By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    4 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    4 months ago
    Latest News
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    24 hours ago
    Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
    24 hours ago
    Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
    2 days ago
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    4 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    1 day ago
    Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
    2 days ago
    Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
    3 days ago
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    4 days ago
    Saat Allah Memulihkan, Manusia Justru Ketakutan
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
    2 hours ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    4 days ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    5 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    6 days ago
    Pribadi-pribadi Ilahi Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    7 days ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    4 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    4 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    9 months ago
    Latest News
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    4 weeks ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    4 weeks ago
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    2 months ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    2 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    4 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    6 days ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    11 months ago
    Latest News
    Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
    2 hours ago
    Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
    23 hours ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    4 days ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    5 days ago
Reading: Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > GEREJA SEMESTA > Ajaran Gereja > Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
Ajaran GerejaAQUINAS 101GEREJA SEMESTA

Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: March 31, 2026 5:22 am
By Gabriel Abdi Susanto 2 hours ago
Share
8 Min Read
SHARE

Semua orang sepakat bahwa “lima jalan” terkenal dari Santo Thomas Aquinas dimaksudkan sebagai pembuktian tentang keberadaan Allah. Namun, pertanyaannya adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan membuktikan sesuatu? Apakah cukup hanya dengan meyakinkan atau membujuk orang yang kita ajak berbicara? Ataukah pembuktian membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar persuasi?

Bagi Santo Thomas, jawabannya sangat jelas: pembuktian membutuhkan sesuatu yang lebih. Seseorang bisa saja membujuk atau meyakinkan orang lain bahwa sesuatu yang salah itu benar, atau bahwa sesuatu yang benar itu salah. Namun, fakta bahwa seseorang berhasil meyakinkan orang lain tidak berarti bahwa hal tersebut sungguh-sungguh benar. Kita bisa melihat contohnya dalam kisah ular di Taman Eden. Iblis berhasil meyakinkan Hawa bahwa tidak apa-apa memakan buah terlarang. Tetapi kenyataan bahwa Hawa diyakinkan tidak menjadikan tindakan itu benar. Karena itu, iblis tidak benar-benar membuktikan bahwa memakan buah itu diperbolehkan. Sebab, jika seseorang hendak membuktikan sesuatu, maka hal yang dibuktikan itu haruslah benar.

Lalu, apakah itu berarti bahwa pembuktian hanyalah persuasi ditambah dengan kebenaran? Sekali lagi, bagi Santo Thomas, jawabannya tetap jelas: pembuktian masih membutuhkan sesuatu yang lebih.

Bayangkan Anda sedang meninggalkan kantor, lalu seorang rekan kerja mengingatkan agar Anda tidak lupa membawa payung. Anda pun bertanya, “Apakah sedang hujan?” Ia menjawab, “Tadi malam sebelum tidur saya mengecek ramalan cuaca, dan di sana tertulis bahwa pukul lima sore ini kemungkinan hujan mencapai 100 persen.” Anda pun percaya, mengambil payung, keluar dari gedung, dan ternyata benar—sedang turun hujan. Rekan kerja Anda jelas telah meyakinkan Anda tentang sesuatu yang benar. Tetapi apakah ia telah membuktikannya? Tidak. Setidaknya, tidak menurut Aquinas.

Rekan kerja Anda mungkin telah memberi alasan yang baik untuk mempercayai bahwa akan turun hujan, tetapi ia tidak membuktikannya. Alasannya sederhana: tidak ada hubungan yang niscaya antara laporan cuaca yang mengatakan bahwa akan turun hujan pukul lima sore dan kenyataan bahwa hujan benar-benar turun pada waktu itu. Laporan cuaca bisa saja keliru. Namun bagi Santo Thomas, jika seseorang benar-benar hendak membuktikan sesuatu, maka tidak boleh ada ruang untuk kesalahan.

Hal ini penting ketika kita membaca dan memahami lima jalan Aquinas. Lima argumen tersebut tidak sekadar dimaksudkan untuk membujuk kita bahwa Allah itu ada. Argumen-argumen itu tidak hanya bertujuan untuk meyakinkan kita tentang kebenaran tersebut. Sebaliknya, lima jalan itu dimaksudkan sebagai pembuktian yang sesungguhnya. Artinya, lima jalan itu hanya akan berhasil sebagaimana yang dimaksudkan Aquinas jika tidak menyisakan ruang bagi kesalahan. Kita harus mengetahui dengan pasti bahwa premis-premisnya benar, dan harus ada hubungan yang niscaya antara premis dan kesimpulan. Argumennya tidak boleh seperti laporan cuaca dan hujan yang masih memungkinkan kesalahan.

Standar ini tentu sangat tinggi. Jika kita ingin menjadi pembaca yang adil dan jujur terhadap lima jalan Aquinas, kita tidak boleh menurunkan standar tersebut di bawah yang ditetapkan Aquinas sendiri. Namun, sama pentingnya untuk tidak menaikkan standar tersebut lebih tinggi daripada yang ditetapkan Aquinas.

Hal ini perlu ditegaskan karena salah satu kritik yang paling umum terhadap lima jalan Aquinas adalah bahwa argumen-argumen tersebut terlalu lemah. Kritik tersebut mengatakan bahwa lima jalan tidak benar-benar membuktikan keberadaan Allah, karena tidak membuktikan secara langsung adanya suatu pribadi yang mahakuasa, mahatahu, mahabaik, penuh kasih, dan penuh belas kasih. Namun, keberatan ini sebenarnya tidak adil. Kita seharusnya menilai suatu argumen berdasarkan apa yang ingin dibuktikan oleh argumen tersebut, bukan berdasarkan apa yang kita harapkan untuk dibuktikan.

Lima jalan Aquinas memang tidak dimaksudkan untuk langsung membuktikan bahwa Allah itu mahakuasa, mahatahu, mahabaik, penuh kasih, dan penuh belas kasih. Tentu saja, Aquinas percaya bahwa Allah memiliki semua sifat tersebut. Ia juga yakin bahwa semua sifat itu dapat dibuktikan. Namun, ia tidak menganggap lima jalan sebagai pembuktian untuk sifat-sifat tersebut. Yang ingin dibuktikan oleh lima jalan hanyalah bahwa ada sesuatu yang dapat disebut sebagai “allah”—menurut lima pengertian yang sangat spesifik tentang apa yang dimaksud dengan “allah”.

Karena itu, jika kita ingin menjadi penafsir yang adil dan jujur terhadap lima jalan Aquinas, kita harus memastikan bahwa standar yang kita gunakan tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Di satu sisi, kita harus mengakui bahwa lima jalan itu memang dimaksudkan sebagai pembuktian dalam arti kuat menurut Aquinas. Di sisi lain, kita juga harus memahami apa yang sebenarnya hendak dibuktikan oleh lima jalan tersebut.

Dengan kata lain, kita tidak boleh memaksakan ide atau harapan kita sendiri ke dalam pemikiran Aquinas. Sebaliknya, kita harus mulai dengan melihat apa yang ia maksud dengan “allah”, lalu bertanya apakah argumennya berhasil atau gagal dalam membuktikan keberadaan sesuatu yang sesuai dengan pengertian tersebut.

Dilihat dari perspektif ini, lima jalan Aquinas memiliki struktur dasar yang sama:
“__________ adalah apa yang kita sebut sebagai ‘allah’; tetapi ada suatu yang merupakan __________; maka, ada sesuatu yang kita sebut sebagai ‘allah’.”

Premis pertama menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata “allah”. Premis kedua menyatakan bahwa ada sesuatu yang sesuai dengan pengertian tersebut. Dan kesimpulannya menyatakan apa yang hendak dibuktikan, yakni bahwa ada sesuatu yang disebut sebagai allah.

Struktur ini sebenarnya merupakan penerapan khusus dari teori umum Aquinas tentang bagaimana membuktikan keberadaan sesuatu. Kita mulai dari makna suatu kata, lalu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sesuai dengan makna tersebut, dan akhirnya menyimpulkan bahwa kata itu merujuk pada sesuatu yang nyata.

Sebagai contoh dari ilmu pengetahuan alam, kita dapat bertanya: apakah “aa” itu ada? Jawabannya: ya, dan berikut pembuktiannya. Pertama, batuan vulkanik yang terdiri dari blok-blok lava bersudut tajam dengan permukaan yang sangat kasar adalah apa yang kita sebut sebagai “aa”. Kedua, terdapat batuan vulkanik yang terdiri dari blok-blok lava bersudut tajam dengan permukaan yang sangat kasar. Maka, kesimpulannya, ada “aa”.

Contoh ini memperlihatkan bahwa jika seseorang ingin menyangkal keberadaan “aa”, maka keberatan seharusnya diarahkan pada premis kedua, bukan pada premis pertama. Jika seseorang menolak definisi “aa”, maka ia sebenarnya tidak sedang terlibat dalam perdebatan yang sebenarnya. Perdebatan yang sesungguhnya adalah apakah benar terdapat batuan vulkanik dengan ciri-ciri tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk lima jalan Aquinas. Setiap jalan dimulai dengan definisi yang masuk akal tentang kata “allah”, kemudian menyatakan bahwa ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut, lalu menyimpulkan bahwa ada allah.

Seseorang tentu saja dapat menolak definisi “allah” yang digunakan dalam salah satu dari lima jalan tersebut. Namun, jika itu yang dilakukan, maka orang tersebut sebenarnya tidak benar-benar menanggapi argumen Aquinas. Perdebatan yang sesungguhnya adalah mengenai premis kedua—apakah benar ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut.

Dan ternyata, premis kedua inilah yang paling banyak dibela oleh Aquinas dalam masing-masing dari lima jalan tersebut.

Dalam kelanjutan pembahasan ini, kita akan melihat lebih dekat berbagai definisi “allah” yang digunakan Aquinas dalam masing-masing dari lima jalan, serta rincian argumennya yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang memenuhi definisi tersebut.

Ketika Anda memikirkan argumen-argumen itu, ada dua pertanyaan sederhana yang perlu diingat. Pertama, apakah ia benar-benar membuktikannya? Kedua, apa sebenarnya yang hendak ia buktikan?

You Might Also Like

Kita Tidak Dipanggil untuk Menyembunyikan Terang

Leading with an Open Heart: Kepemimpinan Santa Teresa dari Kalkuta untuk Dunia yang Terluka

Siaga Tanpa Cemas

Batasan yang Diberikan Tuhan pada Manusia Bukanlah Hukuman

Allah Hadir Tak Hanya dalam Keajaiban

TAGGED:Aquinas 101argumen keberadaan Tuhanargumen kosmologisBukti Filosofis TuhanDefinisi Tuhan menurut AquinasEksistensi Tuhanfilsafat abad pertengahanfilsafat Kristenfilsafat teologiheadlinelima jalan AquinasLogika Pembuktianmetafisika AquinasMetode Pembuktian AquinasPembuktian FilosofisPembuktian Keberadaan AllahPembuktian Rasional TuhanPremis dan KesimpulanRasio dan ImanSanto Thomas Aquinasteologi Katolik
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
Next Article Percikan Rumah di Stasi Santo Paulus Bukit Tinggi: Iman yang Dihidupi dalam Kebersamaan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Percikan Rumah di Stasi Santo Paulus Bukit Tinggi: Iman yang Dihidupi dalam Kebersamaan
  • Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
  • Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
  • Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
  • Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku

Recent Comments

  1. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  2. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  3. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
  4. Adrianus Turnip on Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
  5. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?