Oleh: Yuni Atsania Manurung (Mahasiswi STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan)
MEDAN – Di dalam struktur Gereja Katolik, kepemimpinan sering kali diuji bukan pada megahnya altar katedral atau riuhnya tepuk tangan mimbar besar. Ujian sejati itu kerap kali hadir di sudut-sudut sunyi tingkat lingkungan—tempat di mana urusan iman berkelindan langsung dengan kerasnya realitas hidup sehari-hari.
Di Lingkungan Santo Petrus, potret kepemimpinan itu mewujud dalam kesederhanaan yang mengetuk hati. Seorang ketua lingkungan, yang sehari-hari memeras keringat sebagai petani sekaligus menjadi orang tua tunggal (single parent) bagi empat anak perempuannya, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan hidup bukanlah alasan untuk mangkir dari panggilan pelayanan.
Melalui sebuah observasi mendalam, kisah hidup sang ketua lingkungan menjadi bukti nyata bagaimana Spiritualitas Agustinian—sebuah warisan rohani dari Santo Agustinus yang menekankan kasih, pelayanan, dan persaudaraan—tetap hidup dan relevan di tengah himpitan ekonomi.
Bertani, Membesarkan Anak, dan Mengurus Umat
Menjadi pemuka jemaat di tingkat basis (lingkungan) bukanlah perkara mudah. Tugasnya kompleks: mulai dari mengoordinasikan doa bergilir, menjenguk warga yang sakit, mengurus administrasi sakramen, hingga menjadi penengah dalam berbagai dinamika umat. Bagi sebagian orang, tugas kemasyarakatan ini membutuhkan waktu luang yang lapang. Namun tidak bagi tokoh kita ini.
Setiap pagi, ia harus bergegas ke ladang. Sebagai petani, ia menggantungkan hidup pada restu cuaca dan kesuburan tanah demi menghidupi keempat putrinya. Statusnya sebagai orang tua tunggal melipatgandakan tanggung jawab domestik di pundaknya. Ia adalah pencari nafkah, sekaligus ibu dan ayah yang harus memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjamin.
Menariknya, rentetan kesibukan yang menguras fisik dan emosi itu tidak pernah ia jadikan alasan—atau “alibi”—untuk meletakkan tanggung jawabnya sebagai Ketua Lingkungan Santo Petrus. Saat lonceng pelayanan berbunyi, ia menanggalkan lelahnya, hadir dengan senyum tenang, kerendahan hati, dan sikap siap mendengar keluh kesah umatnya.
Kepemimpinan Tanpa Alibi: Belajar dari Santo Agustinus
Dalam khazanah teologi Katolik, Santo Agustinus pernah merefleksikan bahwa kepemimpinan sejati selalu berakar pada cinta (amor) dan pelayanan (officium amoris). Baginya, seorang pemimpin bukanlah penguasa yang mencari kehormatan, melainkan seorang hamba yang memikul beban demi keselamatan dan kebahagiaan sesama.
Prinsip teologis yang luhur ini diterjemahkan secara sangat membumi oleh sang ketua lingkungan. Istilah “Kepemimpinan Tanpa Alibi” menjadi frasa yang paling tepat untuk menggambarkan etos kerjanya. Di era modern, kita sering mendengar kata “sibuk”, “tidak ada waktu”, atau “lelah” sebagai pembenaran untuk menolak tugas-tugas sosial dan gerejawi. Namun, petani ini mendobrak stigma tersebut.
Ia tidak menggunakan cangkulnya, himpitan ekonominya, ataupun status single parent-nya sebagai tameng untuk berkata “tidak” pada pelayanan. Justru di dalam ruang-ruang keterbatasan itulah, kilau kesetiaannya sebagai pemimpin Kristiani terpancar semakin benderang. Pelayanan baginya bukanlah hobi yang dikerjakan saat waktu senggang, melainkan sebuah komitmen iman yang dihidupi di tengah-tengah kesibukan.
Menjadi Khotbah yang Hidup
Berdasarkan pengamatan di lapangan, gaya memimpin sang ketua lingkungan jauh dari kesan feodal atau otoriter. Beliau bukan tipe pemimpin yang gemar berorasi atau banyak bicara di depan forum. Sebaliknya, tindakannya jauh lebih nyaring daripada kata-katanya.
Kepemimpinannya bercorak demokratis dan penuh empati. Beliau merawat kebersamaan umat dengan pendekatan personal yang hangat. Ketika ada umat yang tertimpa kemalangan, ia hadir paling depan. Ketika ada rapat lingkungan, ia menjadi pendengar yang sabar, memastikan setiap suara warga dihargai tanpa memandang status sosial.
Melalui tindakan-tindakan kecil yang konsisten inilah, Lingkungan Santo Petrus bertumbuh menjadi sebuah komunitas yang guyub dan suportif. Umat tidak digerakkan oleh rasa takut terhadap aturan hukum gereja, melainkan terinspirasi secara organik oleh keteladanan visual yang ditunjukkan oleh pemimpin mereka sendiri.
Refleksi: Menakar Ulang Arti Kesetiaan
Kisah dari Lingkungan Santo Petrus ini melempar refleksi tajam bagi kita semua, khususnya masyarakat Gereja masa kini. Sering kali kita merasa bersedia melayani hanya jika situasi hidup kita sudah mapan, waktu kita sudah longgar, atau ketika ada keuntungan reputasi yang bisa didapatkan.
Namun, lewat kacamata spiritualitas Agustinian yang dihidupi sang petani, kita diajak untuk melihat arti pelayanan secara baru: bahwa pelayanan yang autentik justru teruji ketika kita berani memberikan diri di saat kita sendiri sedang mengalami kekurangan. Pelayanan tidak perlu menunggu keadaan menjadi ideal.
Pengalaman observasi ini mengonfirmasi bahwa kepemimpinan Kristiani pada esensinya bukanlah soal mencari pengakuan publik, melainkan soal kedewasaan iman dan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil. Ketua lingkungan ini telah memberi contoh nyata bahwa di tengah himpitan hidup yang paling berat sekalipun, seseorang tetap mampu menjadi saluran berkat dan kasih bagi sesamanya—tanpa tapi, tanpa alibi.

