Ketika akhirnya aku melangkah keluar dari basilika itu, udara malam Roma menyergap wajahku seperti sebuah sapaan kuno. Langit gelap telah penuh menjadi kanvas, digambar oleh guratan cahaya lampu-lampu jalan, sementara angin membawa aroma lembap musim dingin yang baru saja mulai bangkit dari tidur panjangnya. Hari itu, Rabu, 18 November 2025—awal musim dingin—serasa menjadi ambang batas antara masa lalu dan masa kini, seperti ruang transisi yang perlahan menuntunku memasuki babak baru dalam perjalanan batinku.
Aku berhenti di dekat undakan terakhir, memandangi kembali fasad Basilika Santa Maria Maggiore. Cahaya kuning keemasan memandikannya dengan lembut, menghidupkan relief-relief batu yang bercerita tentang ratusan tahun doa, air mata, harapan, dan syukur. Di balik tembok kokoh itu tersimpan begitu banyak kisah yang tak pernah tertulis, tetapi tetap hidup—dibawa oleh desir langkah para peziarah yang datang dari segala penjuru dunia.
Aku meraba pinggiran syal di leherku, mencoba menahan kesejukan yang mulai tajam. Namun dingin itu terasa seperti bagian dari ziarah ini—sebuah pengingat bahwa spiritualitas tidak selalu hadir sebagai kehangatan. Kadang ia datang sebagai sebuah gigilan halus, memaksa kita membuka diri, mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri yang sedang memanggil.
Langkahku terhenti ketika sebuah angin lembut berhembus menerpa wajahku. Angin itu seperti berputar pelan, seolah menggambarkan betapa halusnya hubungan antara waktu dan manusia—kita, seperti angin itu, hadir hanya sebentar, namun setiap embusannya menyisakan jejak kecil, terpaan lembut pada udara kehidupan yang luas ini.
Di kepalaku masing tergambar ikon Salus Populi Romani yang tersimpan dalam basilika—tatapan Bunda yang seolah menembus segala lapisan diriku. Ada sesuatu pada ikon itu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: bukan hanya keindahan artistiknya atau legenda bahwa ia dilukis oleh Santo Lukas. Tetapi cara ikon itu menatap, seakan mengenali setiap luka dan perjalanan panjang manusia. Tatapan yang tidak menghakimi, tidak memaksa, namun tetap memiliki kuasa yang membuat hati perlahan-lahan menyerah. Bukan menyerah dalam arti kalah, tetapi menyerah sebagai bentuk kepercayaan—percaya bahwa tangan ilahi masih menuntun langkah setiap manusia, juga menuntun langkahku.
Aku menarik napas panjang. Roma memiliki cara unik untuk membuat seseorang merasa dekat dengan sejarah, namun pada saat yang sama merasa begitu kecil di hadapan keabadian. Setiap batu, setiap pilar, setiap mosaik seakan berbicara dengan bahasa yang hanya bisa didengar melalui hening. Hari ini, setelah berdiri lama di depan ikon Bunda, aku merasakan bahwa hening bukanlah kekosongan. Ia adalah tempat di mana jiwa kembali belajar mendengarkan.
Aku berjalan perlahan menyusuri Via Carlo Alberto menuju arah hotel. Lampu-lampu toko yang sudah tutup memantul di jalanan basah. Di kejauhan, suara langkah pejalan kaki lain terdengar samar—para peziarah, mungkin para pekerja lokal, atau mahasiswa yang pulang malam. Kota ini hidup, tetapi tidak pernah terburu-buru. Roma seperti seorang tua bijak yang tahu bahwa segala sesuatu pada akhirnya menemukan waktunya sendiri.
Di tengah perjalanan, aku berhenti lagi. Ada momen-momen dalam hidup ketika tubuh seolah menolak untuk melangkah sebelum hati selesai berbicara. Malam itu, di persimpangan kecil antara lampu pejalan kaki dan bayangan gedung tua, aku sadar bahwa ziarah bukan perjalanan menuju tempat suci. Ziarah adalah perjalanan menuju ruang terdalam dalam diri yang kerapkali oleh kebanyakan dari kita enggan untuk kita masuki apalagi disinggahi. Ruang yang menjadi tempat untuk menyimpan semua rasa sakit, luka, duka mendalam, kasih yang retak belum sempurna seperti piring yang hendak mau pecah, dan ruang yang menjadi tempat di mana hati selalu merasakan gelisah tak berkesudahan.
Dan pada malam itu, aku jujur pada diriku sendiri: ada sesuatu yang sedang dipulihkan dalam diriku. Sesuatu yang selama ini terpendam—mungkin kerinduan, mungkin harapan, mungkin luka—aku belum tahu. Tetapi aku merasakannya ada yang bergerak, seperti benih kecil yang mulai pecah oleh dorongan pertama musim semi. Ironis, karena ini awal musim dingin. Namun kehidupan rohani memang tidak pernah tunduk pada kalender cuaca.
Aku menatap langit. Bintang-bintang sulit terlihat, tertutup awan dan lampu-lampu yang terlalu terang. Namun aku tahu mereka ada. Sama seperti rahmat—tidak selalu terlihat, namun selalu hadir.
Aku melangkah lagi, membiarkan Roma memagari langkahku dengan sejarahnya, dingin dan keheningannya yang penuh makna. Malam semakin larut, namun batinku justru terasa semakin terang.
Aku tahu, ziarah ini akan terus memanggilku kembali, bahkan ketika aku telah kembali jauh dari kota ini. Sebab yang sesungguhnya kualami malam itu bukan sekadar kunjungan ke basilika kuno.
Yang kurasakan adalah perjumpaan—dengan sejarah, dengan Bunda, dengan diriku sendiri.
Dan perjumpaan itu, seperti musim dingin pertama, akan selalu kuingat sebagai awal dari sesuatu yang baru.
Setiba di kamar, aku tidak langsung menyalakan lampu. Kegelapan yang menyambut terasa seperti perpanjangan dari basilika, sebuah ruang hening yang mengizinkan batinku beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Aku meletakkan kunci, melepas syal, membiarkan mantelku terjatuh ke kursi. Lalu aku berdiri di dekat jendela dan membiarkan cahaya lampu kota masuk sebagai satu-satunya penerang.
Malam di Roma terlihat berbeda dari kota mana pun yang pernah kukunjungi. Ada kedalaman di balik gelapnya, seolah ia masih menyimpan gema doa yang telah dinaikkan selama ratusan tahun. Aku menatap jalanan di bawah: sebuah mobil melintas perlahan, dua orang berjalan sambil berbicara dalam bahasa yang tak kumengerti, dan angin menggoyangkan tirai tipis di depanku. Semua tampak biasa—namun di balik yang biasa itu, hatiku mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Aku duduk di tepi ranjang dan menutup mata. Gambar ikon Salus Populi Romani muncul lagi, tidak sebagai lukisan kayu yang terbingkai emas, tetapi sebagai tatapan yang menembus sunyi. Tatapan yang sangat halus, namun menyentuh bagian terdalam dari diriku yang selama ini entah terlindungi atau terperangkap oleh kebisingan hidup.
Dalam meditasi batin itu, aku seolah kembali berada di depan ikon tersebut. Cahaya lilin bergetar pelan, seakan bernapas bersama napasku. Napas masuk—dingin. Napas keluar—hangat. Di antara dua ritme itu ada ruang sempit yang perlahan dibuka oleh kehadiran-Nya.
“Apa yang sebenarnya kucari?” pikirku.
Pertanyaan itu muncul begitu saja, tidak direncanakan, tidak diundang, namun jelas. Seperti suara kecil yang selama ini ditenggelamkan oleh suara-suara lain: kewajiban, tuntutan, pekerjaan, ketakutan, harapan orang lain, dan kadang, harapan diriku sendiri yang terlalu tinggi hingga menjadi beban.
Hening itu semakin tebal.
Lalu, perlahan, satu per satu kenangan muncul: orang-orang yang pernah mencintaiku, dan yang pernah meninggalkanku; tempat-tempat yang pernah memberiku kedamaian; luka-luka yang kubawa dari masa lalu; doa-doa yang tak pernah kuucapkan dengan bibir, tetapi selalu kumohonkan diam-diam dalam hati.
Semua hadir seperti fragmen-fragmen kecil yang berputar di udara gelap kamar itu. Tidak ada yang menyakitkan. Tidak ada yang membahagiakan. Semua hanya… ada. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu melawan apa pun yang muncul.
Aku membiarkan semuanya lewat, seperti sungai malam yang mengalir tanpa tergesa. Dalam aliran itu, aku merasa seperti seseorang yang sedang dibersihkan, bukan oleh air, tetapi oleh pengakuan yang jujur.
“Aku lelah,” batinku berbisik.
Pengakuan sederhana itu seketika terasa seperti doa paling manusiawi yang pernah kupanjatkan. Dan dalam kelelahan itu, tanpa suara, aku merasakan sesuatu menahanku, sesuatu yang halus, seperti tangan lembut yang membelai rambut seorang anak. Apakah itu Bunda? Aku tidak tahu. Tetapi kehadirannya begitu nyata.
Meditasi batin itu membawaku pada kesadaran baru: bahwa aku tidak perlu selalu kuat, tidak perlu selalu tahu arah, tidak perlu selalu memastikan semuanya berjalan sempurna. Ada saat-saat ketika manusia hanya perlu duduk diam dan menerima bahwa kita dicintai bahkan dalam keadaan paling rapuh sekalipun.
Aku menarik napas dalam. Ada sesuatu yang terbuka di dalam dadaku—ruang yang sejak lama tertutup rapat. Ruang untuk memaafkan. Ruang untuk mengikhlaskan. Ruang untuk menerima bahwa perjalanan spiritual bukan tentang menjadi suci, melainkan tentang menjadi jujur.
Malam semakin larut. Dinginnya merayap pelan di lantai marmer, namun ada kehangatan yang kini menetap di dadaku. Sebuah kedamaian yang tidak datang dari luar, tetapi dari kedalaman yang selama ini tak sempat kusentuh.
Sebelum membuka mata, aku berkata dalam hati:
“Bunda, biarkan aku berjalan lagi. Namun kali ini, bukan dengan terburu-buru. Bimbing aku agar mampu mendengar, merasakan, dan mengerti kehendak-Nya di tengah segala keheningan.”
Dan ketika aku membuka mata, lampu kota Roma masih berpendar di kejauhan. Tetapi dunia di dalam diriku sudah berubah—lebih tenang, lebih jernih, lebih terbuka untuk perjumpaan berikutnya.
Ketika kesunyian itu semakin mengental, aku membaringkan tubuhku di ranjang, namun pikiranku tetap berada di tempat lain—di dalam ruang hening yang hanya terbentuk ketika hati benar-benar siap untuk berbicara tanpa suara. Aku memejamkan mata kembali, bukan untuk tidur, tetapi untuk membuka pintu batin yang tadi baru sedikit terkuak.
Dalam gelap yang lembut itu, ikon Salus Populi Romani muncul lagi, kali ini lebih dekat daripada sebelumnya. Wajah Bunda dalam ikon itu tidak bergerak, tidak tersenyum, namun justru melalui ketidakbergemingannya itu, aku merasakan kehadiran yang begitu hidup. Kehadiran yang menenangkan, tetapi juga menantang bagian terdalam dari diriku.
Aku tidak berbicara, namun hatiku berkata, seperti berbisik pada seseorang yang telah lama mengenalku:
“Bunda… aku di sini.”
Diam.
Namun diam itu bukan kekosongan; ia seperti permukaan air yang bening, tempat bayangan dapat muncul kapan saja. Dan dari diam itu, aku merasakan balasan yang tidak memakai kata, tetapi terasa seperti bisikan halus yang menembus lapisan-lapisan rapuh dalam diriku:
“Aku tahu.”
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi justru membuat dadaku menghangat, seperti seseorang yang akhirnya ditemukan setelah lama tersesat. Rasanya seolah seluruh kegelisahan yang selama ini kubawa dalam perjalanan panjang hidupku perlahan diletakkan di pangkuan seseorang yang tidak menolak, tidak menghakimi.
Aku kembali bertanya, kali ini dari ruang yang lebih dalam:
“Kenapa aku merasa seperti ini? Seperti ada yang pecah… tapi juga ada yang tumbuh?”
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Namun keheningan itu kini seperti lengan yang merengkuh. Dalam keheningan itu, aku mendengar—atau mungkin merasakan—sebuah jawaban yang bukan milik pikiranku sendiri:
“Karena engkau akhirnya mau berhenti berlari.”
Kalimat itu menembusku. Seolah Bunda sedang menempatkan cermin di depanku, memperlihatkan betapa lama aku telah berusaha kuat, bahkan saat dunia tidak meminta kekuatan itu. Aku berlari dari hatiku sendiri, berlari dari luka yang belum kukenal, berlari dari panggilan kecil yang selama ini hanya muncul sebagai desir lembut. Malam ini, aku berhenti. Dan ketika aku berhenti, suara-Nya, melalui keheningan Bunda, akhirnya dapat kudengar.
Aku membiarkan kalimat itu meresap.
Lalu aku berkata lagi, sangat pelan:
“Kalau begitu… apa yang harus kulakukan?”
Dalam meditasi itu, ikon Bunda tidak berubah. Namun dalam diam yang panjang, aku merasakan sebuah arahan, bukan dalam bentuk instruksi, tetapi sebagai gerakan halus yang muncul dari kedalaman nurani—seperti sebuah pemahaman yang tiba-tiba menjadi terang.
“Belajarlah hadir.”
Hanya itu. Tiga kata yang terasa seperti pintu menuju perjalanan panjang.
Hadir.
Hadir pada hidupku sendiri. Hadir pada doa yang selama ini kulakukan sambil terburu-buru.
Hadir pada orang-orang yang mencintaiku dan yang mungkin telah kulewatkan. Hadir pada kesempatan-kesempatan kecil yang Tuhan letakkan di pinggir jalan hidupku. Hadir bahkan pada rasa sakit yang selama ini kutolak.
Aku menarik napas pelan. Ada kehangatan yang merambat ke seluruh tubuhku—bukan kehangatan fisik, melainkan kehangatan rohani yang membuatku merasa tidak sendirian. Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di Roma, aku merasa benar-benar dipeluk.
Dan dalam pelukan itu, aku melanjutkan dialog batin yang selama ini kutunda:
“Bunda… aku ingin percaya lagi. Tapi terkadang begitu sulit…”
Lalu keheningan itu merespons lagi, lembut namun tegas, seperti suara yang tahu apa yang aku takutkan:
“Iman tidak dimulai dari kepastian. Ia dimulai dari kerinduan.”
Aku terdiam lama.
Kerinduan—kata itu terasa seperti kunci. Kerinduan untuk memahami hidup, kerinduan untuk bertemu kembali dengan diriku sendiri, kerinduan untuk merasa dekat dengan Yang Ilahi. Kerinduan itu bukan kelemahan, melainkan benih. Benih kecil yang bahkan musim dingin pun tidak bisa mematikannya.
Dan malam itu, di kamar kecil yang diterangi lampu jalan, aku merasa kerinduan itu tumbuh.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tidak tahu apa yang menunggu besok, atau minggu depan, atau ketika aku pulang dari Roma. Tetapi malam itu, dalam meditasi batin itu, aku tahu satu hal:
Aku tidak lagi berjalan sendirian.
Bukan karena aku lebih kuat, tetapi karena aku akhirnya berani membuka ruang dalam diriku untuk disentuh oleh cinta yang lebih besar dari apa pun yang pernah kutemui.
Keheningan perlahan memudar, digantikan rasa damai yang mengalir pelan seperti air suci. Dan sebelum aku tertidur dalam kehangatan spiritual itu, aku mendengar bisikan terakhir yang begitu halus, namun jelas:
“Berjalanlah, anakku. Aku bersamamu.”
Dan aku pun tenggelam dalam tidur yang paling tenang sepanjang ziarah ini.
BACA JUGA :
Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 2


