misi ilahi adalah kehadiran baru dari pribadi ilahi dalam dunia melalui suatu realitas ciptaan yang menjadi “tanda” atau “media” kehadiran-Nya.
Contoh paling utama adalah ketika Bapa mengutus Putra ke dalam dunia dalam diri Yesus Kristus. Dalam peristiwa ini, Putra hadir dalam waktu melalui suatu efek ciptaan yang baru, yaitu kodrat manusia Yesus. Ini adalah kasus yang unik dan tak tertandingi: sebuah misi yang bersifat kelihatan (visible mission). Kodrat manusia Yesus menjadi sarana kehadiran Putra, Sang Sabda, sehingga kodrat itu sungguh menjadi milik pribadi ilahi tersebut.
Selain itu, terdapat juga misi-misi kelihatan dari Roh Kudus. Aquinas menyebutkan empat peristiwa utama. Pertama, ketika Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati saat pembaptisan Yesus di Sungai Yordan. Kedua, pada peristiwa Transfigurasi, ketika awan bercahaya menaungi Yesus di atas Gunung Tabor. Ketiga, ketika Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid di ruang atas dan menghembusi mereka sambil berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Keempat, pada peristiwa Pentakosta, ketika Roh Kudus turun dalam rupa lidah-lidah api atas para rasul.
Semua peristiwa ini merupakan misi kelihatan yang sangat penting dalam Perjanjian Baru. Namun, menurut Aquinas, semua itu mengarah pada sesuatu yang bahkan lebih mendasar: kehadiran Allah dalam jiwa manusia. Inilah yang disebut sebagai misi tak kelihatan (invisible missions).
Misi tak kelihatan ini tidak disertai tanda lahiriah yang dapat dilihat, tetapi menghasilkan efek rohani yang nyata dalam diri manusia. Efek tersebut adalah kebajikan iman dan kasih.
Melalui iman, manusia diserupakan dengan prosesi Sang Sabda. Sebagaimana Bapa mengenal diri-Nya dan melahirkan Sabda yang secara sempurna mengungkapkan diri-Nya, demikian pula melalui iman, manusia mulai mengenal Allah—bukan sekadar secara lahiriah, tetapi dengan partisipasi dalam cara Allah mengenal diri-Nya sendiri.
Melalui kasih, manusia diserupakan dengan Roh Kudus. Karena Roh Kudus adalah Kasih itu sendiri, maka ketika kasih ilahi dicurahkan ke dalam hati manusia, manusia mengambil bagian dalam kehidupan Roh Kudus. Bahkan, Aquinas mengatakan bahwa Roh Kudus hadir secara pribadi dalam diri orang yang hidup dalam kasih.
Dengan demikian, ketika Bapa mengutus Putra dan Roh Kudus ke dalam hati manusia, manusia tidak hanya menerima rahmat, tetapi juga dibentuk sesuai dengan kehidupan Tritunggal itu sendiri. Kita menjadi “serupa” dengan prosesi ilahi: melalui Sabda kita mengenal, dan melalui Roh Kudus kita mengasihi.
Dan dari situ, terbukalah jalan pulang. Manusia diarahkan kembali kepada Allah: melalui Roh Kudus, bersama Putra, menuju Bapa—yang adalah sumber tanpa sumber dalam Tritunggal Mahakudus.
Dengan cara ini, misteri Tritunggal tidak hanya menjadi sesuatu yang kita percayai, tetapi sesuatu yang kita hidupi. Ia menjadi dinamika hidup rohani: Allah datang kepada kita, tinggal dalam diri kita, dan menarik kita kembali kepada-Nya.
