Siang itu, Roma begitu ramai, ribuan peziarah dari berbagai dunia menyambangi polis kuno ini demi melewati empat pintu suci yang sejak setahun lalu dibuka oleh mendiang Paus Fransiskus sekalligus menyatakan bahwa tahun ini adalah Tahun Yubileum, dan semua peziarah dipersilakan datang ke kota suci ini.
Aku berada di antara para peziarah bersama rombongan Stella Kwarta berjumlah 28 orang termasuk aku. Kami mendatangi Basilika Santa Maria Maggiore di siang itu, setelah sebelumnya mengunjungi Basilika Santo Petrus. Udara tidak begitu cerah dan awan pun seperti enggan lama-lama membopong air yang ditampung hingga dikeluarkannya tetes demi tetes ke bumi Vatikan. Jaketku basah oleh rintik-rintiknya.
Hari itu, Selasa, 18 November 2025, kami melangkah pelan memasuki basilika yang sudah berusia 16 abad. Dari jauh basilika terlihat seperti tubuh tua namun masih kokoh menopang semua yang tersimpan dan berada dalam naungannya. Sejarah, cerita gembira, sedih, luka, nestapa, dan perang.
Begitu kami memegang pintu beratnya serta melewatinya, dunia di dalamnya berubah menjadi lautan cahaya yang lembut. Peziarah datang dari berbagai negara: Filipina, Brasil, Polandia, Korea, beberapa rombongan Indonesia lain yang hendak ber- Porta Sancta. Kami seperti ditarik oleh sesuatu yang lebih besar.
Lorong-lorongnya panjang dan teduh. Setiap langkah seperti memasuki ruang batin yang lebih dalam. Kami tidak mencari kemegahan—Roma sudah terlalu banyak menyajikannya. Kami mencari sesuatu yang tersembunyi balik dinginnya bangunan meski tanpa AC itu. Sesuatu yang mungkin tidak pernah kami bayangkan bakal hadir, sebuah pengharapan katanya. Hanya saja, belum jelas pengharapan seperti apa yang kuterima.
Dan di basilika itu, aku merasakannya segera: keheningan yang tidak menakutkan, melainkan mengundang.
Di salah satu sisi basilika, tak jauh dari sebuah altar kecil yang didedikasikan untuk Santo Fransiskus, sebuah makam sederhana baru saja dibuat. Belum lama. Sabtu, 26 April 2025 tubuhnya dibaringkan di Bait Suci ini. Ya, inilah tempat mendiang Bapa Suci Fransiskus tidur selamanya.
Tidak ada patung. Tidak ada ornamen apa pun, apalagi ornamen emas. Juga tidak ada ukiran megah atau mosaik yang biasanya menghiasi makam para Paus. Hanya selembar batu putih—dan satu kata: FRANCISCUS dengan lampu kecil menerangi marmer itu.
Sesungguhnya aku sudah tahu suasana itu di video-video atau televisi yang kulihat sejak pemakaman itu. Namun, kehadiranku di situ merentangkan getaran rasa yang lain, sebuah energi yang tidak bisa disampaikan oleh kata-kata. Kesederhanaan itu justru membuat ruangan kecil itu penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan: keteduhan, kerendahan hati yang terasa seperti udara yang bisa disentuh.
Kesederhanaan itu menyentuhku lebih dalam daripada semua kemegahan Roma yang pernah kulihat. Seperti mengetuk bagian hatiku yang paling dalam, yang selama ini mungkin menyimpan terlalu banyak lapisan—lapisan yang kubuat agar terlihat kuat, lapisan yang kubangun untuk melewati hari.
Tetapi di depan marmer putih itu, segala lapisan itu runtuh dengan sendirinya. Aku teringat cerita yang pernah kubaca tentang detik-detik ketika Jorge Mario Bergoglio melewati batas 77 suara, jelang terpilihnya dia sebagai Paus. Ia duduk di samping sahabatnya, Kardinal Hummes, yang memeluknya dan berbisik: “Don’t forget the poor.” Kata sederhana yang menembus rusuk.
Dan kata itu tiba-tiba terasa seperti ditujukan padaku juga. Sebegitu pribadi. Sebegitu dekat.
Padahal aku bukan siapa-siapa.
Ia memilih nama Fransiskus bukan untuk dirinya, tetapi untuk mereka yang ingin dilihat Allah: kaum kecil, yang terlupakan, yang hilang suaranya. Ia memilih nama santo yang melepaskan semua demi menemukan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia memilih kesederhanaan bukan sebagai sikap rendah hati yang dibuat-buat, tapi sebagai cara melihat dunia. Dan kini ia berbaring di bawah batu putih itu—dengan cara yang sama seperti ia hidup: tanpa kemegahan, tanpa hiruk-pikuk, tanpa mencoba menjadi pusat apa pun.
Antrean panjang mengular pelan, setiap orang bergerak maju dengan hening yang hampir menyayat. Tidak seorang pun mendesak, tidak ada suara keras. Semua seperti memahami bahwa di depan batu putih itu, setiap manusia datang membawa kisahnya: syukur, luka, harapan, permohonan yang terlalu pribadi untuk dibunyikan. Dan ketika tiba giliranku berdiri tepat di depannya, aku merasakan sesuatu mengembang perlahan dalam dadaku—sesuatu antara haru dan keteguhan. Aku ingin menangis, namun kutahan.
Setelah meninggalkan antrean, aku duduk di bangku kayu di dekat makam itu. Entah berapa lama. Waktu rasanya berhenti memenuhi kewajibannya. Napasku menjadi lebih pelan. Ada sesuatu di dalam diriku yang bergerak—bukan seperti petir, bukan seperti badai, tetapi seperti aliran air yang tiba-tiba menemukan celah untuk masuk setelah bertahun-tahun tersumbat.
Aku menunduk, dan tiba-tiba aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah kunyatakan dengan jujur selama ini. “Ajari aku untuk sederhana seperti ini… untuk melihat dunia seperti ini. Ajari aku untuk tidak melupakan mereka yang Kau cintai. Ajari aku mengerti pesan yang Engkau titipkan melalui dia.”
Doa itu hanyalah sebuah bisikan yang keluar dari tempat yang bahkan aku sendiri jarang menyentuhnya. Saat aku mengangkat kepala, antrean masih panjang. Wajah-wajah peziarah itu terlihat sama rapuhnya denganku. Sama haus. Sama ingin disentuh oleh sesuatu yang jujur.
Dan di tengah semua itu, sebuah kesadaran muncul pelan: kesederhanaan memang selalu lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Kesederhanaan adalah bahasa yang langsung menuju pusat hati manusia. Tidak memaksa, tidak menuduh, tidak membentak—hanya hadir.
Seperti marmer putih itu. Seperti Paus Fransiskus. Seperti Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Allah yang sering kali datang diam-diam tanpa membuat kita merasa kecil.
Terbayang di benakku ketika dia mengunjungi negeriku, Indonesia. Sorak-sorai bergemuruh menyerukan ; Viva il Papa, Hidup Bapa Suci Fransiskus. Banyak orang berusaha mendekati, ingin melihat, ingin diberkati, ingin dilihat, ingin disapa, ingin bertemu muka langsung. Waktu itu aku memang tidak begitu antusias. Entah karena apa. Aku pikir, yang terpenting bukan persoalan bertemu dengan dia, tapi lebih dari itu menghayati semangat dan pesan-pesannya.
Aku memikirkan hidupnya, cara ia berjalan, cara ia memandang dunia. Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup baginya, tetapi posisi teologis, sikap batin, dan cara ia memaknai Injil. Maka ketika aku memandang marmer putih itu—tanpa ukiran, tanpa mahkota, tanpa kemegahan—aku merasa seakan seluruh cerita itu menyatu dalam satu garis cahaya yang sederhana dan jujur. Inilah dia: Paus yang ingin menjadi kecil. Paus yang memilih diam daripada kemegahan. Paus yang memilih nama bukan untuk dirinya, tetapi untuk mereka yang miskin.
Ketika aku tergugah dari keheningan yang dalam, kutengok antrean masih panjang. Wajah-wajah peziarah dari berbagai negara tampak serupa: mata yang sedikit lembap, bibir yang menahan sesuatu, hati yang tersentuh oleh kehadiran yang begitu minim tanda-tanda namun begitu kuat. Kesederhanaan itu menjadi magnet yang tak bisa ditolak.
Ketika kami keluar dari basilika menuju cahaya sore Roma, aku merasa seolah meninggalkan sesuatu sekaligus membawa sesuatu pulang. Tidak besar. Tidak dramatis. Tidak seperti perubahan hidup yang ingin kutuliskan dengan kata-kata megah. Tidak seperti itu.
Lebih seperti ini:
Ada sesuatu di dalam diriku yang disentuh oleh kesunyian.
Dan sentuhan itu menetap.
Pelan. Hangat. Jujur.
Mungkin itu yang disebut rahmat:
bukan guntur besar yang mengguncang langit,
melainkan bisikan lembut yang berkata:
“Jangan lupa. Jangan lupakan mereka yang kecil. Jangan lupa siapa dirimu di hadapan-Ku.”
Dan saat kami berjalan kembali ke bus, aku merasakan tubuhku lebih ringan, seperti ada beban kecil yang terlepas tanpa aku sadari.
Hari itu aku tahu bahwa aku datang ke Roma untuk mendapatkan harapan dan menemukan Tuhan. Dan aku menemukannya dalam kesederhanaan yang menyentuh jantungku dan tidak ingin kulepaskan lagi.


Keren sekali tulisanmu Bro Abdi
thank u bro
Wah senangnya mas Abdi sudah berkunjung ke makam Paus Fransiskus. Doakan saya lekas sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali. Hehe
Maturnuwun mas Abdi
saya doakan mas