By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    1 year ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    2 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    2 months ago
    Latest News
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    7 hours ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
    1 day ago
    Anak yang Membutuhkan Bapa
    1 day ago
    Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
    2 days ago
    Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
    3 days ago
    Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Paus Leo XIV: Prapaskah, Momen Menjaga Lisan Kita
    6 days ago
    Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2026: Belas Kasih Orang Samaria
    1 month ago
    Vatikan Tetapkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
    1 month ago
    Bagaimana Gereja Katolik Dapat Menganulir Sebuah Perkawinan?
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    3 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    3 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    8 months ago
    Latest News
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    1 month ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    1 month ago
    It’s Not Just Money
    1 month ago
    Repetisi, Rutinitas dan Etos Shokunin
    1 month ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • KOLOM PENDIDIKAN
    KOLOM PENDIDIKAN
    Show More
    Top News
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Latest News
    Menggali Kepemimpinan Perempuan dalam Cahaya Iman: Inspirasi dari Ratu Elizabeth II
    9 months ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    9 months ago
Reading: Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 2
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • KOLOM PENDIDIKAN
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > KOMUNITAS > Paguyuban Sesawi > Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 2
GEREJA SEMESTAKOMUNITASPaguyuban SesawiPeziarah PengharapanSejarah Gereja

Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 2

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: November 27, 2025 4:25 pm
By Gabriel Abdi Susanto 3 months ago
Share
23 Min Read
SHARE

Aku duduk kembali, kali ini lebih dekat dari sebelumnya, seolah ikon itu sedang memanggilku. Udara di dalam basilika seperti menebal; suara-suara kecil dari peziarah yang berjalan di kejauhan terdengar seperti gema yang tidak pernah benar-benar menyentuhku. Cahaya lilin di sisi kanan altar bergoyang kecil, menghasilkan bayang-bayang yang memanjang dan menyusut di dinding marmer. Ada sesuatu tentang cahaya itu—rapuh tetapi percaya diri—yang mengingatkanku pada cara iman bekerja: tidak pernah mengusir gelap sepenuhnya, tetapi selalu cukup kuat untuk membuatku terus melangkah.

Aku menunduk sebentar, bukan dalam bentuk doa yang baku, tetapi lebih seperti usaha untuk memusatkan napasku—suatu ajakan lembut agar hatiku kembali ke tempat di mana aku bisa merasa utuh. Dalam keheningan itu, aku teringat bahwa ikon ini, Salus Populi Romani, telah menyaksikan begitu banyak wajah yang menangis, begitu banyak hati yang retak, begitu banyak peziarah yang datang dengan beban yang tak terucap. Dan kini—di awal musim dingin ini—aku menjadi bagian dari alur panjang manusia yang mencari sesuatu di hadapan wajah Maria.

Ada detik-detik di mana aku merasa ikon itu seperti melampaui dirinya sendiri. Bukan lagi sekadar lukisan di atas kayu cedar. Bukan lagi benda sejarah yang dipelajari para ahli seni Bizantium. Melainkan sesuatu yang hidup. Sesuatu yang memerhatikan. Sesuatu yang mengenal.

Aku merasakan dorongan aneh—semacam undangan halus—untuk membiarkan diriku dilihat. Tak ada yang lebih sulit daripada itu. Terlihat. Tanpa perisai. Tanpa narasi yang kupakai sebagai baju besi. Tanpa alasan, tanpa argumentasi, tanpa kehati-hatian yang biasanya kubangun seperti benteng.

Aku membiarkan diriku menatap lebih lama. Pada garis wajah Maria yang misterius itu, pada tatapan yang tidak menyuruhku mengaku tetapi membiarkanku jujur. Pada tangan kecil Yesus yang seperti memberi berkat dari kedalaman waktu. Pada warna gelap yang membuat cahaya emas terlihat lebih menyala.

Waktu terasa seperti bergerak pelan. Ada jarak antara detik dan menit. Ada ruang tempat batin bisa mengendap. Suara-suara di belakangku tiba-tiba memudar, seperti dunia luar kehilangan kekuatannya yang kerap menuntut perhatianku. Dalam sebuah momen yang sulit dijelaskan, aku merasa bukan lagi sedang melihat ikon itu—melainkan sedang dilihat oleh ikon itu.

Dari kejauhan, seseorang menyalakan lilin. Suara gesekan korek itu seperti isyarat kecil bahwa dunia tetap berjalan. Namun cahaya kecil itu justru membuatku teringat pada kisah kuno tentang bagaimana Paus Gregorius Agung membawa ikon ini berkeliling kota Roma saat wabah melanda abad ke-6. Bagaimana orang-orang Roma kala itu—ketakutan, lelah, kehilangan—berjalan sambil menangis di belakang sang Paus, berharap belas kasih Tuhan turun ke kota ini.

Bayangkan: jalan-jalan kuno Roma yang lembab oleh malam, bau kemenyan yang memenuhi udara, lantunan doa yang bercampur dengan tangis, dan ikon ini—ikon yang sama yang kini kutatap—dibawa melintasi masa itu seperti sebuah obor yang mengusir sedikit dari kegelapan besar.

Dalam imajinasi itu, aku merasa menjadi bagian dari arak-arakan panjang itu. Aku menjadi seseorang di antara kerumunan, berjalan dengan langkah pelan, membawa rasa takut, membawa kerinduan, membawa beragam tanya yang tidak pernah selesai.

Tiba-tiba, aku merasa bahwa cara Roma mencintai ikon ini bukan semata-mata karena legendanya, tetapi karena kehadirannya memberi kota ini semacam napas kedua—pengingat bahwa sejarah manusia bukan hanya tentang perang atau kekuasaan, tetapi tentang harapan yang tidak pernah benar-benar padam.

Aku menarik napas panjang. Ada rasa hangat yang merayap pelan di dada, membuat detak jantungku terasa lebih lembut. Keheningan itu, entah bagaimana, mulai mengajakku menelusuri sesuatu yang lebih dalam dalam diriku sendiri. Sesuatu yang sudah lama tidak kusebut. Mungkin karena aku takut. Mungkin karena aku tidak ingin mengaku bahwa aku sebenarnya menyimpan luka yang belum sembuh.

Aku menegakkan tubuhku. Menatap kembali ikon itu. Ada jeda. Ada ruang. Ada pengakuan tanpa kata. Dan di dalam diriku, aku mendengar kalimat sederhana itu, seolah muncul begitu saja:

“Aku masih di sini.”

Bukan hanya suara Maria. Bukan hanya suara Tuhan. Tapi juga suara diriku sendiri yang mungkin sengaja kutinggalkan terlalu lama.

Aku mengembuskan napas pelan. Satu kalimat sederhana itu seolah membuka pintu yang sudah lama tertutup. Aku merasa seluruh tubuhku mengendur, seolah diriku yang sebenarnya—yang rapuh, yang kuat, yang terluka, yang sedang belajar sembuh—akhirnya berani muncul lagi.

Di luar, angin kembali berdesir lewat celah pintu besar basilika. Aroma dingin itu kembali masuk, namun kali ini tidak menakutkan. Tak lagi asing. Ia justru terasa seperti bagian dari ritme kota tua ini—seperti jantung Roma sendiri yang terus berdetak, dari abad ke abad, dari musim ke musim.

Dan aku, yang duduk di hadapan Salus Populi Romani, merasa menjadi bagian dari aliran panjang waktu itu.

Aku belum bergerak, belum ingin berdiri. Ada sesuatu yang masih ingin kudengar, kurasakan, dan kutemukan dalam keheningan yang perlahan berubah menjadi doa tak bersuara.

Dan malam itu belum selesai.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana. Waktu terasa seperti melambat, tapi justru di situlah keindahannya. Ada saat-saat tertentu dalam hidup—jarang sekali—di mana waktu berhenti menjadi musuh. Berhenti mengejar, berhenti menuntut. Dan malam di basilika Santa Maria Maggiore ini terasa seperti salah satu dari saat-saat langka itu.

Keheningan itu membuatku melihat sesuatu yang aneh: aku mulai merasakan ingatan-ingatan yang tidak pernah kusangka akan muncul di Roma, ribuan kilometer dari rumah. Bukan ingatan tentang hal besar. Justru tentang hal kecil—hal-hal yang selama ini kusepelekan, tetapi ternyata tertinggal di sudut-sudut hatiku.

Seperti sore tertentu di masa kecilku, ketika aku melihat ibuku menyalakan lilin kecil di rumah, tanpa berkata apa-apa. Lilin itu sangat kecil, cahayanya hampir kalah oleh matahari yang perlahan tenggelam. Namun ia tetap menyala. Dan aku ingat menatapnya lama, tanpa tahu bahwa suatu hari aku akan memahami maknanya.

Dengan cara yang sulit dijelaskan, lilin-lilin kecil yang terbakar di hadapanku malam ini membuatku merasa seolah aku sedang kembali ke ruang tamu sederhana itu. Cahaya yang sama. Keheningan yang sama. Dan entah bagaimana, doa yang sama—meski aku tidak pernah mendengar kata-kata ibuku saat itu.

Aku kembali memusatkan pandanganku pada ikon Salus Populi Romani. Ada sesuatu pada polesan warnanya yang gelap, pada cara emasnya memantulkan cahaya, pada guratan-guratan halus yang tampak seperti retakan usia—semua itu membuatku sadar bahwa ikon ini telah melewati lebih banyak musim daripada yang bisa kubayangkan.

Dan aku, yang cuma singgah sebentar di Roma, sedang menumpang sejenak di dalam rentang panjang sejarah itu. Rasanya seperti berdiri di depan sebuah sungai raksasa yang terus mengalir selama lebih dari 1.500 tahun—dan aku menadahkan tanganku, merasakan setetes darinya.

Lalu tanpa kuinginkan, pikiranku melayang ke legenda salju yang jatuh di Colle Esquilino pada musim panas tanggal 5 Agustus 352. Aku pernah membaca kisah itu bertahun-tahun lalu, tapi baru malam ini, di tengah musim dingin yang sesungguhnya, aku merasakannya lebih dekat.

Bayangkan: langit musim panas Roma yang terik, matahari membakar batu-batu putih kota itu, dan tiba-tiba salju turun di bukit Esquiline. Bukan hujan. Bukan gerimis. Tapi salju—di bulan Agustus. Dan seorang Paus berhenti terpaku oleh tanda itu. Ia berjalan pelan, mengikuti kontur salju yang tidak masuk akal itu, menarik garis yang membentuk denah sebuah basilika.

Di tempat itulah aku duduk malam ini.

Aku memejamkan mata. Dan ketika kubuka lagi, aku merasa seolah sedang melihat jejak garis Paus Liberius yang ditarik di atas salju itu. Jejak yang kini berubah menjadi pilar marmer, mozaik berkilau, langit-langit emas, dan ikon yang kini menatapku.

Aku menarik napas pelan, seperti ingin menyerap sejarah itu ke dalam paru-paruku.

Dalam keheningan itu, aku seperti menangkap percakapan yang tidak pernah diucapkan secara jelas, tapi selalu ada di bawah permukaan:

Bahwa hidup manusia adalah garis yang ditarik di atas sesuatu yang sementara. Bahwa kita hanya memiliki sebentar untuk memberi bentuk pada hidup kita. Bahwa sejarah selalu mulai dari sebuah garis kecil yang ditarik oleh tangan yang ragu.

Dan salju yang tiba-tiba turun—sesuatu yang tidak direncanakan, tidak diprediksi, tidak masuk akal—seringkali justru memberi arah yang paling benar. Aku mengangguk kecil, meski aku tidak sedang berbicara dengan siapapun. Hanya mengakui apa yang kurasakan.

Seseorang lewat di belakangku, langkahnya ringan, hampir hanya desahan sepatu menyentuh marmer. Dalam sekejap suara itu mengingatkanku akan banyak peziarah lain yang datang ke tempat ini sejak berabad-abad lalu. Aku membayangkan bagaimana rasanya bagi seorang perempuan pada abad pertengahan yang datang dari desa jauh, berjalan berminggu-minggu, hanya untuk bisa berdoa di hadapan ikon ini. Bagaimana rasanya bagi seorang tentara yang baru kembali dari perang. Atau seorang ibu yang kehilangan anaknya. Atau seorang biarawan yang mencoba memahami panggilan hidupnya.

Dan kini aku berada di antara mereka.

Aku tersadar bahwa aku tidak hanya sedang melihat ikon itu—aku sedang melihat cermin dari ribuan perjalanan batin manusia yang pernah berhenti di titik ini. Setiap orang datang dengan cerita berbeda. Setiap orang membawa beban berbeda. Dan semua itu, entah bagaimana, disatukan oleh keheningan yang sama.

Aku merasakan hangat di wajahku. Aku tak tahu dari mana datangnya. Mungkin dari cahaya lilin. Mungkin dari emosiku. Mungkin dari sesuatu yang tak ingin kusebut terlalu dini.

Malam semakin turun. Suhu semakin menajam, bahkan di dalam basilika yang megah ini. Tetapi justru dalam dingin itu aku merasa menjadi lebih sadar—lebih peka terhadap setiap getaran kecil di dalam tubuhku, setiap gumam batin yang selama ini kutenggelamkan.

Aku menghela napas panjang sekali, dan di ujung helaan itu, aku mendengar bisikan kecil di dalam diriku: “Tetaplah di sini sebentar lagi.”

Dan aku tahu itu benar. Aku belum selesai. Malam ini belum melepaskanku.

Keheningan yang memelukku pelan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lain—bukan sekadar diam, tapi seperti ruang tempat makna mengalir perlahan, suatu lanskap batin yang hanya terbentuk ketika aku benar-benar berhenti bergerak. Aku merasakan dada yang sejak tadi terasa seperti ruang penuh riuh kini mulai membuka diri, memberi tahu bahwa malam ini memang bukan sekadar perhentian biasa.

Aku mengangkat sedikit wajahku, menatap ke arah mosaik besar di lengkung apsis. Mosaik itu seperti hidup dalam cahaya redup basilika. Emasnya tidak bersinar terang, tetapi berdenyut halus, seperti napas yang baru kutahu sedang menyertai gerak kecil ikon di depan altar. Mosaik itu adalah karya dari abad ke-5, mosaik yang dibuat pada masa Paus Sixtus III—mosaik yang telah menyaksikan kota ini diguncang oleh perang, wabah, kebakaran, pemimpin yang saling menggantikan, dan peziarah yang datang tanpa pernah berhenti.

Aku membiarkan mataku berjalan pelan di atas permukaannya. Di sana, Maria tampak seperti ratu sekaligus ibu, duduk di takhta, dikelilingi oleh para malaikat dan figur-figur yang tidak hanya ditujukan untuk dipandang, tetapi direnungkan. Ada sesuatu pada cara wajah Maria di mosaik itu digambarkan—tenang, tidak memaksa, tetapi memiliki wibawa yang tidak bisa ditolak.

Namun ketika aku kembali menatap ke arah ikon Salus Populi Romani, ada kontras yang tak bisa kusangkal. Mosaik itu anggun, agung, hampir tak tersentuh. Sementara ikon itu… ikon itu terasa dekat. Terlalu dekat. Seolah bisa mendengarkan napasku. Seolah bisa memahami diamku. Seolah mengenalku bahkan sebelum aku tahu apa yang sedang kucari malam ini.

Aku merasa seperti seseorang yang berdiri di antara dua kehadiran: kemegahan sejarah dan keheningan keibuan.

Dan di tengah dua dunia itu, aku mencoba menemukan diriku sendiri.

Aku kembali menunduk. Ada getaran kecil di ujung jariku—ketika perasaan dalam dada mulai naik ke permukaan. Bukan sedih. Bukan takut. Tapi semacam kerinduan yang sangat lama tidak kutemui. Kerinduan akan sesuatu yang sederhana: merasa diterima apa adanya.

Aku tidak tahu dari mana datangnya, tapi tiba-tiba aku teringat pada sebuah malam puluhan tahun lalu, ketika aku masih muda dan bingung tentang masa depanku. Malam ketika aku duduk sendirian di sebuah kamar kecil, menatap jendela yang basah oleh hujan, berharap ada suara yang menuntunku. Tapi yang kudapat hanyalah hening. Hening yang membuatku merasa ditinggalkan.

Dan kini, puluhan tahun setelah malam itu, aku duduk di sebuah basilika kuno di Roma, di hadapan ikon yang telah dilihat oleh para Paus dan orang-orang kudus, dan aku merasa… tidak sendirian.

Aku mencoba menggali perasaan itu: semacam keyakinan yang sangat lembut, tidak memaksa, tidak menyuruhku mengambil keputusan besar. Hanya keyakinan bahwa aku sedang berada di tempat yang benar pada waktu yang tepat. Bahwa ada sesuatu dalam perjalanan ini—sesuatu yang bahkan tidak kusadari—sedang perlahan membentukku dari dalam.

Di kejauhan, lonceng kecil dibunyikan. Bukan lonceng besar basilika, tetapi lonceng altar samping yang menandai dimulainya sebuah misa kecil di kapel lain. Suaranya lembut, seperti gelanggang peringatan bahwa liturgi tetap berjalan, doa tetap naik, hidup tetap bergulir—bahkan ketika aku duduk terikat dalam kesunyian pribadi ini.

Aku mengangkat wajahku. Dan untuk pertama kalinya sejak datang tadi, aku merasa seolah ikon itu tidak lagi hanya melihatku, tetapi mempersilahkanku untuk mengambil langkah kecil. Bukan pergi. Tapi berpindah sedikit. Untuk melihat lebih dekat. Untuk merasakan lebih dalam. Untuk membiarkan sesuatu bekerja dalam diriku.

Aku berdiri pelan. Tidak terburu-buru. Tubuhku sempat terasa ringan, seolah bangku marmer itu telah menarik sebagian bebanku. Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti di batas yang ditandai oleh tali kecil yang memisahkan ruang publik dari ruang suci tempat ikon diletakkan.

Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat guratan-guratan kecil pada permukaan kayunya. Retakan usia. Lapisan pernis yang mulai pudar. Dan sesuatu yang lebih halus: bekas-bekas sentuhan doa manusia selama berabad-abad.

Aku merasakan dadaku menghangat. Tidak dramatis. Tidak seperti dalam kisah-kisah suci yang terlalu sempurna. Ini hangat yang jauh lebih sederhana—seperti ketika seseorang menggenggam tanganmu perlahan, tidak ingin menuntut apa-apa darimu, hanya ingin memastikan bahwa kamu masih ada.

Aku membiarkan kehangatan itu meresap.

Lalu, entah mengapa, aku berkata dalam batinku:

“Aku datang bukan untuk mencari jawaban. Aku hanya ingin ditemukan.”

Dan saat kalimat itu muncul—muncul begitu saja tanpa kupikirkan—aku tersadar bahwa selama ini aku mungkin memang lebih sering mencari solusi daripada mencari kedamaian. Lebih sering mengejar arah daripada membiarkan diriku dipeluk oleh momen yang sebenarnya ingin berbicara padaku.

Aku memejamkan mata. Hanya sebentar. Tapi dalam sekejap itu, aku merasakan sebuah ketenangan yang nyaris tidak pernah kurasakan sebelumnya: ketenangan yang tidak datang dari pemahaman, tetapi dari penerimaan.

Ketika kubuka mataku, ikon itu tetap sama. Tapi aku tidak lagi sama. Dan malam musim dingin Roma itu tiba-tiba terasa lebih hangat dari yang seharusnya.

Aku tidak segera mundur setelah membuka mata. Ada sejenis ketertundukan lembut yang membuatku tetap berdiri di sana, seolah tubuhku tahu bahwa langkah berikutnya belum boleh diambil. Di hadapanku, Salus Populi Romani tetap diam seperti biasanya, tetapi diam itu bukan kekosongan. Diam itu penuh, padat, menekan tanpa menyakitkan—diam yang membuatku merasakan batas antara dunia luar dan dunia batin menipis hingga nyaris hilang.

Aku tersadar bahwa selama beberapa menit terakhir aku hampir tidak mendengar apa-apa. Bahkan gemerisik kecil orang berjalan pun tak lagi sampai. Basilika ini seakan berubah menjadi ruang yang hanya berisi dua hal: ikon yang menatapku dan diriku yang belajar untuk berhenti bersembunyi.

Perlahan aku menarik napas dalam. Udara di dalam basilika terasa lebih dingin dari tadi, mungkin karena malam semakin matang. Dingin ini bukan hanya suhu. Ini adalah jenis dingin yang membuat kulit merinding, sekaligus mengingatkan bahwa aku hidup. Aku ada. Aku merasakan. Sesuatu dalam diriku yang selama ini seperti lumpuh perlahan mulai bergerak kembali.

Aku memandang ke sekeliling. Lampu-lampu kecil yang menggantung dari langit-langit memperlihatkan ukiran-ukiran emas yang memantulkan cahaya redup, seperti riak air yang bergerak halus. Lorong-lorong panjang basilika tampak seperti sungai sejarah: hening, luas, tak tergesa, seolah siap menelan segala suara yang terlalu keras.

Aku mulai menyadari betapa banyak hal yang tak kusadari sedang bekerja di dalam ruang ini—semacam getaran sederhana yang lahir dari ribuan doa, ribuan napas yang naik, ribuan hati yang pernah patah lalu mulai pulih. Ruang ini seperti sumur yang menampung semua itu, dan malam ini aku ikut menambah setetes kecil ke dalamnya.

Aku akhirnya melangkah sedikit ke samping. Bukan menjauh dari ikon, tapi bergeser agar bisa melihatnya dari sudut lain. Aku ingin tahu apakah rasanya berbeda jika kulihat dari perspektif yang tidak langsung frontal. Dan ternyata… berbeda. Dari samping, cahaya membuat wajah Maria terlihat lebih lembut, bahkan sedikit suram. Aku bisa melihat bayangan halus yang jatuh di bawah garis hidung-Nya—bayangan yang membuatnya tampak lebih manusiawi, lebih seperti seorang ibu yang menahan sesuatu di dalam dirinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, aku merasa ikon itu tidak hanya melambangkan kekudusan, tetapi juga kesedihan. Kesedihan yang tenang—kesedihan seseorang yang sudah terlalu sering melihat manusia menjerit, menangis, memohon, kembali, pergi, mencari, hilang, dan datang lagi. Kesedihan yang tidak melemahkan cinta, tetapi justru menajamkannya.

Sebuah perasaan naik di dadaku, tak tertahan. Semacam lembutnya luka lama yang disentuh tanpa menyakitkan. Semacam ingatan akan kehilangan yang pernah kualami bertahun-tahun lalu. Aku tidak memanggil ingatan itu, tetapi ia muncul seperti kabut yang datang tanpa permisi.

Aku membiarkan diriku merasakannya. Tidak melarikan diri. Tidak menolaknya. Cukup membiarkan.

Dan justru dengan membiarkan itu, rasa sedih itu berubah menjadi sesuatu yang hangat—hangat yang datang dari penerimaan bahwa aku pernah terluka tetapi tidak hancur.

Aku merasa Maria, dalam diam ikon itu, seolah berkata: “Setiap luka yang bertahan adalah tempat di mana terang bisa masuk.”

Aku hampir tersenyum, bukan karena kata-kata itu indah, tetapi karena aku sadar bahwa aku telah terlalu lama hidup dengan ketakutan bahwa luka harus disembunyikan. Padahal, malam ini aku menemukan bahwa luka justru dapat menjadi pintu.

Aku berjalan pelan menuju salah satu tiang besar yang memisahkan nave utama. Dari sana, aku menatap ikon itu dari kejauhan. Jarak itu memberikan perspektif baru: ikon kecil itu tampak sendirian di tengah altar megah, tetapi justru keheningan di sekelilingnya membuatnya semakin kuat.

Seorang penjaga basilika berjalan lewat, langkahnya bersahaja. Ia hanya menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. Ada pengertian dalam senyumnya—senyum seseorang yang sudah melihat banyak peziarah menangis, menangis diam-diam, berdoa, atau hanya berdiri terlalu lama. Senyum itu tidak menghakimi. Senyum itu seolah berkata: “Tidak apa-apa. Ambillah waktu yang kau butuhkan.”

Aku kembali menatap ikon itu. Dan kali ini, aku merasa ditarik menuju satu kesadaran yang lebih dalam:

Bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang mencari sesuatu di luar, melainkan menemukan sesuatu yang sudah lama menunggu di dalam. Bahwa Tuhan tidak selalu datang melalui kata-kata, tetapi sering melalui diam. Bahwa Maria, dalam ikon itu, bukan sekadar ibu bagi dunia—ia juga ibu bagi keheningan batinku.

Keinginanku untuk keluar dari basilika perlahan muncul. Bukan karena aku ingin pergi, tetapi karena aku mulai ingin melihat bagaimana dunia luar—Roma yang dingin, gelap, dan penuh sejarah—akan menyentuhku setelah pengalaman ini. Tetapi aku belum siap. Ada detik-detik terakhir yang masih kutahan, seperti seseorang yang enggan menutup buku yang sangat dicintainya.

Aku menyadari bahwa ada satu hal yang belum kulakukan: berterima kasih.
Bukan dengan doa panjang. Bukan dengan litani. Hanya dengan sebuah bisikan hati yang kecil dan tulus.

Jadi aku menarik napas pelan—sangat pelan—dan mengucapkannya dalam diriku:

“Terima kasih… sudah melihatku.”

Dan malam musim dingin Roma itu terasa seperti menjawab.

BACA JUGA : Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1

You Might Also Like

Jangan Berdoa untuk Uang, Ini Alasannya

Tiap Individu Miliki Momen Menjadi Tanah Berbatu

Kapel Sistina Siap Sambut Konklaf Pemilihan Paus ke-267 pada 7 Mei

Lelang Lukisan Karya Rm. Danang Bramasti, SJ

Sejarah Konklaf: Dari Abad Pertengahan Hingga Kapel Sistina

TAGGED:basilikaBasilika Santa Maria Maggioreheadlinepaus fransiskusRomaSalus Populi Romanisanta maria maggioreSesawistella kwartavaticanvatikan
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
Next Article Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 3
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Silih yang Sejati Bukan Hanya dengan Puasa
  • Anak yang Membutuhkan Bapa
  • Bukan Kurang Tanda, Tapi Batin yang Kurang Peka
  • Jadilah KehendakMu atau Kehendakku?
  • Cinta Mesti Terwujud dalam Perbuatan

Recent Comments

  1. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  2. Toro on Minggu Gaudete Ini Sungguh Nyata bagi Saya
  3. Toro on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
  4. Toro on Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
  5. Toro on Indonesia Pertama Kali Berpartisipasi dalam “100 Presepi in Vaticano”
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?