Yesaya 52:13–53:12 | Ibrani 4:14–16; 5:7–9 | Yohanes 18:1–19:42
Suasana ngeri mencekam menggetarkan hati kala kisah penderitaan menurut Injil Yohanes itu dibacakan hari ini, Jumat Agung. Di tengah hiruk-pikuk penyaliban, ejekan, dan penderitaan, terdapat detail kecil yang mudah terlewatkan: kaki Yesus tidak dipatahkan. Para prajurit datang kepada dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan mematahkan kaki mereka agar kematian segera terjadi. Namun ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka melihat bahwa Ia sudah wafat. Maka kaki-Nya tidak dipatahkan. Sebaliknya, seorang prajurit menusuk lambung-Nya dengan tombak, dan mengalirlah darah dan air.
Yohanes tidak mencatat peristiwa ini sebagai detail biasa. Ia langsung mengaitkannya dengan Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” Ini bukan sekadar catatan historis. Ini adalah penyingkapan misteri. Yohanes ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi di Golgota bukanlah kebetulan. Ada rencana ilahi yang mengalir dari Perjanjian Lama menuju salib.
Jika kita kembali kepada Kitab Keluaran 12:46 – “Haruslah itu dimakan dalam satu rumah saja; janganlah kamu membawa sedikit pun dari daging itu ke luar rumah, dan satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.” – kita menemukan perintah yang sangat spesifik tentang anak domba Paskah. Pada malam pembebasan Israel dari Mesir, Tuhan memerintahkan bahwa anak domba itu harus disembelih, dimakan, dan yang sangat menarik: tidak satu pun tulangnya boleh dipatahkan (Mazmur 34:21 – “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah” – Ayat ini awalnya berbicara tentang orang benar yang dilindungi Tuhan. Namun Gereja perdana melihat bahwa ayat ini mencapai kepenuhannya dalam diri Kristus.). Perintah ini tampak seperti detail kecil dalam ritual Paskah, namun dalam terang salib, detail itu menjadi terang yang menyinari seluruh sejarah keselamatan.
Para ahli Kitab Suci telah lama melihat hubungan ini. Raymond E. Brown dalam komentarnya tentang Injil Yohanes menegaskan bahwa Yohanes secara sadar menggambarkan Yesus sebagai Anak Domba Paskah yang sejati. Brown mencatat bahwa waktu kematian Yesus dalam Injil Yohanes bertepatan dengan saat anak-anak domba Paskah disembelih di Bait Allah. Maka ketika kaki Yesus tidak dipatahkan, Yohanes melihat penggenapan sempurna dari simbolisme Paskah. Anak domba Perjanjian Lama ternyata menunjuk kepada Kristus.
Di sini muncul pertanyaan yang menggugah: siapa yang mengatur semua ini? Para prajurit Romawi tidak sedang membaca Kitab Suci. Mereka hanya menjalankan tugas. Namun tindakan mereka justru menggenapi nubuat yang telah ditulis berabad-abad sebelumnya. Tanpa mereka sadari, mereka menjadi bagian dari rencana ilahi.
Santo Augustinus pernah merenungkan bahwa bahkan tindakan orang yang tidak mengenal Tuhan pun dapat dipakai oleh Allah untuk menggenapi kehendak-Nya. Dalam misteri salib, kebebasan manusia dan rencana ilahi bertemu secara misterius. Para prajurit bertindak bebas, tetapi Allah bekerja melalui kebebasan mereka.
Kecocokan ini bukan satu-satunya. Ketika kita membaca kisah sengsara Yesus, kita menemukan bahwa hampir setiap detail memiliki gema dalam Perjanjian Lama. Yesus disalibkan di luar kota, seperti korban penghapus dosa dalam Kitab Imamat yang dibawa keluar dari perkemahan. Yesus diberi minum anggur asam, yang mengingatkan pada Mazmur 69 (ayat 21/22) yang mengatakan: “Bahkan mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam.” Pakaian Yesus diundi, seperti yang tertulis dalam Mazmur 22: “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka.”
Semua ini membentuk pola yang tidak mungkin kebetulan. N. T. Wright menjelaskan bahwa kisah sengsara Yesus bukan sekadar tragedi, tetapi puncak dari narasi besar Israel. Dalam diri Yesus, kisah Israel mencapai kepenuhannya. Ia adalah hamba yang menderita dari Kitab Yesaya. Ia adalah anak domba Paskah dari Kitab Keluaran. Ia adalah orang benar yang menderita dari Mazmur.
Kita juga melihat bahwa Yesus mengenakan mahkota duri. Duri dalam Kitab Kejadian adalah tanda kutukan setelah kejatuhan manusia. Ketika Yesus memakai mahkota duri, Ia seolah mengenakan kutukan manusia di kepala-Nya sendiri. Scott Hahn melihat bahwa mahkota duri bukan sekadar ejekan, tetapi simbol teologis yang sangat dalam. Yesus menjadi Raja yang memikul kutukan dunia.
Bahkan tindakan menusuk lambung Yesus juga memiliki gema Perjanjian Lama. Yohanes mencatat bahwa darah dan air mengalir keluar. Para Bapa Gereja melihat ini sebagai lambang sakramen Gereja: baptisan dan Ekaristi. St. Thomas Aquinas menafsirkan bahwa Gereja lahir dari lambung Kristus seperti Hawa lahir dari lambung Adam. Ini menghubungkan salib dengan awal penciptaan.
Semakin kita membaca kisah sengsara, semakin kita melihat bahwa semuanya tampak seperti dirancang dengan sangat halus. Namun bukan berarti peristiwa ini diatur secara mekanis. Justru misterinya adalah bahwa Allah bekerja dalam kebebasan manusia, bahkan dalam kebencian dan kekerasan.
Jumat Agung memperlihatkan bahwa sejarah keselamatan bukan sekadar rangkaian kebetulan. Ada tangan ilahi yang bekerja diam-diam. Para prajurit tidak tahu bahwa mereka sedang menggenapi Kitab Suci. Para imam tidak tahu bahwa mereka sedang menggenapi nubuat. Bahkan para murid tidak memahami bahwa penderitaan ini adalah bagian dari rencana keselamatan.
Namun Allah tahu.
Dan ketika kita melihat kembali seluruh kisah ini, kita menyadari bahwa salib bukan kecelakaan sejarah. Salib adalah puncak dari rencana kasih Allah yang telah dipersiapkan sejak awal. Anak domba yang tidak dipatahkan kakinya di Mesir, hamba yang menderita dalam Yesaya 53:7 ( “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.”), orang benar yang dihina dalam Mazmur, disalibkan bersama penjahat ( Yesaya 53:12 – “Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak.”), semuanya mengarah kepada satu titik: Golgota.
Di sana, Yesus tergantung sebagai Anak Domba sejati. Kaki-Nya tidak dipatahkan. Nubuat terpenuhi. Dan tanpa disadari oleh dunia, keselamatan terjadi.
Dalam keheningan yang kita rasai di Hari Jumat Agung ini, kita akhirnya menyadari bahwa sejarah tidak berjalan tanpa arah. Ada kasih yang mengalir diam-diam di balik peristiwa. Kasih yang sudah direncanakan sejak awal. Kasih yang membawa Yesus ke salib.
Dan ketika kita menatap salib, kita melihat bahwa bahkan detail kecil pun tidak luput dari rencana kasih itu. Tidak satu tulang pun dipatahkan. Tidak satu nubuat pun gagal.
Semua mengarah kepada satu kebenaran yang sunyi namun menggugah: Allah telah mengatur semuanya dalam kasih.
