Penulis : Elisabeth Lelly Arnita Giawa
Di balik sosok yang tenang dan lebih nyaman berada di balik layar, Angela Yurmani Giawa menyimpan kecintaan besar pada dunia literasi. Perempuan yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara ini adalah lulusan Sastra Indonesia yang menemukan caranya sendiri untuk menyuarakan gagasan: melalui tulisan.
Angela mengaku dirinya seorang introvert. Berbicara di depan banyak orang bukanlah hal yang ia sukai. Sebaliknya, ia merasa lebih leluasa menuangkan pikiran, perasaan, dan pandangannya lewat rangkaian kata. Baginya, tulisan mampu menyampaikan apa yang sering kali sulit diucapkan.
Sejak kecil, Angela sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Cita-cita yang ia impikan adalah menjadi seorang wartawan—seseorang yang menulis, mengabarkan, dan menghadirkan kisah-kisah yang bermakna bagi masyarakat. Namun, kehidupan membawanya ke jalan yang berbeda. Ia “terjebak” menjadi guru, meski pada akhirnya menyadari bahwa dunia pendidikan memberinya ruang baru untuk tetap hidup bersama dunia tulis-menulis.
Di sekolah, Angela memilih tidak banyak tampil di depan. Ia lebih menikmati peran sebagai editor bagi tulisan-tulisan peserta didiknya. Baginya, setiap anak memiliki cerita yang layak didengar. Tugasnya adalah membantu mereka menyusun cerita itu menjadi tulisan yang baik dan bermanfaat bagi pembaca.
“Saya ingin tulisan anak-anak tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi juga memiliki makna dan memberi manfaat bagi orang lain,” menjadi semangat yang terus ia pegang.
Dedikasinya terhadap literasi juga tercermin melalui karya-karya yang telah diterbitkan. Pada tahun 2022, ia ikut menerbitkan buku Antologi Puisi Di Guepedia serta Antologi Puisi Tano Niha edisi dwibahasa melalui Penerbit Mafy. Dua tahun kemudian, ia menghadirkan buku fabel anak berjudul Lea Sang Kupu-Kupu (2024), yang juga diterbitkan oleh Penerbit Mafy. Saat ini, Angela tengah menyelesaikan buku cerpen berjudul Kita dan Seribu Kemungkinan yang direncanakan terbit pada tahun 2026.
Bagi Angela, menulis bukan sekadar menghasilkan buku, melainkan membangun budaya literasi yang bertumbuh dari lingkungan sekitar. Kehadirannya di dunia pendidikan menjadi energi baru, terutama bagi daerah-daerah yang akses dan budaya literasinya masih terbatas. Ia percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari satu tulisan sederhana, satu anak yang berani menulis, dan satu guru yang mau mendampingi.
Di tengah kesunyian yang sering melekat pada pribadi seorang introvert, Angela Yurmani Giawa membuktikan bahwa suara tidak selalu harus lantang terdengar. Ada suara yang justru mampu menjangkau lebih banyak orang ketika dituliskan. Dan melalui tulisan-tulisan itulah, ia terus menyalakan harapan bahwa literasi dapat membuka lebih banyak kemungkinan bagi generasi masa depan.
