Jakarta – Persiapan menuju Kongres Alumni Yesuit Sedunia (World Union of Jesuit Alumni/WUJA) ke-11 di Yogyakarta pada 2026 mulai menemukan bentuk. India menjadi tuan rumah forum pra-kongres pertama, Jumat (22/8/2025), yang menghadirkan pemimpin alumni Yesuit, para pendidik, serta perwakilan WUJA. Pertemuan ini menjadi ajang “mendengarkan” sekaligus membangun arah besar gerakan alumni Yesuit dunia.
Pertanyaan mendasar membuka forum: Siapa kita sebagai alumni Yesuit? Apa identitas kita? Bagaimana kita membawanya ke dunia? Jawaban yang mengemuka tidak lagi berhenti pada kebanggaan menjadi lulusan sekolah Yesuit, melainkan panggilan untuk menjadi co-missionaries—rekan seutus dalam misi Ignasian.
“Identitas bukan hanya nama. Itu adalah apa yang kita lakukan dengannya—bertindak penuh belas kasih, membangun satu keluarga, dan memberi tanpa menghitung untung rugi,” ujar Romo Alexander Siswijayanto SJ, yang memimpin sintesis forum.
Belas Kasih sebagai Kompas
Survei yang dipaparkan dalam forum menunjukkan “belas kasih” menempati posisi tertinggi sebagai nilai bersama alumni Yesuit di India, disusul disiplin, kejujuran, kerja keras, dan keadilan sosial. Nilai ini diyakini sebagai arah masa depan gerakan alumni, sekaligus menjadi ciri khas formasi Yesuit yang tak lekang oleh waktu.
“Menjadi alumni Yesuit tidak sekadar menyimpan ijazah di dinding, melainkan menjalani semangat Ignasian: memberi tanpa menghitung biaya, menjadi pria dan wanita bagi sesama,” kata Elman Sunarlio, anggota Dewan WUJA dari Jakarta.
Digitalisasi dan Tata Kelola
Forum pra-kongres juga menyoroti kebutuhan mendesak: konektivitas digital global. Hasil survei menempatkan pembangunan platform digital alumni sebagai prioritas utama, diikuti tata kelola organisasi yang transparan dan berkelanjutan.
Presiden Federasi Alumni Yesuit India (JAAI), Neel Mani Rangesh, menegaskan bahwa tanpa wadah digital, energi alumni hanya muncul pada reuni atau kongres, lalu menguap begitu acara usai. “WUJA harus melampaui inspirasi. Kita butuh kesinambungan digital, keterlibatan profesional, dan kerangka kerja yang bisa direplikasi lintas negara,” ujarnya.
Model federasi JAAI yang menghimpun 450 sekolah dan 220 asosiasi alumni di India ditampilkan sebagai contoh nyata. Struktur empat lapis—lokal, provinsi, zonal, nasional—mampu mengurangi fragmentasi dan menjaga kesinambungan gerakan.
Tantangan dan Harapan
Namun, masih ada pekerjaan rumah. Banyak alumni belum mengetahui struktur nasional atau global, hanya aktif di lingkup lokal. Keterlibatan alumni muda juga menjadi sorotan; mereka kerap merasa tersisih dari kepemimpinan yang didominasi generasi senior.
Dr. Devendra Singh, anggota Dewan WUJA, mengingatkan bahaya asosiasi yang terlalu bergantung pada figur karismatik. “Begitu pemimpin mundur, organisasi melemah. Kita perlu membangun mekanisme regenerasi kepemimpinan,” katanya.
Selain itu, isu keterlibatan perempuan di jajaran pimpinan alumni turut disuarakan. Suman Murthy menegaskan, vitalitas alumni seharusnya diukur dari dampak sosial dan inklusivitas, bukan sekadar nostalgia reuni.
Jalan ke Yogyakarta
Presiden WUJA, Francisco Guarner, menekankan bahwa kongres bukan hanya pertemuan inspiratif, melainkan forum untuk merumuskan mandat dan kerangka kerja nyata. “WUJA harus menjadi penyedia struktur di tingkat internasional agar federasi nasional tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Forum India ini akan diikuti pra-kongres regional lain di Asia Timur, Oseania, Amerika Latin, Amerika Utara, Eropa, dan Afrika. Seluruh rangkaian akan berpuncak pada pertemuan virtual global sebelum Kongres Yogyakarta 2026.
Seperti dikatakan Naveen Mascarenhas, salah satu peserta, “Menjadi alumni Yesuit di manapun di dunia ini adalah perasaan yang luar biasa.” Sebuah identitas yang bukan sekadar gelar, melainkan panggilan untuk hadir sebagai pemimpin etis, warga global, dan saksi nilai-nilai Ignasian.
