Minggu, 26 Januari 2025
Dalam keheningan yang syahdu, kita mendengar kisah dari kitab Nehemia, saat umat Allah berkumpul untuk mendengarkan hukum Tuhan. Ezra, imam yang bijaksana, berdiri di atas mimbar kayu, memandang kerumunan yang haus akan firman. Bacaan Nehemia 8:3-5a,6-7,9-11 menghidupkan gambaran itu: suasana yang penuh dengan haru dan penghormatan. Saat firman dibacakan, umat berdiri, menandakan kerendahan hati mereka di hadapan Sang Ilahi. Mereka menangis, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran mendalam akan cinta Allah yang terus melingkupi mereka meski dalam keterpurukan.
Para teolog seperti Walter Brueggemann dalam “Theology of the Old Testament: Testimony, Dispute, Advocacy” (1997) menafsirkan momen ini sebagai tanda pemulihan komunitas. Firman Allah menjadi pusat kehidupan bersama, mengarahkan mereka pada pengharapan. Dalam keheningan tangisan itu, Ezra dan Nehemia mengingatkan umat bahwa hari itu kudus; tangisan harus beralih menjadi sukacita. “Jangan bersedih,” kata mereka, “sebab sukacita TUHAN adalah kekuatanmu.” Dalam pesan ini, kita diundang untuk menghidupi iman yang tidak hanya meresapi hati tetapi juga membawa transformasi.
Melangkah ke bacaan kedua dari 1 Korintus 12:12-30, kita menemui visi Paulus tentang tubuh Kristus. Dengan bahasa yang penuh metafora, Paulus menegaskan kesatuan dalam keragaman. “Sama seperti tubuh itu satu, tetapi memiliki banyak anggota,” tulisnya, “demikian pula Kristus.” Dalam tubuh yang hidup ini, setiap anggota memiliki peran unik, tak tergantikan. Augustine of Hippo, dalam “City of God” (426 M), menggambarkan bahwa kesatuan tubuh Kristus adalah refleksi dari keharmonisan surga di tengah dunia yang penuh konflik. Semua berkontribusi, dari yang terlihat hingga yang tersembunyi, dalam membangun kerajaan Allah.
Paulus mengingatkan bahwa tidak ada anggota yang lebih penting dari yang lain. Dalam refleksi ini, kita diundang untuk merayakan keberagaman kita. Kathryn Tanner, dalam “Christ the Key” (2010), menekankan bahwa teologi Paulus tentang tubuh mengarahkan kita pada solidaritas radikal, yang melampaui sekat-sekat sosial. Kita dipanggil untuk menghargai setiap bagian, tanpa kecuali, karena setiap individu adalah pantulan wajah Allah.
Kemudian, Injil Lukas membawa kita kepada momen awal pelayanan Yesus. Dalam Lukas 1:1-4; 4:14-21, kita menyaksikan Yesus di sinagoga Nazaret, membuka gulungan kitab Yesaya, dan membaca, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” Pernyataan ini menggema sebagai manifestasi misi Yesus yang inklusif dan transformatif. Raymond E. Brown dalam “An Introduction to the New Testament” (1997) menyebut ini sebagai momen deklarasi misi. Dengan penuh keyakinan, Yesus menyatakan bahwa nubuat telah digenapi. Dia datang untuk membawa pembebasan, memberikan penglihatan bagi yang buta, dan membebaskan yang tertindas.
Namun, momen ini juga penuh paradoks. Kabar baik ini membawa sukacita bagi yang rendah hati tetapi menantang struktur kuasa yang mapan. Dalam “The Politics of Jesus” (1972), John Howard Yoder menguraikan bagaimana pesan Yesus selalu memiliki dimensi politis, meruntuhkan eksklusivitas dan mengangkat mereka yang terpinggirkan. Bagi kita, bacaan ini adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman, untuk melihat dunia dengan mata Yesus, yang selalu tertuju kepada mereka yang paling membutuhkan.
Intinya, ketiga bacaan hari ini mengingatkan bahwa firman Allah memulihkan, tubuh Kristus menyatukan, dan misi Yesus membebaskan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk menjadi saksi akan cinta Allah yang transformatif, hidup dalam solidaritas, dan membawa kabar baik kepada dunia. Seperti Ezra, Paulus, dan Yesus, kita diundang untuk menghidupkan firman dengan penuh kasih dan keberanian.
Daftar Pustaka
- Brueggemann, Walter. Theology of the Old Testament: Testimony, Dispute, Advocacy. Fortress Press, 1997.
- Augustine of Hippo. City of God. Translated by Henry Bettenson, Penguin Classics, 426 M.
- Tanner, Kathryn. Christ the Key. Cambridge University Press, 2010.
- Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. Doubleday, 1997.
- Yoder, John Howard. The Politics of Jesus. Eerdmans, 1972.