Penulis : Angela Yurmani Giawa
Kesibukan sebagai guru, wali kelas, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, pelayan Gereja, istri, dan ibu tidak membuatnya kehilangan arah. Dengan mengatur prioritas dan memegang teguh rasa syukur, Elisabeth Lelly Arnita Giawa membuktikan bahwa setiap peran dapat dijalani dengan sepenuh hati.
Ditempa untuk Berani Melangkah
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran telah berbunyi. Namun, bagi Elisabeth Lelly Arnita Giawa, pekerjaan belum usai. Setelah menyelesaikan tugas mengajar di kelas, ia masih harus menjalankan tanggung jawab sebagai wali kelas dan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas. Di luar lingkungan sekolah, masih ada pelayanan yang menanti sebagai Ketua Lingkungan dan Koordinator Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) di gereja. Setibanya di rumah, ia kembali menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu.
Di balik padatnya aktivitas tersebut, Lelly tetap menjalani semuanya dengan tenang. Baginya, setiap tanggung jawab adalah amanah yang patut disyukuri.
Lahir di Hilidanayao, Ulususua, pada 13 Januari 1995, Lelly merupakan anak tunggal yang tumbuh dalam keluarga harmonis. Sejak kecil, kedua orang tuanya membiasakan dirinya untuk berani tampil di depan banyak orang. Meski saat itu ia merasa terpaksa, pengalaman tersebut justru membentuk keberanian yang sangat berguna dalam kehidupannya saat ini.
“Awalnya saya tidak suka dipaksa untuk maju. Tetapi sekarang saya merasakan manfaatnya. Saya jadi lebih percaya diri dan mudah berinteraksi dengan orang lain,” ujarnya.
Keberanian itu semakin terasah ketika ia menjalani kehidupan di asrama selama kurang lebih sepuluh tahun. Setelah menempuh pendidikan hingga semester pertama SMP di Tarutung, Lelly melanjutkan pendidikan di asrama hingga menyelesaikan kuliah. Pengalaman tersebut mengajarkannya untuk mandiri, mudah beradaptasi, dan membangun komunikasi dengan banyak orang.
Dari Sebuah Pilihan Menjadi Jalan Pengabdian
Menggambar, bernyanyi, membaca, dan menulis menjadi hobi yang mengisi waktu luangnya. Namun, perjalanan menjadi seorang guru bahasa Inggris ternyata bukanlah impian yang telah direncanakan sejak kecil.
Lelly mengaku profesi ituu pada awalnya dipilih karena membuka peluang untuk masa depan. Seiring berjalannya waktu, pilihan tersebut berubah menjadi panggilan hidup. Ia menemukan makna bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga mendampingi, membimbing, dan membentuk karakter peserta didik.
Profesi yang semula hanya dianggap sebagai jalan menuju masa depan kini menjadi bentuk pengabdian yang dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Menata Prioritas di Tengah Banyak Amanah
Menjalankan banyak peran dalam waktu yang bersamaan tentu bukan perkara mudah. Selain mengajar sebagai guru mata pelajaran, Lelly dipercaya menjadi wali kelas dan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas. Di tengah kesibukan itu, ia tetap aktif melayani di gereja sebagai Ketua Lingkungan dan Koordinator KOMSOS. Di rumah, ia juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu bagi seorang anak.
Menurut Lelly, kunci menjalankan semua tanggung jawab tersebut adalah kemampuan mengatur waktu.
Ia selalu menyusun jadwal dan menentukan skala prioritas ketika beberapa kegiatan berlangsung pada waktu yang sama. Dengan begitu, setiap amanah dapat diselesaikan tanpa mengesampingkan tanggung jawab yang lain.
Masalah Bukan untuk Dihindari
Di balik keteguhannya menjalani berbagai peran, terdapat prinsip hidup yang diwariskan oleh sang ayah. Sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu bersyukur, baik dalam keadaan menyenangkan maupun saat menghadapi kesulitan.
“Ayah selalu mengajarkan untuk bersyukur dalam segala keadaan. Semakin kita menghindari masalah, semakin kita tidak akan menemukan solusinya,” tuturnya.
Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam menghadapi setiap tantangan. Lelly memilih membuka diri terhadap berbagai solusi daripada terus menghindari persoalan. Baginya, setiap masalah adalah kesempatan untuk belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Sikap pantang menyerah itulah yang membuatnya mampu menjalankan berbagai tanggung jawab tanpa kehilangan semangat.
Menginspirasi Lewat Keteladanan
Mereka yang mengenal Lelly menggambarkannya sebagai sosok yang keibuan, mudah bergaul, namun tetap berwibawa. Kemampuan berkomunikasi yang dimilikinya membuat ia mudah membangun hubungan dengan siswa, rekan kerja, maupun umat di lingkungan gereja.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari banyaknya jabatan yang dimiliki. Lebih dari itu, keberhasilan lahir dari kesediaan untuk menjalankan setiap amanah dengan sepenuh hati, mengatur prioritas dengan bijaksana, serta tetap bersyukur dalam setiap keadaan.
Di balik banyaknya peran yang dijalani, Lelly membuktikan bahwa pengabdian tidak pernah mengenal batas. Selama ada hati yang tulus untuk melayani, selalu ada ruang untuk memberi manfaat bagi orang lain.
