Iman Kristiani mengakui bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Artinya, Sang Putra Allah yang kekal—Sabda Bapa—masuk ke dalam waktu dan mengambil kodrat manusia yang utuh, sehingga Ia benar-benar menjadi manusia demi kita dan demi keselamatan kita. Inilah inti dari seluruh iman Kristen: sebuah kebenaran yang sekaligus indah, luhur, dan penuh misteri.
Thomas Aquinas merenungkan misteri ini secara mendalam. Dalam bagian ketiga Summa Theologiae, ia berusaha menunjukkan bahwa misteri inkarnasi ini tidak hanya dapat dipercaya, tetapi juga memiliki koherensi dan dapat dimengerti secara mendalam oleh akal budi—sejauh mungkin.
Sebagaimana biasa, Aquinas memulai dari pewahyuan ilahi tentang Kristus yang terdapat dalam Kitab Suci, sebagaimana dipahami dalam tradisi apostolik Gereja, termasuk keputusan konsili-konsili besar yang menolak penafsiran keliru tentang siapa Kristus sebenarnya. Untuk memahami misteri Inkarnasi dengan lebih jernih, penting juga melihat kesalahan-kesalahan awal yang pernah muncul dalam sejarah Gereja.
Pada abad-abad pertama, para pemikir Kristen sepakat bahwa Allah tidak dapat berubah dan tidak dapat menderita. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa Putra Allah menjadi manusia dan menderita di salib?
Salah satu jawaban keliru adalah ajaran doketisme. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tampak” atau “seolah-olah”. Menurut pandangan ini, Yesus hanya tampak seperti manusia dan hanya seolah-olah menderita. Gereja dengan cepat menolak ajaran ini, karena bertentangan dengan Kitab Suci yang menegaskan bahwa Yesus sungguh manusia, sungguh menderita dan wafat di salib, serta sungguh bangkit dalam tubuh-Nya pada hari ketiga.
Kesalahan lain adalah adopsionisme, yang menyatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang “diangkat” menjadi Anak Allah—misalnya pada saat pembaptisan-Nya di Sungai Yordan. Gereja juga menolak pandangan ini, karena iman Kristiani menegaskan bahwa Putra Allah sudah ada sejak kekal bersama Bapa, dan Ia tidak menjadi Anak Allah karena suatu peristiwa dalam waktu, melainkan memang adalah Anak Allah sejak kekal yang kemudian menjadi manusia dalam rahim Perawan Maria.
Kesalahan berikutnya datang dari Arius dan ajaran Arianisme. Arius mengajarkan bahwa Putra Allah bukanlah Allah sejati, melainkan makhluk ciptaan—meskipun makhluk yang sangat luhur. Ajaran ini dikutuk dalam Konsili Nikea (325) yang menegaskan bahwa Putra adalah “Allah benar dari Allah benar, diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa.”
Setelah itu muncul ajaran Nestorianisme, yang berusaha menjaga keilahian Putra dari penderitaan dengan memisahkan Yesus manusia dari Sabda ilahi. Menurut pandangan ini, Sabda hanya “tinggal” dalam diri manusia Yesus, sehingga hal-hal seperti kelahiran dari Maria atau penderitaan di salib tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan Sabda. Ajaran ini ditolak dalam Konsili Efesus (431), dan kemudian dirumuskan secara definitif dalam Konsili Kalsedon (451).
Konsili Kalsedon menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu pribadi, yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Secara lebih tepat: Putra Allah yang kekal adalah satu pribadi ilahi yang mengambil kodrat manusia yang utuh—tubuh dan jiwa, dengan akal budi dan kehendak manusia—dalam rahim Perawan Maria. Sejak saat itu, Ia ada dalam dua kodrat: kodrat ilahi dan kodrat manusia. Kedua kodrat ini bersatu dalam satu pribadi, dan persatuan ini disebut persatuan hipostatik (hypostatic union), dari kata Yunani hypostasis yang berarti pribadi yang konkret dan ada secara nyata.
Aquinas merangkum ajaran ini dengan sangat tajam.
Pertama, ketika kita mengatakan bahwa Yesus adalah Allah, kita membuat klaim tentang “ada” (being). Dasarnya adalah persatuan hipostatik: dua kodrat sungguh bersatu dalam satu pribadi. Istilah “pribadi” sendiri, menurut Aquinas, adalah istilah metafisik yang berarti “individu yang ada secara mandiri dalam kodrat rasional.” Maka, dalam Kristus, bukan sekadar terjadi penyatuan moral atau penyatuan melalui rahmat, melainkan pribadi ilahi Sang Sabda benar-benar hidup dan ada dalam kodrat manusia yang utuh.
Kedua, persatuan ini tidak mengubah kedua kodrat tersebut. Putra tetap sepenuhnya Allah—kekal, tidak berubah. Demikian pula, kodrat manusia Yesus tetap sungguh manusia: berada dalam waktu, dapat berubah, dan dapat menderita.
Ketiga, persatuan ini bersifat unik. Ia bukan seperti hubungan antara sifat dan substansi, atau seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Untuk membantu memahami, Aquinas menggunakan analogi yang menarik—mirip dengan transplantasi organ. Bayangkan seseorang menerima tambahan anggota tubuh. Anggota tubuh itu, jika terpisah, tidak dapat hidup sendiri; tetapi ketika disatukan dengan tubuh, ia hidup oleh kehidupan tubuh tersebut. Demikian pula, kodrat manusia Kristus tidak berdiri sendiri sebagai pribadi manusia, tetapi “hidup” dalam pribadi Sang Sabda.
Aquinas juga menggunakan analogi alat. Ia mengikuti para Bapa Gereja dalam mengatakan bahwa kemanusiaan Kristus adalah seperti alat yang dipakai oleh Sang Sabda. Bayangkan sebuah gergaji di tangan tukang kayu. Gergaji memiliki kemampuan memotong karena bahannya, tetapi tidak dapat bekerja tanpa tukang kayu. Ketika digunakan, gergaji ikut ambil bagian dalam karya tukang kayu.
Demikian pula, dalam Inkarnasi, Sabda Allah mengambil kodrat manusia sebagai “alat” yang bersatu dengan-Nya secara pribadi. Dalam kodrat ilahi-Nya, Sabda tidak dapat dilihat, tidak dapat berjalan di Galilea, tidak dapat menyentuh orang sakit, dan tidak dapat menderita atau mati. Namun, melalui kodrat manusia yang diambil-Nya, Ia sendiri—sebagai pribadi ilahi—melakukan semua itu.
Inilah keindahan iman Kristiani: Sabda Allah tidak hanya hadir di dunia, tetapi menyatukan diri-Nya dengan ciptaan dalam persatuan yang paling mendalam. Dengan melakukan itu, Ia mengangkat kemanusiaan kita yang jatuh dan memperbaruinya. Bahkan, Ia mengangkatnya ke martabat yang tak terbayangkan: mengambil bagian dalam kehidupan ilahi.
Seperti dikatakan oleh Paus Leo Agung (400 – 461) dan dikutip oleh Aquinas—ini adalah pertukaran yang ajaib (admirabile commercium): Allah merendahkan diri-Nya untuk mengambil bagian dalam kemanusiaan kita, supaya kita dapat diangkat untuk mengambil bagian dalam keilahian-Nya.
Dengan demikian, misteri Inkarnasi bukan hanya ajaran untuk dipahami, tetapi juga anugerah untuk dihayati—jalan keselamatan di mana Allah mendekat kepada manusia, agar manusia dapat bersatu dengan Allah.

Terima kasih tulisan artikel bagus yang kembali menyegarkan ingatan, Mas.
u r welcome mas