Bagi saya, Minggu Adven ketiga, 14 Desember 2025, sungguh menghadirkan makna Gaudete yang nyata. Sukacita itu tidak hadir sebagai euforia sesaat, melainkan sebagai buah dari sebuah proses panjang yang akhirnya sampai pada satu titik syukur: terselenggaranya Grand Launching buku “Membangun Keluarga Berdasarkan Semangat Ignasian” pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Hotel Best Western Mangga Dua. Semuanya selesai dengan menggembirakan. Dan setelahnya, yang tertinggal bukan hanya rasa lega, tetapi juga kesadaran rohani yang pelan-pelan mengendap.
Sebagai bagian dari panitia dan pengurus Paguyuban Sesawi, saya mengalami proses ini lebih dari sekadar rangkaian kerja dan tanggung jawab. Di balik rapat, persiapan, kelelahan, dan keputusan-keputusan kecil yang harus diambil, saya justru semakin menyadari bagaimana Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Tuhan hadir tidak selalu dalam hal-hal yang besar dan spektakuler, melainkan melalui proses yang biasa, manusiawi, dan sering kali melelahkan.
Memproduksi sebuah buku, lalu mempromosikannya, memperkenalkannya kepada publik, dan mengajak orang masuk ke dalam semangat yang dihidupi di dalamnya, ternyata menjadi ruang refleksi yang jujur. Proses ini memaksa saya—dan mungkin juga kami semua—untuk bertanya pada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai yang kami tuliskan sungguh kami hayati? Buku ini tidak lagi berdiri sebagai karya tertulis semata, melainkan sebagai cermin kehidupan.
Di situlah saya melihat kehadiran Tuhan melalui orang-orang. Melalui mereka yang dengan tulus memberikan waktu, tenaga, pikiran, jaringan, bahkan dukungan finansial. Melalui mereka yang datang dari jauh—dari Semarang, dari Hong Kong, dan dari berbagai tempat lain—demi sebuah kebersamaan dan visi yang diyakini. Kehadiran-kehadiran itu bukan sekadar partisipasi, melainkan tanda kasih. Bagi saya, di sanalah Tuhan menyatakan diri-Nya: dalam kesediaan orang untuk memberi diri.
Antusiasme para peserta pun menjadi pengalaman rohani tersendiri. Saya merasakan energi yang hidup, yang mengalir dalam diskusi dan perjumpaan. Energi itu bukan sekadar semangat intelektual, tetapi semangat yang menguatkan, seolah menegaskan bahwa apa yang kami lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia. Dalam suasana itu, saya semakin percaya bahwa Tuhan bekerja melalui relasi, melalui perjumpaan, dan melalui komunitas.
Seluruh proses persiapan—dengan segala dinamika, perbedaan pendapat, ketegangan, dan kelelahan—menjadi ruang pendidikan iman. Saya belajar bahwa pertumbuhan rohani tidak selalu lahir dari situasi yang rapi dan ideal. Justru dalam ketidaksempurnaan itulah Tuhan membentuk kami, baik secara pribadi maupun secara komunal. Kami dilatih untuk mendengarkan, bersabar, dan tetap berjalan bersama meski tidak selalu sepaham.
Momen terbitnya buku ini kemudian terasa seperti sebuah penegasan panggilan. Bagi saya, Paguyuban Sesawi tidak hanya dipanggil untuk mengadakan kegiatan atau menerbitkan buku, tetapi untuk mengkristalkan pengalaman iman umat awam: pengalaman hidup berkeluarga, bekerja, bergereja, dan bergumul dalam keseharian. Pengalaman-pengalaman yang telah dihidupi selama puluhan tahun itu ternyata adalah harta rohani yang perlu dirawat, direfleksikan, dan dibagikan.
Saya teringat kalimat Injil Yohanes: Firman itu telah menjadi daging. Ketika pengalaman hidup direfleksikan dan dituangkan dalam sebuah buku, bagi saya itulah salah satu bentuk konkret dari “menjadi daging”. Firman tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjelma dalam pengalaman, kebijaksanaan, dan kesaksian hidup. Buku ini hanyalah salah satu medium; yang jauh lebih penting adalah kehidupan yang terus dihayati.
Karena itu, momen ini menjadi penting bagi saya secara pribadi. Saya merasa diteguhkan, seolah diingatkan kembali bahwa perjalanan ini tidak boleh berhenti. Ada tanggung jawab untuk terus melangkah, terus berbagi, dan terus menyalurkan semangat yang telah diterima—terutama kepada generasi setelah kami.
Tentu, dalam proses ini ada kelelahan, konflik, dan ketegangan yang tidak selalu mudah. Namun justru di sanalah saya belajar bahwa rahmat Tuhan makin kelihatan, makin tampak bekerja dalam keterbatasan yang kami miliki. Tuhan hadir bukan untuk menghilangkan semua persoalan, melainkan untuk menyertai kami di tengahnya.
Pada akhirnya, yang tersisa adalah rasa syukur. Syukur atas kebersamaan, atas proses, atas orang-orang yang dihadirkan Tuhan, dan atas semangat yang terus menyala. Saya percaya, ini bukan semata hasil kerja manusia, melainkan rahmat Roh Kudus yang bekerja diam-diam namun nyata.
Amin.

Yesss,,, betul. Tuhan selalu hadir dan menyertai umatnya dlm kondisi apapun. Sebenarnya, sharing seperti ini adalah pengalaman hidup setiap manusia. Sharing seperti ini selalu mereminder kita semua. Adagium TUHAN MBOTEN SARE, TUHAN TIDAK TIDUR,,, benar adanya. Sebagaimana MUKJIZAT ITU ADA.
Berkah Dalem