Sabtu ini terasa sunyi, sepi. Tuhan telah mati. Kita semua berduka. Hidup serasa mandeg, berhenti dan tidak bergerak, seperti tidak ada harapan atau harapan itu tersembunyi.
Hari ini Yesus Tuhan sungguh mengalami kematian dalam arti yang paling nyata. Ia tidak hanya tampak mati, tetapi benar-benar masuk ke dalam keadaan kematian. Gereja mengutip Ibrani 2:9:
“Oleh kasih karunia Allah, Ia mengalami maut bagi semua manusia.”
Yesus tidak hanya mati secara fisik. Ia masuk ke dalam keadaan manusia yang paling dalam: keterpisahan jiwa dan tubuh. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa antara saat terakhir Yesus di salib dan kebangkitan-Nya, Ia mengalami keadaan kematian sepenuhnya. Ini disebut sebagai misteri pemakaman dan turun ke dalam kerajaan maut.
Hari Sabtu Agung menjadi hari ketika Kristus diletakkan dalam makam dan masuk dalam “istirahat Sabat Allah yang besar.” Ini adalah simbol yang sangat dalam. Setelah karya penciptaan, Allah beristirahat pada hari Sabat. Sekarang, setelah karya penebusan, Kristus beristirahat dalam makam.
Dengan kata lain, Sabtu Agung adalah Sabat baru.
Teolog Katolik besar, Hans Urs von Balthasar menyebut Sabtu Agung sebagai “hari kesunyian Allah”. Menurutnya, ini adalah saat ketika Allah memasuki kedalaman penderitaan manusia, bahkan sampai pengalaman ditinggalkan.
Sementara tubuh Yesus berada dalam makam, pribadi ilahi Putra Allah tetap bersatu dengan jiwa dan tubuh-Nya, walaupun keduanya terpisah oleh kematian. Ini adalah misteri yang sangat mendalam.
Para Bapa Gereja juga merenungkan misteri ini. Gregorius dari Nisa menjelaskan bahwa kematian Kristus bukanlah kehancuran, tetapi justru menjadi titik pertemuan antara kematian dan kehidupan. Kristus menghentikan pembusukan tubuh dan menjadi prinsip penyatuan kembali manusia.
Ini berarti kematian Kristus bukanlah kekalahan. Kematian Kristus adalah tempat kelahiran kehidupan baru.
Tubuh Yesus tidak mengalami kebinasaan. Santo Thomas Aquinas menjelaskan bahwa tubuh Kristus tidak membusuk karena tetap bersatu dengan pribadi ilahi Putra Allah. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam kematian, kuasa ilahi tetap bekerja. “Kematian Kristus adalah kematian yang sesungguhnya, yang mengakhiri keberadaan manusiawi-Nya di dunia. Tetapi karena tubuh-Nya tetap bersatu dengan Pribadi Putera Allah, Ia tidak menjadi jenazah yang biasa. “Untuk menunjukkan kekuatan ilahi, [Kristus] menghendaki, agar tubuh ini tidak binasa” (Tomas Aqu., s.th. 3,51,3)“ – Katekismus Gereja Katolik 627.
Namun misteri Sabtu Agung tidak berhenti pada makam.
Kristus turun ke dunia orang mati. Ia masuk ke tempat penantian orang mati — yang dalam Kitab Suci disebut Sheol atau Hades. Tetapi Ia tidak datang untuk membebaskan orang terkutuk, melainkan orang-orang benar yang menantikan keselamatan.
Ini adalah salah satu bagian paling indah dalam iman Kristen. Kristus turun ke dalam kegelapan untuk mencari manusia.
Katekismus mengutip homili kuno Sabtu Agung yang sangat terkenal:
“Hari ini suasana sunyi mendalam meliputi dunia… Allah dalam daging tertidur… Ia pergi mencari Adam… Ia datang untuk membebaskan mereka yang hidup dalam kegelapan.”
Gambaran ini sangat kuat. Kristus digambarkan turun ke dunia orang mati dan mencari Adam. Ia mencari manusia pertama. Ia mencari manusia yang hilang sejak awal sejarah.
Teolog besar Gereja Timur, Yohanes dari Damaskus menekankan bahwa walaupun jiwa dan tubuh Kristus terpisah, keduanya tetap bersatu dalam Pribadi Sabda. Ini berarti bahkan dalam kematian, Yesus tetap Tuhan.
Para ahli tafsir modern juga melihat Sabtu Agung sebagai momen solidaritas Allah dengan penderitaan manusia. Joseph Ratzinger menulis bahwa Sabtu Agung adalah hari ketika Allah masuk ke dalam “keheningan dunia”. Ini adalah pengalaman iman ketika Allah tampak tidak hadir, tetapi sebenarnya sedang bekerja dalam kedalaman.
Sabtu Agung menjadi refleksi bagi kehidupan manusia. Ada saat-saat dalam hidup ketika kita mengalami Sabtu Agung pribadi:
Saat doa terasa kosong. Saat Tuhan tampak diam.
Saat harapan terasa hilang.
Namun Sabtu Agung mengajarkan bahwa justru dalam keheningan itu, Allah sedang bekerja.
Katekismus (628) juga menghubungkan kematian Kristus dengan baptisan. Melalui baptisan, kita dikuburkan bersama Kristus untuk bangkit dalam hidup baru. Artinya, Sabtu Agung bukan hanya peristiwa Yesus, tetapi juga perjalanan setiap orang beriman. Kita semua melewati kematian untuk menuju kehidupan baru.
Dan akhirnya, Sabtu Agung mengarah kepada kebangkitan.
Kristus turun ke dunia orang mati untuk membuka pintu surga bagi orang-orang benar. Ia menghancurkan kuasa maut dan membebaskan manusia dari ketakutan akan kematian.
Seperti yang dikatakan Katekismus (635):
Kristus datang untuk memusnahkan iblis yang berkuasa atas maut dan membebaskan manusia dari ketakutan terhadap kematian. – Dengan demikian Kristus turun ke dunia orang-orang mati, agar “orang-orang mati mendengar suara Anak Allah … dan mereka yang mendengarNya, akan hidup” (Yoh 5:25). Yesus, “Pemimpin kehidupan” (Kis 3:15), datang “supaya memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15). Kristus yang telah bangkit, sekarang memegang di tangan-Nya “segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why 1:18), dan “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Flp 2:10).
Sabtu Agung bukanlah akhir. Sabtu Agung adalah keheningan sebelum kemenangan. Sabtu Agung adalah malam sebelum fajar.
Karena ketika dunia diam — Allah sedang membuka pintu kebangkitan.
