Hari ini Gereja memulai perjalanan panjang yang sunyi: Masa Prapaskah. Di awal perjalanan ini, dahi kita ditandai dengan abu (dalam bentuk salib)—ringan, rapuh, mudah terurai oleh angin. Namun justru dalam simbol yang sederhana itu, Gereja meletakkan kebenaran paling mendasar tentang manusia: kita fana, kita rapuh, dan kita membutuhkan Allah.
Abu bukan sekadar tanda penyesalan. Ia adalah bahasa tubuh iman yang paling jujur. Ketika imam mengucapkan, “Ingatlah bahwa engkau debu dan akan kembali menjadi debu,” Gereja tidak sedang merendahkan martabat manusia, melainkan menempatkannya kembali pada posisi yang benar: makhluk yang hidup bukan oleh kekuatannya sendiri, melainkan oleh rahmat.
Bacaan pertama dari Kitab Yoel mengumandangkan seruan yang mengguncang:
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu.”
Pertobatan yang dikehendaki Allah bukanlah pertunjukan religius. Bukan kesedihan yang dipamerkan, bukan ritual yang dijalankan tanpa hati. Allah menghendaki kembali—kembali ke relasi yang hidup, jujur, dan penuh kepercayaan kepada-Nya.
Dalam bahasa Kitab Suci, pertobatan (teshuvah) selalu berarti berbalik arah. Bukan sekadar meninggalkan dosa, tetapi mengarahkan kembali seluruh hidup kepada Allah. Maka Rabu Abu bukan tentang rasa bersalah yang menekan, melainkan tentang undangan pulang.
Pertanyaannya bukan: apa dosa saya?
Melainkan: di mana hati saya selama ini?
Yoel melukiskan Allah sebagai
“pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”
Ini adalah wajah Allah yang sering kita lupakan: Allah yang tidak tergesa-gesa menghakimi, tetapi setia menunggu.
Sering kali kita membayangkan Allah sebagai hakim yang cepat mencatat kesalahan. Padahal Kitab Suci menghadirkan Allah sebagai Bapa yang hatinya selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Masa Prapaskah bukan waktu untuk takut kepada Allah, melainkan waktu untuk mempercayai belas kasih-Nya.
Abu di dahi kita hari ini adalah tanda bahwa Allah masih memberi waktu. Selama kita masih bisa berkata, “Aku mau kembali,” pintu rahmat belum pernah tertutup.
Yang Sunyi dan Tersembunyi
Injil hari ini dari Injil Matius menantang cara kita beragama. Yesus mengingatkan agar sedekah, doa, dan puasa tidak menjadi sarana pencitraan rohani.
“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.”
Yesus menggeser pusat iman dari ruang publik ke ruang batin. Di sanalah pertobatan sejati berlangsung. Masa Prapaskah bukan tentang menjadi lebih religius di mata orang lain, tetapi menjadi lebih jujur di hadapan Allah.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan melatih kebebasan dari segala yang menguasai kita. Doa bukan rutinitas kata, melainkan keberanian untuk diam di hadapan Allah. Sedekah bukan sisa, melainkan ungkapan kasih yang rela berbagi.
Abu selalu berbicara tentang akhir. Tetapi dalam iman Kristiani, abu tidak pernah menjadi kata terakhir. Dari abu, Allah menciptakan manusia. Dari kematian, Allah membangkitkan kehidupan. Dari salib, lahirlah keselamatan.
Rabu Abu mengarahkan pandangan kita ke Paskah. Jalan yang kita mulai hari ini memang jalan penyangkalan diri, tetapi tujuannya adalah kebangkitan. Allah tidak memanggil kita untuk berkubang dalam rasa bersalah, melainkan untuk dimurnikan agar hidup kita kembali berbuah.
Maka Masa Prapaskah adalah waktu untuk bertanya dengan jujur:
- Relasi apa yang perlu saya pulihkan?
- Kebiasaan apa yang perlu saya lepaskan?
- Ruang batin mana yang selama ini saya tutup bagi Allah?
Abu di dahi kita hari ini akan segera hilang. Tetapi pesan yang dikandungnya tidak boleh lenyap. Prapaskah bukan sekadar empat puluh hari, melainkan kesempatan untuk memulai ulang hidup dengan arah yang lebih benar.
Rabu Abu mengajarkan kita bahwa kerendahan hati adalah pintu rahmat. Dengan menerima abu, kita mengakui bahwa kita tidak sempurna, tetapi tetap dikasihi. Kita rapuh, tetapi tidak ditinggalkan. Kita berdosa, tetapi selalu diundang pulang.
Semoga perjalanan Prapaskah ini sungguh menjadi jalan pembaruan:
dari abu menuju kehidupan,
dari keheningan menuju kasih,
dari pertobatan menuju Paskah.
Amin.
