By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    4 months ago
    Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
    3 weeks ago
    Latest News
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    3 days ago
    Mengapa Kaki Yesus Tidak Dipatahkan?
    5 days ago
    Lakukanlah ini sebagai Kenangan akan Aku
    6 days ago
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    1 week ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Perempuan, yang Pertama Kali Bertemu Yesus di Makam
    8 hours ago
    Pewartaan Iman Pertama Bukan tentang Kelahiran Yesus
    1 day ago
    Para Tua-tua itu Bersepakat Menyebar Hoaks tentang Yesus
    2 days ago
    Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
    3 days ago
    Sepi! Ia Benar-benar Telah Mati
    4 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    3 days ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    5 days ago
    Apa Artinya “Membuktikan” bahwa Allah Itu Ada? (Aquinas 101)
    1 week ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 weeks ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    4 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    4 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    9 months ago
    Latest News
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    1 month ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    1 month ago
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    2 months ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    3 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    2 weeks ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    2 weeks ago
    Latest News
    Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    3 days ago
    Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
    4 days ago
    Apa yang Terjadi Ketika Kita Menyantap Tubuh Kristus? (Aquinas 101)
    5 days ago
    Makna Ekaristi Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)
    6 days ago
Reading: Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
GEREJA SEMESTAKOMUNITASPaguyuban SesawiPeziarah PengharapanSejarah Gereja

Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: November 28, 2025 1:34 am
By Gabriel Abdi Susanto 4 months ago
Share
35 Min Read
SHARE

Aku tiba di Fátima pada malam 8 November 2025, ketika langit Portugal perlahan-lahan menutup diri, dan cahaya terakhir hari itu lenyap di balik perbukitan yang sudah mulai dingin memasuki musim dingin. Tubuhku masih serasa terombang-ambing setelah perjalanan panjang dari Jakarta—delapan jam menuju Doha, empat jam transit yang terasa seperti melayang di antara dua dunia, lalu delapan jam lagi menuju Lisbon. Dua puluh jam perjalanan udara yang seakan memisahkan aku dari kehidupan sehari-hari dan membawaku menuju sesuatu yang tak sepenuhnya kupahami, namun kurasakan pasti menunggu di tanah para peziarah ini.

— 0 —

Sesampainya di Bandara Lisbon, aku seperti berjalan dalam kabut; bukan kabut cuaca, tetapi kabut kelelahan. Namun dari balik itu semua, ada getaran kecil dalam hatiku, seperti undangan halus, seperti bisikan:
Ayo. Ada sesuatu bagimu di Fátima.

Bus yang disopiri Alejandro, pria setengah baya asli Portugal ini membawa grup Stella Kwarta Tour berjumlah 28 peziarah termasuk aku melaju menembus jalanan menuju Fátima, sekitar satu setengah jam perjalanan. Suasana sepi jalanan membuatku lebih fokus pada napasku sendiri. Seperti dibawa masuk ke ruang batin, ditemani hanya oleh bayangan perjalanan panjang para peziarah sebelumku yang selama seratus tahun lebih telah datang ke tempat yang sama: Cova da Iria, Valinhos, Aljustrel. Aku membayangkan tanah yang pernah diinjak tiga anak gembala seratus tahun lalu, 1917—tahun ketika dunia sedang terguncang perang, tetapi di sebuah desa kecil yang nyaris tak ada dalam peta, Surga menurunkan pesan ke bumi.

Ketika bus memasuki Fátima, aku hanya melihat lampu-lampu jalan yang tenang, rapi, seperti menyambut tamu dalam keheningan. Kota kecil itu terasa hening namun hidup—detaknya menyimpan rahasia besar. Kami menurunkan koper di Hotel Fátima, yang letaknya sangat dekat dengan sanctuary. Setelah makan malam, aku dan istri menuju area sanctuary sebelum ditutup pada pukul 10.00 malam waktu setempat. Meskipun hanya sebentar, langkah-langkah itu seperti ayunan kaki pertama memasuki misteri.

Dari kejauhan tempat pembakaran lilin, api menyala menjilati angkasa seperti hendak membelah langit. Di sampingnya sebuah kapel, Kapel Penampakan, terang oleh lampu-lampu dipenuhi peziarah dari berbagai tempat yang baru saja berdoa rosario. Aku dan istriku menuju tempat pembakaran lilin dan berdoa, menyalakan lilin dan membakar seluruh intensi doa yang dititipkan teman-teman. Api kecil itu memendar, menghadirkan wangi lilin terbakar yang khas, seperti aroma doa yang naik perlahan ke langit. Aku menatap api itu lama, mencoba membayangkan wajah-wajah orang yang menitipkan harapan. Dalam benakku terngiang kembali kisah tiga anak kecil yang dulu menerima pesan pertobatan, doa, dan penyerahan diri kepada Allah.

Tak lama, kami kembali ke hotel dengan hati yang tak mampu sepenuhnya jelas tentang apa yang menanti selama perjalanan 14 hari ke depan. Ada sesuatu yang sedang mengetuk.

Pagi 9 November datang dengan gigitan dingin yang mencengkeram kulit. Begitu keluar hotel, hawa segera menikam jari-jariku. Aku lupa tidak membawa sarung tangan, dan jemariku membeku, sulit digerakkan, seperti batu kecil. Angin pagi di Fátima seperti ingin mengajarkan bahwa ziarah bukanlah kenyamanan; ziarah adalah penyerahan, pengosongan.

Kami misa pagi di kapel kecil di sekitar area sanctuary.

Langit masih gelap, kapel belum dibuka. Setelah seorang petugas membukanya, kami segera menyerbu ke dalam, melarikan diri dari serbuan dingin udara pagi itu. Saat romo mengangkat hosti, dari sela-sela rasa dingin yang menggigit, ada kehangatan lembut merambat dari dada. Suasana misa pagi itu sunyi, tanpa ornamen berlebihan. Baru saat itu aku benar-benar merasakan: aku sudah di Fátima. Bukan hanya tubuhku, tetapi jiwaku.

Seusai misa dan makan pagi, kami berangkat ke Valinhos untuk jalan salib. Jalan tanah, pohon-pohon zaitun tua, dan udara pegunungan mengantar langkah-langkah kami. Rambatan dingin udara masih terasa di awal perhentian. Namun, langit tampak cerah sumringah seperti seorang ibu yang memandangi kami sedang mengorek dan menyembuhkan luka. Di sinilah, di Valinhos, malaikat pernah menampakkan diri kepada Lucia, Jacinta, dan Francisco setahun sebelum Bunda Maria menampakkan diri pada mereka. Tempat ini seperti waduk keheningan—hening yang menyimpan gema doa anak-anak kecil yang tak sepenuhnya mengerti apa yang mereka alami, tetapi mempercayainya sepenuh hati.

Setiap stasi jalan salib, berkecamuk seluruh pertanyaan reflektif yang menuntut jawab. Siapa anak-anak kecil ini ; Lucia, Jacinta, dan Francisco? Mengapa Bunda mengunjungi mereka, berkali-kali – sebanyak enam kali? Lalu berputarlah kembali dalam anganku sebuah kisah tentang ketiga anak gembala ini sambil kususuri jalan berbatu dengan kiri kanan dipenuhi pohon-pohon zaitun yang sudah menua.

— o —

Sebuah desa kecil bernama Fátima, di antara perbukitan kering Portugal yang disinari matahari keemasan tempatku sekarang berada, hidup tiga anak gembala yang sederhana: Lucia dos Santos, anak sepuluh tahun yang cerdas dan tegas; Francisco, sepupunya yang pendiam, selalu memandang langit seakan mencari sesuatu; dan Jacinta Marto, adik kecil dengan hati yang begitu peka, mudah tergerak oleh penderitaan orang lain. Mereka menghabiskan hari-hari dengan menggiring domba, memetik bunga liar, dan berdoa rosario sambil duduk di bebatuan Cova da Iria.

Pada suatu siang yang cerah, 13 Mei 1917, langit begitu bening hingga cahaya terasa seperti menari di atas tanah. Ketiga anak itu baru saja menyelesaikan doa ketika sekelebatan putih menyambar langit—bukan kilat, bukan pantulan kaca, tetapi cahaya yang membuat mereka saling berpandangan dengan ketakutan yang belum pernah mereka rasakan. Mereka hendak berlari, namun sesuatu menahan langkah mereka. Di atas sebuah pohon kecil zambujeiro, muncul sosok perempuan yang lembut dan bercahaya, putih seperti kabut tipis yang disentuh matahari pagi. Cahaya di sekelilingnya begitu terang hingga Lucia kemudian berkata bahwa perempuan ini “lebih bercahaya daripada matahari.”

Perempuan itu berbicara dengan suara yang lembut namun menggetarkan hati. Ia berkata bahwa ia datang dari surga dan meminta mereka kembali ke tempat itu pada tanggal yang sama setiap bulan selama enam bulan berturut-turut. Ia juga meminta mereka untuk mendoakan rosario setiap hari demi perdamaian dunia, karena peperangan besar sedang melanda Eropa. Pada usia sekecil itu, mereka tidak memahami mengapa mesti perang, mengapa dunia begitu kejam. Namun pesan itu melekat di hati mereka seperti kebenaran yang tidak bisa diabaikan.

Sebulan kemudian, pada 13 Juni, mereka kembali ke Cova. Kali ini beberapa orang desa mengikuti, penasaran dengan cerita yang telah tersebar. Ketika cahaya itu muncul lagi, Lucia merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan. Perempuan bercahaya itu berbicara tentang masa depan Lucia, mengatakan bahwa Yesus ingin memakainya untuk membuat-Nya dikenal dan dicintai banyak orang. Ia juga mengungkapkan bahwa Francisco dan Jacinta akan dipanggil Tuhan lebih cepat dari yang dibayangkan. Lucia terdiam; ia tidak ingin kehilangan sepupu-sepupunya. Namun perempuan itu meyakinkannya bahwa mereka akan dilindungi oleh rahmat Allah. Pesannya di perjumpaan itu tetap sama: doa rosario harus terus dilanjutkan, semua orang harus bertobat.

Ketika hari 13 Juli tiba, suasana batin Lucia, Francisco, dan Jacinta telah berubah. Mereka datang dengan perasaan campur aduk—sedikit takut, namun dipenuhi kerinduan. Pada perjumpaan ketiga ini, perempuan bercahaya itu memperlihatkan sesuatu yang mengguncang dunia batin mereka. Tiba-tiba bumi seakan terbelah, dan dari celah itu mereka melihat api besar yang menyala tanpa henti. Ada jeritan, ada wajah-wajah menderita, ada jiwa-jiwa yang tersesat dalam keputusasaan. Lucia berteriak, Francisco menutup wajahnya, dan Jacinta menangis ketakutan. Penglihatan itu hilang secepat ia muncul, namun meninggalkan jejak mendalam dalam hati mereka. Perempuan itu menatap mereka dengan belas kasih dan berkata bahwa apa yang mereka lihat adalah keadaan jiwa-jiwa yang jauh dari Allah. Untuk menyelamatkan dunia, katanya, Tuhan ingin menegakkan devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ia juga menubuatkan bahwa perang akan segera berakhir, tetapi jika manusia tidak bertobat, perang yang lebih dahsyat akan muncul. Mereka tidak mengerti keseluruhan makna kata-kata itu, namun mereka menyimpan semuanya dalam hati.

Ketika tanggal 13 Agustus mendekat, ketiga anak itu justru ditahan oleh pejabat lokal yang tidak percaya pada cerita mereka. Mereka diinterogasi dan diancam, tetapi tidak satu pun dari mereka menyangkal apa yang telah mereka alami. Karena mereka tidak dapat datang ke Cova da Iria pada hari itu, penampakan terjadi beberapa hari kemudian, pada 19 Agustus, di Valinhos. Perempuan bercahaya itu kembali dengan kesedihan di wajahnya, seakan merasakan penderitaan anak-anak itu. Ia meminta mereka untuk terus berdoa dan mempersembahkan pengorbanan kecil demi keselamatan jiwa-jiwa yang membutuhkan belas kasih Tuhan.

Ketika 13 September tiba, ribuan orang berkumpul di Cova da Iria. Angin lembut berhembus, dan beberapa orang menyatakan bahwa mereka melihat butiran cahaya turun dari langit, meski langit cerah tanpa awan. Perempuan itu kembali menampakkan diri kepada anak-anak dan mengatakan bahwa pada bulan berikutnya Tuhan akan melakukan sebuah mukjizat agar semua orang percaya. Janji tentang sesuatu yang besar mulai menyebar ke seluruh Portugal.

Lalu tibalah 13 Oktober 1917, hari yang akan dikenang oleh dunia. Hujan deras mengguyur sejak pagi; tanah berubah menjadi lumpur pekat. Namun lebih dari tujuh puluh ribu orang datang, dari desa-desa jauh, dari kota, dari luar wilayah—orang beriman, wartawan, mereka yang skeptis, bahkan ada juga mereka yang datang hanya untuk mengejek. Ketiga anak itu tiba dengan pakaian yang basah, tetapi mereka tampak tenang. Saat Lucia berdoa, hujan tiba-tiba berhenti. Langit yang gelap terbelah oleh cahaya. Perempuan bercahaya itu muncul untuk terakhir kalinya dan memperkenalkan dirinya sebagai Bunda Rosario. Ia sekali lagi meminta umat manusia untuk mendaraskan rosario setiap hari. Semua orang harus bertobat. Ketika ia mengarahkan tangannya ke langit, sesuatu yang tak pernah dilihat dunia terjadi: matahari mulai berputar.

Matahari berkilau seperti cakram api, bergerak seperti tarian cahaya yang hidup. Warnanya berubah-ubah—kuning, merah, ungu, biru. Ia berputar semakin cepat, lalu tampak seakan hendak jatuh ke bumi. Orang-orang berteriak ketakutan, sebagian tersungkur memohon ampun, sebagian menangis, sebagian lagi tertegun tanpa kata. Hanya beberapa menit berlalu sebelum matahari kembali tenang di tempatnya semula. Tanah yang basah tiba-tiba mengering dalam sekejap, pakaian yang basah menjadi hangat dan kering. Tidak ada yang mampu menjelaskan apa yang terjadi.

Setelah hari itu, hidup ketiga anak itu berubah selamanya. Francisco jatuh sakit beberapa bulan kemudian, dan pada 4 April 1919, ia meninggalkan dunia dalam ketenangan yang aneh, seakan kembali kepada cahaya yang pernah ia lihat. Jacinta menyusul setahun kemudian, pada 20 Februari 1920, setelah menderita sakit panjang yang ia terima sebagai persembahan bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan belas kasih. Lucia hidup panjang, memasuki biara dan menghabiskan bertahun-tahun menulis, berdoa, dan menghidupi pesan yang telah dipercayakan kepadanya.

Kini Fátima bukan lagi hanya nama sebuah desa kecil, tetapi menjadi simbol bahwa surga pernah turun menyentuh bumi melalui tiga anak kecil yang hatinya sederhana. Dalam aliran waktu yang lembut, kisah itu tetap hidup—sebagai ajakan untuk berdoa, untuk bertobat, untuk berharap, dan untuk percaya bahwa Allah selalu mencari jalan untuk menjangkau manusia, bahkan melalui domba-domba kecil dan doa rosario yang diucapkan di padang sunyi.

— o —

Aku kembali tersadar ketika tubuhku mulai memanas. Jaket kulepas, keringat mulai mengucur di punggungku. Perjalanan jalan salib itu tidak begitu berat, namun cukup melelahkan. Meski mentari mulai menyengat, namun udara yang bergerak sesekali menyelinap terasa dingin di leherku yang sedikit terbuka. Napasku terengah karena sudah lama tidak berjalan jauh, tetapi sedikit ada yang aneh di hatiku. Ada sesuatu pada udara Valinhos yang membuat langkah seperti rasanya kembali pulang. Seperti inilah barangkali para peziarah dulu merasakannya: setiap langkah bukan hanya menggerakkan kaki, tetapi membawa batin bergerak mendekat kepada Tuhan.

Jalan Salib ini dibangun sebagai penghormatan kepada ketiga anak visioner ini. Jalurnya mengikuti rute yang kerap mereka lalui setiap hari. Perjalanan dimulai dari Bundaran Selatan dan berakhir di Hungarian Calvary.

Hungarian Calvary sendiri menaungi sebuah kapel kecil yang didedikasikan kepada Santo Stefanus, raja pertama Hongaria. Baik empat belas perhentian Jalan Salib maupun kapel ini merupakan persembahan umat Katolik Hongaria yang melarikan diri ke Barat setelah invasi Soviet. Di antara perhentian kedelapan dan kesembilan, berdiri sebuah kapel yang menandai tempat penampakan keempat Bunda Maria, yang terjadi pada 19 Agustus 1917, ketika ketiga anak itu terhalang datang ke Cova da Iria.

Setelah jalan salib, kami mengunjungi rumah-rumah kecil tempat Lucia, Jacinta, dan Francisco tinggal. Rumah-rumah itu sederhana, bahkan miskin. Lantainya dari batu kasar, ruangan kecil, perabot ala kadarnya. Tetapi justru di ruang-ruang kecil itulah, rahasia besar dibuka. Aku tertegun memandangi dapur kecil mereka, tempat kehidupan mereka berjalan sehari-hari, dan tanpa sadar bertanya dalam batin: Mengapa hanya anak-anak ini? Mengapa bukan para pemimpin politik? Mengapa tidak bangsawan? Mengapa tidak imam besar? Mengapa berkali-kali, setidaknya hingga enam kali?

Aku langsung sadar, Tuhan selalu memilih yang kecil, yang sederhana, agar rahmat tampak sebagai rahmat, bukan prestasi manusia. Kalau pesan itu disampaikan berkali-kali itu artinya Tuhan memang selalu memberi pesan, berkomunikasi dengan manusia. Bukan melalui hal-hal besar, tetapi lewat hal-hal kecil, sederhana dan mungkin tidak pernah kita sadari. Sebaliknya justru kita sering abai pada sapaan Tuhan yang selalu datang setiap hari, setiap saat, setiap detik. Padahal lewat sapaan itu, Tuhan ingin memberi tuntunan agar manusia selamat – jiwanya — bukan yang lain.

Ketika kembali ke Sanctuary di siang hari, dari kejauhan, tampak menjulang basilika, seperti menatap balik kehadiran kami. Inilah basilika tempat di mana ketiga anak gembala itu melihat kilatan cahaya pertama pada 13 Mei 1917. Kini di tempat itu berdiri megah Basilika Our Lady of the Rosary of Fátima. Batu pertamanya diberkati pada 13 Mei 1928, seolah waktu sendiri memilih untuk mengikat sejarah surga dan bumi pada tanggal yang sama. Basilika ini berdiri sebagai jantung Sanctuary, menjadi pusat ibadah dan doa bagi para peziarah yang datang dari seluruh dunia, sebuah ruang sunyi tempat ribuan hati membawa harapan, pertobatan, dan permohonan.

Gereja ini menerima gelarnya pada Desember 1954 dari Sri Paus Pius XII, seakan menjadi peneguhan surgawi atas tanah yang sudah lama dikuduskan oleh devosi para peziarah. Basilika ini tampak seperti muncul dari cahaya pagi, megah dan hening. Bangunannya tersusun dari batu kapur yang kokoh, sementara menaranya yang menjulang setinggi 65 meter seperti menggores langit, membawa harapan manusia perlahan naik menuju Tuhan. Di dalamnya, lima belas altar menyimpan memori lima belas misteri Rosario, sebuah penghormatan kepada Bunda yang di tempat ini menyatakan: “Akulah Bunda Rosario.”

Namun Fátima tidak hanya dihidupi oleh basilika itu saja. Ada Kapel Penampakan, Capelinha—tempat paling penting—dibangun tepat di lokasi di mana ketiga anak itu mengaku melihat Bunda Maria berdiri dalam cahaya tak terlukiskan. Kapel mungil yang dibangun pada 1919 ini merupakan jawaban langsung atas permintaan Bunda Maria sendiri. Di tempat inilah, di bawah rindang pohon oak yang sederhana, terang surgawi menyapa bumi dalam lima dari enam penampakan suci. Patung asli Bunda Maria Fatima kini berdiri anggun dalam kaca pelindung, ditempatkan tepat di atas lokasi pohon itu, seakan menjaga ingatan akan perjumpaan ilahi yang pernah membelah keheningan desa kecil itu.

Di sebelah kapel, ribuan lilin menyala setiap hari, menjadi lautan kecil api yang bergoyang ditiup angin, seolah setiap nyalanya adalah sebuah permohonan yang diserahkan kepada langit. Basilika Bunda Rosario juga merupakan tempat peristirahatan ketiga anak visioner itu; makam mereka mengingatkan bahwa rahmat senantiasa turun pada mereka yang tidak dihiraukan, yang kecil, lemah, dan menyerah.

Tak jauh dari sana, Basilika Tritunggal Mahakudus—diresmikan pada 2007—menjadi lambang modern dari iman yang terus hidup. Dengan kapasitas lebih dari 8.000 orang, bangunan itu menyambut manusia dari seluruh dunia; dari mereka yang datang dengan hati rapuh hingga yang membawa syukur tanpa kata. Dirancang oleh arsitek Yunani Alexandros Tombazis, basilika modern ini adalah sapaan Gereja kepada dunia masa kini—luas, sederhana, namun sangat anggun dalam bahasa ruang dan cahaya. Batu pertama pembangunan basilika ini berasal dari fragmen makam Santo Petrus di Roma, seolah menghubungkan kesaksian rasul pertama itu dengan kisah tiga anak gembala.

Di sekitarnya, ada Area Doa yang luas, Kolonade yang melingkupi para peziarah dalam keheningan lembut, Monumen Hati Kudus Yesus yang berdiri memandang seluruh kompleks, Jalan Salib yang mengikuti jejak para gembala kecil, serta Museum Sanctuary yang menyimpan relik dan artefak liturgi yang tak ternilai.

Semua tempat ini, seluruh ruang yang dipenuhi sejarah, air mata, dan harapan, bersatu membentuk sebuah lanskap rohani yang tak mudah dilupakan. Ketika seseorang berdiri di tengah Fátima—di antara basilika, kapel, kolonnade, dan angin yang membawa bisikan doa dari segala penjuru dunia—ada perasaan bahwa seluruh tempat ini bukan sekadar bangunan religius, tetapi sebuah kisah panjang yang ditulis oleh jutaan hati yang berziarah menuju harapan. Sebuah nyanyian yang diam-diam terus naik, bersama menara-menara putih itu, menuju Tuhan yang diam-diam selalu dekat.

— 000 —

Langit Fátima berwarna biru keperakan. Aku masuk ke basilika yang selesai dibangun pada 1953 mengunjungi makam ketiganya di dalam. Suasananya hening, hampir beku. Di bawah lantai batu itu terbaring tubuh yang pernah berlari di ladang, menggembalakan domba, melihat cahaya dari surga, membawa pesan keselamatan bagi dunia.

Saat berdiri di depan makam mereka, seakan seluruh perjalanan sejarah Fátima mengalir kembali dari dalam tanah: penampakan pertama 13 Mei 1917, penampakan berikutnya 13 Juni, 13 Juli, 19 Agustus, 13 September, dan penampakan terakhir 13 Oktober 1917 saat matahari menari di langit.

Seakan kisah itu bukan lagi sejarah, tetapi sesuatu yang mengelilingi kami saat itu juga.

Istriku berdiri lama di depan makam Jacinta. Tatapannya dalam, air mata mulai mengalir pelan. Pengalaman spiritualnya dimulai di situ—dan aku tidak tahu bahwa sore itu akan menjadi salah satu momen penting.

Usai mengunjungi makam di Basilika dan mengelilingi seluruh spot di Sanctuary, kami menuju halaman Sanctuary, sebuah lapangan yang luas sekali—dua kali ukuran Lapangan Santo Petrus di Roma. Sudah banyak peziarah lalu lalang. Ada sendiri, berdua atau beberapa orang sekeluarga, sekadar melihat-lihat atau foto-foto. Juga tentu saja banyak yang terlihat menuju kapel penampakan untuk berdoa.

Beberapa kawan serombongan tampak hendak melakukan jalan berlutut di sepanjang lantai berplester semen. Mungkin sekitar 180 – 200 meter jaraknya. Istriku memutuskan untuk melakukan jalan berlutut di pelataran sanctuary itu—tradisi yang dijalani oleh banyak peziarah dari seluruh dunia.

Dan aku mencoba melakukan juga di belakangnya. Namun, baru lima meter, lututku seperti ditarik magnet rasa sakit. Lantai marmer itu dingin, keras, sedikit berkerikil, seakan menolak tubuhku. Aku berdiri dan membiarkan istriku melanjutkan sendiri. Dari belakang, aku melihat tubuhnya maju pelan-pelan, lutut demi lutut, sementara tangannya memegang rosario.

Setiap hentakan lututnya pada marmer terasa seperti doa yang tubuhnya ucapkan tanpa suara. Ia berdoa rosario tiga kali putaran, dan di setiap misteri, bahunya terguncang oleh tangis. Di wajahnya aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat: penyesalan, perjumpaan, pengertian, dan cinta yang hancur sekaligus disatukan kembali. Ketika ia selesai, ia tidak segera berdiri. Ia hanya menunduk dalam-dalam. Aku tahu ia sedang berbicara dengan Tuhan, bukan lagi dengan kata-kata, tetapi dengan seluruh hidupnya. Kupeluk dalam tangisan yang dalam. Hatiku ikut merasakan kesenduan. Sebuah kesadaran yang menyeruakkan penyesalan ikut kurasakan. Badannya menghangat, dan di situlah kesadaran akan kebaikan Tuhan melalui Bunda membuncah membungahkan hati meski terekspresikan dalam tangisan.

Malamnya, kami mengikuti doa rosario di Kapel Penampakan bersama ribuan peziarah dari berbagai bangsa. Rosario didaraskan dalam berbagai bahasa, bergantian: Portugis, Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, dan Bahasa Indonesia. Ketika suara-suara itu bergema berlapis-lapis, terasa bahwa dunia sebenarnya satu—ia hanya berbeda lidah, bukan berbeda hati.

Di tengah rosario, ketika lilin-lilin mulai menyala, udara malam yang dingin bercampur wangi parafin. Lalu prosesi patung Maria dimulai. Lilin-lilin bergerak seperti sungai cahaya, mengalir pelan mengikuti patung yang diangkat tinggi. Ribuan orang berdoa, tetapi keheningan rohani menutupi semuanya, seperti syal lembut yang melingkupi ribuan jiwa.

Di bawah cahaya lilin itu aku sadar:
Betapa banyak manusia di dunia ini menjerit, menangis, berjuang, tetapi tetap datang kepada Tuhan dengan harapan yang bisa jadi nyalanya kecil tetapi tetap ada. Dengan keinginan dan kerinduan, juga luka nestapa yang pastinya beragam. Untuk diri mereka sendiri, tentu saja.

Tapi, Bunda tetap menghantarkan doa-doa itu pada Puteranya meski semua permohonan terasa egois. Namun cinta yang ditampakkan pada tiga manusia sederhana itulah yang menguatkan mereka. Nyala harapan itu hendak mengatakan bahwa Tuhan tetap mau menerima semuanya, bahkan mengabulkannya. Begitulan Cinta yang Agung itu terasakan di tempat ini.

Sanctuary malam itu seperti kota dalam kota—kapel, basilika, colonnade, ruang-ruang doa, tempat pembakaran lilin, Kapel Sakramen Mahakudus, dan ruang-ruang sunyi tempat peziarah duduk memandangi patung Maria tanpa kata. Semuanya seperti berbicara satu hal yang sama: Datanglah. Kembalilah. Jadilah kecil kembali.

Ketika kembali ke hotel malam itu, aku merasa Fátima telah membuka sesuatu dalam diriku. Bukan jawaban, tetapi cahaya kecil—cahaya yang cukup untuk melangkah besok, cukup untuk percaya bahwa Tuhan masih menyapa, meski sering aku tidak peka.

Aku tidak pernah menduga bahwa malam itu di Fatima akan tinggal begitu lama di dalam ingatanku, seolah-olah ia tidak pernah benar-benar berlalu. Setelah prosesi Rosario dan perarakan patung Bunda Maria, aku kembali ke hotel dengan perasaan yang sulit digambarkan: campuran antara keheningan, keharuan, sekaligus rasa gentar karena seperti ada sesuatu yang hendak disampaikan Tuhan, tetapi kata-katanya hanya bisa kudengar jika aku sungguh berhenti dari seluruh kebisingan hidup yang selama ini kupelihara tanpa sadar.

Dalam perjalanan pulang menuju kamar, langkahku terasa ringan, seperti baru selesai dari sebuah percakapan panjang yang tidak diucapkan, tetapi dipahami oleh jiwa.

Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan melayang—setengah masih berada di dunia mimpi, setengah di dunia Fatima yang seperti memanggilku terus. Angin dini hari mengetuk jendela kamar hotel, menandai bahwa kami akan segera meninggalkan Portugal menuju Spanyol. Namun sebelum itu, sebelum bus bergerak menuju Burgos, aku sempat berjalan sendiri keluar hotel, menatap sekali lagi seluruh kompleks Sanctuary dari kejauhan. Udara sangat dingin, menusuk dari balik jaket, tetapi ada kehangatan yang tak dapat kujelaskan yang justru datang dari dalam diriku sendiri.

Dalam ingatanku masih terbayang kejadian semalam, di Sanctuary, ribuan orang—dari Brasil, Filipina, Italia, Kroasia, Kanada, Polandia, Vietnam, Korea, hingga sesama peziarah dari Indonesia—ada yang duduk dan berdiri memegang rosario dengan berbagai bahasa, namun dengan hati yang sama. Tempat di mana istriku menempuh jalan berlutut sepanjang sekitar 180 meter itu dengan air mata yang tak sanggup ia sembunyikan. Tempat di mana cahaya lilin bergerak perlahan mengikuti patung Maria dalam prosesi, menciptakan gelombang kecil cahaya yang seolah-olah melambai ke langit malam.

Dari kejauhan aku bisa melihat Chapel of Apparitions yang kecil itu—tempat sederhana yang dikelilingi bangunan megah, tetapi tetap mempertahankan kesunyian aslinya, seakan waktu menolak menyentuhnya.

Aku kembali mendengar suara Fransesco kecil yang dulu dikisahkan hanya ingin “menghibur Yesus yang sedih,” suara Jacinta yang penuh semangat meski tubuhnya ringkih, serta suara Lucia yang membawa seluruh pengalaman itu seumur hidupnya. Kisah mereka bukan dongeng, bukan legenda, bukan hiasan religius yang dipoles untuk menarik air mata peziarah; kisah itu adalah bagian dari sejarah yang masih hidup di tanah ini. Di antara angin dingin pagi itu, aku merasa seperti sedang berdiri di antara dua dunia—dunia yang terlihat, dan dunia yang tak terjangkau mata.

Ketika akhirnya bus mesti meluncur, aku merasa enggan untuk pergi. Fatima memberi sesuatu yang belum sepenuhnya selesai dipahami, seperti buku yang belum rampung kubaca. Namun hidup memang selalu memanggil kita maju, tidak membiarkan kita berlama-lama diam di satu tempat suci, karena tempat suci sejati pada akhirnya harus dibawa pulang ke dalam diri.

Perjalanan ke Burgos melintas melewati bukit-bukit, lembah luas, dan jalan panjang yang membuat semua yang terjadi di Fatima seperti berubah menjadi film yang diputar pelan di dalam kepala. Dalam keheningan itu aku menyadari bahwa kunjungan ini bukan sekadar perjalanan ziarah, bukan sekadar sejarah yang kubaca ulang dengan kaki yang lelah. Ini adalah perjumpaan—perjumpaan dengan Tuhan yang memilih berbicara lewat yang kecil, yang sederhana, yang mungkin tak akan pernah diperhitungkan oleh dunia. Perjumpaan dengan diriku sendiri, yang selama ini seperti egois ingin lepas dari panggilan-Nya dan sering merasa tak punya harapan melihat rusaknya dunia.

Aku melihat istriku tertidur di kursi bus, wajahnya yang letih terlihat damai, seolah ada sesuatu yang dilepaskannya malam itu di Sanctuary. Aku memandangnya lama, lalu menatap rosario di tanganku sendiri. Di dalam hatiku ada sebuah penegasan yang belum sempat kedefinisikan dengan kata-kata: bahwa pengalaman ini menguatkan hatiku betapa Tuhan senantiasa menjagaku seperti tiga anak gembala; Jacinta, Lucia, dan Francisco. Di tengah dunia yang dikelilingi oleh kejahatan, perang, mereka diutus untuk menjadi malaikat-malaikat kecil.

Bunda seperti mengingatkanku dengan berkata ; jangan lagi khawatir, jangan lagi putus asa, dan jangan lagi bosan melihat dunia ini. Bantulah Puteraku dan berjalanlah menjadi terang dan garam bagi dunia. Tolong jiwa-jiwa yang lain.

Perjalanan menuju Burgos terasa panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa jarak bukanlah hambatan. Aku merasa Fatima sedang berjalan bersamaku. Seakan seluruh doa yang ditinggalkan para peziarah di sana tidak hanya melayang ke langit, tetapi juga mengalir pelan masuk ke dalam hati setiap orang yang terbuka untuk menerimanya. Dan aku, dengan segala kelemahan dan kekuranganku, ingin menjadi salah satu dari orang-orang itu.

Bus terus melaju meninggalkan Fatima, tetapi aku merasa seolah-olah sebagian dari diriku masih tertinggal di sana, di lapangan Sanctuary yang luas itu, di antara cahaya lilin yang bergerak pelan, dalam suara doa Rosario yang mengalir seperti sungai panjang yang tidak mengenal batas negara atau bahasa. Wajah-wajah peziarah dari berbagai penjuru dunia masih berkelebatan dalam ingatanku—seorang ibu tua dari Brasil yang terus menangis sambil menggenggam rosario kecilnya, seorang pemuda Filipina yang berlutut sambil menatap Patung Maria dengan keteguhan yang mengejutkan, sekelompok orang Italia yang bernyanyi pelan dengan suara bergetar oleh devosi mendalam.

Dan istriku—aku masih bisa melihat punggungnya ketika ia merangkak berlutut sepanjang jalur peniten, napasnya pendek, tangannya sesekali menyeka air mata, tubuhnya bergetar bukan hanya karena dingin, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam. Aku berada di belakangnya, hanya beberapa meter, tetapi jarak itu terasa seperti pengingat: bahwa setiap orang memiliki pergumulannya sendiri dengan Tuhan, dan tidak semua bisa dijembatani oleh kata-kata.

Sambil memandang ke luar jendela bus, aku bertanya-tanya apa yang ia doakan sepanjang jalan itu. Apa yang ia serahkan kepada Tuhan malam itu? Luka mana dalam hidupnya yang tiba-tiba ingin ia letakkan di kaki Bunda Maria? Penyesalan mana yang selama ini mungkin ia genggam diam-diam? Aku tidak bertanya—aku merasa tidak perlu. Ada doa-doa tertentu yang memang hanya boleh diketahui oleh Tuhan dan jiwa seseorang.

Perjalanan menuju Burgos memaksa kami meninggalkan Fatima secara fisik, tetapi justru di situlah ingatan-ingatan itu terasa semakin kuat. Setiap tikungan jalan mengembalikan potongan-potongan peristiwa yang sempat lewat begitu cepat.

Ingatanku kembali pada wajah Lucia dalam foto-foto yang dipajang di sekitar museum kecil dekat rumahnya. Wajah-wajah anak desa zaman lampau. Pandangannya yang tenang, dalam, sedikit murung, seakan menanggung rahasia yang lebih berat daripada anak-anak seumurannya yang seharusnya ia tanggung. Jacinta, yang bahkan dalam kondisi sakit tetap menyimpan keberanian yang menggetarkan hati siapa pun yang membaca kisahnya. Fransisco yang pendiam, yang hanya ingin “menghibur Tuhan” dengan doa-doanya—hati seorang anak kecil yang begitu jernih, lebih jernih dari hati kebanyakan orang dewasa yang telah terlalu lama berjalan di dunia ini.

Mereka bukan siapa-siapa. Bukan bangsawan, bukan orang terpandang, bukan pemimpin dunia, bukan tokoh gereja. Mereka hanya anak-anak desa yang tidak mengenal dunia di luar lembah-lembah Fatima, namun justru dari tangan mereka pesan itu mengalir kepada jutaan orang. Setiap kali aku memikirkannya, aku seperti mendengar kembali pertanyaan yang tadi pagi berputar-putar di kepalaku: mengapa Tuhan memilih yang kecil? Mengapa Tuhan lebih suka memakai mereka yang tidak diperhitungkan? Jawabannya datang perlahan-lahan, seperti embun yang jatuh satu-satu di pagi hari: karena hanya hati yang sederhana yang sanggup mendengar sapaan Tuhan tanpa berusaha memonopoli-Nya.

Ketika bus mulai memasuki perbatasan Spanyol, aku bisa melihat awan-awan besar menggantung rendah. Ada semacam kesunyian yang menggulung dari arah pegunungan jauh di depan. Aku bersandar, memejamkan mata, dan membiarkan seluruh peristiwa Fatima tersimpan dalam relung batinku.

Ketika bus mulai memasuki kota kecil pertama di bagian utara Spanyol, aku tahu bahwa perjalanan ini belum selesai—bahkan mungkin belum benar-benar dimulai. Ada Lourdes yang menunggu. Ada Burgos yang siap membuka bab baru. Tetapi ada juga diriku sendiri yang sedang dipanggil untuk berjalan lebih dalam, lebih jujur, lebih telanjang di hadapan Tuhan yang tak henti-henti menunggu.

Aku membuka mata dan melihat istriku yang kini sudah terbangun. Ia tersenyum pelan, senyum yang meluruhkan segala letih perjalanan. Aku menggenggam tangannya dengan lembut. Kami saling tahu, tanpa perlu berkata apa pun, bahwa Fatima telah menyentuh kami masing-masing dengan cara yang berbeda—dan mungkin, itulah yang membuatnya begitu berharga.

Jika Tuhan berbicara kepada tiga anak gembala lebih dari seratus tahun lalu, maka aku percaya Ia juga berbicara kepada kami hari itu, hari ini dan setiap hari, setiap saat… ..dengan macam cara…. pelan, halus, dan sering kali tak disadari kecuali saat aku benar-benar berhenti dan diam. Dan di tengah perjalanan panjang menuju Burgos itu, aku benar-benar diam.

Di alun-alun Sanctuary Fatima. Foto : Dokpri

You Might Also Like

Ketika Dunia Terasa Gelap, Suara Tuhan Tetap Bicara dalam Hati

Aku Mengetahui Rancangan-Rancangan bagi Kamu

Christus Vivit dan Jalan Kekudusan Kaum Muda: Carlo Acutis Ikon Iman Milenial

Di Kayu Salib, Segala yang Manusia Takutkan – Pengkhianatan, Penderitaan, Kehinaan, Kematian – Diserap Sang Anak Domba

Jenazah Santo Fransiskus Xaverius Dipajang di Katedral Se Goa, India

TAGGED:basilika bunda rosarioBasilika Our Lady of RosaryBunda Maria FatimaBunda Rosarioburgosfatimafranciscoheadlinejacintaluciasang bundasapaan lembutziarah
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Ziarah ke Makam Paus Fransiskus; Kesederhanaan Itu Menyentuhku
Next Article Vatikan Tegaskan Monogami sebagai Janji Cinta Tak Terbatas
4 Comments
  • Toro says:
    November 28, 2025 at 1:09 pm

    Wah jiannn,,, cerita yg mengalir dan hidup. Selalu penuh perenungan bila diresapi saat demi saat perjalanan penuh syukur ini. Dengan permainan kata yg sungguh menghidupkan perjalanan kasih Tuhan ini.
    Maturnuwun mas Abdi kisah Fatima yg tak kan habis diceritakan kini dan nanti bagi siapa pun yg sudah ke sana atau yg akan ke sana.. Saya menghayati pelan2 setiap kata yg menurutku membantu perenungan untuk diri sendiri.
    Bunda Maria,,, doakanlah kami.

    Berkah Dalem

    Reply
    • inigoway says:
      November 28, 2025 at 2:44 pm

      amin..Puji Tuhan mas

      Reply
  • Paul Prawirasakti says:
    November 29, 2025 at 6:04 am

    Mas Abdi dan Mba Wulan yg baik.
    Puji Syukur pada Tuhan atas kesempatan yg diberikan pada kalian untuk menikmati Perjalanan Porta Sancta ini dan atas sharing serta refleksinya yg mendalam saat menikmati kegiatan di Fatima, Porto.
    Masuk ke dalam inti dari Perjalanan Rohani adalah kepasrahan kita untuk dibimbing oleh Roh dan sensivitas kita untuk merasakan kehadiranNya, sehingga Iman kita diperkokoh sebagai hasil dari Porta Sancta ini selain melihat keindahan alam ciptaan dgn bantuan Stella Kwarta. Sharing donk Mas dan Mba persiapan yg perlu dilakukan sebelum berangkat.
    Adakah itu lebih berat dari persiapan naik Mt. Rinjani . Tabik.

    Reply
    • inigoway says:
      November 30, 2025 at 4:27 am

      terima kasih Bang…nanti kita tulis tentang persiapan itu ya

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Perempuan, yang Pertama Kali Bertemu Yesus di Makam
  • Pewartaan Iman Pertama Bukan tentang Kelahiran Yesus
  • Para Tua-tua itu Bersepakat Menyebar Hoaks tentang Yesus
  • Kristus Sungguh Bangkit, dan Hidup Tak Lagi Sama
  • Misteri Paskah Menurut Thomas Aquinas (Aquinas 101)

Recent Comments

  1. inigoway on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  2. Bina on Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi (Aquinas 101)
  3. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  4. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  5. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?