Semua orang sepakat bahwa “lima jalan” terkenal dari Santo Thomas Aquinas dimaksudkan sebagai pembuktian tentang keberadaan Allah. Namun, pertanyaannya adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan membuktikan sesuatu? Apakah cukup hanya dengan meyakinkan atau membujuk orang yang kita ajak berbicara? Ataukah pembuktian membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar persuasi?
Bagi Santo Thomas, jawabannya sangat jelas: pembuktian membutuhkan sesuatu yang lebih. Seseorang bisa saja membujuk atau meyakinkan orang lain bahwa sesuatu yang salah itu benar, atau bahwa sesuatu yang benar itu salah. Namun, fakta bahwa seseorang berhasil meyakinkan orang lain tidak berarti bahwa hal tersebut sungguh-sungguh benar. Kita bisa melihat contohnya dalam kisah ular di Taman Eden. Iblis berhasil meyakinkan Hawa bahwa tidak apa-apa memakan buah terlarang. Tetapi kenyataan bahwa Hawa diyakinkan tidak menjadikan tindakan itu benar. Karena itu, iblis tidak benar-benar membuktikan bahwa memakan buah itu diperbolehkan. Sebab, jika seseorang hendak membuktikan sesuatu, maka hal yang dibuktikan itu haruslah benar.
Lalu, apakah itu berarti bahwa pembuktian hanyalah persuasi ditambah dengan kebenaran? Sekali lagi, bagi Santo Thomas, jawabannya tetap jelas: pembuktian masih membutuhkan sesuatu yang lebih.
Bayangkan Anda sedang meninggalkan kantor, lalu seorang rekan kerja mengingatkan agar Anda tidak lupa membawa payung. Anda pun bertanya, “Apakah sedang hujan?” Ia menjawab, “Tadi malam sebelum tidur saya mengecek ramalan cuaca, dan di sana tertulis bahwa pukul lima sore ini kemungkinan hujan mencapai 100 persen.” Anda pun percaya, mengambil payung, keluar dari gedung, dan ternyata benar—sedang turun hujan. Rekan kerja Anda jelas telah meyakinkan Anda tentang sesuatu yang benar. Tetapi apakah ia telah membuktikannya? Tidak. Setidaknya, tidak menurut Aquinas.
Rekan kerja Anda mungkin telah memberi alasan yang baik untuk mempercayai bahwa akan turun hujan, tetapi ia tidak membuktikannya. Alasannya sederhana: tidak ada hubungan yang niscaya antara laporan cuaca yang mengatakan bahwa akan turun hujan pukul lima sore dan kenyataan bahwa hujan benar-benar turun pada waktu itu. Laporan cuaca bisa saja keliru. Namun bagi Santo Thomas, jika seseorang benar-benar hendak membuktikan sesuatu, maka tidak boleh ada ruang untuk kesalahan.
Hal ini penting ketika kita membaca dan memahami lima jalan Aquinas. Lima argumen tersebut tidak sekadar dimaksudkan untuk membujuk kita bahwa Allah itu ada. Argumen-argumen itu tidak hanya bertujuan untuk meyakinkan kita tentang kebenaran tersebut. Sebaliknya, lima jalan itu dimaksudkan sebagai pembuktian yang sesungguhnya. Artinya, lima jalan itu hanya akan berhasil sebagaimana yang dimaksudkan Aquinas jika tidak menyisakan ruang bagi kesalahan. Kita harus mengetahui dengan pasti bahwa premis-premisnya benar, dan harus ada hubungan yang niscaya antara premis dan kesimpulan. Argumennya tidak boleh seperti laporan cuaca dan hujan yang masih memungkinkan kesalahan.
Standar ini tentu sangat tinggi. Jika kita ingin menjadi pembaca yang adil dan jujur terhadap lima jalan Aquinas, kita tidak boleh menurunkan standar tersebut di bawah yang ditetapkan Aquinas sendiri. Namun, sama pentingnya untuk tidak menaikkan standar tersebut lebih tinggi daripada yang ditetapkan Aquinas.
Hal ini perlu ditegaskan karena salah satu kritik yang paling umum terhadap lima jalan Aquinas adalah bahwa argumen-argumen tersebut terlalu lemah. Kritik tersebut mengatakan bahwa lima jalan tidak benar-benar membuktikan keberadaan Allah, karena tidak membuktikan secara langsung adanya suatu pribadi yang mahakuasa, mahatahu, mahabaik, penuh kasih, dan penuh belas kasih. Namun, keberatan ini sebenarnya tidak adil. Kita seharusnya menilai suatu argumen berdasarkan apa yang ingin dibuktikan oleh argumen tersebut, bukan berdasarkan apa yang kita harapkan untuk dibuktikan.
Lima jalan Aquinas memang tidak dimaksudkan untuk langsung membuktikan bahwa Allah itu mahakuasa, mahatahu, mahabaik, penuh kasih, dan penuh belas kasih. Tentu saja, Aquinas percaya bahwa Allah memiliki semua sifat tersebut. Ia juga yakin bahwa semua sifat itu dapat dibuktikan. Namun, ia tidak menganggap lima jalan sebagai pembuktian untuk sifat-sifat tersebut. Yang ingin dibuktikan oleh lima jalan hanyalah bahwa ada sesuatu yang dapat disebut sebagai “allah”—menurut lima pengertian yang sangat spesifik tentang apa yang dimaksud dengan “allah”.
Karena itu, jika kita ingin menjadi penafsir yang adil dan jujur terhadap lima jalan Aquinas, kita harus memastikan bahwa standar yang kita gunakan tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Di satu sisi, kita harus mengakui bahwa lima jalan itu memang dimaksudkan sebagai pembuktian dalam arti kuat menurut Aquinas. Di sisi lain, kita juga harus memahami apa yang sebenarnya hendak dibuktikan oleh lima jalan tersebut.
Dengan kata lain, kita tidak boleh memaksakan ide atau harapan kita sendiri ke dalam pemikiran Aquinas. Sebaliknya, kita harus mulai dengan melihat apa yang ia maksud dengan “allah”, lalu bertanya apakah argumennya berhasil atau gagal dalam membuktikan keberadaan sesuatu yang sesuai dengan pengertian tersebut.
Dilihat dari perspektif ini, lima jalan Aquinas memiliki struktur dasar yang sama:
“__________ adalah apa yang kita sebut sebagai ‘allah’; tetapi ada suatu yang merupakan __________; maka, ada sesuatu yang kita sebut sebagai ‘allah’.”
Premis pertama menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata “allah”. Premis kedua menyatakan bahwa ada sesuatu yang sesuai dengan pengertian tersebut. Dan kesimpulannya menyatakan apa yang hendak dibuktikan, yakni bahwa ada sesuatu yang disebut sebagai allah.
Struktur ini sebenarnya merupakan penerapan khusus dari teori umum Aquinas tentang bagaimana membuktikan keberadaan sesuatu. Kita mulai dari makna suatu kata, lalu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sesuai dengan makna tersebut, dan akhirnya menyimpulkan bahwa kata itu merujuk pada sesuatu yang nyata.
Sebagai contoh dari ilmu pengetahuan alam, kita dapat bertanya: apakah “aa” itu ada? Jawabannya: ya, dan berikut pembuktiannya. Pertama, batuan vulkanik yang terdiri dari blok-blok lava bersudut tajam dengan permukaan yang sangat kasar adalah apa yang kita sebut sebagai “aa”. Kedua, terdapat batuan vulkanik yang terdiri dari blok-blok lava bersudut tajam dengan permukaan yang sangat kasar. Maka, kesimpulannya, ada “aa”.
Contoh ini memperlihatkan bahwa jika seseorang ingin menyangkal keberadaan “aa”, maka keberatan seharusnya diarahkan pada premis kedua, bukan pada premis pertama. Jika seseorang menolak definisi “aa”, maka ia sebenarnya tidak sedang terlibat dalam perdebatan yang sebenarnya. Perdebatan yang sesungguhnya adalah apakah benar terdapat batuan vulkanik dengan ciri-ciri tersebut.
Hal yang sama berlaku untuk lima jalan Aquinas. Setiap jalan dimulai dengan definisi yang masuk akal tentang kata “allah”, kemudian menyatakan bahwa ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut, lalu menyimpulkan bahwa ada allah.
Seseorang tentu saja dapat menolak definisi “allah” yang digunakan dalam salah satu dari lima jalan tersebut. Namun, jika itu yang dilakukan, maka orang tersebut sebenarnya tidak benar-benar menanggapi argumen Aquinas. Perdebatan yang sesungguhnya adalah mengenai premis kedua—apakah benar ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut.
Dan ternyata, premis kedua inilah yang paling banyak dibela oleh Aquinas dalam masing-masing dari lima jalan tersebut.
Dalam kelanjutan pembahasan ini, kita akan melihat lebih dekat berbagai definisi “allah” yang digunakan Aquinas dalam masing-masing dari lima jalan, serta rincian argumennya yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut.
Ketika Anda memikirkan argumen-argumen itu, ada dua pertanyaan sederhana yang perlu diingat. Pertama, apakah ia benar-benar membuktikannya? Kedua, apa sebenarnya yang hendak ia buktikan?
