PENULIS: Berlina Nainggolan, Mahasiswi STP Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Dalam sejarah Gereja Katolik, Santo Thomas Aquinas dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia teologi dan filsafat. Namun sebelum dikenal sebagai seorang pemikir besar, Thomas adalah seorang anak muda yang memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kerinduan mendalam untuk mengenal Tuhan.
Thomas Aquinas lahir sekitar tahun 1225 di Roccasecca, Italia, dari keluarga bangsawan yang terpandang. Sejak kecil, ia menunjukkan kecerdasan yang menonjol dan minat yang besar terhadap kehidupan rohani. Keluarganya berharap suatu hari ia akan menduduki jabatan penting yang dapat mengangkat kehormatan keluarga.
Pendidikan awalnya ditempuh di Biara Monte Cassino, kemudian dilanjutkan di Universitas Napoli. Di sanalah kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan semakin berkembang. Ia tidak pernah puas hanya menerima jawaban yang ada, tetapi selalu berusaha memahami makna yang lebih dalam dari setiap hal yang dipelajarinya.
Setia pada Panggilan Tuhan
Ketika masih muda, Thomas mengambil keputusan yang mengubah arah hidupnya. Ia memilih bergabung dengan Ordo Dominikan, sebuah keputusan yang mendapat penolakan keras dari keluarganya.
Keluarganya menginginkan Thomas meraih kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat. Bahkan, mereka sempat berusaha menghalangi panggilannya dengan menahannya selama beberapa waktu. Namun Thomas tetap teguh pada pilihannya.
Ia percaya bahwa hidupnya dipanggil untuk melayani Tuhan melalui pendidikan, pewartaan, dan pencarian kebenaran. Keteguhan sikap ini menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu diwujudkan dalam tindakan besar, tetapi juga dalam kesetiaan terhadap panggilan yang diyakini benar.
Kebenaran sebagai Jalan Menuju Allah
Salah satu ciri paling menonjol dalam hidup Santo Thomas Aquinas adalah kecintaannya terhadap kebenaran. Baginya, belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan sebuah perjalanan untuk semakin mengenal Allah.
Thomas mempelajari berbagai bidang ilmu, terutama filsafat dan teologi. Ia menggunakan kemampuan berpikir kritisnya untuk menjelaskan ajaran iman secara sistematis dan mudah dipahami. Menurutnya, akal budi adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan dengan bijaksana.
Karena itu, ia mengajarkan bahwa iman dan akal budi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi. Kebenaran yang ditemukan melalui akal sehat tidak akan bertentangan dengan kebenaran yang berasal dari Allah.
Pemikiran ini menjadi salah satu warisan terbesar Santo Thomas bagi Gereja dan dunia pendidikan hingga saat ini.
Belajar dengan Kerendahan Hati
Meski memiliki kecerdasan luar biasa, Thomas dikenal sebagai pribadi yang sangat rendah hati. Ia tidak pernah menggunakan pengetahuannya untuk mencari pujian atau penghormatan.
Sebaliknya, ia menyadari bahwa semua kemampuan yang dimilikinya berasal dari Tuhan dan harus digunakan untuk melayani sesama. Bagi Thomas, kebesaran seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi oleh bagaimana ia menggunakan pengetahuan tersebut untuk membawa kebaikan bagi orang lain.
Kerendahan hati inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai seorang ilmuwan dan teolog, tetapi juga sebagai seorang pribadi yang kudus.
Belajar dan Berdoa: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Di tengah kesibukannya sebagai pengajar, penulis, dan pemikir, Thomas tidak pernah mengabaikan kehidupan doanya. Baginya, belajar dan berdoa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan harus membantu manusia semakin dekat kepada Tuhan. Karena itu, setiap karya yang ditulisnya selalu lahir dari refleksi iman yang mendalam.
Thomas juga memiliki devosi yang sangat kuat kepada Ekaristi. Ia memandang Ekaristi sebagai pusat kehidupan Kristiani dan sumber kekuatan dalam menjalankan panggilannya. Dari relasi yang erat dengan Kristus itulah lahir kebijaksanaan yang membuatnya dikenang sepanjang zaman.
Warisan yang Tetap Hidup Hingga Kini
Sepanjang hidupnya, Santo Thomas Aquinas menghasilkan banyak karya yang membantu umat memahami ajaran Gereja secara lebih mendalam. Karyanya yang paling terkenal, Summa Theologica, hingga kini masih menjadi salah satu referensi utama dalam studi teologi Katolik.
Karena kebijaksanaan dan kontribusinya yang luar biasa, Gereja menganugerahinya gelar Doktor Gereja. Namun warisan terbesarnya bukan hanya karya-karya ilmiah yang ia tinggalkan, melainkan semangat untuk terus mencari kebenaran dengan hati yang rendah dan iman yang teguh.
Refleksi bagi Generasi Masa Kini
Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, teladan Santo Thomas Aquinas menjadi semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan tidak boleh membuat seseorang sombong, melainkan semakin bijaksana dan dekat dengan Tuhan.
Bagi para pelajar, mahasiswa, guru, maupun siapa saja yang sedang menempuh perjalanan belajar, Santo Thomas mengingatkan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari panggilan untuk mengenal kebenaran.
Melalui hidupnya, kita belajar bahwa iman dan akal budi dapat berjalan bersama. Ketika keduanya dipadukan dengan kerendahan hati dan kehidupan doa yang mendalam, lahirlah kebijaksanaan yang mampu membawa terang bagi banyak orang.
Santo Thomas Aquinas menunjukkan bahwa menjadi cerdas saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menggunakan kecerdasan itu untuk melayani Tuhan, membantu sesama, dan menghadirkan kebaikan bagi dunia.
