Sebuah Narasi tentang Makna, Kasih, dan Misteri Kehidupan
Penderitaan adalah salah satu pengalaman paling universal sekaligus paling membingungkan dalam hidup manusia. Setiap orang mengalaminya, tetapi tidak semua mampu memahaminya. Dalam percakapan mendalam antara Romo Gregory Pine OP dan Suster Jane Dominic Laurel OP, pertanyaan klasik ini tidak dijawab secara simplistis, melainkan dijelajahi sebagai sebuah misteri yang hanya dapat dimengerti melalui perjalanan hidup, relasi, dan terutama—kisah.
Manusia: Pencari Kebahagiaan dan Makna
Alih-alih memulai dari teori abstrak, diskusi ini berangkat dari pengalaman manusia yang paling mendasar: setiap orang mencari kebahagiaan. Dalam tradisi filsafat klasik, terutama Aristoteles dan Thomas Aquinas, kebahagiaan (eudaimonia) dipahami sebagai tujuan akhir hidup manusia.
Namun, kebahagiaan bukan sekadar rasa senang. Ia terkait erat dengan makna. Manusia tidak hanya ingin merasa baik, tetapi juga ingin tahu: mengapa saya hidup? untuk apa semua ini?
Di sinilah penderitaan menjadi problem. Jika tujuan hidup adalah kebahagiaan, mengapa hidup justru dipenuhi luka, kehilangan, dan kegagalan?
Mengapa Kisah Lebih Penting daripada Konsep
Salah satu pendekatan paling menarik dalam diskusi ini adalah penggunaan narasi. Bukan tanpa alasan. Manusia tidak hidup dalam rumus, melainkan dalam cerita.
Setiap orang seperti gunung es: hanya sebagian kecil hidupnya terlihat, sementara sebagian besar tersembunyi di bawah permukaan. Kita sering menghakimi orang lain dari “10% yang tampak”, tanpa memahami “90% yang tersembunyi”—yakni luka, pergumulan, dan penderitaan yang mereka bawa.
Dalam terang ini, kisah menjadi jembatan menuju empati. Seperti dikatakan oleh Henry Wadsworth Longfellow, jika kita dapat membaca kisah hidup seseorang, kita akan menemukan begitu banyak penderitaan hingga kita tidak lagi mudah menghakimi.
Kisah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjumpaan. Di dalamnya, kita menemukan diri kita dalam diri orang lain.
Kristus: Kisah Ilahi yang Menyatu dengan Kisah Manusia
Puncak refleksi ini terletak pada pemahaman bahwa kekristenan bukan sekadar ajaran, melainkan sebuah kisah—kisah hidup Jesus Christ.
Kristus tidak hanya “mengambil kodrat manusia” secara abstrak. Ia menjalani kehidupan manusia secara konkret: lahir, tumbuh, bekerja, mengajar, menderita, mati, dan bangkit. Dengan kata lain, Ia memasuki seluruh narasi manusia.
Artinya, hidup manusia bukan sekadar berdampingan dengan hidup Kristus, tetapi terjalin di dalamnya.
Setiap penderitaan manusia menjadi tempat di mana Kristus hadir kembali—menghidupi aspek tertentu dari misteri hidup-Nya.
Penderitaan sebagai Partisipasi dalam Hidup Kristus
Dalam perspektif ini, penderitaan bukan sekadar sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang—dalam misteri iman—dapat menjadi jalan persekutuan dengan Kristus.
Para kudus memberikan gambaran konkret tentang hal ini:
- Ibu Teresa dari Kalkuta mengalami puluhan tahun kegelapan rohani, mencerminkan seruan Kristus: “Aku haus.”
- Maximilian Kolbe menghidupi kasih terbesar dengan menyerahkan nyawanya bagi orang lain.
- Damien of Molokai menghadirkan Kristus di tengah penderita kusta.
- Paus Johanes Paulus II menjalani penderitaan panjang yang justru memperdalam pengaruh rohaninya di dunia.
Dalam setiap kisah ini, penderitaan bukan akhir, melainkan bahasa kasih.
Allah sebagai “Penulis Cerita Terbaik”
Salah satu gagasan paling kuat dalam diskusi ini adalah bahwa Allah adalah penulis kisah terbaik. Masalahnya, manusia sering ingin menulis kisahnya sendiri—dan biasanya memilih cerita yang nyaman, aman, dan menyenangkan.
Namun, kisah yang ditulis Allah sering kali berbeda: lebih dalam, lebih kompleks, bahkan lebih menyakitkan. Tetapi justru karena itu, kisah tersebut lebih bermakna.
Contoh yang sangat kuat adalah kehidupan Pope John Paul II. Ia mungkin memiliki impian sederhana: menjadi aktor, membangun keluarga. Namun Allah memanggilnya pada sesuatu yang jauh lebih besar—bahkan melalui penderitaan—yakni menjadi tokoh kunci dalam sejarah dunia.
Di sini muncul sebuah paradoks:
apa yang kita inginkan sering kali baik, tetapi apa yang Allah inginkan selalu lebih besar.
Paradoks Jalan Salib: Turun untuk Naik
Secara alami, manusia memahami pertumbuhan sebagai kenaikan: dari baik menjadi lebih baik. Namun dalam iman Kristiani, jalan menuju kepenuhan justru melalui penurunan—melalui kehilangan, kerendahan, dan penderitaan.
Ini bukan logika manusia, melainkan logika salib.
Seperti ditegaskan dalam Kitab Suci:
“Jalan-Ku bukanlah jalanmu.”
Penderitaan, dalam terang ini, bukan kegagalan hidup, tetapi proses pemurnian—cara Allah membentuk manusia menjadi serupa dengan Kristus.
Ketika Penderitaan Dipertanyakan: Suara dari Luar Iman
Diskusi ini juga jujur menghadapi kritik, terutama dari perspektif ateisme. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
- Mengapa Allah yang mahakuasa memilih jalan penderitaan?
- Apakah ini tidak menyerupai relasi yang kejam?
Tidak dihindari, tetapi dijawab melalui pengalaman konkret.
Salah satu kisah yang diceritakan adalah tentang seorang ayah ateis yang kehilangan anaknya. Dalam penderitaan yang ekstrem, ia mengalami pengalaman akan kasih Allah yang begitu mendalam, hingga mengubah seluruh hidupnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa jawaban atas penderitaan tidak selalu datang dalam bentuk argumen, tetapi dalam pengalaman—perjumpaan dengan kasih.
Transformasi Batin: Bukan Kita, tetapi Kristus dalam Kita
Pada akhirnya, penderitaan bukan hanya tentang “bertahan”, tetapi tentang “diubah”.
Manusia tidak dipanggil untuk mengatasi penderitaan dengan kekuatannya sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam dirinya.
Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus:
“Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
Dalam proses ini, bahkan kemampuan untuk mengampuni, mencintai, dan memahami lahir bukan dari diri sendiri, tetapi dari kehadiran ilahi yang bekerja dalam diri manusia.
Kesimpulan: Penderitaan sebagai Jalan Menuju Kasih
Mengapa Tuhan mengizinkan kita menderita?
Jawabannya bukan satu kalimat, melainkan sebuah perjalanan:
- karena hidup adalah kisah,
- karena kisah itu ditulis oleh Allah,
- dan karena melalui penderitaan, manusia diajak masuk lebih dalam ke dalam kasih-Nya.
Penderitaan tetap misteri. Tetapi dalam terang iman, ia bukan lagi sesuatu yang absurd, melainkan sesuatu yang—meskipun sulit—dapat menjadi jalan menuju kepenuhan hidup.
Pada akhirnya, mungkin bukan kita yang memahami penderitaan, tetapi penderitaanlah yang, dalam terang kasih Allah, membantu kita memahami siapa diri kita sebenarnya.
