SABTU, 5 APRIL 2025
Manusia sering kali menghadapi pertentangan, penolakan, dan bahkan ancaman ketika ia memilih untuk tetap setia kepada kebenaran. Bacaan hari ini membawa kita merenungkan keteguhan hati seorang nabi, keyakinan akan keadilan ilahi, dan bagaimana Yesus menghadapi perpecahan di antara mereka yang mencoba memahami siapa Dia sesungguhnya.
Yeremia menggambarkan dirinya sebagai domba jinak yang dibawa ke pembantaian (Yer. 11:18-20). Ia tidak menyadari bahwa orang-orang merencanakan kejahatan terhadapnya, hendak memutus hidupnya karena keberaniannya menyuarakan firman Tuhan. Pengalaman Yeremia ini mencerminkan penderitaan banyak utusan Tuhan yang harus menanggung derita karena ketaatan mereka. Walter Brueggemann dalam A Commentary on Jeremiah: Exile and Homecoming (1998) menyoroti bagaimana pengalaman Yeremia menggambarkan nasib seorang nabi yang sering kali terjebak dalam kesepian dan penolakan, namun tetap percaya bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil.
Mazmur 7 menggemakan harapan akan keadilan ilahi. Pemazmur berseru, “Engkau yang menguji hati dan batin, Allah yang adil” (Mzm. 7:10). Ketika menghadapi fitnah dan ancaman, iman menjadi satu-satunya kekuatan yang menopang. Para teolog seperti Hans-Joachim Kraus dalam Psalms 1-59: A Continental Commentary (1988) menekankan bahwa Mazmur ini bukan sekadar doa permohonan, tetapi juga pernyataan iman bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan.
Dalam Injil Yohanes, perdebatan tentang Yesus semakin memanas. Beberapa orang mengakui bahwa Dia adalah nabi, bahkan Mesias, sementara yang lain menolaknya karena asal-usul-Nya yang mereka anggap tidak sesuai dengan nubuat (Yoh. 7:40-53). Ironisnya, para pemuka agama yang seharusnya menjadi penjaga hukum justru menutup hati terhadap tanda-tanda ilahi. Raymond E. Brown dalam The Gospel According to John (1966) mengamati bahwa konflik ini menggambarkan ketegangan antara pewahyuan Allah dan kebutaan manusia yang terjebak dalam pemahaman yang terbatas.
Nikodemus, seorang Farisi yang sebelumnya datang kepada Yesus di malam hari, mencoba membela-Nya dengan mengingatkan para pemuka agama bahwa hukum tidak boleh menghakimi seseorang tanpa mendengarkan dia terlebih dahulu (Yoh. 7:51). Namun, ia pun segera dikucilkan. Sikapnya mengingatkan kita bahwa dalam setiap zaman, akan selalu ada orang-orang yang dengan jujur mencari kebenaran, meskipun mereka harus menghadapi risiko sosial.
Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan di mana posisi kita ketika kebenaran bertentangan dengan kepentingan kita. Apakah kita seperti Yeremia yang tetap setia meskipun menghadapi ancaman? Seperti pemazmur yang percaya akan keadilan Allah? Seperti orang-orang yang menolak Yesus karena prasangka? Ataukah seperti Nikodemus yang berani bersuara meskipun menghadapi tekanan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menentukan bagaimana kita berjalan dalam iman, di tengah dunia yang sering kali menolak kebenaran yang tidak nyaman.
Daftar Pustaka:
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John. Yale University Press, 1966.
- Brueggemann, Walter. A Commentary on Jeremiah: Exile and Homecoming. Eerdmans, 1998.
- Kraus, Hans-Joachim. Psalms 1-59: A Continental Commentary. Fortress Press, 1988.
- Wright, N.T. Simply Jesus: A New Vision of Who He Was, What He Did, and Why He Matters. HarperOne, 2011.
