Pada peringatan satu tahun wafatnya Paus Fransiskus, Selasa (21/04/2026) sebuah Misa khusus dirayakan di kapel Casa Santa Marta, tempat tinggal terakhir Paus semasa hidupnya. Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh Uskup Agung Luigi Travaglino, sementara homili yang dibacakan disiapkan oleh Kardinal Angelo Acerbi. Dalam refleksinya, ia mengungkapkan bahwa kenangan akan Paus Fransiskus masih terasa begitu dekat di hati umat.
Ditulis oleh Pastor Paweł Rytel‑Andrianik, laporan ini menggambarkan suasana penuh doa dan harapan yang menyelimuti peringatan tersebut.
“Sekarang bukanlah saat untuk menelusuri kembali kehidupan hariannya di tempat ini, yang dipenuhi dengan pekerjaan, pertemuan, dan doa di kapel kecil di lantai dua. Saya yakin Paus Fransiskus telah mencintai rumah ini, dan kami pun mencintainya. Itulah semangat doa yang kami panjatkan dalam tahun pertama kepergiannya. Kami masih merasakan kehadirannya dekat dengan kami,” ungkap Kardinal Acerbi dalam homili yang dibacakan oleh Uskup Agung Travaglino.
Dalam teks homili tersebut, Kardinal Acerbi juga mengenang keberanian apostolik Paus Fransiskus yang tetap berkobar, bahkan ketika kondisi fisiknya semakin terbatas. Ia menegaskan bahwa Paus Fransiskus tetap menjalankan misinya sebagai Penerus Santo Petrus dengan semangat yang tak surut.
“Saya hanya ingin mengenang keberanian apostoliknya selama masa kepemimpinannya, ketika meskipun menghadapi keterbatasan fisik, ia tetap berkeinginan kuat untuk menjalankan misi apostolik hingga ke ujung bumi,” demikian bunyi homili tersebut.
Uskup Agung Travaglino juga mengajak umat untuk mengenang Basilika Santa Maria Maggiore, tempat Paus Fransiskus memilih untuk dimakamkan, tepat di dekat kapel Maria yang dikenal sebagai Salus Populi Romani. Tempat itu memiliki makna khusus bagi Paus Fransiskus, karena ia selalu datang berdoa di sana sebelum dan sesudah setiap perjalanan apostoliknya.
Peringatan mengenang Paus Fransiskus berlanjut pada hari yang sama. Di Basilika Santa Maria Maggiore, pukul 17.00 waktu setempat, didaraskan doa Rosario, yang kemudian dilanjutkan dengan Misa arwah yang dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Dewan Kardinal.
Dalam suasana penuh doa dan kenangan ini, Gereja mengenang Paus Fransiskus bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai gembala yang tetap hidup dalam hati umatnya—sebuah kehadiran yang, sebagaimana diungkapkan dalam homili, “masih terasa dekat dengan kita.”
