Pada Minggu, 22 Februari 2026, Gereja merayakanHari Minggu Prapaskah I. Bacaan-bacaannya (Ul 26:4–10; Mzm 91; Rm 10:8–13; Luk 4:1–13) menempatkan kita di padang gurun bersama Kristus yang dicobai. Dalam Injil Lukas, Yesus yang “penuh Roh Kudus” dibawa ke padang gurun dan di sana Ia menghadapi tiga pencobaan: tentang roti, tentang kuasa, dan tentang kemuliaan instan.
Padang gurun dalam tradisi Kitab Suci bukan sekadar tempat kering, melainkan ruang pemurnian. Ulangan mengingatkan bagaimana bangsa Israel dibentuk melalui perjalanan panjang, belajar bahwa hidup mereka bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Rasul Paulus dari Tarsus dalam Surat kepada Jemaat di Roma menegaskan bahwa keselamatan dekat dengan kita—di dalam hati dan di dalam mulut yang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Artinya, pertarungan rohani bukan soal lokasi, tetapi soal orientasi hati.
Dalam terang Spiritualitas Ignasian, pengalaman padang gurun sangat terkait dengan dinamika konsolasi dan desolasi. Yesus dicobai justru setelah dibaptis dan diteguhkan sebagai Putra terkasih. Ini penting: pencobaan sering datang bukan ketika kita jauh dari Allah, tetapi justru ketika kita sedang berjalan setia. Dalam tradisi Ignasian, ketika mengalami desolasi—kering, bingung, goyah—kita tidak dianjurkan untuk mengubah keputusan baik yang telah kita buat dalam terang konsolasi. Yesus tidak bernegosiasi dengan pencobaan; Ia tetap setia pada Sabda Bapa.
Tiga pencobaan itu menyentuh tiga keterikatan dasar manusia. Pertama, roti: kebutuhan jasmani dan rasa aman. Kedua, kuasa: dorongan untuk menguasai dan diakui. Ketiga, kemuliaan instan: keinginan untuk membuktikan diri tanpa proses salib. Dalam bahasa Ignasian, ini adalah keterikatan yang dapat menggeser orientasi kita dari hidup “demi kemuliaan Allah yang lebih besar” menjadi hidup demi kepuasan diri yang lebih besar. Yesus memilih ketaatan, bukan sensasi; kesetiaan, bukan jalan pintas.
Mazmur 91 berbicara tentang perlindungan Tuhan. Namun menariknya, Iblis justru mengutip mazmur itu untuk menggoda Yesus. Ini menunjukkan bahwa bahkan Sabda dapat dipelintir jika tidak dibaca dalam relasi cinta dan ketaatan. Di sinilah discernment menjadi kunci. Tidak semua yang tampak religius berasal dari Roh Allah. Spiritualitas Ignasian mengajarkan perlunya membedakan gerak batin: mana yang membawa damai, harapan, dan kasih yang lebih besar, dan mana yang membawa kegelisahan tersembunyi atau kesombongan rohani.
Minggu Prapaskah I mengundang kita masuk ke padang gurun batin kita sendiri. Di mana aku sedang dicobai untuk memilih jalan pintas? Di mana aku tergoda mencari keamanan di luar Tuhan? Di mana aku ingin membuktikan diri daripada mempercayakan diri? Padang gurun bukan tempat kegagalan, tetapi tempat klarifikasi cinta. Di sana, motivasi kita dimurnikan.
Dalam examen, kita dapat melihat kembali minggu ini dengan beberapa pertanyaan: kapan aku merasa lapar akan pengakuan? Kapan aku mencari kendali penuh atas situasi? Kapan aku lupa bahwa hidupku bergantung pada Sabda Tuhan? Dan dalam semua itu, bagaimana Tuhan tetap hadir, menopang, dan memanggilku kembali?
Prapaskah bukan perjalanan yang suram, tetapi perjalanan pembebasan. Yesus keluar dari padang gurun dengan kekuatan Roh, siap memulai karya-Nya. Demikian pula kita: ketika berani menghadapi pencobaan dengan jujur dan setia, kita akan keluar lebih bebas, lebih jernih, dan lebih siap menghidupi panggilan kita.
Padang gurun tidak menghancurkan Kristus; ia meneguhkan-Nya. Semoga padang gurun kita pun menjadi tempat perjumpaan yang memurnikan—agar hati kita semakin terarah kepada Allah, satu-satunya sumber hidup dan keselamatan.
