By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inigo WayInigo WayInigo Way
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • IGNASIANA
    IGNASIANA
    Segala hal tentang spiritualitas ignasia
    Show More
    Top News
    Jangan Bosan, Ya. Paus Sudah Pulang, Tapi Spektrum Tuhan Masih Terus Broadcast
    2 years ago
    Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
    4 months ago
    Romo Hari Juliawan SJ: Tanpa Spiritualitas, Hidup dan Perkawinan Hanya Akan “Menggelinding Begitu Saja”
    4 months ago
    Latest News
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    56 minutes ago
    Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
    55 minutes ago
    Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
    20 hours ago
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    3 days ago
  • IDEA
    IDEAShow More
    Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
    1 hour ago
    Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
    18 hours ago
    Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
    2 days ago
    Yerusalem, Lihatlah Rajamu!
    3 days ago
    Saat Allah Memulihkan, Manusia Justru Ketakutan
    3 days ago
  • GEREJA SEMESTA
    GEREJA SEMESTAShow More
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    3 days ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    4 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    5 days ago
    Pribadi-pribadi Ilahi Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    6 days ago
    Memahami Misteri Tritunggal Mahakudus (Aquinas 101)
    6 days ago
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
    • SBS
    KOMUNITAS
    Show More
    Top News
    Maria Maggiore, Salus Populi Romani Sebuah Memoar Reflektif Imajinatif Bagian 1
    4 months ago
    Sapaan Lembut Sang Bunda di Fatima
    4 months ago
    Refleksi 22 Tahun Menjalani Hidup Bersama Seorang Mantan Jesuit
    9 months ago
    Latest News
    Saluran Air Hidup bagi yang Lain
    3 weeks ago
    Bapa yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
    3 weeks ago
    Ada Rindu yang Tak Bisa Dijelaskan dengan Logika
    2 months ago
    Paus Leo XIV Umumkan Tahun Yubileum Fransiskan dan Berikan Indulgensi Penuh
    2 months ago
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
  • AQUINAS 101
    AQUINAS 101
    Show More
    Top News
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    3 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    5 days ago
    Kehadiran dan Kemurahan Hati
    11 months ago
    Latest News
    Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
    1 minute ago
    Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
    3 days ago
    Misi Trinitas: Cara Putra dan Roh Kudus Diutus Bapa ke Dunia (Aquinas 101)
    4 days ago
    Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
    5 days ago
Reading: Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
Share
Font ResizerAa
Inigo WayInigo Way
  • IGNASIANA
  • IDEA
  • GEREJA SEMESTA
  • YAYASAN SESAWI
  • STP BONAVENTURA
  • AQUINAS 101
Search
  • Home
  • GEREJA SEMESTA
    • Ajaran Gereja
    • Paus
    • Sejarah Gereja
    • Tradisi Gereja
  • IDEA
    • Homili
    • Refleksi
    • Renungan
    • Syair
  • IGNASIANA
    • Latihan Rohani
    • Riwayat Ignatius
    • Sahabat Ignatius
    • Surat-surat Ignatius
  • KOMUNITAS
    • The Jesuits
    • Paguyuban Sesawi
  • Yayasan Sesawi
  • STP Bonaventura
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inigo Way Network. Sesawi Foundation. All Rights Reserved.
Inigo Way > Petrus Faber > AQUINAS 101 > Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
AQUINAS 101

Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)

Gabriel Abdi Susanto
Last updated: March 30, 2026 8:55 am
By Gabriel Abdi Susanto 4 minutes ago
Share
7 Min Read
SHARE

Sebuah Narasi tentang Makna, Kasih, dan Misteri Kehidupan

Contents
Manusia: Pencari Kebahagiaan dan MaknaMengapa Kisah Lebih Penting daripada KonsepKristus: Kisah Ilahi yang Menyatu dengan Kisah ManusiaPenderitaan sebagai Partisipasi dalam Hidup KristusAllah sebagai “Penulis Cerita Terbaik”Paradoks Jalan Salib: Turun untuk NaikKetika Penderitaan Dipertanyakan: Suara dari Luar ImanTransformasi Batin: Bukan Kita, tetapi Kristus dalam KitaKesimpulan: Penderitaan sebagai Jalan Menuju Kasih

Penderitaan adalah salah satu pengalaman paling universal sekaligus paling membingungkan dalam hidup manusia. Setiap orang mengalaminya, tetapi tidak semua mampu memahaminya. Dalam percakapan mendalam antara Romo Gregory Pine OP dan Suster Jane Dominic Laurel OP, pertanyaan klasik ini tidak dijawab secara simplistis, melainkan dijelajahi sebagai sebuah misteri yang hanya dapat dimengerti melalui perjalanan hidup, relasi, dan terutama—kisah.


Manusia: Pencari Kebahagiaan dan Makna

Alih-alih memulai dari teori abstrak, diskusi ini berangkat dari pengalaman manusia yang paling mendasar: setiap orang mencari kebahagiaan. Dalam tradisi filsafat klasik, terutama Aristoteles dan Thomas Aquinas, kebahagiaan (eudaimonia) dipahami sebagai tujuan akhir hidup manusia.

Namun, kebahagiaan bukan sekadar rasa senang. Ia terkait erat dengan makna. Manusia tidak hanya ingin merasa baik, tetapi juga ingin tahu: mengapa saya hidup? untuk apa semua ini?

Di sinilah penderitaan menjadi problem. Jika tujuan hidup adalah kebahagiaan, mengapa hidup justru dipenuhi luka, kehilangan, dan kegagalan?


Mengapa Kisah Lebih Penting daripada Konsep

Salah satu pendekatan paling menarik dalam diskusi ini adalah penggunaan narasi. Bukan tanpa alasan. Manusia tidak hidup dalam rumus, melainkan dalam cerita.

Setiap orang seperti gunung es: hanya sebagian kecil hidupnya terlihat, sementara sebagian besar tersembunyi di bawah permukaan. Kita sering menghakimi orang lain dari “10% yang tampak”, tanpa memahami “90% yang tersembunyi”—yakni luka, pergumulan, dan penderitaan yang mereka bawa.

Dalam terang ini, kisah menjadi jembatan menuju empati. Seperti dikatakan oleh Henry Wadsworth Longfellow, jika kita dapat membaca kisah hidup seseorang, kita akan menemukan begitu banyak penderitaan hingga kita tidak lagi mudah menghakimi.

Kisah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjumpaan. Di dalamnya, kita menemukan diri kita dalam diri orang lain.


Kristus: Kisah Ilahi yang Menyatu dengan Kisah Manusia

Puncak refleksi ini terletak pada pemahaman bahwa kekristenan bukan sekadar ajaran, melainkan sebuah kisah—kisah hidup Jesus Christ.

Kristus tidak hanya “mengambil kodrat manusia” secara abstrak. Ia menjalani kehidupan manusia secara konkret: lahir, tumbuh, bekerja, mengajar, menderita, mati, dan bangkit. Dengan kata lain, Ia memasuki seluruh narasi manusia.

Artinya, hidup manusia bukan sekadar berdampingan dengan hidup Kristus, tetapi terjalin di dalamnya.

Setiap penderitaan manusia menjadi tempat di mana Kristus hadir kembali—menghidupi aspek tertentu dari misteri hidup-Nya.


Penderitaan sebagai Partisipasi dalam Hidup Kristus

Dalam perspektif ini, penderitaan bukan sekadar sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang—dalam misteri iman—dapat menjadi jalan persekutuan dengan Kristus.

Para kudus memberikan gambaran konkret tentang hal ini:

  • Ibu Teresa dari Kalkuta mengalami puluhan tahun kegelapan rohani, mencerminkan seruan Kristus: “Aku haus.”
  • Maximilian Kolbe menghidupi kasih terbesar dengan menyerahkan nyawanya bagi orang lain.
  • Damien of Molokai menghadirkan Kristus di tengah penderita kusta.
  • Paus Johanes Paulus II menjalani penderitaan panjang yang justru memperdalam pengaruh rohaninya di dunia.

Dalam setiap kisah ini, penderitaan bukan akhir, melainkan bahasa kasih.


Allah sebagai “Penulis Cerita Terbaik”

Salah satu gagasan paling kuat dalam diskusi ini adalah bahwa Allah adalah penulis kisah terbaik. Masalahnya, manusia sering ingin menulis kisahnya sendiri—dan biasanya memilih cerita yang nyaman, aman, dan menyenangkan.

Namun, kisah yang ditulis Allah sering kali berbeda: lebih dalam, lebih kompleks, bahkan lebih menyakitkan. Tetapi justru karena itu, kisah tersebut lebih bermakna.

Contoh yang sangat kuat adalah kehidupan Pope John Paul II. Ia mungkin memiliki impian sederhana: menjadi aktor, membangun keluarga. Namun Allah memanggilnya pada sesuatu yang jauh lebih besar—bahkan melalui penderitaan—yakni menjadi tokoh kunci dalam sejarah dunia.

Di sini muncul sebuah paradoks:
apa yang kita inginkan sering kali baik, tetapi apa yang Allah inginkan selalu lebih besar.


Paradoks Jalan Salib: Turun untuk Naik

Secara alami, manusia memahami pertumbuhan sebagai kenaikan: dari baik menjadi lebih baik. Namun dalam iman Kristiani, jalan menuju kepenuhan justru melalui penurunan—melalui kehilangan, kerendahan, dan penderitaan.

Ini bukan logika manusia, melainkan logika salib.

Seperti ditegaskan dalam Kitab Suci:
“Jalan-Ku bukanlah jalanmu.”

Penderitaan, dalam terang ini, bukan kegagalan hidup, tetapi proses pemurnian—cara Allah membentuk manusia menjadi serupa dengan Kristus.


Ketika Penderitaan Dipertanyakan: Suara dari Luar Iman

Diskusi ini juga jujur menghadapi kritik, terutama dari perspektif ateisme. Pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Mengapa Allah yang mahakuasa memilih jalan penderitaan?
  • Apakah ini tidak menyerupai relasi yang kejam?

Tidak dihindari, tetapi dijawab melalui pengalaman konkret.

Salah satu kisah yang diceritakan adalah tentang seorang ayah ateis yang kehilangan anaknya. Dalam penderitaan yang ekstrem, ia mengalami pengalaman akan kasih Allah yang begitu mendalam, hingga mengubah seluruh hidupnya.

Kisah ini menunjukkan bahwa jawaban atas penderitaan tidak selalu datang dalam bentuk argumen, tetapi dalam pengalaman—perjumpaan dengan kasih.


Transformasi Batin: Bukan Kita, tetapi Kristus dalam Kita

Pada akhirnya, penderitaan bukan hanya tentang “bertahan”, tetapi tentang “diubah”.

Manusia tidak dipanggil untuk mengatasi penderitaan dengan kekuatannya sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam dirinya.

Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus:
“Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”

Dalam proses ini, bahkan kemampuan untuk mengampuni, mencintai, dan memahami lahir bukan dari diri sendiri, tetapi dari kehadiran ilahi yang bekerja dalam diri manusia.


Kesimpulan: Penderitaan sebagai Jalan Menuju Kasih

Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita?

Jawabannya bukan satu kalimat, melainkan sebuah perjalanan:

  • karena hidup adalah kisah,
  • karena kisah itu ditulis oleh Allah,
  • dan karena melalui penderitaan, manusia diajak masuk lebih dalam ke dalam kasih-Nya.

Penderitaan tetap misteri. Tetapi dalam terang iman, ia bukan lagi sesuatu yang absurd, melainkan sesuatu yang—meskipun sulit—dapat menjadi jalan menuju kepenuhan hidup.

Pada akhirnya, mungkin bukan kita yang memahami penderitaan, tetapi penderitaanlah yang, dalam terang kasih Allah, membantu kita memahami siapa diri kita sebenarnya.

You Might Also Like

Cinta Allah yang Melompat Mendekati Kita

Kongregasi Umum Para Kardinal Dimulai di Vatikan

Konklaf Dimulai

Pesta Keluarga Kudus; Kekudusan yang Ditempa di Jalan Pengungsian

Murah Hati seperti Bapa

TAGGED:Ayub dan penderitaandiscernment dalam penderitaandosa dan kejahatanharapan kristianiheadlineiman dalam krisisiman dan penderitaanKasih Allahkeadilan ilahikebangkitankebebasan manusiakehendak bebasmakna penderitaanmenemukan Tuhan dalam penderitaanmengapa Tuhan mengizinkan penderitaanmisteri penderitaanmisteri salibpenderitaan dalam Kitab Sucipenderitaan dalam tradisi kristianipenderitaan dan belas kasih.penderitaan dan cinta kasihpenderitaan dan kemanusiaanpenderitaan dan keselamatanpenderitaan dan makna hiduppenderitaan dan pengampunanpenderitaan dan transformasi diripenderitaan kolektifpenderitaan manusiapenderitaan sebagai panggilanpenderitaan sebagai pemurnianpenderitaan sosialpenebusanpengalaman eksistensialpengharapan eskatologisrefleksi Ignasianrefleksi iman sehari-harirefleksi teologisrelasi manusia dan Tuhansolidaritas ilahispiritualitas penderitaanteodiseYesus dan salib
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Share
By Gabriel Abdi Susanto
Follow:
Jurnalis, lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Previous Article Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Mengapa Tuhan Mengizinkan Kita Menderita? (Aquinas 101)
  • Yudas Bukan Orang Jahat dari Awal
  • Seorang di Antara Kamu akan Menyerahkan Aku
  • Namun Yesus Melihat Lebih Jauh
  • Yerusalem, Lihatlah Rajamu!

Recent Comments

  1. inigoway on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  2. Febry Silaban on Yesus Kristus, Satu Pribadi Dua Kodrat (Aquinas 101)
  3. eugenius laluur on Argumen Favorit Thomas Aquinas tentang Keberadaan Tuhan (Aquinas 101)
  4. Adrianus Turnip on Berani Terluka Seperti Bapa Yosef
  5. Y. S. Cahya Martadi on Latihan Rohani Ignasian: Warisan Gereja dan Sekolah Diskresi bagi Semua
Inigo WayInigo Way
Follow US
© 2024 Inigo Way Network. Member of Yayasan Sesawi and Paguyuban Sesawi. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?